Senin, 02 Mei 2011

Simple Story with Complicated Feelings: Sebuah Refleksi Tentang Makna Persaudaraan


Hangat…
Mungkin itu salah satu perasaan yang menjalar dalam aliran darah kita ketika memaknai isyarat persaudaraan. Terlebih ketika kita mampu membuat bahagia orang-orang di sekitar kita, tidak perlu dengan hal-hal yang muluk, cukup hal-hal sederhana yang siapa pun bisa melakukannya, meski sayangnya orang-orang sering melupakannya. Apa itu? Senyum. Senyum telah dilegalkan oleh Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda, “Tersenyumnya kamu di hadapan saudaramu bernilai sedekah untukmu.” Ya, senyum adalah sedekah, dan merupakan jaring hati. Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda, “Kamu benar-benar jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya kamu menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.”  Ya, konsep pertama dari indahnya persaudaraan akan kita mulai dengan semangat berbagi, sekalipun hanya berbagi senyum. Senyum tulus yang sederhana, dan secara sederhana pula akan ditangkap sebagai sinyal positif dan berimbas pada perasaan penerimanya untuk mengirimkan kembali senyumnya.
Sejuk…
Perasaan kedua yang terlintas adalah rasa sejuk, yang tiba-tiba mengalir di dalam dada yang panas dan bergemuruh yang diakibatkan oleh paham individualisme yang telah menjangkiti mayoritas masyarakat kita. Namun tampaknya untuk sejenak, panas yang bergemuruh itu  sejenak harus tereliminasi oleh rasa sejuk, bagaikan oase di tengah gurun pasir. Oase kesejukan itu bernama kepedulian. Kepedulian kepada saudara kita yang diwujudkan dengan sekedar menanyakan kabar, menjenguk yang sedang sakit, mendoakan saudara kita dan sebagainya. Kepedulian nampaknya adalah kata yang abstrak, namun ia harus konkrit sifatnya. Artinya, kepedulian itu harus ada realisasinya, bukan sekedar eksis di dalam hati, namun setidaknya harus dilisankan atau ditindaklanjuti dengan perbuatan.
Kembali ke individualisme yang telah menjangkiti generasi saat ini, atau bahkan telah menjadi penyakit akut yang sulit dicarikan obatnya. Ternyata, sisi kebaikan masih ada juga. Coba kita ingat kembali, bencana erupsi Merapi yang terjadi beberapa bulan yang lalu di Yogyakarta. Dan tahu apa yang terjadi? Rasa kemanusiaan yang tinggi dan solidaritas terhadap sesama, ternyata masih ada di dalam hati kita. Sehingga sedikit rasa peduli itu telah mengobrak-abrik sisi egosentrisme dan individualisme yang kabarnya telah diderita oleh  mayoritas masyarakat kota. Faktanya, banyak organisasi-organisasi masyarakat , pelajar dan mahasiswa yang turun ke jalan (bukan untuk aksi demo kali ini), tapi untuk melakukan aksi penggalangan dana bagi korban erupsi Merapi. Mereka rela berada di jalan-jalan yang panas oleh terik matahari dan berdebu, untuk sedikit meringankan  penderitaan saudara-saudara yang bahkan tidak mereka kenal. Namun, mereka tetap melakukannya dengan ikhlas, terlebih bagi kaum Muslimin, yang paham benar akan konsep “Setiap Muslim adalah bersaudara.” Dalam perjalanannya menggalang dana, memang masih ditemui segelintir orang yang enggan untuk membantu dengan rizki yang telah Allah berikan kepadanya, namun ada pula yang secara sadar memberikan sedikit rizkinya untuk orang lain yang sedang kesusahan. Kilimaks rasa sejuk itu terjadi, ketika ada salah seorang yang penggalang dana yang secara tidak sengaja berhadapan dengan seorang supir taksi.
“Sumbangan untuk korban Merapi, Pak,,,,” katanya. Tidak disangka, sang supir taksi tersenyum, lalu berkata,”Tapi maaf Mbak, Cuma sedikit…” sambil memasukkan uang seribu rupiah ke dalam kotak penggalangan dana. Subhanallah… titik tekannya bukan pada seberapa besar bantuan yang diberikan supir taksi tersebut, tapi seberapa besar kepeduliannya untuk turut serta membantu orang-orang yang sedang kesusahan, meski ia sendiri berada dalam keterbatasan. Sungguh menyejukkan….
Indah…
Bagaimanapun, persaudaraan itu sangatlah indah, terlebih jika kita mampu memaknainya sebagai suatu nikmat yang diberikan Allah untuk kita. Saat kita merasa sendirian, ada saudara kita yang siap dengan uluran tangan. Saat kita bersedih, tak mampu berdiri, bercucuran air mata, ada saudara kita yang akan menghapusnya. Saat kita melakukan hal yang salah, ada saudara kita yang mengingatkan tanpa lelah. Atau saat kita berjalan di jalan yang benar, maka saudara-saudara kitalah yang pertama kali memberikan dukungan dan semangatnya. Begitulah, sedikit gambaran tentang indahnya persaudaraan.“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.Ar-Rahman).
Ternyata, makna persaudaraan tak pernah dipersempit oleh batasan apa pun, karena persaudaraan adalah samudera nikmat yang semakin kita menyelaminya, semakin indah kita menemuinya. Apalagi persaudaraan yang disebutkan oleh Hasan Al-Banna sebagai keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan akidah. Ya, itulah yang disebut dengan ukhuwah. Atau Moslem’s brotherhood. Atau bisa kita sebut sebagai persaudaraan saja. Seperti yang telah disebutkan di atas, konsep ukhuwah bukanlah sekedar teori, tapi ia masuk dalam tataran aplikasi. Mau bukti?
Keterikatan hati dan jiwa oleh akidah tersebut diwujudkan dalam bentuk persaudaraan. Karena adanya keterikatan hati dan jiwa, maka jelas ada unsur perasaan di sana. Perasaan saling mengasihi dan menyayangi yang berlandaskan pada kecintaan pada Allah. Setiap muslim harus menempatkan setiap pikiran, perkataan dan perbuatannya karena Allah. Ketika ia mencintai, maka ia mencintai karena Allah, begitu pun ketika membenci juga karena Allah. Selanjutnya mari kita simak hadist berikut:"Sesungguhnya Allah Ta‘ala berfirman, ‘Kecintaan-Ku berhak dimiliki orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku. Kecintaan-Ku berhak dimiliki orang-orang yang saling menolong karena-Ku'." (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Hakim yang men-shahih-kannya). Hadist tersebut secara gamblang telah menyebutkan bahwa Allah akan mencintai orang-orang yang saling berkunjung dan saling menolong karena-Nya. Dan seperti yang kita tahu, berkunjung dan menolong adalah taraf aplikasi. Maka, mari konkritkan kecintaan kita pada saudara kita dengan cara:memberitahukan kecintaan kita kepada yang kita cintai, memberikan senyum kegembiraan bila bertemu, saling mengunjungi/ bersilaturrahim, memberi hadiah pada waktu-waktu tertentu, memperhatikan saudaranya, menebarkan salam, saling mendoakan, dan lain-lain.
Persaudaraan itu, bukanlah mengenai ingatan seseorang tentang kapan pertama kali saling mengenal, melainkan mengenai ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doa-doanya. Begitulah, kisah sederhana tentang indahnya persaudaraan dengan perasaan yang rumit karena begitu banyaknya rasa yang ada. Rasa yang terlalu indah untuk dimengerti, karena ia bermuara kepada Yang Maha Indah.
Wallahu’alam.

SUMBER INSPIRASI

-          Al-Qur’an dan Hadist.
-          Abul ‘Id, ‘Athif. 2009. The Magic Smile, Senyum:Kekuatan Sihir yang Mengubah Hidup Anda. Surakarta: Al-Jadid
-          Saat-saat mentoring di timur auditorium tahun lalu
-          Just a simple story with complicated feelings, yang muncul karena sebuah Tanya tentang ukhuwah hari ini.

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...