2 Desember
Awal kedatanganku disambut mereka. Ramah, menyenangkan, aku suka. "Ya, silakan, Miss Mifta" untuk pertama kalinya Sang Headmaster memanggilku dengan sebutan "Miss". Ah, apa pula ini,,, bahkan untuk memanggilnya Mister, yang kuingat adalah panggilan "Ustadz" sepertinya lebih cocok.
"Di sini, tidak ada senioritas, semuanya menyenangkan" kata temanku, dan aku merasakan hawa yang senada.
Lalu aku ditempatkan di sebuah ruangan. Belum apa-apa sudah ketemu dengan salah satu anak yang bengal. Belakangan kutahu namanya adalah Shahnaz, dia berkata, "Miss, mbok jangan di kelas Al Faraby...". Aku tersenyum saja,,, ah.. anak ini. Baiklah, coba kita lihat nanti di kelas seperti apa. Tapi, anak-anak lain mengerubutiku, 3 di antaranya bertanya, "Miss namanya siapa?" Aku mengulurkan tangan dan menyebutkan nama. Malu-malu mereka menyambutnya dan menyebutkan nama masing-masing begitu kutanya. Yang lain, ada yang langsung menggandeng tanganku, meminta aku menyertainya kemana-mana.
Kelas itu terdiri dari 16 anak. Untuk ukuran kelas 1 SD memang tingkatannya berbeda. Ada yang sudah bisa baca-tulis, ada yang belum. Yang belum bisa baca-tulis, perlu perhatian khusus dalam pembelajaran. Yang kuingat hari itu adalah hari Senin, apel pagi untuk semua anak. Seorang anak tertinggal di kelas, bernama Fakhriy, dikenal tidak suka ikut apel. Hari itu aku memantaunya langsung. Aku ajak ke rak sepatu. "Mana sepatunya?" tanyaku. "Gak tahu,,," ia merajuk. Lalu satu per satu kutunjuk sepatu-sepatu mungil yang berjejer rapi, sampai tiba sepasang sepatu berwarna silver. "Yang ini bukan Fakhriy?" aku bertanya untuk kesekian kali. Ia menjawab, "Mungkin." Dan memang itu miliknya. Langsung kubawa anak itu bersama sepatunya dan ia mengikuti apel setelah mendapat banyak hitungan.
Jam istirahat, mereka semua berlarian. Salah satu menangis tiba-tiba. Bernama Thoriq. "Kenapa?" tanyaku. "Sakit perut Miss..." Lalu kami (aku dan Thoriq) ke UKS untuk mengambil minyak kayu putih. Lalu kembali ke kelas, sampai tiba waktunya untuk ujian renang. Semua berangkat ke kolam renang. Oh, itu mereka ber-enam belas. Imut dan lucu memakai baju renang warna-warni. Pukul 4 sore, para orang tua menjemput anak-anaknya di kolam renang, tertinggal 2 orang. 2 orang itu harus dibawa kembali ke sekolah, karena ternyata orang tua mereka menjemput di sekolah. Aku dan temanku memboncengkan mereka, dan itu kali pertama aku memboncengkan anak kecil di jok motorku.
3 Desember
Hari kedua, dua hari terakhir, pikirku.
Masih dengan situasi yang sama. Konsep Fun Learning di kelas, dimulai dengan kelas Qiroati, lalu kembali ke kelas masing-masing. Berjajar di depan kelas, educator memberi pertanyaan, setelah bisa menjawab mereka pun masuk ke dalam kelas. Dilnjutkan fun brain gym, lengkap dengan video dan musik. Kami semua berlari-menari dengan gembira. Lalu anak-anak shalat dhuha bersama-tentunya dengan aneka gerakan dan perilaku yang aneh-aneh serta lucu. Barulah setelah itu kelas dimulai. Mengerjakan soal dari educator. 3 orang yang belum bisa membaca adalah Fira, Zahava dan Ama. Ama memintaku di dekatnya, "Miss ajarin aku sampai selesai." katanya. Tapi teman-temannya yang lain menarik-narik tanganku ke meja mereka, merajuk minta diajari juga. Lalu Ama berteriak-teriak, aku kembali padanya. Dia sudah ngambek, bersiap untuk menangis. "Ayo.. ayo.. lanjut..." kataku. Lalu dia mengerjakan kembali. Saat aku dengan Ama, gantian yang lain ngambek, tidak mau mengerjakan, berteriak-teriak, lari-larian, puncaknya menangis.
Ah,,, Ama... tangan Miss cuma dua. Ingin rasanya Miss ajari semua, sekali waktu. Ingin Miss rengkuh semua, tapi apa daya...
4 Desember
Hari ketiga, masih sama. Menghadapi anak-anak yang berlum bisa membaca dan menulis, hari ini aku punya strategi. Kebetulan mereka duduk berdekatan. "Fira dan Ama dengarkan, ini Miss bacakan soal untuk kalian berdua." Setelah mendengar soal, mereka kuminta mencari jawaban, setelah ketemu kudektekan per huruf. Mereka sudah bisa mengeja, hanya belum sempurna. Tiba-tiba teman-temannya yang lain menggerutu. "Miss kenapa Ama terus yang diajari dari tadi?" Disusul teriakan-teriakan lain yang harus kuladeni satu per satu. "Miss... I want to ask... Miss I want to ask..." sampai pulang ke kos, kata-kata itu masih memenuhi rongga tengkorakku.
Hari itu, kami memberi makan hamster. Kevin, Siti dan Thoriq tinggal di kelas. Aku mengupas mangga untuk mereka. Tiba-tiba Shahnaz masuk ke dalam. "Miss... Falih kecebur kolam, didorong sama Fakhriy..." Anak-anak sudah berlarianlebih dulu. kuletakkan mangga yang belum selesai dikupas. Keluar. Falih sudah menangis dan basah kuyup. Kupeluk, lalu kubawa ke kamar mandi. Kubersihkan badannya dan bajunya diganti. "Udah Falih, jangan nangis lagi. Yok kita ke kelas..."
Di dalam kelas, Miss Tya mendamaikan Falih dan Fakhriy. Mereka pun bersalaman. Saling diam selama 5 menit. 5 menit selanjtnya, mereka bermain bersama kembali.
Begitulah, dunia anak kecil begitu sederhana. Setelah bertengkar dan ada yang menangis, 5 menit kemudian mereka saling berbaikan. Bermain bersama, tidak ada dendam.
Favoritku, bernama Hanif. Dia memang paling pintar di kelas dan paling penurut. Tapi ia anak yang kritis. Waktu shalat dhuha ia selalu menawarkan diri menjadi imam, kalaupun jadi makmum, ia jadi yang paling tertib, paling keras bacaannya. Hafalan hadistnya bagus. Paling bersemangat mengerjakan soal dan selalu selesai, baru setelah selesai ia bermain.
Setiap sore, setelah anak-anak pulang, aku bercengkrama dengan Miss Tya dan Miss Hanis, bercerita tentang anak-anak, tentang suami mereka. Ya, walau sebaya, Miss Tya sudah menikah 3 bulan yang lalu, dan aku menyaksikan sendiri akadnya. Miss Hanis sering menggodaku, "Ayo Miss segera menyusul Miss Tya. Cari suaminya yang usianya lebih tua." Tepat setelah ia mengatakan itu, suaminya datang menjemput. "Wah, my lovely husband has come. Saya duluan ya, Miss..." pamitnya.
Aku suka saat-saat itu, 3 hari itu. tapi aku merasa ada hati yang belum siap dan ada sesuatu yang rasanya hilang, belum kutemukan di sana. Tapi, bagaimanapun itu, aku bersyukur telah dikayakan Tuhan dengan banyaknya pengalaman.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
-
Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah ...
-
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar