Fokus.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.
maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)
pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.
Selasa, 26 Februari 2013
Selasa, 05 Februari 2013
Sebuah Cerita Tanpa Judul
“Rasanya itu..
Seperti ada yang membuat pundakmu
jadi ringan
Tapi di saat bersamaan justru
hatimu menanggung beban
Ada cinta yang tak terkatakan
Dan perasaan yang tak
tersampaikan
Namun biarkan
Asal semua mampu bermuara
Pada sebuah samudera bernama doa”
Kutipan kata-kata di atas, adalah representasi
perasaan yang aku tanggung setelah dinyatakan demisioner malam itu. Jujur, aku
bukan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan di hadapan banyak orang.
Misterius katanya, atau pada waktu BEM SPIRIT DAY pertama, banyak yang bilang
kalau aku adalah orang yang sangat tertutup. Ya, memang. Karena aku sendiri
menyadari, bahwa dari awal aku sudah didesain sebagai pendengar, tipe-tipe
orang yang suka mendapatkan keluh kesah
dari orang lain. Bagaimana tidak? Memang terkadang sulit memiliki nama Damai,
karena harus menjaga kedamaian hati orang lain meskipun hati sendiri sedang “kemrungsung.” Atau mungkin karena itu
aku dipilih sebagai kadept PSDM? Hehe… ^^ semoga walau tak terungkap lewat
kata, tulisan ini dapat mengilustrasikannya.
Cerita ini bermula
dari naik tahtanya seorang Satria. Suksesi untuknya berjalan mulus,
karena sejak awal pada dirinya telah
tercermin hati yang tulus. Lalu aku pun diminta, untuk menjadi salah satu
bagian dari keluarganya. Berat. Sungguh berat, aku yang sering hidup dalam
dunia prasangka yang melankolis ini
merasa tak memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKU) untuk memenuhi permintaannya.
Merasa kapasitas belum sampai tapi telah diberikan amanah yang membadai. Hingga
aku pun bertanya, adakah jembatan yang menghubungkan antara kapasitas yang
pas-pasan dengan tanggung jawab yang besar??? Namun, Dasa Dharma Pramuka tak
mengajarkan sesorang lari dari medan perang. Bertanggungjawab dan dapat
dipercaya. Maka kumantapkan niat, memperbarui semangat, dengan mengucap
asma-Nya Yang Maha Agung, amanah itu pun kuletakkan pada pundakku, pada hatiku.
Lalu, setapak demi setapak aku
diperkenalkan dengan orang-orang baru di sekelilingku. Lingkaran pertama,
lingkaran PH, yang bertemu pertama kali dalam romantisme hujan di depan
perpustakaan. Wahyu, Devi, Jumai, Agus, Bening, Handoko, Ipung, Azis,
teman-teman baru yang akan bersama menjadi awak kapal dengan Iman sebagai
nahkodanya. Lantas mengagendakan acara pengikat hati, dengan mengunjungi
Kebumen bersama-sama.
PSDM itu melihat dengan hati,
ketika selanjutnya Up Grading dimulai. Mencoba mengenali satu per satu pasukan
yang akan membersamai perang selama satu periode kepengurusan. Dan semangat di
awal-awal itu menjadi satu langkah baru, terlebih setelah dipertemukan dengan
anak-anak pilihan yang dinisbatkan tanpa persetujuan menjadi Power Ranger.
Sungguh, aku kekanak-kanakan, tapi sampai hari ini pun tak bisa kulepaskan.
Cerita
di Balik Share, Care and Love
Bergelut di dunia sosial,
membuatku harus membaca, terpaksa lebih tepatnya. Aku dipaksa oleh seseorang
untuk membaca setiap kali aku akan berbuat sesuatu. Lalu, kata-kata itu, Share, Care and Love kutemukan pada
sebuah buku marketing perusahaan. Hmmm… bagus pikirku. Lalu ketika Pak Komandan
bertanya, sebenarnya aku asal jawab saja untuk jargon kita: Share, Care and Love. Tak kusangka
keesokan harinya, kata-kata itu benar-benar dipakai setelah dimodifikasi dengan
menggunakan gerakan-gerakan yang mengekspresikannya.
Namun, jargon ini selanjutnya
membuatku khawatir, ketika akhirnya satu demi satu orang saling jatuh cinta di
BEM. Aku mendapat teguran dari sana-sini, karena hal ini dikhawatirkan akan
mengganggu profesionalitas kinerja. Karena pernah ada cerita, BEM di sisi lain
UNY juga pernah menggunakan tema “Romantisme” sampai akhirnya benar-benar
terjadi dua orang aktivis di dalamnya menikah dan menjadi suami istri di
periode kepengurusan mereka. Bagus menurutku… J Namun, aku sempat merasa tak
enak juga. Jangan-jangan karena jargon itu yang membuat para prajurit
berjatuhan karena galau. Galau karena sebuah perasaan bernama cinta. Aku merasa
bersalah, karena bagaimanapun kata-kata adalah doa. Aku bingung bukan main. Masalah semangat, PSDM
masih bisa berusaha, tapi masalah hati, treatment
macam apa yang sesuai???
Menjelang
Pertengahan Tahun
Ibarat sebuah perahu yang
berlayar, tentu akan menemui rintangan-rintangan di lautan. Entah itu badai,
yang membuat kapal kehilangan keseimbangan atau menabrak batu karang, meski
tidak karam. Organisasi ini dengan sendirinya memiliki sistem imunitas yang
tinggi, bahkan tanpa peran PSDM, karena orang-orang di dalamnya adalah
orang-orang pilihan yang dapat berpikir dengan logika dan nurani. Bahasa
sederhananya, solid tanpa harus disolidkan PSDM. Itu kegagalan pertamaku, sekaligus
kebanggaanku. Ditambah ternyata aku gagal mengenali satu per satu tiap personil
yang ada, dan membuat sistem ranger terlalu kuat. Apalagi aku semakin autis
dengan duniaku sendiri, yang sok sibuk dengan akademik dan agenda-agenda lain.
Maka jika seringkali aku dipertanyakan karena jarang berkunjung ke rumah karya,
itu karena kecanggunganku sendiri yang mendera, semakin menciptakan spasi
antara aku dan kita. Agenda-agenda cultural sering kulalui, meski seberapa
inginnya aku membersamai, selalu ada penghalang yang membuatku tak bisa.
Maafkan aku kawan, karena dengan aku yang seperti ini, ternyata aku terlambat
untuk menyadari sesuatu. Terlambat mendeteksi cinta yang seharusnya kutumbuhkan
sejak dini, dan ketika akan kehilangan, baru aku merasakan memiliki. Ah,,,
penyesalan memang selalu datang belakangan.
Pada
Akhirnya, Cinta Adalah Sebuah Kata Kerja
“Karena cinta adalah kata kerja
Lakukanlah kerja jiwa dan raga
untuk mencintainya
Karena cinta adalah kata kerja,
Maka mata airnya adalah niat baik
dari hati yang tulus
Alirannya adalah kerja yang
terus-menerus.”
(Salim A Fillah, Jalan Cinta Para
Pejuang)
Begitulah cinta, ia adalah
pekerjaan jiwa dan raga, bukan sekedar kata. Sementara aku tengah mencintai
kalian melalui kata yang tak terucap, ada orang-orang yang telah membuktikan
cintanya lewat kerja-kerja nyata. Sebut saja namanya, Iman pucuk pimpinan yang
rela berkorban dan ahli negosiasi tingkat tinggi. Wahyu, loyalitasnya terbukti
karena telah mewakafkan diri untuk organisasi ini. Devi, sekretaris yang
mengerti harus berbuat apa bahkan tanpa diminta. Jumai, punggung terkuat yang
selalu membersamai, Bening yang tetap bertahan meskipun sakit-sakitan, Ipung
yang selalu menginspirasi dengan karya-karyanya, Agus dengan sifat kebapakan yang
selalu bijaksana dan cekatan, Handoko yang mengatasi setiap kebutuhan
organisasi dengan caranya sendiri, dan Azis dengan warnanya sendiri, memberi
nuansa pelangi. Begitu juga dengan yang lain, yang tak bisa kusebutkan satu per
satu kebaikannya, karena setiap langkah kebersamaan kita, semuanya tampak baik
di pandangan mata.
Hmmm… inilah akhir coretan gak
jelas ini, sebuah refleksi perjalanan yang di dalamnya aku banyak berkaca
sendiri. Suatu hari, akan menjadi sebuah rekam jejak dan pembelajaran yang tak
kan lekang dalam ingatan. Mari perbaiki kembali spasi antara aku dan kita,
meski tak lagi bersama. J
Langganan:
Postingan (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
-
Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah ...
-
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...