Klise bukan?
Tiap orang punya kisah patah hatinya. Namun kamu bukanlah patah hati bagiku. Kamu adalah teman seperjalanan, partner bercanda, rekan dan kolega.
Kamu pasti tak ingat, jika kali pertama kamu menyapaku pada suatu siang yang sibuk. Laki-laki tinggi yang meminjam lem kertas padaku, siapa sangka setelah hari itu kita akan sering bertemu.
Aku waktu itu terlalu sering memaksamu, kamu tahu sekarang aku menertawakannya. Kekonyolan itu. Aku menarik tas punggungmu, mengisi CV dan keperluan mendaftar wadah mahasiswa seperti kita, tanpa pernah bertanya, "Kamu mau?". Seharusnya aku tahu, bahwa minatmu mungkin tidak di situ, tapi kenapa kamu juga tetap mengikutiku?
Rupanya kita memang dua manusia konyol yang menjalin pertemanan dalam keterpaksaan.
Kamu menyebalkan, aku tahu itu. Tapi kenapa aku selalu memperhatikanmu, aku heran pada diriku. Kamu bukan tipe pria idealku, tapi kenapa aku selalu tertawa jika bersamamu. Rupanya melelehkan bekunya hatiku, mungkin semudah itu.
Kala itu kamu selalu ada buatku, menemani perjalananku. Kamu menungguku jika aku terlampau lambat, kamu mengalahkan egomu dan berjalan di sisiku. Kamu bersedia mendengar saat aku berkeluh kesah, dan tentu saja kamu yang selalu membuatku tertawa.
Bertahun-tahun sedekat itu, tapi kita tak pernah selangkah lebih maju. Kita selalu teman, walau saling tahu kita sama-sama saling perhatian.
Konon, tak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang tanpa melibatkan perasaan.
Kupikir aku yang duluan menyimpan tapi aku tidak ingin ketahuan.
Kini, aku tak tahu lagi. Aku tidak sedih, tidak pula bahagia. Saat kamu bercerita pada dunia bahwa pada akhirnya kamu telah menemukan separuh nyawa, yang ternyata bukan aku orangnya di ujung cerita.
Tentu saja aku turut bersuka cita, tapi aku tidak bisa berkata kalau aku baik-baik saja.
Semoga berbahagia, separuh jalanku, masa remajaku.
