“Bagaimana paras ibumu? Apakah
ada jejak parasnya di dalam wajahmu?” Selalu aku bertanya-tanya.
Selalu pula kau punya jawaban
yang sama.
“Kalau aku Harry Potter aku akan
bilang, aku mirip ayahku, hanya saja aku memiliki mata ibuku.”
Aku tergelak, tak tahu orang
sepertimu bisa juga mengutip kata-kata dalam film. Tak tahu pula bahwa orang
sesibuk dirimu, masih punya waktu untuk menonton film.
“Lalu, sejak kapan kamu menyukai
sastra? Tiba-tiba suka berkata dengan kata-kata indah berdiksi.”
“Sejak aku mengenal seseorang.
Dan menyimpan namanya dalam waktu yang cukup lama.”
Aku terdiam.
“Apakah aku?” ingin aku bertanya
begitu. Tapi, lagi-lagi hanya dalam hati. Justru yang keluar adalah kata-kata
macam ini,
“Kenapa kamu hanya menyimpan
namanya? Tidak kamu katakan saja yang sebenarnya?”
“Karena aku menyukai cinta yang
diam-diam. Diam-diam hadir, diam-diam bertumbuh. Diam-diam mendoakan. Kudengar,
doa yang diam-diam itu jauh lebih bisa terkabul, sebagaimana Tuhan mencintai ia
yang melakukan kebaikan secara diam-diam. Seperti ungkapan, ketika tangan
kananmu memberi, jangan sampai tangan kiri mengetahui. Ya, seperti itulah.”
Kalimatmu itu terdengar seperti
sebuah sindiran di telingaku. Karena sebenarnya aku pun begitu, padamu.
“Hmm… maukah kamu menjadi laut?”
aku bertanya.
Kamu terdiam, melihatku sekilas
lalu tersenyum.
“Agar aku bisa menjadi muara atas cintamu?” sejenak
kemudian kamu tergelak.
“Kenapa kamu menjadi orang yang over confidence?”
“Agar orang yang di sampingku
memiliki keberanian untuk menyetarakan kadar kepercayaan dirinya hingga ke
tingkat sepertiku.”
“Apa kamu tahu?”
“Ya?”
“Tiap detiknya aku telah menjadi
seorang pemberani yang membunuh tiap jengkal tunas perasaanku padamu. Agar aku
tidak menyentuhmu. Agar aku tidak menangis di hadapanmu. Agar aku bisa tetap
menjadi sahabat seperti biasanya untukmu.” Dalam hatiku berkata seperti itu.
“Ah, lupakan. Karena aku juga
sudah lupa apa yang hendak kubicarakan.”
sumber gambar: akuperempuanlangit.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar