“Setiap
ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuannya.”
(pepatah)
Ayahku,
adalah cinta pertamaku. Bagaimana tidak? Beliau adalah kaum Adam pertama yang
kulihat ketika aku membuka mata, yang dengan kelembutannya selalu menjagaku, ya
mesti tak pernah ditampakkannya.
Dulunya,
aku menganggap ayahku adalah seorang yang dingin, yang tidak pernah bisa dekat
dengan anak-anaknya. Tapi itu spekulasi tanpa suatu data yang valid. Waktu aku
masih kecil, ayahku memang sering marah
padaku, yah,,, mungkin karena aku memang nakal waktu itu. Sehingga, anggapan
“galak” itu mampir ke benakku. Tapi baru-baru ini aku menyadari sesuatu,
mungkin anggapan waktu itu timbul karena aku belum begitu memahami keadaan
psikologi dari seseorang. Mungkin karena waktu itu, usia beliau masih relative
sangat muda, dengan pernikahan yang berusia muda, lalu harus menghadapi dua
anak kecil yang nakal. Spekulasi lagi,
tapi ini lebih objektif menilainya.
Aku
mulai jatuh cinta padanya ketika mendengar cerita masa kecil ayahku dari
pakdhe. Aku termasuk keponakan yang “grapyak” dengan saudara-saudara ayahku,
karena aku adalah anak pertama, dan mau tidak mau harus memberi contoh pada
adek-adekku. Ayahku , bungsu dari tiga bersaudara, dua orang kakaknya laki-laki, dan semuanya
berkeluarga di sebuah kota besar yang
panas bernama Bojonegoro. Hanya ayahku yang membangun karir dan keluarganya di
kota kecil ini. Pakdhe pernah bercerita, bahwa keluarga mereka saat itu hidup
sangat sederhana, kekurangan malah. Oleh karena itu, pakdheku itu mengambil
pilihan untuk menjadi seorang tukang becak, untuk turut serta memberikan
penghasilan bagi keluarga. Ibunya, yang juga nenek dari ayah, menjadi tukang
cuci dan setrika untuk menghidupi keluarga. Pakdhe berkisah, bahwa ayahku
adalah seorang yang memiliki kemauan yang keras untuk belajar dan sekolah.
Jadi, meskipun hidup serba kesulitan, ayah tak pernah ingin putus sekolah. Maka
waktu itu ayah berjualan es lilin keliling kampung, berjualan kelereng, dan apa
saja yang bisa membuatnya tetap bersekolah. “Aku mbrebes Ta, yen kelingan
bapakmu dodolan es lilin ben tetep iso sekolah” Kata Pakdhe. Pantas saja,
sampai sekarang pun ketika hidupnya sudah terjamin sebagai Pegawai Negeri,
tetap saja gaya hidupnya sangat sederhana. Beliau ini sangat rajin, bahkan tak
bisa diam meski hanya sejenak. Ketika
kami, anak-anaknya masih terlelap, beliau sudah melakukan aktivitas paginya.
Atau ketika kami yang tidur siang, beliau sudah jalan-jalan di kandang ayam,
menyapu halaman dan apa pun yang bisa
dikerjakannya seusai dari kantor.
Cerita
itu sudah lama sekali, namun tetap tersimpan rapi di memori otakku. Sampai
suatu ketika, aku menyapu rumah dan menemukan sebuah “celengan” dari bamboo.
Tampaknya buatan ayahku sendiri, bertuliskan “Mak, aku ingin pulang.” Melihat
itu, aku tak kuasa untuk menahan bulir-bulir bening air mataku. Ya, aku pernah
merasakan yang namanya kangen dengan ibu, dan mungkin itu pula yang
dirasakannya waktu itu. Tidak sepertiku yang bisa pulang kapan saja dengan
nyaman, tinggal menelepon agen travel, menentukan jam, lalu aku sudah berada di
depan rumah. Tapi ayahku, untuk pulang ke Bojonegoro harus menempuh waktu yang
lama, sekitar 8 jam, itu pun harus berganti bus sebanyak 3 kali. Maka aku pun
maklum, jika untuk pulang pun harus memiliki bekal yang cukup, termasuk bekal
financial.
Ayahku,
tipe orang yang sangat rela berkorban. Entah apa yang dialami adek-adekku, tapi
yang kualami sudah lebih dari cukup untuk meminta pembuktian dari cintanya. Kau
tahu kawan, aku sangat mencintai Pramuka. Ketika aku SMA, ada suatu event yang
disebut sebagai pelantikan bantara. Proses untuk mendapatkan tanda bantara itu,
harus melalui serangkaian ujian, mulai dari ujian SKU, ujian fisik dan ujian
mental. Singkat kata singkat cerita, di perkemahan itu juga diselenggarakan
pelantikan bantara, di mana emblem bantara itu akan disematkan oleh orang tua
masing-masing. Pukul 20.00 malam acara dilangsungkan, aku melihat teman-teman
seperjuanganku yang berdomisili di kota sudah menemukan orang tuanya. Namun ada pula, teman-termanku yang tidak
didampingi orang tuanya, karena kebanyakan mereka adalah anak kos .
Begitu juga aku, yang juga anak kos. Anak pinggiran yang bersekolah di kota. Sebenarnya aku tak berharap banyak
bahwa ayahku akan datang, karena jarak rumah kami dengan lokasi perkemahan
waktu itu juga lumayan jauh, sekitar 30 menit, apalagi kondisi udara malam yang
tak bagus untuk kesehatan itu. Maka, aku cukup berbesar hati dengan keadaan
teman-temanku yang juga tak didampingi orang tuanya. Hehe…
Prosesi
demi prosesi dilanjutkan, sampai ketika pembawa acara menyatakan bahwa akan ada
penyematan emblem bantara yang dilakukan oleh orang tua
masing-masing peserta pelantikan. Ayahku datang, mencari-cari aku di antara
barisan para Pramuka. Aku melihatnya dan memanggil namanya. Emblem sudah di
tangan, dan disematkan kepadaku bersama-sama dengan teman-teman yang lain
diiringi lagu “Syukur”. “Selamat ya Nduk” katanya waktu itu, tersenyum lalu
kembali ke bangku para undangan. Singkat saja, dan kurasa adegannya sama persis
di sekuel Sang Pemimpi, ketika ayah Ikal datang di pengambilan raportnya
setelah menempuh jarak yang jauh dengan bersepeda. Ketika datang dan menerima
raport Ikal, ayahnya hanya menemuinya, tersenyum, menepuk pundak, lalu berucap
salam, lantas pulang dengan kembali mengayuh sepeda. Setelah itu aku mengalami
guncangan yang luar biasa. Teman-temanku sudah lebih dulu menangis, dan aku pun
terbawa suasana. (waktu itu aku belum tahu kalau aku seorang melankolis
sempurna).
Oh,
ayahku. Bukan Cuma itu. Awal aku bisa mengendarai motor dan harus kubawa ke
tempat sekolahku yang harus melewati jalanan yang menukik lagi curam, lagi-lagi
beliaulah yang mengantarkanku. Lalu pulang ke rumah dengan menggunakan mobil
andongan. Atau saat ini ketika aku dituntut memiliki mobilitas yang tinggi di
kota pelajar ini, maka si Silvi juga diantarkannya, dan seperti waktu itu,
beliau pulang menggunakan travel.
Ah
entahlah, anak macam apa aku ini, yang sampai detik ini belum bisa memberikan
kebahagiaan untuknya. Sebuah toga wisuda dan ijazah kelulusan yang dapat
mengukir secercah senyum untuknya. Hmmm,,,, semoga ya Yah,,, semua akan indah
tepat pada waktunya. Atau alibiku saja??? Tapi, memang beliau tak pernah
menuntutku untuk bersegera, justru beliau memberikan kebebasan untukku, untuk menikmati
setiap jejak langkah ketika bergelar mahasiswa, tidak seperti ibuku yang telah
memberikan MoU untuk lulus cepat waktu.
Laki-laki
sederhana itu, di usianya yang semakin senja menjadi semakin bijaksana karena
ilmu dan pengetahuan agama yang ada padanya. Dan untuk kesekian kali, lagi-lagi
itu membuatku jatuh cinta.
Rumah
Cahaya, 2 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar