Senin, 21 Januari 2013

My First Love


“Setiap ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuannya.”
(pepatah)

Ayahku, adalah cinta pertamaku. Bagaimana tidak? Beliau adalah kaum Adam pertama yang kulihat ketika aku membuka mata, yang dengan kelembutannya selalu menjagaku, ya mesti tak pernah ditampakkannya.
Dulunya, aku menganggap ayahku adalah seorang yang dingin, yang tidak pernah bisa dekat dengan anak-anaknya. Tapi itu spekulasi tanpa suatu data yang valid. Waktu aku masih kecil, ayahku memang sering  marah padaku, yah,,, mungkin karena aku memang nakal waktu itu. Sehingga, anggapan “galak” itu mampir ke benakku. Tapi baru-baru ini aku menyadari sesuatu, mungkin anggapan waktu itu timbul karena aku belum begitu memahami keadaan psikologi dari seseorang. Mungkin karena waktu itu, usia beliau masih relative sangat muda, dengan pernikahan yang berusia muda, lalu harus menghadapi dua anak  kecil yang nakal. Spekulasi lagi, tapi ini lebih objektif menilainya.
Aku mulai jatuh cinta padanya ketika mendengar cerita masa kecil ayahku dari pakdhe. Aku termasuk keponakan yang “grapyak” dengan saudara-saudara ayahku, karena aku adalah anak pertama, dan mau tidak mau harus memberi contoh pada adek-adekku. Ayahku , bungsu dari tiga bersaudara,  dua orang kakaknya laki-laki, dan semuanya berkeluarga di sebuah kota  besar yang panas bernama Bojonegoro. Hanya ayahku yang membangun karir dan keluarganya di kota kecil ini. Pakdhe pernah bercerita, bahwa keluarga mereka saat itu hidup sangat sederhana, kekurangan malah. Oleh karena itu, pakdheku itu mengambil pilihan untuk menjadi seorang tukang becak, untuk turut serta memberikan penghasilan bagi keluarga. Ibunya, yang juga nenek dari ayah, menjadi tukang cuci dan setrika untuk menghidupi keluarga. Pakdhe berkisah, bahwa ayahku adalah seorang yang memiliki kemauan yang keras untuk belajar dan sekolah. Jadi, meskipun hidup serba kesulitan, ayah tak pernah ingin putus sekolah. Maka waktu itu ayah berjualan es lilin keliling kampung, berjualan kelereng, dan apa saja yang bisa membuatnya tetap bersekolah. “Aku mbrebes Ta, yen kelingan bapakmu dodolan es lilin ben tetep iso sekolah” Kata Pakdhe. Pantas saja, sampai sekarang pun ketika hidupnya sudah terjamin sebagai Pegawai Negeri, tetap saja gaya hidupnya sangat sederhana. Beliau ini sangat rajin, bahkan tak bisa diam  meski hanya sejenak. Ketika kami, anak-anaknya masih terlelap, beliau sudah melakukan aktivitas paginya. Atau ketika kami yang tidur siang, beliau sudah jalan-jalan di kandang ayam, menyapu halaman dan  apa pun yang bisa dikerjakannya seusai dari kantor.
Cerita itu sudah lama sekali, namun tetap tersimpan rapi di memori otakku. Sampai suatu ketika, aku menyapu rumah dan menemukan sebuah “celengan” dari bamboo. Tampaknya buatan ayahku sendiri, bertuliskan “Mak, aku ingin pulang.” Melihat itu, aku tak kuasa untuk menahan bulir-bulir bening air mataku. Ya, aku pernah merasakan yang namanya kangen dengan ibu, dan mungkin itu pula yang dirasakannya waktu itu. Tidak sepertiku yang bisa pulang kapan saja dengan nyaman, tinggal menelepon agen travel, menentukan jam, lalu aku sudah berada di depan rumah. Tapi ayahku, untuk pulang ke Bojonegoro harus menempuh waktu yang lama, sekitar 8 jam, itu pun harus berganti bus sebanyak 3 kali. Maka aku pun maklum, jika untuk pulang pun harus memiliki bekal yang cukup, termasuk bekal financial.
Ayahku, tipe orang yang sangat rela berkorban. Entah apa yang dialami adek-adekku, tapi yang kualami sudah lebih dari cukup untuk meminta pembuktian dari cintanya. Kau tahu kawan, aku sangat mencintai Pramuka. Ketika aku SMA, ada suatu event yang disebut sebagai pelantikan bantara. Proses untuk mendapatkan tanda bantara itu, harus melalui serangkaian ujian, mulai dari ujian SKU, ujian fisik dan ujian mental. Singkat kata singkat cerita, di perkemahan itu juga diselenggarakan pelantikan bantara, di mana emblem bantara itu akan disematkan oleh orang tua masing-masing. Pukul 20.00 malam acara dilangsungkan, aku melihat teman-teman seperjuanganku yang berdomisili di kota sudah menemukan orang tuanya.  Namun ada pula, teman-termanku  yang tidak  didampingi orang tuanya, karena kebanyakan mereka adalah anak kos . Begitu juga aku, yang juga anak kos. Anak pinggiran yang bersekolah  di kota. Sebenarnya aku tak berharap banyak bahwa ayahku akan datang, karena jarak rumah kami dengan lokasi perkemahan waktu itu juga lumayan jauh, sekitar 30 menit, apalagi kondisi udara malam yang tak bagus untuk kesehatan itu. Maka, aku cukup berbesar hati dengan keadaan teman-temanku yang juga tak didampingi orang tuanya. Hehe…
Prosesi demi prosesi dilanjutkan, sampai ketika pembawa acara menyatakan bahwa akan ada penyematan  emblem  bantara yang dilakukan oleh orang tua masing-masing peserta pelantikan. Ayahku datang, mencari-cari aku di antara barisan para Pramuka. Aku melihatnya dan memanggil namanya. Emblem sudah di tangan, dan disematkan kepadaku bersama-sama dengan teman-teman yang lain diiringi lagu “Syukur”. “Selamat ya Nduk” katanya waktu itu, tersenyum lalu kembali ke bangku para undangan. Singkat saja, dan kurasa adegannya sama persis di sekuel Sang Pemimpi, ketika ayah Ikal datang di pengambilan raportnya setelah menempuh jarak yang jauh dengan bersepeda. Ketika datang dan menerima raport Ikal, ayahnya hanya menemuinya, tersenyum, menepuk pundak, lalu berucap salam, lantas pulang dengan kembali mengayuh sepeda. Setelah itu aku mengalami guncangan yang luar biasa. Teman-temanku sudah lebih dulu menangis, dan aku pun terbawa suasana. (waktu itu aku belum tahu kalau aku seorang melankolis sempurna).
Oh, ayahku. Bukan Cuma itu. Awal aku bisa mengendarai motor dan harus kubawa ke tempat sekolahku yang harus melewati jalanan yang menukik lagi curam, lagi-lagi beliaulah yang mengantarkanku. Lalu pulang ke rumah dengan menggunakan mobil andongan. Atau saat ini ketika aku dituntut memiliki mobilitas yang tinggi di kota pelajar ini, maka si Silvi juga diantarkannya, dan seperti waktu itu, beliau pulang menggunakan travel.
Ah entahlah, anak macam apa aku ini, yang sampai detik ini belum bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Sebuah toga wisuda dan ijazah kelulusan yang dapat mengukir secercah senyum untuknya. Hmmm,,,, semoga ya Yah,,, semua akan indah tepat pada waktunya. Atau alibiku saja??? Tapi, memang beliau tak pernah menuntutku untuk bersegera, justru beliau memberikan kebebasan untukku, untuk menikmati setiap jejak langkah ketika bergelar mahasiswa, tidak seperti ibuku yang telah memberikan MoU untuk lulus cepat waktu.
Laki-laki sederhana itu, di usianya yang semakin senja menjadi semakin bijaksana karena ilmu dan pengetahuan agama yang ada padanya. Dan untuk kesekian kali, lagi-lagi itu membuatku jatuh cinta.

Rumah Cahaya, 2 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...