Chapter
1: Ketika Mahasiswa Bertasbih
Pilihan
Hidup
“Education is not
preparation for life; education is life itself.”
-John
Dewey-
Siapa yang tidak kenal dengan nama besar Thomas Alva
Edison? Yap! Thomas adalah seorang penemu dari Amerika yang namanya melegenda.
Ia menemukan bola lampu listrik, gramophone
dan juga kamera film. Atas jasa-jasanya untuk peradaban umat manusia di
seluruh dunia, namanya tercatat sebagai salah seorang penemu terbesar di
sepanjang sejarah. Ada yang ingin membuat catatan sejarah? Atau namanya tercatat dalam buku-buku sejarah?
Pasti ada kan?!
Pencapaian Thomas Alva Edison ini tentu tidak
terlepas dari kegigihannya dalam belajar dan bereksperimen. Belajar dan
bereksperimen adalah bagian dari pendidikan. Tapi siapa sangka, Thomas Alva
Edison yang memiliki nama besar ini ternyata memiliki kisah yang sangat menyedihkan sekaligus mengharukan dalam
bidang pendidikan?
Diceritakan bahwa pada suatu hari Thomas Edison
kecil pulang ke rumah dengan membawa sebuah surat untuk ibunya. Ketika bertemu
sang Ibu, Thomas berkata, “Guru di sekolahku memberiku surat ini dan menyuruhku
memberikannya khusus untuk Ibu.” Setelah menerima surat itu, mata jernih milik
Ibu Thomas mulai berkaca-kaca lalu meneteskan air mata. Lalu dengan lantang sang Ibu membacakan surat
dari guru Thomas itu kepada putranya, “Putra Anda sangat jenius. Sekolah ini
terlalu kecil dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk mengajari putra
Anda, sehingga Anda sendirilah yang harus mengajari dan melatih putra Anda.”
Begitulah, pada akhirnya Thomas Alva Edison keluar
dari sekolah formal dan mulai belajar sendiri. Membaca banyak buku, membuat
laboratorium kecil, serta melakukan
eksperimen-eksperimennya di rumah. Bertahun-tahun kemudian, Thomas Alva Edison
telah menjadi salah seorang penemu terhebat di abad itu dan ibunya telah
meninggal dunia. Thomas berniat untuk mencari barang-barang lama milik keluarga
dan menemukan sepotong kertas di sebuah bangku. Dia lalu membuka kertas itu dan
membaca apa yang tertulis di dalamnya. Dalam kertas tersebut tertulis, “Putra
Anda sepertinya menderita kelainan mental. Dengan terpaksa, kami
mengeluarkannya dari sekolah.”
Edison seketika menangis mengetahui kenyataan yang
sebenarnya. Ia lalu menulis dalam catatan pribadinya, “Thomas Alva Edison yang
dulunya adalah seorang anak yang mengalami penyakit mental, melalui tangan
seorang Ibu yang heroik telah menjadi seorang jenius dalam abad ini.”
Mengharukan bukan? Lihat, betapa peran seorang Ibu
sangatlah besar dalam membentuk kepribadian dan kecerdasan anaknya. Bayangkan,
betapa hancurnya hati Ibunda Edison begitu menerima surat yang isinya adalah
pemecatan dari sekolah serta kata-kata yang menjatuhkan buah hatinya. Ibu-ibu
yang lain mungkin bisa saja tidak mengambil pilihan yang sama dengan apa yang
dilakukan Ibu Edison. Mereka mungkin akan memarahi sang anak, menyudutkan,
menjewer bahkan melakukan tindak kekerasan lainnya hingga membuat sang anak
menangis dan trauma. Lebih dari itu, mungkin ibu-ibu yang lain akan memandang
anaknya sendiri dengan sudut pandang yang dipakai oleh pihak sekolah.
Menempatkan anaknya sebagai seorang idiot, memiliki penyakit kelainan
mental,tidak tertolong. Jika pilihan itu yang diambil oleh Ibunda Edison, maka
hari ini kita tidak akan pernah mendengar dan mengenal nama besar penemu bola
lampu listrik bernama Thomas Alva
Edison. Mungkin juga hari ini kita tidak bisa menikmati malam dengan sinar lampu listrik yang terang
benderang karena tidak pernah ditemukannya bola lampu listrik.
Beruntungnya, ibunda Edison adalah seorang perempuan
yang bijak. Ia menguasai dirinya sendiri lalu menyinarkan cahaya harapan pada
Thomas Alva Edison kecil untuk tumbuh dengan baik meski tanpa sekolah formal.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak yang dinilai memiliki kelainan mental
tersebut telah menjadi seorang penemu yang jenius.
Eits, apa hubungannya sikap bijak Ibu Thomas Alva
Edison dengan pendidikan?
Tentu berkaitan erat. Sikap bijak Ibu Thomas Alva
Edison yang terus mensupport pendidikan bagi anak meskipun tanpa sekolah formal
adalah suatu hal yang perlu diapresiasi. Ia tak membiarkan sang anak patah
semangat lalu mengabaikan pendidikan begitu saja. Seperti yang dikatakan oleh
John Dewey, pendidikan memang bukanlah persiapan untuk menghadapi kehidupan,
tapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
Terlepas dari pendidikan formal atau non formal,
kita semua tahu betapa penting pendidikan dalam hidup ini. Nelson Mandela
pernah mengatakan, “ Education is the most powerful weapon which you can use to
change the world.” Yes! Pendidikan adalah senjata terkuat yang dapat digunakan
untuk mengubah dunia. Tidak terlalu berlebihan sebenarnya, karena setidaknya
pendidikan memang dapat mengubah hidup seseorang atau keluarganya. Percaya?
Bagi kalian penggemar novel best seller, pasti akrab
dengan novel karya Iwan Setyawan yang berjudul “9 Summers 10 Autumns” dan
“Ibuk.” Novel tersebut bercerita tentang kehidupan keluarga si penulis yang
teramat sederhana, namun senantiasa memelihara kepercayaan bahwa pendidikan
dapat merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik. Bagaimana akhirnya?
Meskipun harus menghadapi berbagai rintangan serta harus menempuh perjuangan
yang berdarah-darah, mimpi untuk membuat kehidupan keluarga menjadi lebih baik
benar-benar tercapai.
Begitu juga dengan novel Tetralogi Laskar Pelangi
karya Andrea Hirata, pendidikan yang tinggi dan semangat untuk selalu percaya
pada mimpi dapat mengubah hidup seorang anak dari pulau kecil menjadi seseorang
yang berarti bagi keluarga, agama, masyarakat dan juga negara. Bukti-bukti yang
lain juga banyak terhampar di sekeliling kita. Apa? Masih kurang contohnya?
Pada chapter ini, kita akan lebih banyak berbicara
tentang pilihan hidup dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di
Indonesia adalah amanah konstitusi sekaligus merupakan salah satu tujuan
negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itulah digagas Program
Wajib Belajar berikut dengan kurikulum dan sistem pendidikannya. Sayangnya,
pendidikan di Indonesia belum bisa dirasakan oleh semua kalangan karena biaya
pendidikan yang mahal dan berbagai penyebab lainnya, sehingga ada anak usia
wajib belajar yang harus putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi.
Hal ini tentu banyak terjadi di tingkat transisi
antara Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Tidak semua orang beruntung
dapat mengenyam rasa menjadi mahasiswa. Beberapa anak memang memilih untuk
tidak melanjutkan pendidikan karena alasan biaya, namun ada juga yang memang
tak ingin. Di satu sisi ada juga anak-anak
yang sangat ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi namun
terkendala biaya atau tidak lolos kualifikasi. Bagusnya, beberapa tahun
belakangan Pemerintah telah menyediakan berbagai macam beasiswa yang dapat
memfasilitasi anak-anak yang kurang mampu untuk turut merasakan pendidikan di
tingkat perguruan tinggi. Semua kembali kepada pilihan hidup masing-masing pada
akhirnya, karena memang tidak semua menyadari betapa pentingnya pendidikan itu
sendiri.
[Next…] Luruskan Niat dan Bersyukurwww.ernawatililys.comwww.ernawatililys.com