Aku jatuh cinta pada kata-kata. Tiap engkau berbicara tentang senja. Meski kerap kau menulis tentang pagi jua. Cukup itu yang kutahu, karena tiap kali kau menuliskan sajak, puisi, prosa atau fiksi, aku jatuh cinta pada kata-kata. Anehnya, aku tak merasa jatuh cinta padamu, penulisnya. aku hanya merasa, tiap kali kau berkata-kata, kau sedang menunujukkan duniaku, dan aku berlari kepadanya.
Aku jatuh cinta pada kata-kata. Bukan padamu, suatu anomali, ketidawajaran seperti layaknya perempuan-perempuan lainnya. Mereka berlomba, mengejarmu, mendapatkan setitik perhatianmu. Tapi aku merasa tak perlu melakukan itu. Yang kumau hanya kata-katamu, yang kau eja dengan sempurna menjadi baris-baris penuh makna.
Karena di sana, pada kata-kata aku melihat gurat tawa, kesedihan yang melanda, rindu menyeruak dada, kekaguman pada Pencipta semesta, segalanya,,,, melalui kehebatan tarian pena. Aku melihat hatimu pada kata-kata. Cukup itu, cukup aku menggenggam tiap kekuatan yang kau torehkan, dan aku akan menjadi seorang korban ilusi yang tertawa, menangis, bahagia, bersedih, merasa haru pada kata-kata. Karena aku telah jatuh cinta, pada kata-kata.
Jumat, 27 September 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
-
Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah ...
-
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar