Sabtu, 30 November 2013

Beda

Dalam beberapa hal kita memang tidak bisa bersepakat. Perlu sebuah jembatan ajaib yang dapat menghubungkan masing-masing pemikiran dan sikap. Namun di sanalah letak keindahan itu. Perbedaan yang justru menyatukan.

Karena kita tak sama, maka kita mencoba saling memahami.

Jumat, 29 November 2013

Kembali Padamu

hai dear,
apa kabarmu?
benar, sangat ingin kumenyapamu
dalam hati ini sudah berucap rindu, tapi sulit sekali menjamahmu.

hai dear,
ingat seminggu yang lalu?
perjuangan kita bersama menakhlukkan hati kita, berjibaku dengan waktu, mendengar caci maki dosen pengujiku, menunggu di luar pintu dengan perasaan yang tak tentu?
atau bagaimana senangnya pak photocopy melihat kedatanganku
melihatku menenteng fd kesayanganku yang berisi dirimu?

hai dear,
kau tau apa itu perjuangan?
mengetikkan kata-kata di tengah malam
mencoba menghentikan kegelisahan
bertarung dengan waktu
mengalahkan ego
berproses
dan menuai hasil di kemudian hari

adalah aku dan kau
setelah seminggu meninggalkanmu teronggok di lantai kamarku
aku merindu
kembali padamu
untuk sebuah episode tambahan...
REVISI setelah ujian...

I'll be back... I'm back,,, to you,,,
Skripsiku...

Bagaimana tidak?

Bagaimana tidak?
Ada haru yang menjejal
Mendesak-desak meminta keluar
Tapi terlanjur aku peringatkan
"Jangan tampakkan perasaan kalau kau ini perempuan!"

Bagaimana tidak?
Melihat seorang anak manusia berkelahi dengan waktu
Menantang matahari dengan berani
Jatuh bangun di selasar perih perjuangan
Menghabiskan asa untuk sebuah pengabdian?

Lalu kutatap langkahmu yang mulai meragu,
Bolehkah aku menjadi tongkatmu?

Aku
Melantunkan doa dari kejauhan


Kau
Tetap  seorang pahlawan.

Sonet 12

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,
tak ada huruf kapital di awalnya.
Yang tak kita ingat aksara apa.
Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;
tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat-
 .
dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi dihimpitnya.
Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat
harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini-
tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat pada sebuah tanda tanya.
 .
Tapi bukankah kita sudah mencari jawaban,
sudah tahu apa yang harus kita contreng jika tersedia pilihan?
Dan kemudian memulai lagi merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?
.
Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?
Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?
.
~*Sapardi Djoko Damono*~

Kamis, 28 November 2013

Mata

Kalaulah ia lautan, aku ingin tenggelam
Kalaulah ia hutan lebat, aku ingin tersesat
Dan jika bisa, aku ingin menghentikan waktu barang sesaat

Agar aku dapat mengeja kata
Mengulangnya dan menjadi sebuah cerita
Bahwa aku terpedaya
Sepasang bola mata

Rabu, 27 November 2013

Diam-Diam

Diam-diam aku mencuri waktu
Malu-malu...
Dihimpit rasa resah yang tiba-tiba membuncah
Begitu saja dengan mudahnya aku memutuskan
Baiklah aku akan pergi
Sebelum penyesalan yang akan mencurinya dariku.

Diam-diam aku mencuri waktu
Sambil bermain petak umpet dengan matahari
Terang saja, waktu itu mendung menggelayuti
Ah, ada yang berpihak padaku. Awan!

Diam-diam aku mencuri waktu
Sejenak berhenti bersitatap dengan logika yang tak pasti
Oh, benarkah kau yang akan menjadi
Manusia nomor nol di dalam hati?

Sabtu, 23 November 2013

Biasanya di Hari Minggu

Biasanya di hari Minggu...
Anak SD itu bangun pagi-pagi dan sudah mandi di awal pagi. Bersemangat sekali menyambut matahari. Kenapa? Ya, karena hari itu hari Minggu.
Segera ia beranjak ke ruang tengah, tempat di mana tivi berada. Ia nyalakan, berdebar-debar apakah ia tepat waktu ataukah sudah ketinggalan.
Ah ya, zaman itu belum ada TVONE atau METRO TV yang selalu menampilkan berita politik seperti saat ini. Anak itu, anak SD dan ia hanya mengenal Indosiar sebagai satu-satunya stasiun televisi yang paling humanis untuk anak-anak seusianya.
Jam 7 pagi Pokemon, dilanjut Ultraman, lalu Power Ranger, Dragon Ball, hingga serial Detective Conan. Masing-masing berdurasi setengah jam. Bersemangat sekali ia menunggu hari Minggu, ia mengerti satu hal. Senin sampai Sabtu adalah hari-hari untuk belajar, dan hari Minggu adalah bonus bagi kerja kerasnya selama sepekan.

Biasanya di hari Minggu...
Anak SD itu sudah naik tingkat. Ia harus ikut kursus bahasa Inggris setiap hari Minggu. Perlahan, film anime favoritnya harus ia tinggalkan meski terasa berat. Ah, mungkin saat itu ia sudah mulai mengenal kata tanggung jawab. Maka, ia harus bangun lebih pagi, mencari-cari apakah Saint Saiya sudah muncul di layar kaca. Sampai menjelang 7 pagi, ia sudah berada di depan tivi. Lalu berangkat kursus bahasa Inggris. Sepulangnya pukul 9, ia akan berlari-lari-berpayah-payah menuju rumah. Ia harus bisa mengejar acara tivi yang tersisia. Ah, mungkin kala itu ia harus paham-bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan harus dikejar dengan susah payah dan kesungguhan.

Biasanya di hari Minggu...
Si anak SD sudah menjadi SMP. Semenjak itu ia sering berada di sekolah, entah untuk kegiatan Pramuka ataupun ROHIS. Maka moment pagi harinya tiap Minggu harus berganti. Mungkin untuk acara anime nya ia perlu menunggu waktu, sampai Pramuka dan ROHIS memberikan waktu libur untuknya. Ah, ia tahu benar- bahwa penantian itu selalu berbuah cemas, tapi akan terasa manis ketika sudah sampai waktunya. Ia hanya harus bersabar lebih lama.

Biasanya di hari Minggu...
Si anak SD telah menjadi SMA. Sama, masih ada kegiatan PRAMUKA di hari Minggunya. Tapi ia tak kecewa, ia justru bahagia. Memang ada saatnya ia mendahulukan prioritas pilihannya. Ia tahu benar, ada saatnya pula untuk berlibur, meski sekedar bercengkrama dengan keluarga di depan televisi di hari Minggu. Saat-saat ia pulang ke rumah dari indekosnya, setiap Sabtu sore selepas kegiatan. Meski terkadang harus berjalan jauh ke tempat pemberhentian bus atau angkutan. Bahkan jika terpaksa ia harus satu mobil dengan buruh-buruh pabrik rokok yang pulang selepas kerja. Pernah juga hampir Maghrib, tapi tak kunjung ada angkutan lewat. Ternyata tiba-tiba ia mendapat tumpangan dari seorang supir truk. Kala ia ia mencoba mengerti, bahwa tak ada yang sia-sia dari kesabaran, dan Tuhan akan memberi pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Biasanya di hari Minggu...
Si anak SD hijrah lagi ke daerah barat. Tempat di mana ia menjadi mahasiswa. Tak ada lagi anime dan moment-moment televisi untukya. Setiap Minggu ia merindu, pulang ke rumah kala ia menjadi mahasiswa baru. Mahasiswa pertengahan, ia jarang pulang. Banyak kegiatan, katanya. Mahasiswa tingkat akhir, semakin ia disibukkan dengan berbagai urusan. Baiklah, mahasiswa ini harus mengerti, bahwa semakin dewasa ia, semakin banyak pula tugas dan tanggung jawab yang diembannya.

begitulah biasanya di hari Minggu... Akan ada hari-hari Minggu lain di depan dan kebiasaan-kebiasaan yang lain sudah menunggu...
Anak SD itu,,, akan bermetamorfosis kembali,,, memiliki moment-moment untuk menjadi ulat, kepompong, lalu terbang indah menjadi kupu-kupu,,,,
Ah, biasanya di hari Minggu..... apa pun itu, si anak SD selalu bersyukur, karena Tuhan amat Pengasih dan Penyayang, yang mempertemukannya dengan hari Minggu, seperti hari ini...
*dan anak SD itu selalu masih menyukai anime sampai detik ini. :D

Senin, 18 November 2013

Oleh-Oleh Penelitian



 


still Soge Beach, Pacitan East Java

Captured by Me.. :D

Baru sadar, eksotis itu bernama Pacitan
Tanah kelahiran yang baru sebentar saja diakrabi
Karena sebuah dalih bernama penelitian
Well, Paradise of Java...

Edisi Mbolang Pacitan



                                                It's called Soge Bridge, Pacitan, East Java

Balada (Calon) Toga

Bangun hai jiwa!
Tidakkah kau sadari bahwa bermimpi berarti bekerja
Mimpi akan terasa berharga
Ketika engkau benar-benar bekerja-memperjuangkannya

Bangun hai pena!
Tak akan ada artinya jika kau tidak menulis
Sesaat berhenti menjadi spasi
Hati-hati,
bisa jadi ia berubah menjadi jeda yang membuat terlena
Padahal waktu tak mau berhenti sekalipun ia dicaci

Mari mendekat
Dengan sejuta cinta, bukan benci
Sekalipun sekat keduanya tak teramat pekat
Tak mengapa hanya selarik-dua larik yang bisa kau dapat
Suatu saat
Mereka akan berkumpul membentuk aliansi hingga menjadi sebuah karya yang hebat

Jangan merasa sendiri
Kau mengejarnya bersama secangkir kopi
Insomnia yang menjadi-jadi
Serta segudang inspirasi
Bukankah kau bekerja dengan niat beribadah kepada-Nya?

Maka jika kau terjaga di tengah-tengah malam yang sunyi
Jangan lupa berbicara pada Penggenggam Semesta
lewat sujud-sujud yang dalam
meski perlahan berubah menjadi isakan-sedu sedan
Dia, Maha Mendengar segala keluhan

Lelahlah, hingga lelah seluruh jiwa dan raga
Bukankah manisnya perjuangan akan lebih terasa
ketika merasakan pahitnya proses untuk mendapatkannya?

*Allah sesuai prasangka hamba-Nya
Dia selalu ada, membersamai langkahmu
Meraih toga itu...


Sajak Penantian

Larik-larik kata sederhana yang menghiasi tiap doa
Tangisan-tangisan sendu di tengah malam, menderas tanpa sebab
Lagu-lagu bertabur mimpi menghiasi hari
Resah-resah yang mewujud layaknya kupu-kupu senja

Semua itu hanya untuk menanti hari ini

Berdiri agar tetap terlihat tegar
Meski badai mengoyak raga sekuat apa pun.
Yakin, ada kekuatan Maha Dahsyat bernaung di dalam hati
Mengabulkan pinta saat-saat terdekat kening dengan mihrabnya

Semua hanya untuk menanti hari ini

Memang benarsegala harap bersanding dengan kepantasan
Mengetuk pintu, menjemputnya, bukan menunggu
Hingga tiba hari ini
Kisah yang dinanti-nanti.

Minggu, 17 November 2013

It's My Own Step. You?


Cukup membuat langkahmu sendiri dan kelak akan ada yang menorehkan jejaknya bersamamu.

Buat Apa Sih?

Inilah aktivitasku setiap malam. Dua aktivitas rutin yang terkadang tergantikan oleh aktivitas lain yang lebih menggiurkan. Tidur!!! Tapi bagaimanapun dua aktivitas rutin ini seperti secangkir cappucino-selalu menarik hati untuk meminumnya meski tahu efek apa yang terjadi setelah itu.

Baiklah dua aktivitas rutin itu adalah memencet tuts keyboard laptop Conan-kun dan mengejar-ngejar nyamuk. Aktivitas pertama, ya itu... berusaha untuk SEGERA menyelesaikan kegelisahan yang sudah menggelayuti satu tahun terakhir ini. Karya sastra terbesar sepanjang sejarah yang akan menjadi penghias perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial tahun ini hingga tahun-tahun sebelumnya. Makalah paling tebal yang pernah kupunya, dan mungkin telah membuat pohon-pohon kehilangan eksistensinya karena harus dipangkas menjadi kertas. Kertas-kertas itu kini bertebaran di dalam kamar dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan pada mereka. Tak mungkin kan aku menanamnya? Toh kertas tak bisa menjadi pohon. Yes! ada pepatah baru selain "Nasi sudah menjadi bubur" yaitu "Pohon sudah menjadi kertas". Tak mungkin juga aku membuangnya, torehan pena sejarahku terlalu berharga untuk dibuang begitu saja. Apa dijual saja? Kira-kira bisa dapat duit berapa?

Aktivitas kedua adalah mengejar-ngejar nyamuk. Sebagai orang dengan golongan darah O, beberapa permirsa pasti merasakan hal yang sama. Dengan alasan yang tidak bisa dinalar, nyamuk-nyamuk cenderung menyukai golongan darah O dan serta merta meninggalkan pemilik golongan darah yang lain. Nah lho, kita ini adalah orang-orang dengan darah yang manis. Beruntung atau buntung jika kemanisan darah kita ini mengundang nyamuk-nyamuk berseliweran mengincar kita? Nyamuk-nyamuk itu selalu mengganggu tidurku dan sayangnya aku adalah orang yang sangat peka. Sedikit saja bunyi "Ngiiingggg" aku tidak bisa lagi terlelap. Mencari asal suara, melek secara tiba-tiba bahkan rela duduk dengan segera untuk memastikan si pemilik suara terkena cinta dari tepukan dua belah tanganku. Lalu melanjutkan tidur. Hal yang lebih seru terjadi jika adekku terlelap lebih dulu. Nyamuk-nyamuk, biasanya lebih dari dua hinggap di bagian tubuhnya dan menghisap darah dengan leluasa. Selagi mereka terlena, hup.. hup.. hup... satu tepukan tiga nyamuk ada di genggaman. *Ngeri. Darah-darah lantas ada di telapak tangan. Mungkin aku patut diberi gelar Power Ranger Pembasmi Nyamuk. Astaghfirullah,,, ampuni Baim Ya Alllah...

Lalu pemirsa akan bertanya, buat apa sih elu nulis hal-hal random kaya gini?
Jawabannya singkat, "Just sharing about my life." Biar kamu tahu sedikit tentang aku. Biar kamu tahu, skripsi itu asik,,, karena membuat kamu produktif untuk menulis, karena tiap kali kamu kehabisan kata untuk menulis skripsi, tiba-tiba inspirasi lain datang menghampiri. Subhanallah... Ya, walaupun tulisannya model-model kaya gini,,,,

Minggu, 10 November 2013

Aku Masih Percaya

Beberapa saat yang lalu aku mengerti bahwa ada beberapa kondisi di mana alasan orang bersama adalah  adanya kesamaan visi, kesatuan langkah untuk bergerak ke arah yang sama. Bukan sekedar kesamaan nasib yang membuat orang dapat bersama, karena bisa jadi ketika nasib mulai berubah kurvanya, entah merangkak naik atau suka rela turun, maka kebersamaan orang-orang itu akan mengalami disorientasi. Tidak lagi dapat melihat dalam frame yang sama, dikarenakan kondisi yang berbeda.

Begitu juga dengan jalan cerita kita. Meski sampai saat ini aku masih teramat percaya bahwa ada maksud yang tersembunyi ketika Allah mempertemukan aku denganmu. Hingga sejak pertemuan itu, kita bahkan diidentikkan dengan sepasang sandal jepit yang selalu bersama di mana pun jua, meski sandal jepit berbeda ukuran. Aku semakin paham, mengapa kita dipertemukan karena kita saling melengkapi karakter satu sama lain. Aku adalah seorang melankolis, penyuka keteraturan, detail dalam segala hal, dan selalu ingin mengejar kesempurnaan. Hal itu yang membuatku sering berpikir terlalu dalam, bahkan berefek pada imunitas tubuh. Stres, kata orang. Sebaliknya, kau adalah seorang sanguinis, selalu ceria, tidak pernah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan terkadang cuek. Di situlah letak karakter kita saling tertaut, aku memberikan sentuhan keteraturan pada hidupmu dan kau menyalakan keceriaan dalam hidupku yang terlihat murung-meski sebenarnya tidak juga. Kita juga saling menjadi penopang, simpul yang saling menguatkan dan dukungan yang selalu hadir bahkan ketika tak seorang pun memberikan atensi. Tapi, itu dulu.

Semenjak perlahan kau mulai menghilang dari peredaran,, jujur aku merasa sangat kehilangan. Entah rasa apa yang membuatku mundur teratur dari barisan kita, aku sempat mencari-cari pegangan dan sandaran, dan aku pun kecewa. Memang tidak sepantasnya kita menyandarkan harapan pada manusia, karena yang akan kita temui hanyalah kekecewaan-kekecewaan belaka. Aku membenahi pola pikir, dan tidak bersandar padamu.

Aku berharap, seperti apa pun kita saat ini, dengan kondisi yang tak lagi sama-serupa, pun dengan identitas yang berbeda, kau sarjana dan aku masih mahasiswa, dengan perbedaan frame dan segalanya, tidak menjadikan kita saling melukai, tapi tetap saling menguatkan dan menasehati. Meski potensi untuk melukai karena tidak paham kondisi dan ketidakintesifan interaksi sangat besar.

Hanya saja, seberapa pun jauhnya kini kita berbeda. aku masih sangat percaya bahwa kita adalah sepasang sandal jepit yang banyak memberi inspirasi pada dunia. Bahwa kita diizinkan bersama karena ada maksud tertentu di dalamnya. Maka aku tak akan mengambil konklusi sebelum segalanya berakhir. Ya, karena kita hanya akan berakhir sejenak, ketika dunia fana memisahkan kita. Selanjutnya, kita akan kembali bersua dalam pertemuan kedua kita, akhir yang tidak pernah berakhir, di surga.

Aku masih percaya, bahwa sahabat sejati itu adalah sahabat yang senantiasa mengingatkan akan surga dan membuat lebih dekat dengan Allah, Sang Penggenggam Semesta. Bisa jadi kita masih banyak celah untuk berbuat salah. Karena kita manusia, maka kita tidak sempurna, kita hanya berusaha. Berusaha untuk menjadi sahabat yang saling menebar bau harum dan membuat sahabatnya juga harum saat berada atau tidak di sisinya.

#Keep being istiqomah till the end...

Sabtu, 09 November 2013

::Dilema antara persepsi dan realita, tentang belajar dan membelajarkan.::

Kemarin ada adek yang memberi statement, kurang lebih redaksinya seperti ini, dengan perubahan seperlunya "Tampaknya salah satu hal yang menyebabkan kemunduran generasi adalah terlalu banyaknya intervensi dari generasi di atasnya, sehingga tidak membuat generasi di bawahnya itu berkembang."

Wow... jleb!!! seketika saya melihat ke dalam (diri). Karena memang saya termasuk tipe yang sangat "perhatian" bahkan hingga ke wilayah teknis. statement ini adalah sebuah sindiran tersendiri. Oh jadi ini to yang dirasakan adek-adek?

Maka menjadi "kakak" itu terkadang adalah hal yang dilematis. Ingin memberikan banyak perhatian, bisa jadi membuat adek-adeknya menjadi terhambat kreativitas dan dayanya untuk bertumbuh. Jadi mikir, iya ya... Padahal suatu saat kita akan pergi dan mereka yang berganti menjadi kakak untuk adek-adeknya.

Tapi di satu sisi, ketika kita sengaja "menyembunyikan perhatian" seperti filosofi memberi, jika tangan kanan memberi jangan sampai tangan kiri mengetahui, terkadang banyak juga adek-adek yang protes dan menyatakan bahwa kita telah melakukan "pembiaran."

Jadi, gimana Kak?

Dan saya sendiri pernah "merasakan" hal yang disebut pembiaran, maka saya tidak ingin membiarkan adek-adek seakan berjalan sendiri. Terlebih ada semacam "dosa sejarah" yang sempat terjadi, sehingga kali ini saya tidak ingin kecolongan lagi.

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...