Tampilkan postingan dengan label Administrasi Negara oke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Administrasi Negara oke. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

Surat Buat Bunda


Assalamu alaikum, Bunda...
Semoga nikmat Allah selalu tercurah padamu, karena pada hakikatnya nikmat-Nya tak kan pernah putus pada umat-Nya sebab Dia Maha Kaya, lagi Maha Pemberi.
Bunda, sengaja kutulis surat padamu, sekedar pelepas rindu karena tak bisa menatap wajah lembutmu, tak bisa mencium tangan halusmu, tak bisa mencium keningmu, apalagi merasakan hangat pelukanmu. Sengaja kuungkap perasaanku pada selembar kertas yang kini ada di hadapanku, seolah kini aku sedang bicara denganmu.
Bunda, putramu yang kini timbuh dalam dewasa ini ternyata tak pernah bisa membendung air mata, kala teringat padamu. Bagaimana kabarmu di sana? Apakah baik-baik saja? Tentulah begitu jawabmu ketika nanti aku bertanya. Tapi aku tahu Bunda, relung hatimu sedang tergores resah akan keadaanku di sini, di tempat asing yang tak pernah bisa diduga. Selalu saja engaku bertanya,” Gimana keadaanmu? Sehat kan? Sudah makan? Makan apa? Sudah shalat?” . tentu saja aku menjawab ya, aku sehat, aku sudah makan, dan aku sudah shalat. Walau jauh dari pengawasanmu, tak kan bisa aku menghindar dari pengawasan Rabb ku. Dan selalu engkau berkata,”Kalau uangnya kurang ambil di atm, nanti Bunda transfer. Jangan terlalu ngirit, yang penting sehat. Jangan lupa belajar, jangan lupa mengaji, jangan lupa berdoa.” Tentu saja aku akan menjawab ya, tapi jauh di pusat rasional dan kesadaranku, aku berpikir. Begitu sulitnya kau mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahku, bekerja keras siang malam dan bahkan berhutang. Apa Bunda kira aku tak mengetahui hal itu? Sungguh perih rasanya Bunda, membayangkan pengorbananmu, sementara aku belum bisa berbuat apa pun untuk sekedar menunjukkan baktiku. Tak mampu.
Bunda, sudahlah jangan cemaskan aku. Meski kutahu perasaan keibuanmu yang membuatmu selalu memikirkan aku. Tapi Bunda, yakinlah padaku, aku di sini menuntut ilmu. Menahan getir pahit karena terpisah denganmu dan keluarga untuk sementara waktu. Tapi aku dijaga oleh-Nya, yang tak pernah tidur dan tak pernah lengah. Aku dijaga oleh-Nya Yang Maha Sempurna yang memenuhi kebutuhanku sebelum aku meminta, karena begitu luasnya kasih sayang-Nya. Ini adalah suatu rangkaian proses Bunda, sebelum aku membawa senyuman di bibirmu ketika aku meraih sukses suatu saat nanti.
Bunda, satu hal yang mesti Bunda tahu, bahwa aku begitu mencintai Bunda. Dengan segenap jiwa, aku kan berjuang di sini untuk meraih prestasi demi sebuah kebangaan yang selama ini belum pernah kuwujudkan. Bila kuingat, terlalu banyak kekecewaan yang dulu aku torehkan pada hatimu, setelah memberi harapan padamu. Tapi aku yakin, itu bukan harapan semu, hanya waktu yang belum berpihak pada takdirku. “Jika Dia berkata ya, maka saat itu Dia akan memberi apa yang aku pinta. Jika Dia berkata tunggu, maka Dia akan memberi yang lebih baik, dan jika Dia berkata tidak, maka Dia mengganti yang lebih baik.”
Bunda, meski saat ini dimensi jarak begitu jauh memisahkan, namun kuharap dimensi kejiwaan akan selalu mempertemukan kita, meski hanya dalam doa yang sama-sama kita panjatkan pada-Nya. Ia Maha Mendengar, dan jika berkenan Ia akan mengabulkan. insyaAllah...
Bunda, kututup goresan pena ini dengan salam rindu yang begitu menggebu, dari lubuk jiwa yang begitu dalam akarnya, berharap kita kan segera berjumpa dalam naungan kasih-Nya. Dan kuakhiri dengan sebaris doa, semoga Bunda sehat selalu, bergelimang rizki yang halal dari anugerah-Nya.
Aku mencintaimu, selalu...
Wassalamu alaikum....

Putramu yang berjuang di tanah orang

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...