Kamis, 28 Agustus 2014

Tak Selalu Purnama (Balada Mahasiswa Tingkat Akhir)


Cerita di bawah ini bukanlah cerita fiktif semata. Jika ada kesamaan nama, alur cerita, dan tempat kejadian bukanlah sebuah kesengajaan. Jika cerita ini terlihat dramatis, romantis dan fantastis, bukanlah sebuah rekaan belaka. Semoga dapat diambil hikmahnya.
 
 

Titik Ketersesatan

Yogyakarta bukanlah kota tujuan saya untuk melanjutkan pendidikan tinggi pasca SMA, pun Universitas Negeri Yogyakarta. Saya tidak lebih dari seorang mahasiswa yang tersesat dalam memilih program study-nya.
Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di sebuah kabupaten kecil bagian barat daya Jawa Timur. Kabupaten kecil itu bernama Pacitan. Beruntung, Pacitan mulai dikenal oleh manusia seantero Nusantara lantaran ada orang Pacitan yang di kemudian hari menjadi Presiden Indonesia selama dua periode. Jika SBY tidak pernah menjadi Presiden, mungkin Pacitan hanya akan dikenang sebagai kabupaten di mana Jupe mencalonkan diri sebagai  Wakil Bupati atau sama sekali tidak akan dikenal karena disangka tidak ada di dalam peta Indonesia.
Menjadi mahasiswa adalah impian yang lumrah bagi anak-anak di kabupaten kecil ini, saat masih ada banyak anak yang menganggap menjadi mahasiswa adalah impian yang terlalu mewah. Maka, kita yang terpilih, selayaknya banyak bersyukur dengan segala kemudahan yang diberikan-Nya hingga dapat menyandang gelar mahasiswa.
Dahulu, paradigma seperti itu belum saya miliki. Saya berasal dari jurusan IPA, namun sangat menyukai Bahasa Inggris. Ketika tiba masanya untuk menentukan masa depan pendidikan, saya berada di sebuah persimpangan jalan yang membingungkan. Siswa yang berasal dari jurusan IPA tidak bisa masuk jurusan Bahasa melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat). Padahal, jika diizinkan, saya bisa masuk jurusan yang saya inginkan tanpa harus melalui tes. Karena itu, saya harus menunggu sebuah titik temu yang dapat mengakomodir jurusan sekaligus keinginan itu. Titik temu itu bernama SNMPTN, di mana saya bisa memilih jalur tes IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran).
Saya mengikuti SNMPTN di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta yang menjadi salah satu tujuan saya.  Program IPC menyediakan tiga alternatif pilihan jurusan. Saya memilih jurusan Pendidikan Kimia dengan pertimbangan basic IPA dan cukup bagus di bidang tersebut. Pilihan kedua jatuh pada Pendidikan Bahasa Inggris yang sejak awal saya inginkan, serta pilihan ketiga adalah Administrasi Negara. Khusus untuk pilihan ketiga ini memiliki rasionalisasi yang cukup unik, karena hanya berdasarkan pada hasil tes IQ yan pernah saya ikuti. Hasil tes menyarankan untuk masuk di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di urutan pertama, namun belakangan ketika hasil tes itu saya tinjau kembali, saran pertama untuk saya adalah Fakultas Sastra. Pilihan ketiga ini juga hadir karena saran dari kedua orang tua yang notabene adalah PNS. Regenerasi keluarga PNS, begitu pesan Ibu saat itu.
Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua. Kalimat yang tak asing di telinga itu, akhirnya berlaku pada saya. Saya diterima di program study Administrasi Negara Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2009. Sebuah program study yang bahkan tidak saya mengerti. Hanya berbekal keyakinan bahwa masih ada harapan untuk diterima di STAN, saya mulai melakoni titik awal ketersesatan yang berbuah pada ketersesatan selanjutnya. Menjadi mahasiswa Administrasi Negara UNY.

Ketika Harus Administrasi Negara

Apa yang mau dikata saat harapan hilang dari pandangan mata? Ternyata saya tidak diterima di STAN, yang memberikan pengumuman hasil seleksinya beberapa waktu setelah saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa UNY. The show must go on, hidup harus terus berlanjut. Mungkin ini adalah tanda bahwa saya memang ditakdirkan di sini, di UNY. Maka, sedikit demi sedikit saya harus berdamai dengan hati dan berteman dengan kenyataan bahwa kini saya adalah seorang mahasiswa Administrasi Negara.
Malangnya, Administrasi Negara UNY baru didirikan sebagai program study pada tahun 2008, otomatis saya menempati angkatan kedua program study tersebut. Bisa dipahami dengan usia seumur jagung tersebut, Administrasi Negara belum menjadi program study yang mapan. Beberapa bulan awal perkuliahan, kami tertelantarkan karena tidak memiliki ruang kelas yang memadai, sehingga kami melaksanakan KBM di kelas manapun yang tidak berpenghuni. Sempat di laboratorium mengetik, laboratorium computer, atau ruang Cut Nyak Dien.
Himpunan Mahasiswa saat itu masih bergabung dengan Prodi Administrasi Perkantoran. Orang-orang di luar jurusan juga menganggap bias kedua prodi yang dianggap sama, padahal sangat berbeda. Hingga di kemudian hari AN menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan ADP adalah bagian dari Fakultas Ekonomi. Hal yang membuat sedih, adalah pertanyaan mahasiswa lain di tingkat fakultas atau universitas setiap kali saya mengenalkan diri dari jurusan Administrasi Negara. “Oh, ada ya jurusan Administrasi Negara di UNY?”
Mulai saat itu saya bertekad. Semua harus tahu bahwa Administrasi Negara UNY itu ada dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Saya tidak tahu apakah teman-teman lain memiliki perasaan dan pikiran yang sama. Tapi dalam perjalanan cerita ini saya berjumpa dengan sahabat-sahabat perjuangan yang memiliki misi yang sama. Di kemudian hari, kami sama-sama mencetuskan pembentukan HIMA Ilmu Administrasi Negara. Di kemudian hari, kami merajut kisah yang disebut orang-orang sebagai aktivis kampus, dan salah satu dari kami menjadi seorang Ketua BEM di tingkat fakultas dan universitas. Mulai saat itu kami berusaha untuk selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di jurusan, fakultas dan universitas sambil terus menjadi agen untuk mengenalkan Administrasi Negara.

Bersentuhan dengan Dakwah

Pada dasarnya, saya adalah seorang anak yang tumbuh dalam organisasi. Sejak duduk di SMP, saya telah mengikuti OSIS, PRAMUKA dan ROHIS. Anak-anak perempuan di SMP waktu itu belum ada yang berjilbab, sehingga ketika kami mengikuti kegiatan ROHIS di hari Minggu, kami mengenakan jilbab khusus di hari itu. Saat tahun kedua di SMP, saya menjadi pengurus harian ROHIS dan sempat berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di IQRO’ CLUB. Entah apa sebabnya, setiap kali saya berinteraksi dengan “mbak-mbak berjilbab besar” itu, ada perasaan aneh yang menyusup dan membuat jantung berdetak lebih kencang. Banyak pengetahuan keislaman yang saya dapatkan. Sayangnya, interaksi dengan IQRO’ CLUB terputus di masa kepengurusan setelahnya.
Masuk SMA telah saya awali dengan memakai jilbab, meski belum benar-benar mengacu pada syari’at. Saya suka sekali memakai celana jeans yang dipadu dengan baju lengan panjang dengan jilbab yang ala kadarnya. Begitupun saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus, dengan style yang sama saya melakukan registrasi, KRS-an dan mendaftar OSPEK berkeliling FISE. Sampai suatu hari, saya merasa lebih nyaman memakai rok dan sedikit memanjangkan jilbab yang saya pakai, tepat di hari saya mengikuti ESQ.
Persentuhan awal saya dengan dakwah adalah saat saya menjadi  sie acara di kepanitiaan Musyawarah Besar Al Ishlah, sebuah acara Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan periode itu. Sampai akhirnya saya harus “jatuh cinta” pada kata-kata “Tiada yang kami inginkan selain perbaikan.” Mungkin kalimat itu hanyalah kalimat biasa bagi orang-orang lainnya, tapi kalimat itu yang telah menghantarkan saya pada sebuah pergolakan batin yang hebat hanya untuk sekedar memutuskan: bergabung atau tidak dalam barisan Al Ishlah.
Allah menunjukkan hidayah-Nya dengan jawaban saya akan bergabung dengan Al Ishlah. Hal itu semakin dikuatkan dengan kehadiran seorang pemandu mentoring yang saya kagumi di OSPEK. Beliau adalah seorang yang rempong dengan handy talky, megaphone dan beberapa handphone di tangannya ketika OSPEK. Sesosok koordinator acara yang selalu mondar-mandir dan terlihat sangat sibuk daripada lainnya. Dan itu keren di mata saya. Di Al Ishlah, saya mengenal banyak orang-orang “besar” di fakultas, yang membentuk sebuah paradigma di kepala saya, bahwa setiap aktivis kampus yang hebat itu dilahirkan dan dibesarkan oleh Al Ishlah. Mulai saat itulah saya banyak bersentuhan dengan agenda-agenda dakwah.
Ada beberapa orang yang turut berjasa “menyesatkan” saya di jalan kebaikan. Ingatan saya kembali pada Kepala Departemen di Al Ishlah yang waktu itu menanyakan apa arti dakwah bagi saya. Tidak disangka setelah pertanyaan itu hadir, saya mulai diberi amanah yang lebih berat dari sebelumnya. Konspirasi semesta juga seakan terjadi di bangku akademik. Dosen Agama waktu itu, Bapak Syukri Fathuddin memberikan ujian lisan kepada para mahasiswa. Sampai ketika beliau menguji saya, setelah semua pertanyaan berhasil saya jawab, beliau mengajukan sebuah permintaan agar saya bersedia menjadi tutor di Tutorial PAI UNY. Saya meng-iya-kan apa yang beliau sampaikan.

Tak Selalu Purnama: Sebuah Balada

Perjalanan dakwah seperti fase-fase bulan. Terkadang kita menyaksikan kegelapan pekat saat fase bulan mati. Kita menyaksikan bulan sabit, bulan separuh, hingga bulan purnama. Dalam setiap fase tidak selalu bergelimang cahaya purnama. Hal yang tidak pernah berbeda dari setiap fase adalah sujud-sujud kepada Sang Pencipta. Dalam fase seperti apa pun, masjid kampus senantiasa menjadi tempat tujuan setiap hamba-Nya, terutama yang bersandang “aktivis kampus” yang selalu merasa dekat dengan masjid kampus tersebut. Dia bernama Mujahidin, lebih akrab dipanggil Masmuja.
Sebagai episentrum dakwah, Mujahidin menjadi tempat berkumpulnya para aktivis kampus dan aktivis masjid. Menjadi tempat di mana ritualitas dielaborasikan dengan intelektualitas, Mujahidin bukan sekedar tempat ibadah semata. Kami menjadikan Mujahidin untuk tempat berdiskusi, kajian, dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dakwah. Mujahidin juga rela jika terkadang dijadikan tempat untuk melepas rasa lelah. Bukan itu saja, Mujahidin adalah saksi bisu dari setiap pengaduan dan tetesan air mata atas amanah yang terkadang terasa sangat berat di pundak.
Saya pun pernah mengalami fase-fase itu. Tak selalu purnama yang menemani langkah kaki. Saat saya yang masih harus mencari jembatan yang menghubungkan antara kapasitas diri dengan beban amanah yang diberi, saat itulah purnama seakan terenggut cahayanya. “Kita adalah da’i sebelum menjadi apa pun.” Satu doktrin yang senantiasa ditanamkan agar di manapun atau apa pun amanah kita, kita wajib membawa misi dakwah. Begitupun saat saya diamanahi menjadi koordinator acara OSPEK FISE terakhir dan justru terjadi aksi balik badan. Saat saya diamanahi menjadi Kepala Departemen PSDM BEM FIS di saat pergolakan antar mahasiswa semakin menjadi. Saat saya menjadi mahasiswa tingkat akhir dan masih menerima amanah lembaga di tahun keempat, saat teman-teman sekelas telah banyak yang berhamburan keluar dari universitas. Ya, mereka sudah lulus dan saya masih mengurusi pernak-pernik kampus.
Sempat saya merasa ingin segera menyudahi ini semua, tapi kemudian saya tersadar. Bahwa seharusnya amanah tidak menjadi pembenaran bagi saya untuk tidak bekerja. Bahwa setiap aktivis dakwah bisa berprestasi layaknya mereka yang tidak memiliki amanah. Bahwa tidak selayaknya saya mengkambinghitamkan ketidakmampuan saya atas nama amanah.
Apalagi sejak kecil saya termasuk anak yang dipantau prestasinya oleh kedua orang tua. Tiga besar adalah posisi yang tidak pernah luput di setiap tingkatan. Ketika saya tidak lulus lebih awal, terjadilah sebuah pertanyaan tersendiri dari kedua orang tua, padahal anak-anak kolega mereka telah lulus dari institusinya masing-masing. Saya hanya mengatakan, “Semua akan indah pada waktunya.”
Ada kegetiran luar biasa yang terjadi saat saya menghadiri  malam pelepasan wisuda seorang teman. Pertama, karena mereka yang seangkatan telah menyelesaikan masa study-nya, sedangkan saya sendiri belum menuntaskannya. Kedua, karena mereka yang mendapatkan predikat terbaik di angkatannya, bukan berasal dari kalangan aktivis. Saat itu saya bertanya pada diri sendiri, “Pergi ke manakah mereka yang diberi gelar para pewaris peradaban?”

Ada Kalanya Purnama

Saya selalu terpesona pada dua ayat Al Qur’an yaitu Q. S. Muhammad ayat 7 dan Q. S. Ar Rahman yang menyebutkan tentang “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Setiap mukmin akan selalu meyakini bahwa setiap janji Allah itu nyata dan setiap takdir yang Allah tuliskan untuk hamba-Nya adalah takdir yang terbaik.
Saya mengerjakan skripsi di sela-sela aktivitas saya di kampus. Berbagai metode saya gunakan agar tetap maksimal menjalankan amanah, salah satunya menerapkan hari khusus skripsi. Hari di mana saya tidak bisa diganggu gugat untuk agenda apapun selain skripsi, kecuali agenda-agenda yang bersifat sangat darurat. Satu hari itu benar-benar saya manfaatkan untuk mengerjakan skripsi, bimbingan, dan sebagainya yang membuat saya seringkali sama sekali tidak terpejam semalam suntuk.
Tahap demi tahap saya lalui, mulai dari penyusunan proposal, seminar proposal, penelitian, hingga akhirnya ujian di bulan November 2013, beberapa hari sebelum Dosen Pembimbing saya berangkat ke Australia untuk mengambil program Doktoral. Tidak disangka, saat yudisium saya didaulat untuk membacakan ikrar alumni. Setelahnya saya dipanggil pihak kemahasiswaan fakultas yang menyatakan bahwa saya adalah peraih IPK tertinggi fakultas dan univeersitas periode wisuda Maret 2014. Saya juga dinyatakan sebagai aktivis terbaik fakultas saat malam pelepasan wisuda di FIS. Bukan itu saja, saya kembali diberi kehormatan untuk membacakan pidato mewakili wisudawan/ wisudawati di tingkat universitas. Suatu hal yang tidak saya duga sama sekali. Dakwah Kampus UNY memiliki andil yang besar atas “purnama” yang saya terima saat itu. Sungguh, janji Allah sangatlah nyata. Manusia hanya belum mampu melihat dengan kedua matanya jika belum diizinkan-Nya. Semua diskenariokan dengan sangat indah, di waktu yang tepat.

Agen Rahmatan lil’alamin

Pada akhirnya setiap diri kita adalah agen yang harus menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin. Siapapun kita, di mana pun kita, wajib menyampaikan kebaikan dan memberi kemanfaatan untuk orang lain. Seperti yang selalu diajarkan oleh Rasulullah, bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lainnya.”
Untuk menjadi agen yang baik, kita juga membutuhkan lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik akan kita dapatkan jika kita bergaul dengan orang-orang baik, kita dapat menemuinya di lingkungan masjid. Setiap kali kita berinteraksi dengan masjid, selanjutnya kita akan menempatkan lingkungan masjid itu di hati, agar di manapun kita berada kita selalu mengingat masjid dan orang-orang yang ada di dalamnya.



Kembali

Kembali,,,,
Beranjaklah dari mimpi
yang selama ini membuai dan melenakan matamu
tentang janji-janji indah yang kau temui malam itu

Pagi hari, saat mentari bersinar lagi
Tapakilah dunia nyata
Bergegaslah meraih mimpi
Bukan duduk melamun dan mengingati.

Kembalilah ke dunia nyata
tempat di mana aku berada

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...