Assalamu
alaikum, Bunda...
Semoga
nikmat Allah selalu tercurah padamu, karena pada hakikatnya nikmat-Nya tak kan
pernah putus pada umat-Nya sebab Dia Maha Kaya, lagi Maha Pemberi.
Bunda,
sengaja kutulis surat padamu, sekedar pelepas rindu karena tak bisa menatap
wajah lembutmu, tak bisa mencium tangan halusmu, tak bisa mencium keningmu,
apalagi merasakan hangat pelukanmu. Sengaja kuungkap perasaanku pada selembar
kertas yang kini ada di hadapanku, seolah kini aku sedang bicara denganmu.
Bunda,
putramu yang kini timbuh dalam dewasa ini ternyata tak pernah bisa membendung
air mata, kala teringat padamu. Bagaimana kabarmu di sana? Apakah baik-baik
saja? Tentulah begitu jawabmu ketika nanti aku bertanya. Tapi aku tahu Bunda,
relung hatimu sedang tergores resah akan keadaanku di sini, di tempat asing
yang tak pernah bisa diduga. Selalu saja engaku bertanya,” Gimana keadaanmu?
Sehat kan? Sudah makan? Makan apa? Sudah shalat?” . tentu saja aku menjawab ya,
aku sehat, aku sudah makan, dan aku sudah shalat. Walau jauh dari pengawasanmu,
tak kan bisa aku menghindar dari pengawasan Rabb ku. Dan selalu engkau
berkata,”Kalau uangnya kurang ambil di atm, nanti Bunda transfer. Jangan
terlalu ngirit, yang penting sehat. Jangan lupa belajar, jangan lupa mengaji,
jangan lupa berdoa.” Tentu saja aku akan menjawab ya, tapi jauh di pusat
rasional dan kesadaranku, aku berpikir. Begitu sulitnya kau mengumpulkan uang
untuk membiayai kuliahku, bekerja keras siang malam dan bahkan berhutang. Apa
Bunda kira aku tak mengetahui hal itu? Sungguh perih rasanya Bunda,
membayangkan pengorbananmu, sementara aku belum bisa berbuat apa pun untuk
sekedar menunjukkan baktiku. Tak mampu.
Bunda,
sudahlah jangan cemaskan aku. Meski kutahu perasaan keibuanmu yang membuatmu
selalu memikirkan aku. Tapi Bunda, yakinlah padaku, aku di sini menuntut ilmu.
Menahan getir pahit karena terpisah denganmu dan keluarga untuk sementara
waktu. Tapi aku dijaga oleh-Nya, yang tak pernah tidur dan tak pernah lengah.
Aku dijaga oleh-Nya Yang Maha Sempurna yang memenuhi kebutuhanku sebelum aku
meminta, karena begitu luasnya kasih sayang-Nya. Ini adalah suatu rangkaian
proses Bunda, sebelum aku membawa senyuman di bibirmu ketika aku meraih sukses
suatu saat nanti.
Bunda,
satu hal yang mesti Bunda tahu, bahwa aku begitu mencintai Bunda. Dengan
segenap jiwa, aku kan berjuang di sini untuk meraih prestasi demi sebuah
kebangaan yang selama ini belum pernah kuwujudkan. Bila kuingat, terlalu banyak
kekecewaan yang dulu aku torehkan pada hatimu, setelah memberi harapan padamu.
Tapi aku yakin, itu bukan harapan semu, hanya waktu yang belum berpihak pada
takdirku. “Jika Dia berkata ya, maka saat itu Dia akan memberi apa yang aku
pinta. Jika Dia berkata tunggu, maka Dia akan memberi yang lebih baik, dan jika
Dia berkata tidak, maka Dia mengganti
yang lebih baik.”
Bunda,
meski saat ini dimensi jarak begitu jauh memisahkan, namun kuharap dimensi
kejiwaan akan selalu mempertemukan kita, meski hanya dalam doa yang sama-sama
kita panjatkan pada-Nya. Ia Maha Mendengar, dan jika berkenan Ia akan
mengabulkan. insyaAllah...
Bunda,
kututup goresan pena ini dengan salam rindu yang begitu menggebu, dari lubuk
jiwa yang begitu dalam akarnya, berharap kita kan segera berjumpa dalam naungan
kasih-Nya. Dan kuakhiri dengan sebaris doa, semoga Bunda sehat selalu,
bergelimang rizki yang halal dari anugerah-Nya.
Aku
mencintaimu, selalu...
Wassalamu
alaikum....
Putramu
yang berjuang di tanah orang