Selasa, 14 Januari 2014

Amanah di Penghujung Januari

Terkadang, cinta datang terlambat di penghujung hari. Atau bisa jadi, cinta telah hadir di awal kebersamaan, hanya saja kita tak saling menyadari. Beginilah, cinta yang hadir pada sebuah rumah tumbuh bernama organisasi. Organisasi yang selalu disandingkan dengan amanah, yang dipikul di pundak. Menjadi tema dalam otak. Membutuhkan waktu, energi dan kesabaran lebih untuk dihadapi dan dijaga. Terlebih, jika pada awalnya, tidak merasa "sreg" berada di sana. Maka berproses adalah jawaban atas ketidak-sreg-an itu sendiri. Bagaimanapun, yang dihadapi adalah sebuah kepastian, bahwa mau tidak mau, kita telah berada di situ. Tidak ada jalan lain, kecuali menjadi pribadi pembelajar yang jatuh bangun untuk mencoba. Meski banyak celah-lubang-tantangan dalam proses pembelajaran itu. Pun, sangat jauh dari sempurna.

"Pena telah terangkat dan tinta telah kering!"

Maka di bagian awal sampai tengah itu adalah masa-masa yang sulit dan berat bagi sebagian orang yang berada pada sebuah organisasi. Merasa tidak nyaman, belum bisa beradaptasi, bukan "gue" banget, merasa tidak berkapasitas, tidak expert dalam bidangnya dan semua alasan lain. Ah, manusia memang pandai mencari-cari alasan. Payahnya, alasan-alasan itu dianggap sebagai sebuah pembenaran atas kepentingan ego. Ya, masalah perasaan. Manusiawi, wajar. Padahal, jika ada kemauan pasti ada jalan. Berproses, berproses, berproses... menjadi lebih baik dari hari ke hari, seperti para kupu-kupu. Kupu-kupu cantik itu, terbang dengan indah di antara bunga-bunga karena melewati masa-masa yang sulit dalam hidupnya. Setelah menjadi larva, ulat, dan kepompong. Terlebih, ketika akan berubah menjadi kupu-kupu, ia terjerat oleh jaring-jaring tertentu, yang menyusahkannya untuk segera keluar. Tapi begitulah, justru kesusahan yang dia dapatkan itu akan membuat sayapnya menjadi lebih kuat dan kokok, ketika terbang nanti.

Meminjam filosofi Dandelion, yang baru akhir-akhir ini dapat termaknai. Bunga kecil yang kelihatan rapuh itu, sebenarnya sangat tangguh menghadapi kencangnya angin. Kalaupun pada akhirnya, ia harus diterbangkan oleh angin, ketika jatuh di tanah yang baru ia akan memulai kehidupan yang baru. Secara sederhana, dapat dimaknai sebagai kekuatan untuk bertumbuh di manapun berada.
Seperti itulah kehidupan sebuah organisasi. Tidak perlu mengeluh terlalu jauh, atau menangis hingga membuat miris, ketika kita ditempatkan di sebuah organisasi yang sama sekali asing, tidak kita kenal, dan bahkan tidak kita cintai. Di luar sana, ada organisasi yang lebih kita inginkan. Tapi kebutuhan lapangan, lantaran ada atau tidaknya orang, atau rasionalitas lain yang mengharuskan kita untuk berada "di sana", pikirkan sebagai sebuah petualangan. Bahwa Allah telah menuliskan dalam lembaran takdir untuk kita. Bahwa kita sedang diuji dalam pemaknaan kehidupan. Bahwa kita harus meminjam filosofi sang dandelion, dapat hidup dan bertumbuh, di manapun berada.

Pada prosesnya, tiap tantangan tidak akan pernah terhindarkan. Selalu ada masalah, ketidakmulusan agenda, atau apa pun namanya. Sebut saja batu sandungan. Sebuah pembelajaran yang membuat kita untuk lebih hati-hati berjalan. Maka, mari meminjam arti kegigihan pada rumput liar. Terus hidup dan tumbuh meski diinjak berkali-kali. Anggap saja training untuk lebih menguatkan langkah dan kesabaran.

Namun, tidak semuanya berjalan menyedihkan. Selalu ada, dalam kisah perjalanan manusia, bukan hanya nestapa yang menyapa, tapi juga kisah tentang bahagia. Surplus yang kita dapat dari berorganisasi adalah rasa kekeluargaan, terlebih yang dibungkus dengan bingkai ukhuwah. Indah. Bukan sedarah, tapi diikat oleh tali aqidah. Mereka ini adalah orang-orang yang menjadi warna-warni pelangi yang menghiasi hitam putihnya kehidupan dalam organisasi. Mereka mewujud menjadi sahabat sejati, yang teruji untuk membersamai kita menangisi pahit-getirnya perjuangan. Mereka juga adalah pemanis dalam tiap kebahagiaan yang kita punya. "Gak ada loe, gak rame." Maka, mereka ini akan menjadi salah satu episode yang tidak akan pernah kita lupakan. Cinta antara kita dan mereka telah teruji oleh waktu, yang menghadirkan berbagai cerita tentang persaudaraan.

Maka tak ada yang heran, selalu ada perasaan  memiliki begitu ada yang merasa kehilangan. Akan ada perasaan untuk mengulangi, begitu ada yang terlepaskan. Merasa baru akan mencintai, begitu waktu harus mengakhiri.

Jangan pernah ada cinta yang terlambat!

 

* di penghujung amanah, menanti detik-detik demisioner. 

Mifta Damai R
 Rabu, 15 Januari 2014 01.48

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...