Selasa, 26 Februari 2013

Kembali ke Orientasi Awal

Fokus.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.

maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)

pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.

Selasa, 05 Februari 2013

Sebuah Cerita Tanpa Judul


“Rasanya itu..
Seperti ada yang membuat pundakmu jadi ringan
Tapi di saat bersamaan justru hatimu menanggung beban
Ada cinta yang tak terkatakan
Dan perasaan yang tak tersampaikan
Namun biarkan
Asal semua mampu bermuara
Pada sebuah samudera bernama doa”

Kutipan  kata-kata di atas, adalah representasi perasaan yang aku tanggung setelah dinyatakan demisioner malam itu. Jujur, aku bukan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan di hadapan banyak orang. Misterius katanya, atau pada waktu BEM SPIRIT DAY pertama, banyak yang bilang kalau aku adalah orang yang sangat tertutup. Ya, memang. Karena aku sendiri menyadari, bahwa dari awal aku sudah didesain sebagai pendengar, tipe-tipe orang yang  suka mendapatkan keluh kesah dari orang lain. Bagaimana tidak? Memang terkadang sulit memiliki nama Damai, karena harus menjaga kedamaian hati orang lain meskipun hati sendiri  sedang “kemrungsung.” Atau mungkin karena itu aku dipilih sebagai kadept PSDM? Hehe… ^^ semoga walau tak terungkap lewat kata, tulisan ini dapat mengilustrasikannya.
Cerita ini  bermula  dari naik tahtanya seorang Satria. Suksesi untuknya berjalan mulus, karena  sejak awal pada dirinya telah tercermin hati yang tulus. Lalu aku pun diminta, untuk menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Berat. Sungguh berat, aku yang sering hidup dalam dunia prasangka  yang melankolis ini merasa tak memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKU) untuk memenuhi permintaannya. Merasa kapasitas belum sampai tapi telah diberikan amanah yang membadai. Hingga aku pun bertanya, adakah jembatan yang menghubungkan antara kapasitas yang pas-pasan dengan tanggung jawab yang besar??? Namun, Dasa Dharma Pramuka tak mengajarkan sesorang lari dari medan perang. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Maka kumantapkan niat, memperbarui semangat, dengan mengucap asma-Nya Yang Maha Agung, amanah itu pun kuletakkan pada pundakku, pada hatiku.
Lalu, setapak demi setapak aku diperkenalkan dengan orang-orang baru di sekelilingku. Lingkaran pertama, lingkaran PH, yang bertemu pertama kali dalam romantisme hujan di depan perpustakaan. Wahyu, Devi, Jumai, Agus, Bening, Handoko, Ipung, Azis, teman-teman baru yang akan bersama menjadi awak kapal dengan Iman sebagai nahkodanya. Lantas mengagendakan acara pengikat hati, dengan mengunjungi Kebumen bersama-sama.
PSDM itu melihat dengan hati, ketika selanjutnya Up Grading dimulai. Mencoba mengenali satu per satu pasukan yang akan membersamai perang selama satu periode kepengurusan. Dan semangat di awal-awal itu menjadi satu langkah baru, terlebih setelah dipertemukan dengan anak-anak pilihan yang dinisbatkan tanpa persetujuan menjadi Power Ranger. Sungguh, aku kekanak-kanakan, tapi sampai hari ini pun tak bisa kulepaskan.

Cerita di Balik Share, Care and Love

Bergelut di dunia sosial, membuatku harus membaca, terpaksa lebih tepatnya. Aku dipaksa oleh seseorang untuk membaca setiap kali aku akan berbuat sesuatu. Lalu, kata-kata itu, Share, Care and Love kutemukan pada sebuah buku marketing perusahaan. Hmmm… bagus pikirku. Lalu ketika Pak Komandan bertanya, sebenarnya aku asal jawab saja untuk jargon kita: Share, Care and Love. Tak kusangka keesokan harinya, kata-kata itu benar-benar dipakai setelah dimodifikasi dengan menggunakan gerakan-gerakan yang mengekspresikannya.
Namun, jargon ini selanjutnya membuatku khawatir, ketika akhirnya satu demi satu orang saling jatuh cinta di BEM. Aku mendapat teguran dari sana-sini, karena hal ini dikhawatirkan akan mengganggu profesionalitas kinerja. Karena pernah ada cerita, BEM di sisi lain UNY juga pernah menggunakan tema “Romantisme” sampai akhirnya benar-benar terjadi dua orang aktivis di dalamnya menikah dan menjadi suami istri di periode kepengurusan mereka. Bagus menurutku… J Namun, aku sempat merasa tak enak juga. Jangan-jangan karena jargon itu yang membuat para prajurit berjatuhan karena galau. Galau karena sebuah perasaan bernama cinta. Aku merasa bersalah, karena bagaimanapun kata-kata adalah doa.  Aku bingung bukan main. Masalah semangat, PSDM masih bisa berusaha, tapi masalah hati, treatment macam apa yang sesuai???

Menjelang Pertengahan Tahun

Ibarat sebuah perahu yang berlayar, tentu akan menemui rintangan-rintangan di lautan. Entah itu badai, yang membuat kapal kehilangan keseimbangan atau menabrak batu karang, meski tidak karam. Organisasi ini dengan sendirinya memiliki sistem imunitas yang tinggi, bahkan tanpa peran PSDM, karena orang-orang di dalamnya adalah orang-orang pilihan yang dapat berpikir dengan logika dan nurani. Bahasa sederhananya, solid tanpa harus disolidkan PSDM.  Itu kegagalan pertamaku, sekaligus kebanggaanku. Ditambah ternyata aku gagal mengenali satu per satu tiap personil yang ada, dan membuat sistem ranger terlalu kuat. Apalagi aku semakin autis dengan duniaku sendiri, yang sok sibuk dengan akademik dan agenda-agenda lain. Maka jika seringkali aku dipertanyakan karena jarang berkunjung ke rumah karya, itu karena kecanggunganku sendiri yang mendera, semakin menciptakan spasi antara aku dan kita. Agenda-agenda cultural sering kulalui, meski seberapa inginnya aku membersamai, selalu ada penghalang yang membuatku tak bisa. Maafkan aku kawan, karena dengan aku yang seperti ini, ternyata aku terlambat untuk menyadari sesuatu. Terlambat mendeteksi cinta yang seharusnya kutumbuhkan sejak dini, dan ketika akan kehilangan, baru aku merasakan memiliki. Ah,,, penyesalan memang selalu datang belakangan.

Pada Akhirnya, Cinta Adalah Sebuah Kata Kerja

“Karena cinta adalah kata kerja
Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya
Karena cinta adalah kata kerja,
Maka mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus
Alirannya adalah kerja yang terus-menerus.”
(Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang)
Begitulah cinta, ia adalah pekerjaan jiwa dan raga, bukan sekedar kata. Sementara aku tengah mencintai kalian melalui kata yang tak terucap, ada orang-orang yang telah membuktikan cintanya lewat kerja-kerja nyata. Sebut saja namanya, Iman pucuk pimpinan yang rela berkorban dan ahli negosiasi tingkat tinggi. Wahyu, loyalitasnya terbukti karena telah mewakafkan diri untuk organisasi ini. Devi, sekretaris yang mengerti harus berbuat apa bahkan tanpa diminta. Jumai, punggung terkuat yang selalu membersamai, Bening yang tetap bertahan meskipun sakit-sakitan, Ipung yang selalu menginspirasi dengan karya-karyanya, Agus dengan sifat kebapakan yang selalu bijaksana dan cekatan, Handoko yang mengatasi setiap kebutuhan organisasi dengan caranya sendiri, dan Azis dengan warnanya sendiri, memberi nuansa pelangi. Begitu juga dengan yang lain, yang tak bisa kusebutkan satu per satu kebaikannya, karena setiap langkah kebersamaan kita, semuanya tampak baik di pandangan mata.
Hmmm… inilah akhir coretan gak jelas ini, sebuah refleksi perjalanan yang di dalamnya aku banyak berkaca sendiri. Suatu hari, akan menjadi sebuah rekam jejak dan pembelajaran yang tak kan lekang dalam ingatan. Mari perbaiki kembali spasi antara aku dan kita, meski tak lagi bersama. J

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...