Rabu, 05 Maret 2014

Tentang Mimpi dan Menuliskannya


Pernahkah mendengar kalimat ini? "Tuliskan mimpimu, jangan hanya diingat, karena suatu saat kau bisa melupakannya."
Saya, adalah salah satu orang yang sangat percaya dengan hal tersebut. Terlebih, menuliskan mimpi agaknya memang memiliki efek signifikan dalam pencapaian mimpi dan realisasinya. Saya memang belum bisa menyebutkan, siapa saja orang-orang di dunia ini yang telah berhasil mewujudkan mimpi yang dulunya ditulis dengan tulisan tangan di secarik kertas. Tapi, sebut saja seseorang yang sampai sekarang (masih) fenomenal, Mas Danang AP. Sebut saja Sang Pembuat Jejak. Anak pesisir yang merantau untuk menimba ilmu di sebuah kampus bernama IPB, mengenal tarbiyah di kampus, lalu mendengar satu nasehat bijak yang mengubah hidupnya. Ya, kata-kata di atas! tentang menuliskan mimpi yang dia punya, meski awalnya mimpi-mimpi yang rasanya mustahil itu memang ditertawakan, bahkan dilecehkan! Tapi, mimpi yang ditulis itu selalu mempunyai kekuatan, hingga pada akhirnya satu demi satu telah tercoret karena berhasil diwujudkan.

Jamil Azzaini, pernah berkata dalam sebuah bukunya, "Tuhan, Inilah Proposal Hidupku." Saya cuplikkan intisari dari perkataan beliau, "Mengapa untuk kegiatan dunia saja kita mati-matian membuat proposal sedemikian rupa, tapi untuk kehidupan kita sendiri di dunia dan akhirat tidak pernah kita perhatikan proposal terhadap Tuhan."

Maka, terhadap dua panutan itu,saya pun yang sejatinya seorang pemimpi (yang memulai mimpinya dengan tidur) juga mencoba untuk menuliskan mimpi-mimpi yang ada dalam sebuah buku khusus. Target ke 100 mimpi saya berbunyi, "Menjadi lulusan terbaik di fakultas dan universitas." Tertanggal, 4 Syawal 1433 H, atau sekitar tahun 2012. Saya menulisnya, sembari menunggu kedatangan seorang sahabat. Terlintas begitu saja, "Bisa gak ya?" Saya hanya berpikir dan tangan saya sudah menuliskannya di halaman itu. Bernomor 100, dan saya nyatakan khatam untuk sementara. Masih ada mimpi-mimpi lain yang menjadi bintang yang menggantung di langit rindu. Hanya saja, lembar bergaris itu belum mampu untuk menampungnya. 

Saya lantas menjalani kehidupan yang biasa. Untuk meraih mimpi, kita tidak boleh selamanya tertidur. Ada saatnya harus bergerak dan berupaya sekuat tenaga untuk meraihnya. Perlu proses yang melelahkan, perjuangan yang berdarah-darah, serta luka-luka yang berujung tangisan. Belum lagi keresahan-ketakutan yang terpendam. Di balik senyuman, ada sesuatu di belakangnya. Stres, insomnia, maag menggejala. Berhari-hari tidak tidur. Atau malah tertidur di siang harinya. Tulisan di blog dan status facebook semakin banyak, hanya sebagai alternaltif lain ketika sudah buntu menyusun kata-kata. Menulis skripsi, memang tidak semudah menyusun prosa. Tapi masing-masing, bisa didramatisasi dengan cara yang berbeda. Ah,,, nggaya... :D

Putus asa? Hampir! Ketika berkejaran dengan waktu dan dosen yang susah ditemui, membuat saya berhari-hari berdiam diri. Tanya saja adik saya (@Rizkismile1), waktu itu saya uring-uringan, diam, lalu suka tidur lebih awal. Tapi ketika saya menyadari, bahwa suatu saat hal-hal seperti itu harus "dilepaskan", maka saya mencoba mengikhlaskan. Mengingat lagi cerita tentang Bunda Hajar yang berlari-lari sampai kepayahan dan keajaiban justru datang karena hentakan kaki Ismail kecil. Pasti ada jalan! Saya berpikir. Ditambah lagi, saat itu saya mencoba membaca biografi  seorang tokoh antimainstream yang dinovelkan bernama Oda Nobunaga, saya memulai jalur diplomasi darat dengan Ketua Jurusan, yang juga pembimbing saya. Alhasil, keluarlah putusan yang sama sekali tidak saya perhitungkan, saya selamat dari ultimatum ujian ulang! Begitulah, cara Allah mendengarkan dan mengabulkan tiap pinta hamba yang selalu dikasihi-Nya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Sampai di mana kadar kita? Saat telah kita kerahkan semuanya dan tidak ada yang tersisa, saat itulah pertolongan menyapa. 

Maka, pekan itu. Pekan terakhir bulan Februari, yang juga bulan kelahiran sahabat saya yang berjanji akan datang di bulan Maret ini, tapi karena ada tugas negara, ia tak jadi datang, saya dihubungi oleh pihak fakultas dan universitas. Setelah sebelumnya didaulat untuk menjadi pembaca ikrar alumni di prosesi Yudisium Fakultas, saya diminta untuk menjadi wakil wisudawan pada acara pelepasan Fakultas tanggal 28 Februari malam. Begitu juga dengan Humas Universitas, meminta untuk datang pada pekan terakhir menjelang wisuda, "Wawancara mbak, besok dimasukkan Koran dan dibagikan kepada semua orang tua wisudawan. Biar orang tuamu dan Camermu bangga." *Beliau nyebut-nyebut camer yang sampai sekarang saya juga belum tahu siapa, dan saya hanya tersenyum. Disusul permintaan menjadi perwakilan wisudawan untuk memberikan sambutan di tingkat universitas. Saya benar-benar tidak menyangka, bahwa mimpi yang hanya tertulis di secarik kertas itu telah mewujud nyata! Dan saya salah satu buktinya. Meski, saya sangat yakin, campur tangan Allah lah yang membuat semua ini dapat terjadi. Momentum pula yang menjadikan semua terasa indah pada waktu yang tepat. 

Seperti itulah saya memaknai sebuah penantian. Sebuah perjuangan. Sebuah fase kehidupan.

"Sekarang, saya memang sudah bukan mahasiswa. Tapi saya tetaplah seorang pembelajar, hingga akhir usia."

"Tulislah mimpimu, karena mimpi yang kau tulis akan lebih dekat untuk kau genggam."







Special thanks to:

Allah SWT
Bapak dan Ibu yang telah bersabar lebih lama
Rizki atas dukungannya
Tarbiyah yang telah menginspirasi kehidupan sebutir debu ini
Sahabat-sahabat yang menginspirasi dan menjadi bagian dari diri ini.

3 komentar:

Rohyananuris mengatakan...

barakallah mifta.. :) nice share :)

Dwi mengatakan...

Saya saat semester 6 kira2 tahun 1996 menuliskan mimpi ingin jadi peneliti atau dosen dan meneruskan studi lanjut di luar negeri. Alhamdulillah Allah memudahkan jalan saya.

Eka Puspa mengatakan...

Bunda selamat yaaa..
maafkan anakmu ini yang kemarin tak sempat untuk datang hanya sekedar mengucapkan kata selamat secara langsung kepada mu...
aku terharuuuu.. terimakasih atas semua pembelajaran yang telah engkau berikan untukku. semoga segera menyusul jejakmu mengharumkan nama JURUSAN kita dan fakultas kita. Aamiin... Miss u. Aku percaya, kapan pun waktunya kita akan berjumpa lagi.

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...