Selasa, 31 Desember 2013

Tak Tahu Cara Menyukai

"Dia banyak menangis. Padahal aku tahu, dia adalah seorang gadis yang sangat jarang menangis. Aku tahu, dia pasti sangat mencintainya. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara untuk menyukai seseorang. Aku pun tak bisa mengajarkan itu kepadanya, karena aku pun tak tahu bagaimana caranya."

#secuplik cerita

Bunga Daisy dan Matahari

Hari berlalu tanpa kutahu makna yang tersisa dari sebuah rasa. Bagaimana bisa sekuntum bunga daisy jatuh cinta pada matahari?

Yang diam-diam ingin bertemu, tapi malu.
Yang ketika berjumpa, tak saling menyapa.
Yang anehnya, saling berucap nama dalam doa.

Matahari terlalu baik kepadanya.Sekuntum bunga daisy yang amat pemalu.
Yang diam-diam menanggung rindu.
Tanpa tahu kepada siapa ingin menumpahkannya.

Tapi, matahari milik semua bunga.
Tak bisa bunga daisy itu mengklaim ia satu-satunya. Pun, sama sekali sekuntum bunga daisy tak bisa mendekat pada matahari. Karena jika dekat, ia akan hangus terbakar, dan menghilang bagai debu yang tak pernah dikenang.

Maka, sekuntum bunga daisy hanya bisa  mendamba senyum sang matahari. Memandangnya dari kejauhan, dan sujud dalam-dalam.
Biarlah matahari bersinar.
Bunga daisy tetap mekar.




Kamis, 26 Desember 2013

Jatuh Cinta

Aku juga jatuh cinta.
Sudah sejak lama.
Bahkan sebelum mata sempat menatap dan saling bertemu.
Bahkan sebelum mendengar nyanyian syahdu.

Aku juga jatuh cinta.
Sudah sejak lama.
Bahkan sebelum menginjakkan kaki di atasnya.
Atau merasakan udara menjalar ke  dalam paru-paru ketika bersamanya.
Bahkan sebelum tahu seperti apa upacara minum teh di musim semi.
Bahkan sebelum tahu bahwa sakura tak berumur lama.
Lalu datang musim gugur bersama angin dinginnya.
Lalu musim dingin yang beku.

Aku juga jatuh cinta.
Sudah sejak lama.
Hingga hari ini,
bahkan sebelum Tuhan memperkenankan perjumpaan.


#Jepang

Catatan 26 Desember 2013

Hari ini tanggal 26 desember.

3 hari setelahnya, berturut-turut ada undangan pernikahan. Tanggal 27 hafian-naily (OMG, gue dilangkahi!), tanggal 28 mas chabib dan mbak sari (congrats, akhirnya!) dan tanggal 28 iqbal-irma (ini bakal jadi perjalanan pertamaku ke barat, mencari kitab suci. #eh).

sebenarnya tidak ada hubungannya antara kejadian hari ini dengan undangan nikah itu. Jadi gini.

Aku mengawali pagi dengan ndorong motor ke lempuyangan. #versi alainya adalah hukuman bagi orang yang tak pernah olah raga. Tapi selayaknya kejahatan, terjadi bukan hanya karena niatan sang penjahat tapi juga adanya kesempatan yang diberikan calon korban. Konteksnya, bensin di motor sudah benar-benar limit, tapi masih pula dipakai buat jalan lumayan jauh. Pikirku, "Ah sepulang dari lempuyangan aja deh mampir pom!"
Tapi Allah berkehendak lain. Pas di lampu merah Galeria, mesin motor mulai melemah, lalu mati. Aku juga mati kutu. Tak tahu harus ngapain karena ini pengalaman pertama. Akhirnya, motor kubawa ke tepi jalan, kucoba starter dengan metode slag. Apa itu? Whatever! semacam mencoba membangkitkan detak jantung menggunakan alat bantu-oh.. alat kejut. Tapi nihil. Lalu aku berjalan ke arah Jalan Solo-pusat kain murah itu. Alhasil yang kutemukan bukannya orang jualan bensin, yang ada hanyalah penjual gudeg ibu-ibu yang saling bersaing pelanggan. Merasa tak menghasilkan apa-apa, aku putar balik.

Mampir ke burjo, tanya aa' burjo orang yang jualan bensin. Seperti dugaanku, adanya di seberang jalan, yang berarti harus nyebrang lampu merah. Apah? durasi lampu ijo-nya kan pendek banget, gimana kalau masih di tengah-tengah udah lampu merah lagi?
Tapi karena belum disemprit, maka satu-satunya jalan adalah memegang sempritan biar bisa bales semprit. #kunci motorku lengkap dengan sempritan warna merah harga seribuan. Maksudnya nekad aja, terobos! Begitulah, aku ndorong motor sambil setengah berlari. Efek dramatisnya harusnya hujan, tapi alhamdulillah langit hari ini cerah sekali.

Bensin 1---> habis
Bensin 2---> tak ada penjaganya
Bensin 3---> tak ada kembaliannya. #gue ngutang bensin, bro!

Tapi mesin kembali menyala, dan saya berbahagia. Setelah gagal mendapatkan tiket di lempuyangan, beranjak ke giwangan. Sepagi itu aku udah muter-muter Jogja, karena baliknya langsung ketemu Fly Over Janti.

Pulang, standarlah. Sarapan karena tenaga habis, nyempetin buat nyuci karena hari cerah. Tak boleh terlewatkan! dan cuma berhasil njemur kaos kaki imut 3 pasang yang sampai malam ini ternyata belum kering, padahal yang njemurnya siangan udah kering semua. #efek apa itu?

Berangkat syuro, sudah telat. Diakhiri dengan peristiwa pembantingan laptop. "Jangan dibanting pintunya!" Iya, bener tuh... habis manggil Pak tukang, ngerawat pintu seharga 160 rebeng. Jadi hati-hati ya Non, Bang! Kalau lagi kesel, jangan jadiin pintu pelampiasan.

Gara-gara itu, jadi laper. Maka bikin mie kare itu serasa menikmati ramen di Jepang atau Korea. Ya, mimpi dulu lah, kalau belum bisa merealisasikan... hehe... :D Semoga Tuhan memeluk mimpi-mimpi kite.

Lanjut,,,, habis Dhuhur belanja alat-alat rumah tangga 2 sesi. Maksudnya rumah tangga temen, kita mau ngado gitu ceritanya. Ya, panci, gelas, mangkok, cobek, ulegan, piring, lengkap dengan ulegan, sothil dan serok, beerselipkan kartu sederhana, "Barakallahulaka wa baraka alaikuma wajamaa bainakuma fii khair." #so sweet...

Maghrib, pulang ke kos Irena... eh ada janji sama binaan yang habis latihan fisik di Madawirna. Jadilah kami ketemu-shalat bareng endingnya kuminta nemenin ke IEC ngambil amplopnya para tutor buat direkap.
Pulang-pulang laper banget, sambil ngeliat atap... aku melihat cat-cat mengelupas dan rontok mengotori semuanya. Bed, sajadah, tas, guling, bantal, dan tatami kun yang kucinta! Dari sinilah peristiwa konyol yang timbul dari teori yang konyol muncul!

Agar tidak jadi kerontokan, maka harus dijamin dari akarnya! Kata iklan shampo. Filosofi itulah yang mampir di otakku. Melihat cat-cat yang bergaelantungan itu, udah buat tanganku gatel buat narik-narik tuh biang keladi. Step pertama, naik meja kerjanya si gembul, berhasil menarik satu sumber masalah. Nah, step kedua ini. Karena terlalu jauh di atap sana, mulailah aku menata bantal untuk pijakan dengan komposisi: bantal besar ijo- guling- bantal pink kecil. Lalu aku naik ke pijakan itu, eh belum sampai juga! Akhirnya aku loncat. Tapi karena mendarat di tempat yang salah, jadilah kejadian kepleset guling, waktu bergulir cepat, yang kutahu aku sudah jatuh terkapar dengan pinggang kiri membentur tatami kun. #Encok.

Begitulah, jatuh- berdiri lagi. Karena merasa ditertawakan oleh si biang onar, akhirnya aku meloncat-loncat lagi, tapi tak sampai. Apa daya.... Gagang sapu akhirnya kupakai. Pelajaran gila no 232 #kalau tanganmu belum mampu meraih mimpi  yang setinggi langit, gunakan alat bantu untuk meraihnya. Waaa... kereeeeen.... :D Jelas, gue!

Maka jadilah tulisan ini, karena hidupku lagi single- biasanya double sama si gembul. Tapi karena si empunya julukan sedang mudik, maka kekonyolan ini hanya bisa dinikmati sendiri. Tulisan ini sebagai prasasti saja, agar suatu saat ada yang bisa dikenang dan ditertawakan, sendiri atau bersama orang lain.

#Catatan Seorang Partner, tanggal 26 Desember.

Selasa, 17 Desember 2013

Catatan Seorang Partner (Hanya Sekuel)

Hidup ini terlalu dramatis untuk dinikmati sendiri. Untuk itulah kita memerlukan orang lain untuk berbagi. 

(Catatan Seorang Partner #1)

Kita sedang berjuang bersama, meski di jalur yang berbeda.

(Catatan Seorang Partner #2)


Teman itu tetap teman. Meski satu per satu pergi, tidak pernah ada kata melupakan.

(Catatan Seorang Partner #3)

Kalaulah matahari tidak mencintai bumi dalam jarak, mungkin saja bumi sudah hangus terbakar.

(Catatan Seorang Partner #4)

Bersama siapapun pastikan kita saling menumbuhkan.

(Catatan Seorang Partner #5)


Sejatinya kita dipertemukan bukan untuk saling menghampakan, tapi untuk saling mengisi. Membuat kisah masing-masing dan saling melengkapi. Itulah partner.

Mungkin kau dan aku memiliki karakater yang berbeda, terkadang sikap dan pemikiran yang terlalu jauh sehingga harus dijembatani. Kapabilitas yang tak sama dan harus bertemu di ruang kerja yang nyata. Lantas masing-masing dari kita mencari benang dan jarum untuk saling merajut dan menyambungkan ketidaksamaan itu. Pada fase itu, kita saling menunggu.

Selanjutnya kita tenggelam dalam harmoni kerja yang terkadang melelahkan-menguras waktu, tenaga dan perasaan. Mau bagaimana lagi? Kita sama-sama tidak bisa lari, tidak punya alasan lain untuk menolak- tepatnya tidak punya pilihan lain untuk mengelak. Maka kita berjalan beriringan, meski kadang kau di depan, aku di belakang, lebih sering seperti itu. Walau terkadang berkebalikan. Jika kau di depan, kau menungguku untuk sampai menyusulmu. Jika aku tertinggal, kau berhenti untuk menyesuaikan langkahmu. Kau mau aku di depan suatu hari, meski kuakui akan susah payah bagiku jika kau yang harus menjadi rivalku.

Ada beberapa masa yang kita lalui dengan datar saja, garis lurus tanpa lengkung ke atas atau ke bawah. Ada saatnya kerja-kerja kita sangat banyak, sangat sedikit atau tidak ada sama sekali dalam suatu waktu. Memberi sedikit jeda untuk sejenak bernafas lega. Ada suatu masa kita saling membenci, karena ego kita terlalu besar untuk melihat cela pada teman kita, daripada menemukan salah yang ada dalam diri. Merutuki gelap, tanpa mencoba menyalakan cahaya. Ada pula waktu yang membuat kita begitu mencintai ranah kita, tempat kita berjuang yang menciptakan berjuta ruang kenangan. Untuk diingat, suatu saat.

Ada pula lorong waktu, di mana kita hanya akan bisa saling menyapa, tidak lagi saling mengerti. Karena ruang hati kita telah tersekat dalam kinerja yang berbeda. Di masa depan, mungkin tak akan ada lagi sikap dan pikiran yang bertumbukan. Tak akan ada lagi pertengkaran-pertengkaran kecil yang menjadi bumbu sebuah relasi. Tak ada lagi saling berterimakasih, saling menolong tanpa pinta, dan saling menjaga meski tanpa suara. Mungkin yang ada hanyalah larik-larik doa yang terucap dengan diam-diam. Mungkin yang ada hanya hati yang ingin bertemu hanya untuk memastikan bahwa "dia" yang pernah menjadi partner kita dalam keadaan baik-baik saja.

Atau mungkin, salah satu dari kita menjadi lebih bersinar dari sebelumnya. Maka itu adalah puncak kebanggaan, "Hey,,, itu partner kita!" yang dalam sedetik berubah menjadi kebisuan karena menyadari bahwa "tapi... itu dulu." Sekarang ia telah bertumbuh tanpa kebersamaan diri kita. Bisa jadi, karena bersama orang lain. Bagaimanapun, masing-masing diri harus menyadari, bahwa kita memang harus hidup dan menghidupkan. Bersama siapapun, pastikan kita saling menumbuhkan.

"Terimakasih, partner yang tidak hanya sekedar lewat. Terimakasih untuk mau singgah, meski hanya dalam 1 halaman buku kehidupan yang sedang kutulis bersama skenario Tuhan."




Sabtu, 14 Desember 2013

Loker dan Menunggu

Bersabarlah, berada di dalam loker berdebu itu.
Untuk tetap setia bersama ratusan kertas yang lainnya
Menunggu sang pemilik loker membuka kuncinya
Dan mulai membaca...

Sabar memang bukan berarti diam dan menunggu,
tapi adakah yang salah jika dalam diam dan menunggumu itu ada kesabaran di dalamnya?


Kamis, 05 Desember 2013

Pemain Jeda

Tahukah kau, apa itu waktu?
Kau mencari sela antara fajar dan senja
Di antara keduanya, kau mendapatkan jeda

Dalam jeda itu
Aku bermain dadu
Menghitung peluang
yang mungkin terjadi padaku
sambil terus mengangkat pedang

Tahukah kau, apa itu waktu?
Ia bisa jadi sangat kejam
Memotong celahmu tanpa ingin tahu apa itu alasan
Ia bisa jadi sangat lembut
Melenakanmu hingga kau tak menyadari hari
telah berkabut

Tahukah kau, apa itu jeda?
Apakah membuatmu sejenak dapat bernapas dengan lega?
Tidak.
Karena dalam jeda itu
Kau tengah bermain dadu
Bersama waktu

*dalam jeda Dhuha
mari bersujud sedalamnya
waktu tak sepenuhnya kita genggam
tapi kita takhlukkan

Sepagi Ini Aku Bertanya-Tanya

Sepagi ini aku sudah bertanya-tanya
Dimensi apa yang mampu menjadikan kedekatan ruang
menjadi ribuan mil jarak yang membentang
Kau dekat, di sini,,,
Tapi begitu jauh terasa

Sepagi ini aku sudah bertanya-tanya
Untukmu yang selalu kuberikan ruang di hatiku
Meski kutahu sesesak apa pun itu
Untukmu yang selalu kuberikan waktu terbaikku
Tapi kau menjauh dengan sendirinya

Sementara aku sendiri tanpa menyadari
telah membangun menara gading
Yang tak dapat kau tengok, terlebih kau masuki

Sepagi ini aku bertanya-tanya
Bilakah Tuhan menjadikan kita sebagai saudara
tentulah ada maksudnya?
Karena aku yakin benar, tak ada yang tercipta tanpa terencana
Tak ada yang tercipta dengan sia-sia, begitu saja

Ah, atau mungkin kita mengenal rasa jenuh
Atas tiap peluh yang menggelayut
Enggan kita bertaut
Lalu akhirnya saling menjauh?
Dengan alasan, lebih baik diam daripada ada yang terluka hatinya

Lalu kita menjelma
Bak orang asing yang tak pernah kenal sebelumnya
Meski berada di atap yang serupa
Tapi masing-masing sandi kita tertukar kodenya?

Sepagi ini aku bertanya-tanya
Kenapa kau lebih memilih mereka yang kau temui baru saja?
Kenapa bukan aku, yang telah ada di sampingmu sejak kelahiranmu?
Aku cemburu
Aku merindu, tapi tak bisa mulut mengaku

Kenapa tiap hari yang kurasa adalah cinta yang tak terbalas?
Meski aku tahu tak sepatutnya cinta yang kuberi boleh bersyarat
Baiklah,
Jika pada akhirnya
Aku harus memulai cinta bertepuk sebelah tangan setiap harinya
Yang mungkin tak ada ujungnya

Sepagi ini aku bertanya-tanya
Mencoba mengais jawaban pada sudut hati yang telah merana
Cinta itu akan selalu ada
Meski kau menolaknya
Aku akan tetap menyimpannya
Meski kau tak mau
Aku akan tetap memperhatikanmu
Sekalipun dari jauh dan kau tak tahu

*Cinta dalam bait kata
Untuk seorang adik kecil yang bertumbuh dewasa

Just Lesson from Those Kids

2 Desember

Awal kedatanganku disambut  mereka. Ramah, menyenangkan, aku suka. "Ya, silakan, Miss Mifta" untuk pertama kalinya Sang Headmaster memanggilku dengan sebutan "Miss". Ah, apa pula ini,,, bahkan untuk memanggilnya Mister, yang kuingat adalah panggilan "Ustadz" sepertinya lebih cocok.
"Di sini, tidak ada senioritas, semuanya menyenangkan" kata temanku, dan aku merasakan hawa yang senada.

Lalu aku ditempatkan di sebuah ruangan. Belum apa-apa sudah ketemu dengan salah satu anak yang bengal. Belakangan kutahu namanya adalah Shahnaz, dia berkata, "Miss, mbok jangan di kelas Al Faraby...". Aku tersenyum saja,,, ah.. anak ini. Baiklah, coba kita lihat nanti di kelas seperti apa. Tapi, anak-anak lain mengerubutiku, 3 di antaranya bertanya, "Miss namanya siapa?" Aku mengulurkan tangan dan menyebutkan nama. Malu-malu mereka menyambutnya dan menyebutkan nama masing-masing begitu kutanya. Yang lain, ada yang langsung menggandeng tanganku, meminta aku menyertainya kemana-mana.

Kelas itu terdiri dari 16 anak. Untuk ukuran kelas 1 SD memang tingkatannya berbeda. Ada yang sudah bisa baca-tulis, ada yang belum. Yang belum bisa baca-tulis, perlu perhatian khusus dalam pembelajaran. Yang kuingat hari itu adalah hari Senin, apel pagi untuk semua anak. Seorang anak tertinggal di kelas, bernama Fakhriy, dikenal tidak suka ikut apel. Hari itu aku memantaunya langsung. Aku ajak ke rak sepatu. "Mana sepatunya?" tanyaku. "Gak tahu,,," ia merajuk. Lalu satu per satu kutunjuk sepatu-sepatu mungil yang berjejer rapi, sampai tiba sepasang sepatu berwarna silver. "Yang ini bukan Fakhriy?" aku bertanya untuk kesekian kali. Ia menjawab, "Mungkin." Dan memang itu miliknya. Langsung kubawa anak itu bersama sepatunya dan ia mengikuti apel setelah mendapat banyak hitungan.

Jam istirahat, mereka semua berlarian. Salah satu menangis tiba-tiba. Bernama Thoriq. "Kenapa?" tanyaku. "Sakit perut Miss..." Lalu kami (aku dan Thoriq) ke UKS untuk mengambil minyak kayu putih. Lalu kembali ke kelas, sampai tiba waktunya untuk ujian renang. Semua berangkat ke kolam renang. Oh, itu mereka ber-enam belas. Imut dan lucu memakai baju renang warna-warni. Pukul 4 sore, para orang tua menjemput anak-anaknya di kolam renang, tertinggal 2 orang. 2 orang itu harus dibawa kembali ke sekolah, karena ternyata orang tua mereka menjemput di sekolah. Aku dan temanku memboncengkan mereka, dan itu kali pertama aku memboncengkan anak kecil di jok motorku.

3 Desember

Hari kedua, dua hari terakhir, pikirku.
Masih dengan situasi yang sama. Konsep Fun Learning di kelas, dimulai dengan kelas Qiroati, lalu kembali ke kelas masing-masing. Berjajar di depan kelas, educator memberi pertanyaan, setelah bisa menjawab mereka pun masuk ke dalam kelas. Dilnjutkan fun brain gym, lengkap dengan video dan musik. Kami semua berlari-menari dengan gembira. Lalu anak-anak shalat dhuha bersama-tentunya dengan aneka gerakan dan perilaku yang aneh-aneh serta lucu. Barulah setelah itu kelas dimulai. Mengerjakan soal dari educator. 3 orang yang belum bisa membaca adalah Fira, Zahava dan Ama. Ama memintaku di dekatnya, "Miss ajarin aku sampai selesai." katanya. Tapi teman-temannya yang lain menarik-narik tanganku ke meja mereka, merajuk minta diajari juga. Lalu Ama berteriak-teriak, aku kembali padanya. Dia sudah ngambek, bersiap untuk menangis. "Ayo.. ayo.. lanjut..." kataku. Lalu dia mengerjakan kembali. Saat aku dengan Ama, gantian yang lain ngambek, tidak mau mengerjakan, berteriak-teriak, lari-larian, puncaknya menangis.

Ah,,, Ama... tangan Miss cuma dua. Ingin rasanya Miss ajari semua, sekali waktu. Ingin Miss rengkuh semua, tapi apa daya...

4 Desember
Hari ketiga, masih sama. Menghadapi anak-anak yang berlum bisa membaca dan menulis, hari ini aku punya strategi. Kebetulan mereka duduk berdekatan. "Fira dan Ama dengarkan, ini Miss bacakan soal untuk kalian berdua." Setelah mendengar soal, mereka kuminta mencari jawaban, setelah ketemu kudektekan per huruf. Mereka sudah bisa mengeja, hanya belum sempurna. Tiba-tiba teman-temannya yang lain menggerutu. "Miss kenapa Ama terus yang diajari dari tadi?" Disusul teriakan-teriakan lain yang harus kuladeni satu per satu. "Miss... I want to ask... Miss I want to ask..." sampai pulang ke kos, kata-kata itu masih memenuhi rongga tengkorakku.
Hari itu, kami memberi makan hamster. Kevin, Siti dan Thoriq tinggal di kelas. Aku mengupas mangga untuk mereka. Tiba-tiba Shahnaz masuk ke dalam. "Miss... Falih kecebur kolam, didorong sama Fakhriy..." Anak-anak sudah berlarianlebih dulu. kuletakkan mangga yang belum selesai dikupas. Keluar. Falih sudah menangis dan basah kuyup. Kupeluk, lalu kubawa ke kamar mandi. Kubersihkan badannya dan bajunya diganti. "Udah Falih, jangan nangis lagi. Yok kita ke kelas..."

Di dalam kelas, Miss Tya mendamaikan Falih dan Fakhriy. Mereka pun bersalaman. Saling diam selama 5 menit. 5 menit selanjtnya, mereka bermain bersama kembali.

Begitulah, dunia anak kecil begitu sederhana. Setelah bertengkar dan ada yang menangis, 5 menit kemudian mereka saling berbaikan. Bermain bersama, tidak ada dendam.

Favoritku, bernama Hanif. Dia memang paling pintar di kelas dan paling penurut. Tapi ia anak yang kritis. Waktu shalat dhuha ia selalu menawarkan diri menjadi imam, kalaupun jadi makmum, ia jadi yang paling tertib, paling keras bacaannya. Hafalan hadistnya bagus. Paling bersemangat mengerjakan soal dan selalu selesai, baru setelah selesai ia bermain.

Setiap sore, setelah anak-anak pulang, aku bercengkrama dengan Miss Tya dan Miss Hanis, bercerita tentang anak-anak, tentang suami mereka. Ya, walau sebaya, Miss Tya sudah menikah 3 bulan yang lalu, dan aku menyaksikan sendiri akadnya. Miss Hanis sering menggodaku, "Ayo Miss segera menyusul Miss Tya. Cari suaminya yang usianya lebih tua." Tepat setelah ia mengatakan itu, suaminya datang menjemput. "Wah, my lovely husband has come. Saya duluan ya, Miss..." pamitnya.

Aku suka saat-saat itu, 3 hari itu.  tapi aku merasa ada hati yang belum siap dan ada sesuatu yang rasanya hilang, belum kutemukan di sana. Tapi, bagaimanapun itu, aku bersyukur telah dikayakan Tuhan dengan banyaknya pengalaman.


Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...