Sabtu, 28 September 2013

Tersesat

"Katakan, apa mungkin mereka akan menganggapku sebagai orang yang berbeda?" tanyaku padamu kala itu.
"Ya, bisa jadi."

Aku terdiam, menatap tak percaya  jawaban ringanmu yang singkat-padat  pada beban berat yang hinggap menyekap.

"Apa aku salah?"

"Lalu, apa kau ingin kembali?"

"Tidak, sejujurnya. Aku tidak peduli. Bahkan aku menyadari bahwa aku telah tersesat dan tak bisa kembali. Sebuah kegetiran nyata yang mula-mula aku caci, namun perlahan ia kuterima sebagai sebuah realita."

"Dan?"

"Dan aku berbeda. Jalan yang kulalui tak lagi sama. Maka mungkin aku akan menjadi sebutir buih ombak yang terpisah dari kumpulannya. Mereka datang ke tepian pantai, lalu kembali bersama angin ke dalam peluk lautan. Sementara aku tertinggal, tertawan pada pasir putih atau menempel pada kokohnya karang. Atau, seperti seseorang yang tertinggal di dalam labirin dan menemukan harta terpendam, hingga ia malas-tak mau kembali pulang."

"Ah... perempuan. Kau menggenggam jawabannya, tapi masih pula kau mencoba bertanya."

"Mungkin... Karena aku hanya butuh diyakinkan. Hanya butuh seseorang berkata tentang kepastian- meski hanya sekedar hiburan-meski aku terjaga sepenuhnya, bahwa yang kuhadapi adalah ketidakpastian itu sendiri."

"Skenario takdir kita ditulis oleh tangan yang sama. Percayalah, bahwa 'ketersesatanmu' adalah bagian dari skenario itu sendiri, kau hanya perlu mengumpulkan puzzle demi puzzle sambil menyusunnya menjadi sebuah bentuk nada kehidupan. dan ketika puzzle itu telah lengkap, baru kau akan sadar, "Jadi... ini maksud Tuhan..."..."

Aku memandang takjub. Hakikatnya aku tahu, pertanyaanku hanyalah kalimat retoris yang sengaja kucipta untuk mengujimu.

#Huruf T pertama yang menyatukan kita, Tersesat.

Aku dan Waktu

Aku berperang melawan waktu. Sendiri di tengah sepi, kuhunuskan pedang ke arahnya. Aku sadar benar, jika aku tak membunuhnya, maka ia yang akan menebasku. Aku ingin melumpuhkannya lewat kata, menebas lengan, kaki yang membuatnya tak bisa berjalan. Setelah ia kalah, aku ingin ia menjadi budakku.

Namun rupanya aku hanyalah manusia lugu yang tak mengerti strategi waktu.  Aku setengah menyerah. Aku merangkulnya, bernegosiasi tiba-tiba dan mencoba bersahabat dengannya, setelah aku mengerti benar, jika aku pun kalah lobi, maka ia yang mengakhiri.

Aku tak mau. Aku ingin memastikan dengan tanganku, bahwa kisah ini akan selesai karena aku sendiri yang memutuskan, bukan waktu.

Jumat, 27 September 2013

Pada kata-kata

Aku jatuh cinta pada kata-kata. Tiap engkau berbicara tentang senja. Meski kerap kau menulis tentang pagi jua. Cukup itu yang kutahu, karena tiap kali kau menuliskan sajak, puisi, prosa atau fiksi, aku jatuh cinta pada kata-kata. Anehnya, aku tak merasa jatuh cinta padamu, penulisnya. aku hanya merasa, tiap kali kau berkata-kata, kau sedang menunujukkan duniaku, dan aku berlari kepadanya.

Aku jatuh cinta pada kata-kata. Bukan padamu, suatu anomali, ketidawajaran seperti layaknya perempuan-perempuan lainnya. Mereka berlomba, mengejarmu, mendapatkan setitik perhatianmu. Tapi aku merasa tak perlu melakukan itu. Yang kumau hanya kata-katamu, yang kau eja dengan sempurna menjadi baris-baris penuh makna.

Karena di sana, pada kata-kata aku melihat gurat tawa, kesedihan yang melanda, rindu menyeruak dada, kekaguman pada Pencipta semesta, segalanya,,,, melalui kehebatan tarian pena. Aku melihat hatimu pada kata-kata. Cukup itu, cukup aku menggenggam tiap kekuatan yang kau torehkan, dan aku akan menjadi seorang korban ilusi yang tertawa, menangis, bahagia, bersedih, merasa haru pada kata-kata. Karena aku telah jatuh cinta, pada kata-kata.


Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...