Rabu, 04 Mei 2011

Pohon kehidupan Litbang : Filosofi yang tak Disepakati



Kehidupan seorang filsuf sangatlah dekat dengan analogi. Analogi yang disepakatinya sendiri untuk menggambarkan karakter-karakter manusia dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta.
 Dari judul di atas, sebenarnya sudah bisa ditebak ke mana arah pembicaraan satu arah ini selanjutnya. Tapi maaf, bukan bermaksud menempatkan diri  sebagai filsuf, meskipun kata-kata saya filosofis dan penuh makna, tapi hanya coba menerka dan mengaitkannya berdasarkan rasa cinta. Pada keluarga ini, Litbang 2010 yang dikomandoi oleh Pak Kriswantoro dan Ibu Diah, dengan punggawa-punggawa yang dahsyat, Yoga, Ida, Nisa, Saiva, dan tentu saja Mifta. Litbang yang sering diplesetkan menjadi “sulit berkembang”, dan ternyata kita telah berhasil meruntuhkan pameo tidak bermutu itu, karena We Are The Champions…. ^^
Langsung aja deh…
Ibarat sebuah pohon yang memiliki elemen akar, batang, ranting, dan daun yang dalam kehidupannya sangat dekat dengan tanah, matahari, air, dan angin.
Akar, menggambarkan usaha yang gigih mencari sumber-sumber garam dan mineral sebagai makanan pohon. Ia berada di dalam tanah, tulus,  ikhlas dan totalitas dalam bekerja. Itulah Yoga.
Batang, adalah divisi kita, Litbang, induk atau tempat melekatnya akar, ranting dan daun.
Ranting, ia adalah si kecil yang kokoh dalam menghubungkan batang dengan daun. Ia adalah Saiva, yang sukses menghubungkan proker-proker AN dengan ADP dalam kegiatan Litbang, dan selalu kokoh serta tegar meski sering “dizalimi” oleh Kabid kita. Ranting yang ceria…
Dan daun…. Tempat terdapatnya klorofil atau zat hijau daun, di mana daun itu adalah sebagai tempat untuk memasak calon makanan bagi pohon. Itulah Ida, yang pandai mengolah, bukan hanya makanan tapi juga uang, sehingga Ida selalu ditempatkan jadi Bendahara merangkap sie konsumsi,,, hehe,,, Peace, Da!
Tanah, adalah tempat di mana pohon itu tumbuh, mengandung banyak mineral, dan merupakan unsur yang mentramkan, itu mbak. Diah yang kalem, tapi punya banyak pengetahuan.
Matahari adalah factor yang membantu asimilasi dan selalu menyinari, itu seperti semangat Nisa yang selalu  panas menggebu-gebu. Meski kadang ia tersaput awan, namun selama ia masih bersinar, tetap akan ada kehidupan.
Air, sang pembawa kesejukan, zat vital yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup,,, nah,,, yang itu adalah Mifta, yang selalu membawa kesejukan di hati semua orang dan menimbulkan inspirasi. Air yang selalu siap berbagi kehidupan,,, silakan disimpulkan sendiri, karena Mifta adalah teman berbagi yang tepat.  Hehe…. ^^ (sekali-sekali memuji diri sendiri gak apa-apa, siapa lagi yang mau memuji kalau bukan diri sendiri?)
Dan karakter  siapa dan apa yang belum disebutkan saudara-saudara???!!!
Yaps,,, angin,,, dan mas Kris. Angin itu adalah udara, tanpa udara daun tidak bisa memasak makanan dan angin bertiup sepoi-sepoi menambah kerindangan pohon itu sendiri. Namun karena merupakan udara bergerak, ia selalu bebas ke mana pun ia suka. Itulah mas Kris, coordinator yang suka bergerak ke mana pun, kalau gak ada perlu di hima, ya tidak pernah ke hima… jadi menyusahkan staf nya, harus mencari-cari sampai frustasi, baru ia ada di depan mata,,,, dengan wajah innocent-nya… bertaubatlah wahai mas Kris,,, hahaha,,,,
Gitu deh… meskipun “agak maksa” tapi akhirnya nyambung juga…. Maaf, saya tidak bermaksud apa-apa, hanya perlu menegaskan, menulis dengan huruf tebal, cetak miring dan menggarisbawahi, bahwa tiap elemen itu adalah suatu kesatuan system yang tak bisa dipisahkan. Dan berdasarkan teori system, apabila ada satu saja elemen yang tidak ada atau mengalami disfungsional, maka system akan mengalami kekacauan atau ketidakseimbangan. Intinya, setiap diri kita masing-masing mempunyai karakter yang berbeda-beda, namun ketika kita dipersatukan dalam suatu organisasi,kita akan menjadi bagian yang tak terpisahkan karena saling melengkapi. Dan justru perbedaan-perbedaan itu yang membuat indah dan berwarna suatu dinamika kehidupan, seperti pelangi, yang punya banyak warna, mejikuhibiniu…. Terlihat sangat indah….
kita telah dipersatukan di litbang bukan karena kebetulan, dan bukankan sehelai daun yang jatuh pun tak pernah luput dari takdir-Nya? Dan kita telah memulai semuanya dengan ikatan kekeluargaan, persaudaraan, bukan sekedar pertemanan atau persahabatan. Dan selayaknya ikatan kekeluargaan itu, semoga tidak akan pernah tercerai berai lantaran kepengurusan dan kebersamaan kita telah berakhir secara formal. Semoga hati kita terhimpun dalam ikatan itu, di mana pun kita berada saat ini atau nanti, berperan dalam amanah apa pun, sekarang atau di masa depan.
Ingin meneriakkan sekali lagi jargon dadakan kita, Litbang!!! Intelektual berjiwa social!!!
Dari sekeping hati yang merindukan kebersamaan, canda tawa dan semangat kalian…

Damai_smart
Yogyakarta, 26 Januari 2011 pukul 21.20
Proker terakhir yang sukses, melelahkan sekaligus dirindukan…
Moment-moment itu,,, bersama kalian,,, tak akan pernah terlupakan….

Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)



Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah satu prodi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi. Entah apa yang terpikir saat itu, hanya sedikit termangu, ketika seorang anak IPA yang tiap hari berkutat dengan kimia, fisika dan biologi masuk ke ranah ilmu social, apa yang akan terjadi? Administrasi Negara itu apa?
Tidak berhenti sampai di situ, ternyata Administrasi Negara di UNY adalah salah satu prodi baru yang belum terakreditasi. Apa kata dunia? Jika nanti lulusan Administrasi Negara UNY menjadi lulusan yang tak terakreditasi, tentu dunia kerja pun tak akan berpikir dua kali untuk memilih sarjana tak terakreditasi dengan sarjana yang lulusan Universitas bermerk, terkenal, dan tentu saja terakreditasi. Bayangan seperti itu yang dulu mengikuti benak penulis. Belum lagi persepsi orang-orang tentang Administrasi Negara. Kata mereka tentang AN,”Oh… yang kerjaannya tulis-menulis, catat-mencatat, ketik-mengetik, dan surat-menyurat?” atau “Oh,, nanti kerjanya jadi bagian TU ya?”
Berangkat dari ketidakyakinan karena persepsi kebanyakan orang, ditambah merasa “tersesat”, tentu tidak mudah untuk menjalani masa-masa kuliah. Tapi bagaimanapun the show must go on dan apa pun yang ada di depan kita harus dihadapi, bukan dihindari, pun rejeki juga sudah diatur oleh Sang Maha Pemberi, maka perkuliahan pun diikuti. Dan wow!!! Ternyata banyak kaum tersesat lainnya yang tergabung dalam satu kelas. Kebanyakan dari basic IPA, SMK dan bahkan IPS yang masih merasa tidak sesuai dengan jurusan yang diinginkan. Jadi??? Kaum yang memilih Administrasi Negara sebagai pilihan hatinya  secara sadar pun bisa dihitung dengan jari. Ketika ditanya apa motivasi kalian masuk AN? Mereka akan menjawab,”Tersesat”, “Dari namanya kelihatan keren, ada kata Negara-nya”, bahkan ada yang menjawab, “Takdir”. Dan kami seperti kumpulan orang-orang yang pasrah kepada nasib.
The surprise hasn’t finishet yet. Apa yang dikatakan orang tentang Administrasi Negara tadi, tidak sepenuhnya benar. Memang dalam suatu kegiatan pembelajaran selalu ada kegiatan tulis-menulis dan catat-mencatat, karena ilmu itu harus “diikat” dengan pena dan kertas atau ia akan terbang tanpa bekas. Ada juga ketik-mengetik, karena hampir semua tugas harus diketik. Tapi kami tak mempelajari teori tulis-menulis, catat-mencatat, ketik-mengetik, apalagi teori surat-menyurat. Tahu apa yang kami pelajari kemudian? Bidang kajian politik, hukum, perekonomian, sosiologi , hubungan Internasional dan hampir semua bidang kajian ilmu social kami pelajari, benar-benar kompleks, dan ini membuat sedikit shock, terutama yang berbasis IPA seperti penulis.
Belakangan baru penulis tahu, mengapa Administrasi Negara mempelajari begitu banyak bidang kajian, karena lulusan Administrasi Negara diarahkan menjadi “ahli kebijakan” di semua bidang dan diharapkan menjadi administrator Negara di bidang eksekutif, legislatif atau bahkan yudikatif. Namun, timbul satu pertanyaan lagi di benak penulis. Seorang ahli kebijakan tentu saja harus paham tentang seluk-beluk objek yang akan dibuat kebijakan atasnya. Analoginya, seorang guru/ dosen / akademisi adalah orang yang paham atas seluk-beluk pendidikan, maka ia akan bisa mengambil kebijakan terkait dengan pendidikan. Seorang pengambil kebijakan dalam bidang kesehatan adalah ahli kesehatan, pengambil kebijakan tentang perkonomian adalah pakar ekonomi, dan seterusnya. Lalu apa perlunya kuliah Administrasi Negara, kalau semua yang telah focus di bidangnya pun bisa jadi pengambil kebijakan???
Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita tinjau bersama definisi Administrasi Negara yang penulis gabungkan dari beberapa pendapat ahli, menjadi: Administrasi Negara adalah salah satu disiplin ilmu yang pada awalnya merupakan cabang dari ilmu politik, yang kemudian berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu karena di dalamnya mengkaji multidisiplin ilmu yang kompleks. Fokusnya adalah pada manajemen/ organisasi dan kebijakan public, sedangkan lokusnya adalah pada kepentingan public (public interest) dan masalah-masalah public (public affairs).
Dari definisi di atas, sedikit demi sedikit penulis mencoba mencari benang merahnya. Dari benang merah itu, penulis mulai berani bermimpi besar, bahwa lulusan Administrasi Negara adalah orang-orang yang dinantikan oleh Negara ini, Negara yang multidisiplin atau kompleks masalahnya, orang-orang yang diharapkan bisa konsen dalam mengambil kebijakan untuk menata kembali system pemerintahan beserta segala sesuatu yang terkait di dalamnya. Berkaitan dengan pertanyaan di atas, ternyata penulis belum memahami secara kontekstual, melainkan secara tekstual, karena pengambil kebijakan dari Administrasi Negara itu tidak akan berhenti sampai menjadi sarjana. Dalam jenjang pendidikan leibh tinggi, lulusan AN diharapkan bisa konsen pada satu masalah saja, misalnya politik, hubungan internasional, lingkungan, dan sebagainya, sehingga ia akan benar-benar ahli dan mumpuni dalam mengambil kebijakan. Ternyata memang keren, sekeren namanya, karena lulusan memang dicetak untuk mengurusi Negara dan pemerintahan.
Masalahnya, organisasi pemerintahan tidak bisa menampung semua lulusan AN. Lalu harus dikemanakan yang lainnya? Penulis jadi teringat pada ucapan seorang teman yang menarik, “AN itu cuma sampingan, tujuan utamanya wiraswasta, jadi Cuma jadi batu loncatan”. Sebuah kalimat yang kritis, karena menyadari betul potensi yang ada dengan eksistensi realita. Cara pikir yang menarik, ketika semua berharap bisa menjadi pegawai pemerintah, ia berpikir menjadi pengimbang pemerintah yang nantinya akan memiliki pegawai sendiri. Wiraswasta, yang berarti membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Salah satu upaya pengentasan kemiskinan akibat tingginya tingkat pengangguran. Dan apa yang sebenarnya terjadi? Secara tidak langsung ia akan menjadi pengambil kebijakan di bidang perekonomian, meski tidak melalui jalur pemerintahan. Suatu hal yang solutif.
Konklusinya, siapa pun yang merasa “tersesat” di Administrasi Negara, jangan berkecil hati dan jangan dengar persepsi yang seakan menyudutkan kita. Malah seharusnya kita merasa bangga dan mencoba untuk meluruskan persepsi tersebut. Administrator Negara, calon pemimpin bangsa!!! Administrasi Negara adalah batu loncatan untuk meraih masa depan. Jadi yang punya cita-cita menjadi Presiden, Menteri, dan pegawai pemerintahan, anda sedang berada di rel yang tepat. Untuk yang bercita-cita menjadi guru atau dosen, berbahagialah!!! Setelah lulus S1, coba konsen ke salah satu bidang, maka kesempatan untuk menjadi mahaguru calon pemimpin bangsa telah berada di depan mata. Yang ingin jadi pengusaha? Akan jauh lebih mudah, karena swasta atau privat adalah salah satu pilar good governance yang mempunyai tempat yang besar di Negara ini. So, optimislah mulai saat ini, karena keoptimisan akan membawa kepada kesuksesan.

                                                                                                       Mifta_Edogawa

Senin, 02 Mei 2011

Simple Story with Complicated Feelings: Sebuah Refleksi Tentang Makna Persaudaraan


Hangat…
Mungkin itu salah satu perasaan yang menjalar dalam aliran darah kita ketika memaknai isyarat persaudaraan. Terlebih ketika kita mampu membuat bahagia orang-orang di sekitar kita, tidak perlu dengan hal-hal yang muluk, cukup hal-hal sederhana yang siapa pun bisa melakukannya, meski sayangnya orang-orang sering melupakannya. Apa itu? Senyum. Senyum telah dilegalkan oleh Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda, “Tersenyumnya kamu di hadapan saudaramu bernilai sedekah untukmu.” Ya, senyum adalah sedekah, dan merupakan jaring hati. Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda, “Kamu benar-benar jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya kamu menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.”  Ya, konsep pertama dari indahnya persaudaraan akan kita mulai dengan semangat berbagi, sekalipun hanya berbagi senyum. Senyum tulus yang sederhana, dan secara sederhana pula akan ditangkap sebagai sinyal positif dan berimbas pada perasaan penerimanya untuk mengirimkan kembali senyumnya.
Sejuk…
Perasaan kedua yang terlintas adalah rasa sejuk, yang tiba-tiba mengalir di dalam dada yang panas dan bergemuruh yang diakibatkan oleh paham individualisme yang telah menjangkiti mayoritas masyarakat kita. Namun tampaknya untuk sejenak, panas yang bergemuruh itu  sejenak harus tereliminasi oleh rasa sejuk, bagaikan oase di tengah gurun pasir. Oase kesejukan itu bernama kepedulian. Kepedulian kepada saudara kita yang diwujudkan dengan sekedar menanyakan kabar, menjenguk yang sedang sakit, mendoakan saudara kita dan sebagainya. Kepedulian nampaknya adalah kata yang abstrak, namun ia harus konkrit sifatnya. Artinya, kepedulian itu harus ada realisasinya, bukan sekedar eksis di dalam hati, namun setidaknya harus dilisankan atau ditindaklanjuti dengan perbuatan.
Kembali ke individualisme yang telah menjangkiti generasi saat ini, atau bahkan telah menjadi penyakit akut yang sulit dicarikan obatnya. Ternyata, sisi kebaikan masih ada juga. Coba kita ingat kembali, bencana erupsi Merapi yang terjadi beberapa bulan yang lalu di Yogyakarta. Dan tahu apa yang terjadi? Rasa kemanusiaan yang tinggi dan solidaritas terhadap sesama, ternyata masih ada di dalam hati kita. Sehingga sedikit rasa peduli itu telah mengobrak-abrik sisi egosentrisme dan individualisme yang kabarnya telah diderita oleh  mayoritas masyarakat kota. Faktanya, banyak organisasi-organisasi masyarakat , pelajar dan mahasiswa yang turun ke jalan (bukan untuk aksi demo kali ini), tapi untuk melakukan aksi penggalangan dana bagi korban erupsi Merapi. Mereka rela berada di jalan-jalan yang panas oleh terik matahari dan berdebu, untuk sedikit meringankan  penderitaan saudara-saudara yang bahkan tidak mereka kenal. Namun, mereka tetap melakukannya dengan ikhlas, terlebih bagi kaum Muslimin, yang paham benar akan konsep “Setiap Muslim adalah bersaudara.” Dalam perjalanannya menggalang dana, memang masih ditemui segelintir orang yang enggan untuk membantu dengan rizki yang telah Allah berikan kepadanya, namun ada pula yang secara sadar memberikan sedikit rizkinya untuk orang lain yang sedang kesusahan. Kilimaks rasa sejuk itu terjadi, ketika ada salah seorang yang penggalang dana yang secara tidak sengaja berhadapan dengan seorang supir taksi.
“Sumbangan untuk korban Merapi, Pak,,,,” katanya. Tidak disangka, sang supir taksi tersenyum, lalu berkata,”Tapi maaf Mbak, Cuma sedikit…” sambil memasukkan uang seribu rupiah ke dalam kotak penggalangan dana. Subhanallah… titik tekannya bukan pada seberapa besar bantuan yang diberikan supir taksi tersebut, tapi seberapa besar kepeduliannya untuk turut serta membantu orang-orang yang sedang kesusahan, meski ia sendiri berada dalam keterbatasan. Sungguh menyejukkan….
Indah…
Bagaimanapun, persaudaraan itu sangatlah indah, terlebih jika kita mampu memaknainya sebagai suatu nikmat yang diberikan Allah untuk kita. Saat kita merasa sendirian, ada saudara kita yang siap dengan uluran tangan. Saat kita bersedih, tak mampu berdiri, bercucuran air mata, ada saudara kita yang akan menghapusnya. Saat kita melakukan hal yang salah, ada saudara kita yang mengingatkan tanpa lelah. Atau saat kita berjalan di jalan yang benar, maka saudara-saudara kitalah yang pertama kali memberikan dukungan dan semangatnya. Begitulah, sedikit gambaran tentang indahnya persaudaraan.“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.Ar-Rahman).
Ternyata, makna persaudaraan tak pernah dipersempit oleh batasan apa pun, karena persaudaraan adalah samudera nikmat yang semakin kita menyelaminya, semakin indah kita menemuinya. Apalagi persaudaraan yang disebutkan oleh Hasan Al-Banna sebagai keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan akidah. Ya, itulah yang disebut dengan ukhuwah. Atau Moslem’s brotherhood. Atau bisa kita sebut sebagai persaudaraan saja. Seperti yang telah disebutkan di atas, konsep ukhuwah bukanlah sekedar teori, tapi ia masuk dalam tataran aplikasi. Mau bukti?
Keterikatan hati dan jiwa oleh akidah tersebut diwujudkan dalam bentuk persaudaraan. Karena adanya keterikatan hati dan jiwa, maka jelas ada unsur perasaan di sana. Perasaan saling mengasihi dan menyayangi yang berlandaskan pada kecintaan pada Allah. Setiap muslim harus menempatkan setiap pikiran, perkataan dan perbuatannya karena Allah. Ketika ia mencintai, maka ia mencintai karena Allah, begitu pun ketika membenci juga karena Allah. Selanjutnya mari kita simak hadist berikut:"Sesungguhnya Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kecintaan-Ku berhak dimiliki orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku. Kecintaan-Ku berhak dimiliki orang-orang yang saling menolong karena-Ku'." (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Hakim yang men-shahih-kannya). Hadist tersebut secara gamblang telah menyebutkan bahwa Allah akan mencintai orang-orang yang saling berkunjung dan saling menolong karena-Nya. Dan seperti yang kita tahu, berkunjung dan menolong adalah taraf aplikasi. Maka, mari konkritkan kecintaan kita pada saudara kita dengan cara:memberitahukan kecintaan kita kepada yang kita cintai, memberikan senyum kegembiraan bila bertemu, saling mengunjungi/ bersilaturrahim, memberi hadiah pada waktu-waktu tertentu, memperhatikan saudaranya, menebarkan salam, saling mendoakan, dan lain-lain.
Persaudaraan itu, bukanlah mengenai ingatan seseorang tentang kapan pertama kali saling mengenal, melainkan mengenai ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doa-doanya. Begitulah, kisah sederhana tentang indahnya persaudaraan dengan perasaan yang rumit karena begitu banyaknya rasa yang ada. Rasa yang terlalu indah untuk dimengerti, karena ia bermuara kepada Yang Maha Indah.
Wallahu’alam.

SUMBER INSPIRASI

-          Al-Qur’an dan Hadist.
-          Abul ‘Id, ‘Athif. 2009. The Magic Smile, Senyum:Kekuatan Sihir yang Mengubah Hidup Anda. Surakarta: Al-Jadid
-          Saat-saat mentoring di timur auditorium tahun lalu
-          Just a simple story with complicated feelings, yang muncul karena sebuah Tanya tentang ukhuwah hari ini.

JOB DESCRIPTION PANITIA WORKSHOP PKM


Mohon atensinya!!!
1.      STEERING COMMITTEE:
Bertanggung jawab mengarahkan dan membimbing pelaksanaan acara, mulai dari konsep sampai pelaksanaan teknis dengan metode konsultatif. Bila diperlukan bisa menggunakan metode instruktif. Orang tua nih ceritanya,,,,

2.      KETUA PANITIA:
Bertanggung jawab dalam jalannya keseluruhan acara, mulai dari memimpin rapat dan berhak meminta laporan perkembangan kinerja masing-masing sie, menentukan deadline pelaksanaan tugas, menunjuk PJ teknis, membuat keputusan-keputusan, persiapan pidato kenegaraan juga tentunya… slow aja, but sure (jangan dijadikan beban, cz kita kerja sama-sama),,, tapi jangan pake asas alon-alon waton kelakon,,, Jogja banget tuh…
Oh iya, ketua juga bisa bantu sekretaris, bendahara dan sie humas dalam hal pencairan dana, penyusunan SPJ dan LPJ. SemangKA!!!

3.      SEKRETARIS:
Lumayan nih... sekretaris job nya adalah :
-         Menyusun proposal kegiatan dengan deadline tertentu, makin cepat makin baik.
-         Membuat surat-surat, antara lain surat permohonan pembicara, surat permohonan sambutan, surat undangan ke dosen dan wakil ormawa, surat ucapan terima kasih untuk pembicara, jangan lupa stempelnya…
-         Minta tanda tangan terkait dengan proposal dan surat-surat,,, bisa kerja sama ma sie humas,,, yang rukun ya…
-         Buat presensi peserta dan panitia, terutama di hari H
-         Sediakan amplop tempat fee dan map batik nggih,,, nanti notanya ditukar ke juru uang kita…


4.      BENDAHARA:
Selain pegang uang, juru uang kita harapannya juga bisa mengontrol dan membantu dalam proses pencairan dana, SPJ dan LPJ. Kita terapkan good governance, jangan di-nol kan kalau memang tidak nol. Urusannya bisa berabe,,, dituntut DPM, beban moral juga secara vertical maupun horizontal. Kita juju raja, insyaALLAH sisa dana tetap kita yang pegang. Okay hartawawati hima? Mohon bantuannya yak… ^^ V

5.      SIE ACARA
Ini nih,,, jantungnya kegiatan,,, kalau gak berdetak, maka berhentilah seluruh system (Hiperbola nih,,). Ayo, sie acara,,, tunjukkan pemikiran, aksi dan progress yang nyata. Job nya:
-         Menentukan nama kegiatan… Ex. PKM Fun in Tampan
-         Menentukan tema kegiatan… Ex. Membaca Peluang Mahasiswa FISE dalam Pembuatan PKM-K Bersama Ahlinya
-         Menentukan konsep dan isi pamphlet
-         Yang paling krusial menyusun teknis acara
-         Menghubungi pembicara dan yang bertugas dalam pidato-pidato kenegaraan, juga tentornya (bisa dibantu humas juga kok…)
-         Membuat juknis kegiatan
-         Memflorkan konsep kegiatan kepada seluruh panitia, karena itu sie acara bertanggung jawab dalam briefing panitia
-         Membuat list peralatan apa saja yang diperlukan dalam kegiatan.
-         Menentukan deadline pendaftaran
-         Kenang-kenangan pembicara dipikirkan juga ya,,,
-         Menentukan petugas teknis, korlap sekaligus timer, menunjuk PJ teknis…
-         Mengatur hal-hal incidental yang belum diatur sebelumnya (kaya bunyi pasal)
Wah banyak ya… tapi di situlah kedahsyatan sie acara,,, ayo, nyanyikan,,, sie acara luar biasa…



6.      SIE KONSUMSI:
Ini dia sie kesejahteraan masyarakat,,, karena itu;;; sie konsumsi sediakan snack yang bergizi meskipun harganya murah… snack n minum buat peserta, pembicara, dan undangan,,, jangan abaikan panitia,,, okay??? @ KWUà dahsyat!!!
Nah, sie konsumsi, minta tolong bagikan snacknya ya,,,menurut struktur yang sudah diatur,,,

7.      SIE PDD:
PDD oh PDD… para terampilwan dan terampilwati, tolong design pamphlet ya… sederhana gak papa, yang penting menarik dan tidak mengurangi esensinya…
Juga design sertifikat n menjalin relationship (lhoh?) sama KWU yang pegang tender pemesanan sertifikat, atau langsung ke senior kita, kak Chabib (08562590044), minta diskon kalau perlu… ^^
PDD juga punya amanah buat nyebarin publikasi alias masang pamphlet di tempat-tempat strategis ya,,,
Terus jangan lupa mendokumentasikan kegiatan dengan jeprat-jepret pake camdig atau kamera professional… video kalau perlu… tolong dihandle sekalian yan peminjamannya…
Slide presentasi jangan lupa.

8.      SIE PERKAP
Ada kata-kata yang menginspirasi dari saya nih buat kalian, “ Konsep tanpa teknis itu bohong, teknis tanpa konsep itu kosong”… so, kalian yang ada di tataran teknis adalah mitra strategis untuk kita semua, karena tanpa kalian acara jadi lumpuh.
Biasa, perkap, siapkan alat-alat yang diperlukan, sesuai dengan list yang diminta sie acara, mengaturnya sebelum pelaksanaan,,, yang krusial seperti, tempat duduk (tikar kalau mau lesehan), microphone dan perangkatnya, kabel-kabel, meja buat pembicara dan sebagainya… sip??? Kalian tahu yang kami mau. (sprite dengan sedikit modifikasi).




9.      SIE HUMAS
Nah, yang ini sie yang sibuk sekali, karena harus jalan-jalan n wira-wiri,,, baik itu nganter surat, minta tanda tangan, ikut nyairin dana, komunikasi ke pembicara, tentor dan peserta,,, tenang kalau masalah pulsa ada anggarannya…
Trus kalau perlu loby buat booking tempat..
Sampai loby-loby yang lain,,, loby politik juga,,,
Siap-siap aja pokoknya…
Kalau ada yang ketinggalan tolong diingatkan… J
Okay semuanya,,, SEMANGAAAAAAAAAT!!!! Berkali-kali lipat….
Amanah itu jangan dianggap beban, tapi itu adalah kepercayaan yang diemban dan bisa menjadi suatu pembelajaran…
Yang nulis ini juga sedang belajar, namun tidak sekedar berteori, sudah pernah juga merasakan jatuh bangunnya dalam beraplikasi…Percaya???
Jaga semangat, jaga kesehatan, jaga hati…
Hal yang paling penting adalah,,, KOMUNIKASI dan KOORDINASI, karena kita keluarga… jangan dipendam sendiri…
Mari saling mendukung ketika kita berjalan di jalan yang benar, dan saling mengingatkan jika ada kekhilafan.
Mari kita bersinergi, seseimbang harmoni dengan saling mengerti… kalau ada yang butuh bantuan, yang bisa bantu langsung aja,,, gak usah malu-malu…
Hmmm,,, cukup sudah,,, kalian nanti akan jauh lebih mengerti ketika sudah menjalani…
Mohon maaf sebesar-besarnya dan terimakasih atensinya…
Hima AN… à Bravo Sigara…
Bersama, membentuk mahasiswa AN yang kritis, sinergis, kontributif dan berprestasi!!!

Dahsyat sekali…!!!



Mahasiswa: Bukan Sekedar Kritis


Memiliki label “mahasiswa” yang berada di sebuah civitas akademika bernama kampus, memang sangat dekat dengan budaya baca-tulis-diskusi. Bukan hanya membaca apa  yang telah tersaji, tapi juga harus membaca realita, dengan pikiran yang kritis. Ya, karena mahasiswa harus berproses, bukan sekedar menjadi generasi instant yang hanya terus menerima tanpa mempersiapkan diri untuk memberi. Berproses dengan mengurangi budaya copy-paste, karena jika terus melakukannya maka kita akan menjadi sarjana copy-paste. Maka, menjadi mahasiswa yang kritis bukan hanya sekedar kepastian, tapi juga merupakan pilihan.
Berbicara tentang daya kritis mahasiswa, setidaknya kita akan berpikiran bahwa daya kritis tersebut akan sangat tepat jika digunakan dalam kegiatan akademik. Namun, ternyata tidak sesederhana itu, karena mahasiswa harus kritis dalam semua hal, termasuk dalam hal kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh  policy maker, baik itu dalam lingkup birokrasi pemerintahan maupun birokrasi yang sangat dekat dengan mahasiswa itu sendiri, yaitu birokrasi kampus. Daya kritis ini akan membawa mahasiswa menyadari peranannya untuk mengawal dan mengontrol setiap kebijakan yang dikeluarkan. Seperti akhir-akhir ini, terdapat wacana adanya penggusuran Pedagang Kaki Lima  yang sering beroperasi di depan FISE-UNY oleh pihak birokrasi kampus tanpa adanya komunikasi dari 2 belah pihak. Wacana tersebut terus bergulir, sampai ditemukannya tulisan-tulisan yang dipasang sepanjang gang Guru yang intinya merupakan bentuk protes dan penolakan terhadap penggusuran terhadap PKL yang akan dilakukan oleh pihak kampus, dan tulisan-tulisan tersebut cukup provokatif. Lalu bagaimana mahasiswa menyikapinya? Beberapa fakta mencatat dengan jelas, bahwa mahasiswa yang memiliki “darah muda” memang sering bersikap reaktif. Reaktif terhadap segala kesenjangan terhadap idealitanya. Maka, bukanlah hal yang mengherankan jika mahasiswa pun menggulirkan sendiri wacana baru untuk membela kepentingan para grassroots yang tertindas (baca:PKL) terhadap pihak elit (baca: birokrasi kampus) dengan tindakan aksi, hujatan pada pihak elit atau semacamnya.  Kritis-reaktif sama saja dengan melihat permukaan tanpa menyelam ke dalam. Menyuarakan sesuatu tanpa tahu duduk perkaranya terlebih dahulu. Menganggap para PKL adalah rakyat yang tertindas oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Siapa yang dimaksud pihak yang “berkepentingan” di sini? Padahal jika kita tahu, PKL pun adalah pihak yang juga berkepentingan.
Belajar dari Detective Conan, yang mengutarakan analisisnya setelah melakukan penyelidikan mendalam, mengetahui alibi tiap pihak yang terlibat suatu kasus, dan mencoba mencari pemecahannya, maka dalam menyikapi wacana “kasus” penggusuran PKL pun juga harus seperti itu. Mencoba mencari tahu informasi yang sebenarnya terjadi, melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait, yaitu PKL (bukan hanya satu pedagang, tapi harus menyeluruh dengan teknik snowballing1) dan birokrat kampus, serta tidak terprovokasi, maka kita baru boleh menyuarakan nurani kita. Nurani kebenaran yang objektif dan tidak main tuduh sembarangan (bahkan dalam hukum pun berlaku azas presumption of innocence 2). Setelah melakukan langkah-langkah tersebut, kita sebagai mahasiswa akan bisa membedakan antara tindakan kritis-reaktif dengan kritis-proaktif.
Dan apa yang sebenarnya terjadi? Menurut sumber terpercaya, yang mungkin belum diketahui oleh mahasiswa, bahwa telah terjadi komunikasi antara pihak PKL, ketua RT, ketua RW, kepala Dukuh setempat dan pihak birokrat kampus. Lebih dari itu, yang sebenarnya terjadi, bukanlah wacana penggusuran, melainkan rencana relokasi, dan tempat relokasi tersebut juga akan disediakan. Mengenai aspirasi para PKL tentang relokasi, mereka tidak mengalami masalah. Dan ironisnya, para PKL pun tidak tahu-menahu tentang tulisan-tulisan penolakan penggusuran yang dipasang di sepanjang gang Guru! Karena bukan mereka yang menulisnya. Selanjutnya tulisan-tulisan tersebut telah dicopot oleh ketua paguyuban PKL bersama pihak kepolisian.
Berkaca pada realita tersebut, bukankah daya kritis yang tidak didasari dengan informasi yang komprehensif akan menjerumuskan mahasiswa ke dalam tindakan yang sia-sia? Bayangkan jika benar-benar terjadi aksi penolakan penggusuran PKL kepada pihak birokrasi, sebenarnya kita berdiri dan berteriak untuk siapa? Orasi yang dilakukan untuk menyambung lidah para PKL yang justru tidak bermasalah? Ataukah sekedar aksi yang mencitrakan sebuah keeksisan sensasi mahasiswa? Coba lihat sekali lagi, lebih dekat.
Menjadi mahasiswa memang tidak boleh menutup mata, menyumpal telinga, terdiam seribu bahasa apalagi menghilangkan kepekaan hati terhadap realita social yang terjadi. Namun, sekali lagi menjadi mahasiswa bukan sekedar kritis. Bukan sekedar melihat permukaan, tanpa menyelam lebih dalam. Bukan sekedar melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja, karena masih banyak celah yang akan memunculkan sudut pandang yang lain. menjadi kritis itu bagus, tapi lebih bagus lagi kritis yang disertai sikap solutif, dan terus meningkat hingga ke tataran kontributif. Ya, inilah pembelajaran. Mungkin akan sedikit terasa sebagai teguran atau tamparan, namun sesungguhnya ini adalah penyadaran. Terapkan daya kritis dengan bijak.
Salam kritis!!!

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...