Jumat, 08 Maret 2013

Lagi-Lagi Tentang Ayah

"... Allah, Ya Allah guide me all the way to your jannah..."
nada dering hp ku. dan aku tahu siapa yang tengah menelepon. Nomor ayahku, tapi aku tahu pasti bahwa ibu yang akan berbicara. Aku pun tahu kira-kira topik pembicaraan yang akan diangkat beliau. seperti sebuah tanya tanpa ujung. Kesabaran yang tiada batas menanyakan hal yang sama berulang kali, dan mendapatkan jawaban yang sama, berulang kali juga. pertanyaan yang akan dilontarkan akan seperti,

"Sudah sampai bab berapa?"
" Bab 3 sudah selesai belum?
Kok belum selesai, kapan?"
"Katanya Februari seminar proposal, ini sudah Maret lho... "

dan dengan air mata yang ditahan-tahan agar tak jatuh, di depan anak-anak kosku tentunya, aku menjawab dengan sok tegar, "lagi proses, bu...". jawaban yang sama, berulang kali. Ah... aku tahu, mungkin karena jawbanku sama terus, maka pertanyaannya pun juga selalu sama. mungkin lain kali aku harus menjawab dengan jawaban yang berbeda, pikirku.

Ibu... ibu, andai tahu betapa menderitanya anak rantau dengan segudang kegalauan akan skripsi ini. satu kata yang sangat sederhana, namun membawa kegelisahan yang amat pelik.  Aku ragu, tapi harus. Maka, kusiapkan jawaban ala kadarnya, karena tak mampu berpikir lagi dengan kata-kata lain. Maka kuangkat juga telponnya.

"Assalamu'alaukum..." setelah kupencet tombol terima.
"Wa'alaykumsalam. Nduk, gimana udah sehat, katanya sakit?" aku salah, ternyata ayah yang berbicara. ini tumben, di luar batas kewajaran yang biasa. lalu mengalir pembicaraan kami yang sangat jarang itu. Ya, ayahku tak mengungkapkan cintanya lewat kata, melainkan lewat kata kerja.
dan tiap kali tema "sakit dan sehat" selalu ayah yang terbayang di pelupuk mata. seperti waktu itu....

semester 2 kuliah di kampus asing ini, ternyata menjerumuskanku pada kata manis berjudul aktivis. ya, lalu aku menyibukkan diri dengan berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas mahasiswa di tingkat ormawa. Menginspirasi, pikirku waktu itu yang juga terinspirasi oleh beberapa kakak kelas berbeda jurusan. hal itu membuatku terlibat dengan agenda terbesar organisasiku kala itu, dengan aku sebagai ketua panitia. masalahnya klise, dana. dan hal itu berujung pada pikiran kalut, sekalut benang ruwet. terlebih pada waktu itu aku adalah tipe pemikir berat, di mana setiap masalah kupikir begitu dalam, hingga mengalahkan nafsu makan. singkat cerita aku jatuh sakit, hingga menyebabkan aku dirawat di rumah sakit di kota ini. Ayah dan ibuku datang dengan perjuangan berdarah-darah karena terlalu khawatir. Maka travel yang seharusnya menjadi jatah satu orang, dipakai oleh dua orang sekaligus, dan tentu saja karena ayah adalah pria, ayah yang mengalah. bisa kubayangkan, penumpang yang lain duduk di kursi penumpang dengan nyaman, sementara ayah bergelantungan, mungkin lesehan, ah,,, aku tak tahu dan tak ingin membayangkan. Mereka datang ke kos, dan demamku tak kunjung sembuh, pun sakit kepala di sekujur tengkoraknya, adalah sakit yang tak biasa kualami. Maka paginya, aku dirujuk ke rumah sakit swasta terdekat, yang kutahu saat itu.

seperti skenario di dalam sinetron, aku dihampiri dokter di UGD, dan ibuku menangis-nangis, "Dokter... tolong anak saya dokter..."
aku membatin. "Hadeuh, sinetron beud ini." Maka aku berkata dengan lemah. "Gak ada acara nangis-nangisan bu... "
setelah diperiksa aku diinfus dan dibawa ke ruang perawatan. wow,,, ini luar biasa, pertama kalinya jarum suntik dan infus menancap di tubuhku, dan aku hanya pasrah.
dan ayah, terlihat sangat tegar. Setiap saat berada di sisiku, membacakan Al-Qur'an. Setiap hari bolak-balik keluar kamarku yang lantai empat, sedangkan ayah tak mau menggunakan lift. bisa diterka, ayah hanya menggunakan tangga manual bolak-balik dari lantai dasar ke lantai kamar rawat. belum lagi, harus berjalan bolak-balik dari rumah sakit ke kosanku dengan berjalan kaki. Mencuci bajuku, mencuci bekas ransum, membersihkan kamar, dan kembali membawa perbekalan. dan setiap kali kuprotes, kenapa tak pakai lift, kenapa tak pakai bus kota (karena waktu itu aku belum membawa si silvi, sahabat dan motor perjuangan), dengan santai ayah menjawab, "Sambil olah raga nduk. Lumayan."
tapi aku tahu, beliau lelah. dan makin membuncahkan rasa bersalah di dalam dada, kenapa aku harus sakit segala???

ayah,,,satu-satunya yang tak bertanya tentang skripsi. Dan itu membuatku sangat bahagia, karena beliau justru ingin aku menikmati masa-masa di kampus dengan segudang pengalaman berharga sebagai bekal kelak hidup di dunia nyata.
dan ibu, maafkan aku karena sampai sekarang belum bisa melukis senyum dan memberikan sebuah kebanggaan, sebuah sertifikat kelulusan dan toga wisuda.

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...