"Katakan, apa mungkin mereka akan menganggapku sebagai orang yang berbeda?" tanyaku padamu kala itu.
"Ya, bisa jadi."
Aku terdiam, menatap tak percaya jawaban ringanmu yang singkat-padat pada beban berat yang hinggap menyekap.
"Apa aku salah?"
"Lalu, apa kau ingin kembali?"
"Tidak, sejujurnya. Aku tidak peduli. Bahkan aku menyadari bahwa aku telah tersesat dan tak bisa kembali. Sebuah kegetiran nyata yang mula-mula aku caci, namun perlahan ia kuterima sebagai sebuah realita."
"Dan?"
"Dan aku berbeda. Jalan yang kulalui tak lagi sama. Maka mungkin aku akan menjadi sebutir buih ombak yang terpisah dari kumpulannya. Mereka datang ke tepian pantai, lalu kembali bersama angin ke dalam peluk lautan. Sementara aku tertinggal, tertawan pada pasir putih atau menempel pada kokohnya karang. Atau, seperti seseorang yang tertinggal di dalam labirin dan menemukan harta terpendam, hingga ia malas-tak mau kembali pulang."
"Ah... perempuan. Kau menggenggam jawabannya, tapi masih pula kau mencoba bertanya."
"Mungkin... Karena aku hanya butuh diyakinkan. Hanya butuh seseorang berkata tentang kepastian- meski hanya sekedar hiburan-meski aku terjaga sepenuhnya, bahwa yang kuhadapi adalah ketidakpastian itu sendiri."
"Skenario takdir kita ditulis oleh tangan yang sama. Percayalah, bahwa 'ketersesatanmu' adalah bagian dari skenario itu sendiri, kau hanya perlu mengumpulkan puzzle demi puzzle sambil menyusunnya menjadi sebuah bentuk nada kehidupan. dan ketika puzzle itu telah lengkap, baru kau akan sadar, "Jadi... ini maksud Tuhan..."..."
Aku memandang takjub. Hakikatnya aku tahu, pertanyaanku hanyalah kalimat retoris yang sengaja kucipta untuk mengujimu.
#Huruf T pertama yang menyatukan kita, Tersesat.

