Kamis, 30 Mei 2013

maaf, Buk...

00.00 WIB.
1 menit kemudian, halaman yang kuakses lewat N 6600 pemberianmu waktu itu sudah bisa dibuka. Penantian panjangku yang harap-harap cemas terbayar sudah. Kau menemaniku, meski kutahu lelah yang menggantung di pelupuk mata itu sengaja tak kau tampakkan. berbeda denganku yang telah terbiasa dengan insomnia selama masa-masa Ujian Nasional, kau pasti sangat mengantuk, ditambah dengan pekerjaanmu di kantor yang tampaknya menumpuk. Tapi, putri pertamamu, yang kali pertama ingin menjamah bangku kuliah itu mengalahkan segala rasa. 

Kuketik no ujian hati-hati, sekedar memastikan tidak ada satu digit pun yang tercecer. Loading. 2  irama dari 2 jantung yang berbeda semakin kencang, meski tak terdengar. Lalu aku berteriak, setelah akhirnya menemukan namaku ada di halaman itu. Administrasi Negara, UNY. Pilihan ketiga memang, tapi cukup memberikan kehangatan malam itu. Ya, aku sudah diterima di sebuah universitas. 

Aku tersungkur dalam sujud syukur. Haru menyelimuti hatiku kala itu, Allah baik sekali. Doaku dijawab-Nya dengan hal yang tidak kuduga. Aku sebenarnya ingin menjadi pengajar dan pendidik Bahasa Inggris, seperti expert-ku beberapa tahun terakhir. Administrasi Negara,,,, bahkan aku tak tahu apa itu, tapi jurusan itu kuplih ketika mengisi formulir pendaftaran SNMPTN dengan pertimbangan dari TES IQ terbaruku, bahwa aku dianjurkan untuk masuk ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Walaupun aku tak tahu apa itu, tetap saja logikaku kalah dengan perasaan haru. Dan naluriku mengarahkanku untuk sujud syukur. Tenggelam dalam rasa terima kasih yang tak terhingga pada Sang Penggenggam Jiwa. 

Ibuku tersenyum, "Alhamdulillah,,,," katanya. Lalu keluar dari kamarku. "Selamat ya, Ibuk mau shalat tahajud sekalian..."

*****************************************************************************

Siangnya aku berpikir. Jogja, 1 kota yang bahkan tak pernah ada di benakku, dan kini aku harus ke sana. Masih terbesit harapan, mungkin aku diterima di STAN, tapi aku harus menjalani kehidupan di UNY terlebih dahulu, sambil menunggu pengumumannya. 
Euphoria keluargaku saat itu, "Memang begitu, Nduk. Harus ada yang meneruskan Bapak dan Ibu jadi PNS. Mungkin kamu bisa jadi Camat atau Bupati nantinya," seloroh Ayahku. Aku cuma senyum-senyum, tak bisa membayangkan. 
Maka, berangkat ke Jogja, dengan bekal sederhana. BELAJAR di bangku kuliah, lulus 3,5 tahun lalu bekerja. End. Sederhana sekali, dan aku tidak tahu apa yang telah menantiku di sana.

******************************************************************************

Saat memasuki kampus itu, dalam hati aku berkata, "Kalau aku diterima di STAN, maka aku akan menjadi mahasiswa yang rajin kuliah, tidak akan nyleneh, taat aturan. intinya itu. Tapi, kalau memang takdirku di sini, baiklah, aku tidak akan hanya sekedar kuliah, tapi aku akan ikut banyak organisasi." 
titik-titik itu akhirnya terhubung menjadi sebuah benang merah kehidupan. Ketika tiba-tiba aku terpesona pada seseorang di OSPEK dan akhirnya mengantarkanku pada sebuah kata, "amanah". Memperkenalkanku pada Al Ishlah, lalu HIMA, selain itu ada pekerjaan-pekerjaan lain, seperti menjadi pansus, seminar-seminar, dan sebagainya. begitu pun di tahun kedua, menjadi salah satu "pejabat" di HIMA. Tahun ketiga, menjadi public figure dengan amanah yang berbobot meski kapasitas saat itu masih pas-pasan. Pun tahun keempat, memegang peran penting yang tidak bisa dilihat pentingnya di mana. *eh... entahlah apa itu. 

selama tiga tahun terakhir, tak ada masalah dengan akademik, nilai-nilaiku cukup cemerlang, cukup bisa menjadi hiasan bintang-bintang yang digantungkan di atas tempat tidur, juga menjadi "anak emas" para dosen.  Dan aku menargetkan bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun. 
 Hanya saja ketika tahun keempat, hal yang seharusnya kuselesaikan lebih dulu menjadi terbengkalai. Bukan karena aku tak resah, aku sangat resah. Bukan karena aku tak mau mengerjakan, aku mau mengerjakan, dan sudah kukerjakan. Bukan karena,,,, entah apa pun itu, aku tak mau berpledoi dan melakukan pembenaran. Aku ingat betul sifat dasar manusia, yang memiliki banyak alasan, bahkan untuk sekedar membela diri yang telah melakukan kesalahan.

Ada sesuatu yang mengalihkan duniaku. Dulu, aku berpikir sangat sederhana, bahwa kedatanganku  di kota ini adalah belajar. Sampai saat ini pun aku masih berpikir seperti itu, tapi ada yang telihat lebih jelas setelah belajar. Bahwa ILMU YANG KUMILIKI SAAT INI BELUM CUKUP. Ada yang ingin kulihat lebih dalam lagi, dan ini karena hasil dari belajar. AKU INGIN BERMANFAAT. sederhana sekali, meski realita tak sesederhana itu.

*******************************************************************************

Juni segera datang. Tulisan di white board ku tetaplah tulisan "JUNI 2013 WISUDA". Memajang foto diri mengenakan toga dan berselendang cumlaude, sambil membawa beberapa tangkai bunga. Asal tahu saja, itu semua kuperoleh dari kakak kelasku yang sudah wisuda. Aku  meminjamnya.
Lalu apa aku menyesal? Tidak. 
Karena aku mendapat banyak ilmu, meski bukan lagi teori di dalam kelas. Karena aku telah mengetahui hakikat diri sebagai mahasiswa, bukanlah hanya seseorang yang hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga berpikir tentang perbaikan diri, masyarakat, bangsa dan agamanya. 
Karena aku bersentuhan langsung dengan laboratorium kehidupan yang memberiku banyak bekal. Kehidupan nyata yang membuatku haus akan ilmu, semakin aku belajar, semakin aku merasa bodoh. Karena aku merangkai persahabatan di sini, bahkan persaudaraan yang mungkin irrasional bagi sebagian orang. Bagaimana bisa seseorang dengan seseorang lain bisa bersaudara tanpa ikatan darah di dalamnya??? Tapi ini nyata. Ikatan yang kami bangun memang bukan ikatan darah, tapi ikatan aqidah.
Karena aku percaya pada surat cinta-Nya pada manusia. "Jika kamu menolong agama Allah, maka Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Satu hal yang aku sesali adalah:
Aku tak bisa menyaksikan senyum kedua orang tuaku merekah di bulan Juni. Senyum bangga ketika melihat aku memakai toga. Anak macam apa yang bahkan belum bisa membalas setiap curahan kasih dan air mata dalam doa dengan sebuah bakti bernama wisuda???
Maaf, Buk....
Seorang wanita yang pada telapak kakinya terdapat surga. Maafkan aku...
Logikaku tak bisa menembus logika semesta. Bahwa Allah punya rencana lain untukku, dan semoga setiap kebaikan yang kulakukan, pahalanya mengalir untukmu....

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...