Rabu, 26 Maret 2014

Jingga Senja

“Bagaimana paras ibumu? Apakah ada jejak parasnya di dalam wajahmu?” Selalu aku bertanya-tanya.
Selalu pula kau punya jawaban yang sama.
“Kalau aku Harry Potter aku akan bilang, aku mirip ayahku, hanya saja aku memiliki mata ibuku.”
Aku tergelak, tak tahu orang sepertimu bisa juga mengutip kata-kata dalam film. Tak tahu pula bahwa orang sesibuk dirimu, masih punya waktu untuk menonton film.
“Lalu, sejak kapan kamu menyukai sastra? Tiba-tiba suka berkata dengan kata-kata indah berdiksi.”
“Sejak aku mengenal seseorang. Dan menyimpan namanya dalam waktu yang cukup lama.”
Aku terdiam.
“Apakah aku?” ingin aku bertanya begitu. Tapi, lagi-lagi hanya dalam hati. Justru yang keluar adalah kata-kata macam ini,
“Kenapa kamu hanya menyimpan namanya? Tidak kamu katakan saja yang sebenarnya?”
“Karena aku menyukai cinta yang diam-diam. Diam-diam hadir, diam-diam bertumbuh. Diam-diam mendoakan. Kudengar, doa yang diam-diam itu jauh lebih bisa terkabul, sebagaimana Tuhan mencintai ia yang melakukan kebaikan secara diam-diam. Seperti ungkapan, ketika tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan kiri mengetahui. Ya, seperti itulah.”
Kalimatmu itu terdengar seperti sebuah sindiran di telingaku. Karena sebenarnya aku pun begitu, padamu.
“Hmm… maukah kamu menjadi laut?” aku bertanya.
Kamu terdiam, melihatku sekilas lalu tersenyum.
“Agar  aku bisa menjadi muara atas cintamu?” sejenak kemudian kamu tergelak.
“Kenapa kamu menjadi orang yang over confidence?”
“Agar orang yang di sampingku memiliki keberanian untuk menyetarakan kadar kepercayaan dirinya hingga ke tingkat sepertiku.”
“Apa kamu tahu?”
“Ya?”
“Tiap detiknya aku telah menjadi seorang pemberani yang membunuh tiap jengkal tunas perasaanku padamu. Agar aku tidak menyentuhmu. Agar aku tidak menangis di hadapanmu. Agar aku bisa tetap menjadi sahabat seperti biasanya untukmu.” Dalam hatiku berkata seperti itu.
“Ah, lupakan. Karena aku juga sudah lupa apa yang hendak kubicarakan.”


sumber gambar: akuperempuanlangit.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...