Minggu, 29 November 2015

Skripsi (Pasti) Berlalu [For Activists]

Chapter 1: Ketika Mahasiswa Bertasbih
Pilihan Hidup
“Education is not preparation for life; education is life itself.”
-John Dewey-
Siapa yang tidak kenal dengan nama besar Thomas Alva Edison? Yap! Thomas adalah seorang penemu dari Amerika yang namanya melegenda. Ia menemukan bola lampu listrik, gramophone  dan juga kamera film. Atas jasa-jasanya untuk peradaban umat manusia di seluruh dunia, namanya tercatat sebagai salah seorang penemu terbesar di sepanjang sejarah. Ada yang ingin membuat catatan sejarah?  Atau namanya tercatat dalam buku-buku sejarah? Pasti ada kan?!
Pencapaian Thomas Alva Edison ini tentu tidak terlepas dari kegigihannya dalam belajar dan bereksperimen. Belajar dan bereksperimen adalah bagian dari pendidikan. Tapi siapa sangka, Thomas Alva Edison yang memiliki nama besar ini ternyata memiliki kisah yang sangat  menyedihkan sekaligus mengharukan dalam bidang pendidikan?
Diceritakan bahwa pada suatu hari Thomas Edison kecil pulang ke rumah dengan membawa sebuah surat untuk ibunya. Ketika bertemu sang Ibu, Thomas berkata, “Guru di sekolahku memberiku surat ini dan menyuruhku memberikannya khusus untuk Ibu.” Setelah menerima surat itu, mata jernih milik Ibu Thomas mulai berkaca-kaca lalu meneteskan air mata.  Lalu dengan lantang sang Ibu membacakan surat dari guru Thomas itu kepada putranya, “Putra Anda sangat jenius. Sekolah ini terlalu kecil dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk mengajari putra Anda, sehingga Anda sendirilah yang harus mengajari dan melatih putra Anda.”
Begitulah, pada akhirnya Thomas Alva Edison keluar dari sekolah formal dan mulai belajar sendiri. Membaca banyak buku, membuat laboratorium kecil,  serta melakukan eksperimen-eksperimennya di rumah. Bertahun-tahun kemudian, Thomas Alva Edison telah menjadi salah seorang penemu terhebat di abad itu dan ibunya telah meninggal dunia. Thomas berniat untuk mencari barang-barang lama milik keluarga dan menemukan sepotong kertas di sebuah bangku. Dia lalu membuka kertas itu dan membaca apa yang tertulis di dalamnya. Dalam kertas tersebut tertulis, “Putra Anda sepertinya menderita kelainan mental. Dengan terpaksa, kami mengeluarkannya dari sekolah.”
Edison seketika menangis mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia lalu menulis dalam catatan pribadinya, “Thomas Alva Edison yang dulunya adalah seorang anak yang mengalami penyakit mental, melalui tangan seorang Ibu yang heroik telah menjadi seorang jenius dalam abad ini.”
Mengharukan bukan? Lihat, betapa peran seorang Ibu sangatlah besar dalam membentuk kepribadian dan kecerdasan anaknya. Bayangkan, betapa hancurnya hati Ibunda Edison begitu menerima surat yang isinya adalah pemecatan dari sekolah serta kata-kata yang menjatuhkan buah hatinya. Ibu-ibu yang lain mungkin bisa saja tidak mengambil pilihan yang sama dengan apa yang dilakukan Ibu Edison. Mereka mungkin akan memarahi sang anak, menyudutkan, menjewer bahkan melakukan tindak kekerasan lainnya hingga membuat sang anak menangis dan trauma. Lebih dari itu, mungkin ibu-ibu yang lain akan memandang anaknya sendiri dengan sudut pandang yang dipakai oleh pihak sekolah. Menempatkan anaknya sebagai seorang idiot, memiliki penyakit kelainan mental,tidak tertolong. Jika pilihan itu yang diambil oleh Ibunda Edison, maka hari ini kita tidak akan pernah mendengar dan mengenal nama besar penemu bola lampu  listrik bernama Thomas Alva Edison. Mungkin juga hari ini kita tidak bisa menikmati malam  dengan sinar lampu listrik yang terang benderang karena tidak pernah ditemukannya bola lampu listrik.
Beruntungnya, ibunda Edison adalah seorang perempuan yang bijak. Ia menguasai dirinya sendiri lalu menyinarkan cahaya harapan pada Thomas Alva Edison kecil untuk tumbuh dengan baik meski tanpa sekolah formal. Bertahun-tahun kemudian, seorang anak yang dinilai memiliki kelainan mental tersebut telah menjadi seorang penemu yang jenius.
Eits, apa hubungannya sikap bijak Ibu Thomas Alva Edison dengan pendidikan?
Tentu berkaitan erat. Sikap bijak Ibu Thomas Alva Edison yang terus mensupport pendidikan bagi anak meskipun tanpa sekolah formal adalah suatu hal yang perlu diapresiasi. Ia tak membiarkan sang anak patah semangat lalu mengabaikan pendidikan begitu saja. Seperti yang dikatakan oleh John Dewey, pendidikan memang bukanlah persiapan untuk menghadapi kehidupan, tapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
Terlepas dari pendidikan formal atau non formal, kita semua tahu betapa penting pendidikan dalam hidup ini. Nelson Mandela pernah mengatakan, “ Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Yes! Pendidikan adalah senjata terkuat yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Tidak terlalu berlebihan sebenarnya, karena setidaknya pendidikan memang dapat mengubah hidup seseorang atau keluarganya. Percaya?
Bagi kalian penggemar novel best seller, pasti akrab dengan novel karya Iwan Setyawan yang berjudul “9 Summers 10 Autumns” dan “Ibuk.” Novel tersebut bercerita tentang kehidupan keluarga si penulis yang teramat sederhana, namun senantiasa memelihara kepercayaan bahwa pendidikan dapat merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik. Bagaimana akhirnya? Meskipun harus menghadapi berbagai rintangan serta harus menempuh perjuangan yang berdarah-darah, mimpi untuk membuat kehidupan keluarga menjadi lebih baik benar-benar tercapai.
Begitu juga dengan novel Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, pendidikan yang tinggi dan semangat untuk selalu percaya pada mimpi dapat mengubah hidup seorang anak dari pulau kecil menjadi seseorang yang berarti bagi keluarga, agama, masyarakat dan juga negara. Bukti-bukti yang lain juga banyak terhampar di sekeliling kita. Apa? Masih kurang contohnya?
Pada chapter ini, kita akan lebih banyak berbicara tentang pilihan hidup dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia adalah amanah konstitusi sekaligus merupakan salah satu tujuan negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itulah digagas Program Wajib Belajar berikut dengan kurikulum dan sistem pendidikannya. Sayangnya, pendidikan di Indonesia belum bisa dirasakan oleh semua kalangan karena biaya pendidikan yang mahal dan berbagai penyebab lainnya, sehingga ada anak usia wajib belajar yang harus putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Hal ini tentu banyak terjadi di tingkat transisi antara Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Tidak semua orang beruntung dapat mengenyam rasa menjadi mahasiswa. Beberapa anak memang memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan karena alasan biaya, namun ada juga yang memang tak ingin. Di satu sisi ada juga anak-anak  yang sangat ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi namun terkendala biaya atau tidak lolos kualifikasi. Bagusnya, beberapa tahun belakangan Pemerintah telah menyediakan berbagai macam beasiswa yang dapat memfasilitasi anak-anak yang kurang mampu untuk turut merasakan pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Semua kembali kepada pilihan hidup masing-masing pada akhirnya, karena memang tidak semua menyadari betapa pentingnya pendidikan itu sendiri.


[Next…] Luruskan Niat dan Bersyukurwww.ernawatililys.comwww.ernawatililys.com

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...