Aku berperang melawan waktu. Sendiri di tengah sepi, kuhunuskan pedang ke arahnya. Aku sadar benar, jika aku tak membunuhnya, maka ia yang akan menebasku. Aku ingin melumpuhkannya lewat kata, menebas lengan, kaki yang membuatnya tak bisa berjalan. Setelah ia kalah, aku ingin ia menjadi budakku.
Namun rupanya aku hanyalah manusia lugu yang tak mengerti strategi waktu. Aku setengah menyerah. Aku merangkulnya, bernegosiasi tiba-tiba dan mencoba bersahabat dengannya, setelah aku mengerti benar, jika aku pun kalah lobi, maka ia yang mengakhiri.
Aku tak mau. Aku ingin memastikan dengan tanganku, bahwa kisah ini akan selesai karena aku sendiri yang memutuskan, bukan waktu.
Sabtu, 28 September 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
-
Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah ...
-
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar