Minggu, 01 April 2012

sebuah refleksi dari status arisan

"Klutihik....
jangan-jangan nama yang keluar hanyalah karena arisan, bukan karena pertimbangan-pertimbangan matang


orang-orang terpilih, belumlah tentu orang-orang yang hebat"


begitulah status yang kubuat beberapa hari yang lalu dan dikomentari dengan ramai oleh para orang-orang hebat. hmm... aku mulai disorientasi, sebenarnya apa peranku? orang dengan kapasitas dan amanah yang njomplang...
kapasitas pas-pasan sedangkan amanah begitu berat. lalala....

sebenarnya kuncinya gampang, jika mau kapasitas naik, ya upgrade kapasitas,,, belajar,,, lakukan sesuatu. bukan hanya diam saja dan menunggu.

simpel.


ya, adakah jembatan yang menghubungkan antara mimpi yang besar dengan kapasitas yang pas-pasan????

jawabnya ada.

jembatan itu adalah proses. proses untuk belajar, proses untuk paham, proses untuk berkarya, dengan hati dan cinta.

maka, memang sudah terlanjur di tengah jalan... maka jangan berhenti jika bukan karena lampu merah.
sudah kepalang basah, lebih baik menceburkan diri sekalian. totalitas.

dan, satu hal. JANGAN BANYAK MENGELUH. semangatlah, hidup ini indah ketika kau banyak bersyukur, namun ketika kau banyak mengeluh, maka kau akan merasa tersungkur.

akhirnya, kita akan didewasakan oleh waktu dan kesabaran.

terimakasih, saudara-saudaraku.

kemarin hanyalah emosi sesaat saja. ketika aku ingin lari, ketika aku ingin sembunyi, dan ketika aku ingin berhenti. tapi, kini aku telah mengerti, jika itu semua kulakukan, maka aku tak akan lebih dari seorang pengecut yang gagal, dan itu berarti pengorbanan yang ada selama ini hanyalah kesia-siaan belaka.

astaghfirullah... betapa istiqomah itu bukanlah perkara mudah...

maka, hanya pada Allah saja aku berpasrah.

Sabtu, 17 Maret 2012

Perasaanku atas Perasaanmu Padaku, yang tak pernah kutahu Ayah, tak tahu bagaimana aku harus memulainya Bahkan membahasakan perasaanku padamu pun aku tak tahu Mungkin juga sepertimu Diammu, adalah bahasa kasih sayangmu, dan aku tahu itu… Hanya saja Ayah… kau terlalu berharga Jika saja diamku pun bisa kau rasa sebagai rasa cintaku padamu Ah,,,, aku memang tak paham bagaimana memperlakukan kaum Adam Bahkan kepada seseorang yang kupanggil Ayah dengan rasa bangga Menilik masa kecilmu, menetes air mataku Seorang anak kecil yang bersemangat untuk mengenyam pendidikan Dan sayangnya tak seberuntung anak-anak sebayamu Karena ibumu, yang juga nenekku, hanyalah seorang tukang cuci panggilan Ketika teman-temanmu asyik bermain dan hidup berkecukupan, bahkan dengan harta bergelimangan Kau sudah mengenal kata banting tulang Menjual permen dan es untuk mendapat sedikit uang Yang bisa menopang biaya sekolahmu di kota saat itu Tapi bagimu, itu adalah kawah candradimuka Yang di dalamnya engaku ditempa tuk menjadi seorang ksatria Ksatria lembut hati yang rajin mengaji Yang semangat pergi sekolah meski jalan kaki Menilik masa mudamu, kini aku sungguh malu Karena segala yang kubutuhkan bahkan kumau ada di hadapanku Bahkan , kau memberikan semua Tak seperti perjuanganmu dulu,,, di hadapanmu aku hanyalah seorang peminta-minta Ah, aku memang tak paham bagaimana memperlakukan kaum Adam Bahkan kepada seseorang yang kupanggil Ayah sepenuh jiwa Kau selalu ada untuk memberi yang terbaik Sementara aku, tak satu pun kebanggaan yang bisa kupetik Aku hanya bisa bermimpi Suatu saat kan kupersembahkan sesuatu untukmu dengan penuh arti Kau selalu siap siaga melakukan segala Harta, jiwa, pengorbanan dan doa Sementara aku hanya bisa diam, terpesona ternganga Berpikir keras bagaimana bisa membalas kasih yang tiada hingga Ah, aku memang tak paham bagaimana memperlakukan kaum Adam Bahkan kepada seseorang yang kupanggil Ayah dari lubuk jiwa yang terdalam Doaku untukmu, pahlawanku Semoga Allah merengkuh erat tiap citamu Menghapus segala pedihmu Dan menjadikanmu manusia terkasih di hadapan-Nya

Kamis, 15 Maret 2012

apa yang membuat pramuka begitu istimewa?

apa yang membuat pramuka begitu istimewa di hati saya?

bahkan saat ini, saya bukan lagi seorang pramuka. tidak lagi menjabat di Dewan Ambalan, dan kini saya telah beralih ke organisasi lain di bidang politik kampus. tapi entah, kenapa setiap kali melihat adek-adek Pramuka dan rekan-rekan yang masih bergelut dengan Pramuka di universitas membuat jantung saya deg-deg an???

ada apa ini?

timbul semangat baru dan senyuman haru, ketika melihat mereka mengenakan baju atasan dan bawahan coklat, hasduk merah putih di kerah bajunya dan atribut-atribut kepramukaan.

seolah saat ini saya masih membersamai pramuka.

apa yang membuat pramuka begitu istimewa di hati saya?

apakah karena kepemimipinan mereka? pramuka adalah pandu, pemimpin, sekaligus kader-kader handal pemimpin Indonesia masa depan.

apakah karena kreatifitas mereka?

apakah karena semaphore mereka?

apakah karena morse dan sandi-sandi mereka?

apakah karena kemampuan mereka survive di alam raya?

apakah karena kepiawaian mereka?

apakah karena tepuk pramukan danlagu-lagunya?

apakah karena keceriaan mereka?

apakah karena kebersamaan dan kesolidan mereka?

apakah karena dasa dharma dan trisatya?

apakah karena kenangan-kenangan saya di masa lalu tentang pramuka?


entah apa pun itu, Pramuka, begitu istimewa di hati saya, dari dulu hingga saat ini, entah esok hari yang saya tahu, saya mencintai pramuka, meski tak lagi mengenakan seragamnya....

Selasa, 21 Februari 2012

Haruskah Mimpi Baru Menggeser Mimpi Lama???

Tanyaku.
 ketika tersadar dari perenungan yang dalam. mimpi-mimpiku waktu itu teramat sederhana.Datang dari Pacitan ke kota Jogja dengan mimpi bersahaja.  Menjadi mahasiswa yang pandai, menjadi mahasiswa berprestasi, lalu lulus dengan predikat Cumlaude. sederhana bagiku, untuk seorang yang berlatarbelakang pelajar berprestasi yang selalu nangkring di urutan 3 besar sejak zaman Taman Kanak-Kanak. Setidaknya pengalaman waktu kecil itu telah mempengaruhi idealismeku dalam memandang kehidupan. perfect dalam tiap jejak akademik.

namun, agaknya idealisme itu harus bersanding dengan datangnya mimpi-mimpi yang lain. dan itu artinya mimpiku tak lagi sederhana. It's complicated.... begitu banyaknya mimpiku kini, termasuk mimpi-mimpi organisasiku. Terlebih kini aku telah berada di satu rumah karya yang dibangun dengan cinta, BEM FIS sebagai Kadept PSDM. suatu jalan hidup yang bahkan tak pernah terlintas sedikitpun dalam otakku. Aku mencintai diriku saat ini. namun aku jadi benci pada diriku pada saat yang bersamaan ketika mimpi-mimpi yang kubangun lebih dulu harus tergeser. Dan itu realita. 

pernah aku berpikir untuk balance. organisasi dan akademik bersanding. idealita ini menajdi senjang ketika kesibukan di organisasi bahkan tak lagi mampu membuatku berpikir tentang diriku sendiri. ya, orang lain yang terlebih dulu harus diutamakan. lantas bagaimana aku harus berpikir untuk tetap maju menjadi mahasiswa berprestasi??? sadar diri Miff...!!! ya, aku sepenuhnya sadar. 

entahlah, yang kuyakini sekarang adalah AKU TAK BOLEH MENGUBUR MIMPI ITU. aku masih mempertahankannya, sekalipun aku tahu itu tidak mungkin. tapi bagi ALLAH, tidak ada yang tidak mungkin, kuyakini ini yang terbaik, karena semua takdir ALLAH itu baik. bisa jadi ini adalah ujian keteguhan mempertahankan mimpi-mimpi itu, dan Dia akan membuka kesempatan kembali ketika aku telah benar-benar siap melangkah.

ya, itulah jalan ninjaku. sama halnya dengan Naruto yang terus memegang keyakinan hingga ia memastikan dengan tangannya sendiri, bahwa apa yang ia yakini akan dia dapatkan. Mimpi-mimpi masa lalu akan terus tertulis dalam lembar-lembar kertas perjalananku menorehkan jejak sejarah....

Minggu, 18 Desember 2011

A Little Giving for A Better Changing (For my beloved hometown: the quiet town)


My hometown is Pacitan, a small town in the east of Java.  Pacitan is a town with small  number of people. It is arounded by mountains, and the capital town is a lowland. If we see the capital town, it like a land that arounded by the mountains, because the area that call as sub district.  When we see the capital town from the subdistrict called Pringkuku subdistrict, we can get the same view in Bukit Bintang, Gunungkidul, Yogyakarta. The capital town is the center of the local government.  
As a small town, we can not see a lot there and it can not be compare with the big town like Yogyakarta and the others. Pacitan is a quiet town because of some points:
·         It is a small town with small area
·         It has small number of people, the young people prefer to go to the other cities to continue their study or work in other cities
·         There are not many motor vehicles, especially in the villages, the people still prefer on foot to go the other place. The owner of motor vehicles are also limited, because the people love to use public transport
·         There are not many shopping center. The shopping center just can be found in capital town, in sub districts we just have traditional market and shops.
·         There are not many education center, especially university. Pacitan has some local universities, but the young generation think that the universities are not good and don’t have future prospec, so young generation go to the other cities
I have ever invited some friends from Yogyakarta, and they had same opinion, that Pacitan is a quiet town!!! It is ordinary that they said like that, because they used to the crowded and the rush of Yogyakarta.
But, Pacitan has an excellence in the other side. This small city has a potencial natural sources that can be tourism objects. Pacitan has many caves, beaches, mountains, and warm water bath. A kind of natural sources that become an icon in Pacitan is cave,  even this town is also famous as “1001 caves city” because in this town there are many beautiful caves there. We can mention the name of the caves: Gong cave, Tabuhan cave, Luweng Jaran cave, Kalak cave and the others. In beaches, Pacitan also has many beautiful beaches that not less beautiful than Tanah Lot beach in Bali. They are Telengria, Klayar, Srau, Watukarung, Buyutan and the others. The mountains also can be beautiful tourism objects. And the last is warm water bath that contain sulfur to remove skin disease and good for the health of the skin.
The problem is the potencial tourism objects in Pacitan are unpublished well. Beside the government don’t sensitive to the issue. They don’t build the infrastructure that can invite the tourism go to the that potencial tourism objects. In fact, the tourism objects are beautiful and can grow the local revenue, also can empower communities that live around the potencial tourism object.
Ippho “Right” Santosa, a young creative entrepreneur and also the expert in right brain explained in his book “13 Wasiat Terlarang” that there are four pillars to publish tourism objects to the public, they are: enjoyable tourism objects, visitable infrastructure, comfortable environment, and sociable community/ people (Santosa, 2010: 86). In this context, Pacitan just has the first pillar, that is enjoyable tourism objects without the other pillars. So, in this opportunity, I want to give a simple changing, especially in tourism policies of Pacitan. From the knowledge that I learn from Public Administration may give a valuable contribution to my hometown, Pacitan. When someday I become a famous policy expert, I will explain to the government to build the infrastructure, environment and empower the people in order the tourism objects in Pacitan can publish well and there are many visitors from the other cities or also from the foreign countries, so it can make Pacitan as popular tourism city in Indonesia, beside Yogyakarta and Bali. Not just popular, but it will bring the welfare to the Pacitan society because it will grow the local revenue that can be used to develop the quiet town.
That big dreams will not reachable if I do that alone, so I need many patners to build Pacitan. The way is by collecting the friends from Pacitan that also be a student college and have the same mission to develop Pacitan. We’ll complete each others with various experts to build Pacitan from many aspects. So, this time when I still be a student in a college I will write everything about Pacitan that can publish Pacitan to the world and send it to mass media, so public when read about the beauty of Pacitan’s tourism objects. I’ll study hard to be young generation that can useful for the hometown. A little giving from now, for a better changing in the future.

Being Harmony Between Technology and Culture


Harmony is a good concept for human life, where every activity can be done without disturb the other activities. This concept can be implemented in school’s activities. We know the reality that today, the students from all of countries prefer to use computer as the solution of their problems. We can not  deny that computer bring many advantages for us. Computer also make easy to do our activities.  In school activities we can mention the advantages of computer, they are:
-          make a presentation by using Microsoft Power Point. Computer provides  many facilities, one of them is Microsoft power point, it can make easy the teacher to explain their materials to the students. For students, Microsoft power point also can make them easy to present their assignment.
-          Writing using Microsoft word. Everyone do their task by using Microsoft word in computer because it is an effective method to save our energy and time. By using computer, writing activities can be done as fast as we want and don’t need much energy because we just pust the keyboard on the computer.
-          Computer also provides a lot advantages, they are games, musics, videos and many others.
From that advantages of computer, it is an ordinary fact that we use computer for our school activities. The benefit can be felt by everyone, not only students but also the teachers. There is a relationship between us and computer, make we are very dependent to the computer.
Seeing the fact, that students are too dependent to the computer, may it can make the teachers worry about that. Because of computer, the students begin to leave reading and writing culture. In fact,  reading and writing are the academic’s culture, so reading and writing are the part of school’s activities. Reading and writing are the important activities because they can make the students know and understand about the lessons deeply.
But, by seeing that fact, the teachers don’t  need to  take a reactive activity by avoid using computers and back to basic study skill of students, just reading, writing and hearing.  I don’t agree if the teachers take the policy, because it will make the students trapped in boring activities. Computer is a kind of technology, and if the teachers make the students become far from computer, it means that the teacher also make far the technology from the students. In fact, today is globalization era and everyone have to compete in this globalization and in order can compete with the other countries, we have to be master in technology. So, don’t avoid the use of computer for the students. We can back to the harmony concept. Being harmony  between technology (computer) and culture (reading and writing). Because of harmony, we can not separate between technology and culture,  something that we have to do is mix technology and culture. If we have done it, it means that our country, begin from the students, can be a master in knowledge and technology, and then after that, we will have a bargaining position in the world. We can grow to be a developed country that can compete with other countries in the world.

Rabu, 23 November 2011

Atmosfer Dunia Mahasiswa Kekinian

Dunia mahasiswa saat ini berjalan sangat normal. Dengan aktivitasnya yang biasa, kuliah, kuliah dan kuliah. Lalu diselingi dengan mengerjakan tugas, berkumpul dan bercanda dengan teman-teman. Ada yang lebih canggih, melakukan penelitian, bukan hanya bermanfaat saja, tapi ternyata dengan meneliti bisa menghasilkan uang sendiri!!! atau kegiatan wirausaha, yang ternyata jika kita menyusun proposal untuk mengikuti PMW (Program Mahasiswa Wirausaha), bisa jadi program enterpreneur kita didanai dan kita bisa membuat usaha yang lebih besar lagi. Tidak ada yang salah dengan semua ini. Toh, kuliah adalah amanah dari orang tua dan kita harus mempertanggungjawabkannya. Kuliah dengan benar, itu kewajiban!!!

Hanya saja, atmosfer dunia mahasiswa saat ini terasa begitu berbeda, tidak ada gregetnya dan adhem ayem saja. Di dalam proses perkuliahan pun sama, tidak ada bentuk partisipasi atau sekedar mengkritisi ilmu yang diajarkan. Maka, apa kata dosen, kini telah menjadi doktrin pada tiap kepala mahasiswa untuk suatu saat mengulangi doktrin yang sama kepada generasi selanjutnya. Dan semua itu diakibatkan karena minimnya budaya baca, tulis, diskusi yang seharusnya menghiasi hari-hari setiap orang yang berpredikat sebagai mahasiswa. Di dalam kelas saja sudah tidak bersemangat, bagaimana kelak akan berkontribusi???

Letih mungkin para aktivis mahasiswa untuk terus memberi inspirasi, karena orang-orang yang terus dimotivasi itu, selalu ingin "disuapi" dan langsung menelan segala sesuatunya, bukan mencoba untuk "makan sendiri", "mengunyah" lantas menelannya dengan suatu pengetahuan tersendiri. Matikah budaya kritis itu saat ini???

seperti hari ini, ketika sekelompok mahasiswa yang peduli pada kebijakan kampusnya, lantas mencoba mengambil bagian dalam melakukan input kebijakan berupa "aksi", kelompok ini seperti hanya berjalan sendiri. Tidak ada supporting system dari seluruh elemen mahasiswa. Maka kelompok aksi ini lantas hanya menjadi  tontonan, guyonan, atau bahkan menjadi bahan tertawaan dan ejekan. Miris sekali. Tidak ada keperpihakan mahasiswa, sedangkan mereka ini tengah memperjuangkan aspirasi mahasiswa!

Mlempem.Seperti kerupuk yang telah lama didiamkan dan tak kunjung dimakan. Mungkin aktivis mahasiswa  saat ini telah mengalami efek rumah kaca akibat lapisan ozon yang terus membesar, menyebabkan atmosfer mahasiswa kekinian telah berubah. Atmosfer gerakan yang panas dan bersemangat, kini mulai masuk ke fase musim gugur, layaknya semangat untuk kritis dan peduli yang mulai berguguran, lalu jatuh terhempas ke dalam bumi dan tak muncul lagi.

#sebuah keprihatinan era ini

Minggu, 30 Oktober 2011

Pemuda, dan Sumpahnya Pada Indonesia



Bergegas, para pemuda dari seluruh penjuru Nusantara memasuki sebuah ruangan, yang kelak akan menjadi saksi sejarah dari sebuah momentum yang akan selalu dikenang sepanjang masa.  Mereka datang bukan atas nama yang sama. Mereka datang dengan membawa keragaman dan tentu saja berbeda. Di bawah nama Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak dan aliansi-aliansi  pemuda yang mengatasnamakan daerah, budaya, maupun agama masing-masing bercampur dalam satu hari bersejarah. 28 Oktober 1928, keragaman dalam satu perjuangan yang sama, Indonesia merdeka. Maka, terucaplah janji suci itu, yang kelak dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.
“Kami putra putri Indonesia,  mengaku bertumpah darah yang Satu
Tanah air Indonesia
Kami putra putri Indonesia, mengaku berbangsa satu
Bangsa Indonesia
Kami putra putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan
Bahasa Indonesia”

Itulah sepenggal cerita dari pemuda 1928, yang mengadakan pertemuan singkat namun sarat makna hingga akhirnya disepakatinya satu konsep kebangsaan yang disebut dengan bangsa Indonesia, meskipun mereka berasal dari suku, agama, ras, maupun budaya yang berbeda. Namun semua tidak menjadi masalah, justru perbedaan itu yang menjadi tonggak awal kebangkitan bangsa Indonesia dari keterjajahan. Sumpah Pemuda merupakan hasil refleksi dan introspeksi diri dari para pemuda Indonesia, setelah mengalami banyak kekalahan ketika melakukan perjuangan sendiri-sendiri berbasiskan kedaerahan. Terlebih saat itu Negara penjajah menggunakan system politik adu domba yang akibatnya telah memecah belah persatuan dan kesatuan rakyat nusantara. Betapa perjuangan memang harus dilakukan secara berjamaah, karena jika kita sendiri yang melakukannya, terkadang akan menjadi perjuangan yang tiada artinya. Betapa  sebatang  lidi yang berdiri sendiri begitu mudah patah, berbeda dengan  berbatang-batang lidi yang diikat menjadi satu dan dinamakan sapu lidi lebih efektif dalam membersihkan sampah yang berserakan. Ya, analogi yang sederhana untuk menghapus konsep perjuangan kedaerahan, jika memang ingin merdeka. Maka itu artinya, harus bersatu padu, bantu membantu dalam menghadapi musuh bersama, yang kala itu disebut dengan penjajah. Pemuda, sekali lagi telah membuktikan eksistensinya sebagai motor penggerak perubahan, sehingga tidaklah muluk jika pemuda disebut sebagai agent of change. Dengan daya inisiatif yang tinggi, pemuda sadar betul akan peran selanjutnya yang disebut dengan iron stock, pemuda yang akan ambil bagian dalam keberlanjutan sebuah bangsa.
Dan memang benar adanya, konsep persatuan dan kesatuan itu telah membawa Indonesia pada sebuah kata merdeka. Pemikiran yang hanya dapat dicapai oleh idealisme besar pemuda yang sering melenceng dari mainstream yang ada. Pemuda dengan energy yang masih besar dan emosi yang menyala-nyala. Pemuda adalah asset terbesar bangsa, yang harus menjadi investasi di masa depan, karena pemudalah yang akan mewarisi peradaban sebuah bangsa. Pemuda 1928 adalah cermin ideal untuk menggambarkan bagaimana pemuda seharusnya. Mempunyai visi dan misi yang jelas untuk mencapai tujuan, inisiatif, kreatif, memiliki enenrgi dan semangat yang tinggi, dan tentu saja sebuah aksi sebagai langkah pasti, karena semua tidak akan mewujud nyata, jika yang mereka lakukan hanyalah berwacana dan beretorika.
Jika  kita bandingkan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, yang selama 66 tahun telah dikatakan merdeka, justru konsep pemuda ideal, layaknya pemuda 1928 telah mulai terlindas masa. Dapat dihitung dengan jari tangan saja, pemuda yang masih peduli dengan kondisi bangsanya. Sedangkan mayoritas yang lain, telah tenggelam ke dalam aktivitas semu mengejar keinginan pribadi dan peduli kondisi saat ini, atau sebagian yang lain telah terlenakan oleh kenyamanan arus globalisasi tiada henti. Dengan kata lain, pemuda saat ini telah terpetakan menjadi dua arus besar pemuda, yang disebut dengan arus pemuda aktivis dan pemuda apatis sebagai salah satu titik ekstrim di ujung yang lain.
Kita berhenti sejenak tentang pemuda, dan mulai kita deskripsikan kondisi bangsa yang ada untuk mulai menggali peran strategis pemuda secara nyata. Masalah di Indonesia, ibarat sebuah lingkaran setan yang tak terputus, atau sebuah system yang tersusun rapi, di mana setiap aspek masalah selalu berkaitan dengan masalah-masalah yang lain, sehingga permasalahan di Indonesia bukanlah sekedar masalah sederhana. Permasalahan bangsa Indonesia adalah permasalahan yang kompleks. Dimulai dari satu aspek yang bernama pendidikan. Pendidikan adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pembangunan sebuah bangsa. Itulah mengapa pendidikan yang merupakan bagian dari Indeks Kualitas Hidup Masyarakat1 menjadi satu dari beberapa tolak ukur keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Terlebih, dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat, Indonesia menyebutkan  salah satu tujuan pembangunannya adalah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.” Namun realita yang ada mengemukakan fakta bahwa Indonesia telah mengalami krisis pendidikan sejak lama. Hal ini dibuktikan dengan adanya ketidakterjangkauan pendidikan oelh semua kalangan masyarakat akibat mahalnya biaya pendidikan. Pendidikan formal hanya bisa diakses oleh golongan menengah ke atas, sedangkan golongan menengah ke bawah dan golongan tidak mampu seringkali terdiskreditkan oleh biaya pendidikan. Tidak peduli seberapa butuhnya mereka akan pendidikan. Akibatnya, banyak sekali bibit muda cerdas yang harus putus sekolah karena orangtuanya tidak mampu membayar biaya sekolah, dan membiarkan mereka bekerja untuk membantu keuangan keluarga. Hal ironis ini tidak hanya terjadi di tingkatan sekolah dasar dan menengah saja, tetapi juga pada tingkat Perguruan Tinggi. tidak dapat dipungkiri, biaya pendidikan di Perguruan Tinggi pun sangat mahal, sehingga memang tidak semua dapat mengaksesnya, ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang memberikan kebebasan kepada masing-masing Perguruan Tinggi Negeri untuk berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara, yang artinya Perguruan Tinggi dibebaskan untuk memiliki badan usaha dan menarik biaya yang besar dari mahasiswa-mahasiswanya. Kapitalisme pendidikan, satu bentuk penjajahan baru di bumi pertiwi. Kondisi ini diperparah dengan “dibuangnya” orang-orang pintar bangsa Indonesia dari negaranya sendiri, sehingga mereka yang seharusnya mampu menajadi motor penggerak perubahan bangsa tersebut justru mengabdi untuk Negara lain dan membesarkan Negara lain. Sebut saja Habibie, yang jauh lebih diakui eksistensinya di Jerman daripada di Negara sendiri. Atau Sri Mulyani yang lantaran dituduh sebagai agen Neoliberal, kini harus hengkang dari Indonesia dan mengabdi kepada Bank Dunia.
Kondisi pendidikan Indonesia yang miris ini kemudian menimbulkan satu aspek permasalahan yang baru di aspek ekonomi, disebut dengan kemiskinan. Karena tingkat pendidikan yang rendah, masyarakat menjadi miskin karena tidak mampu bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. Masyarakat seperti ini yang kemudian menjadi masyarakat yang miskin secara structural. Mereka menjadi pihak yang terkalahkan oleh masyarakat yang memiliki kualitas pendidikan lebih tinggi, sehingga sector-sektor yang menghasilkan keuntungan financial yang besar dikuasai oleh para pemilik modal intelektual, padahal lapangan pekerjaan di Indonesia pun sangat terbatas, sehingga mereka yang tidak mendapat bagian dari lapangan pekerjaan ini, menjadi pengangguran. Karena pengangguran, hal sistemik yang kemudian terjadi adalah kriminalitas. Sederhana, bagi orang yang hanya ingin bertahan untuk mendapatkan makanan bagi perutnya yang lapar, akan melakukan apa pun, sehingga mereka dibutakan karena tidak melihat batas kebaikan dan keburukan, maupun halal dan haram. Peristiwa sistemik yang terus mengalir dari waktu ke waktu.
Bukan hanya itu, lantas di Indonesia juga memiliki masalah di tangan para birokratnya. Baik lembaga eksekutif, legislative, maupun yudikatif. Kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme telah menjadi sarapan tiap hari masyarakat yang menikmati berita tentang para pemimpinnya. Kebijakan yang tidak strategis pun kerap mendarat pada masyarakat, sehingga masyarakat ditindas oleh kepentingan duniawi para elit pejabat yang berada  di atas. Masalah internal suatu Negara yang menjemukan.
Belum lagi factor eksternal, tangan-tangan gaib (invisible hand) Negara-negara asing pun mulai menjamah akibat arus globalisasi yang tanpa batas. Globalisasi yang mampu menembus milyaran kilo jarak ruang dan waktu. Interaksi ini menyebabkan kondisi internal yang tidak sehat bagi suatu bangsa. Maka liberalisasi telah mulai menjangkiti Negara ini. Yang lebih parah, bukannya membuat kemakmuran bangsa, namun telah menjadi virus bernama privatisasi, investasi dan perjanjian internasional yang mematikan perekonomian rakyat dalam negeri.
Sekilas gambaran kondisi Negara ini, mungkin telah menjadi acuan untuk menengok kembali peran pemuda, layaknya pemuda 1928 mengatasi penjajahan. Maka, memang benar apa yang dikatakan Bung Karno, “ Perjuanganku ringan karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian berat karena harus melawan bangsa sendiri.” Pada masa Bung Karno dan era pemuda 1928, mereka berjuang untuk mengusir penjajah. Namun, dalam konteks saat ini, perjuangan pemuda jauh lebih berat karena harus mengusir bentuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsa lain maupun  bangsa sendiri. Liberalisasi, korupsi, kriminalisasi, dan bentuk-bentuk lain penjajahan era modern saat ini. Bukan lagi melalui kontak fisik dan senjata, tapi Negara kita diserang dengan cara yang lebih halus, namun justru lebih membius.
Setelah menelaah sedikit permasalahan bangsa tersebut, kita kembali mengkaji tentang dua jenis pemuda yang dijelaskan di atas. Pertama, pemuda aktivis. Pemuda aktivis yang dimaksudkan di sini adalah pemuda yang memiliki nalar kontribusi yang tinggi untuk Negara dan bangsanya. Pemuda jenis ini banyak sekali ditemui di civitas akademika bernama kampus atau universitas, sehingga pemuda yang ada di dalamnya adalah mahasiswa. Satu gelar kebanggaan sekaligus label bagi legalitas pengawal kebijakan pemerintah. Mahasiswa adalah masyarakat intelektual yang memiliki peran strategis, sehingga jika merasa permasalahan bangsa tidak segera diselesaikan oleh pemerintah, maka aksi turun ke jalan menjadi pilihan untuk menuntut perbaikan. Kedua, pemuda apatis. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pemuda jenis ini adalah jenis borjuis yang suka bersenang-senang demi kepentingan pribadi, jangankan peka terhadap kondisi bangsa, peduli pun mungkin hanya di dalam kata. Atau jika dihubungkan dengan mahasiswa, pemuda jenis ini sering disebut sebagai mahasiswa kupu-kupu (mahasiswa kuliah pulang-kuliah pulang).
Jika kita bandingkan dengan semangat membara pemuda 1928, pemuda era ini belum ada apa-apanya. Namun, konteks perjuangan memang berbeda, sehingga penyikapan terhadap perjuangan saat ini juga harus berbeda. Coba, kita menengok kembali peran pemuda terhadap realitas bangsa. Pemuda tidak boleh menjadi pewaris peradaban, jika peradaban suatu bangsa tidak menciptakan atmosfer kesejahteraan untuk rakyatnya. Dalam kondisi ini, pemuda harus menjadi perubah system yang hadir memberikan solusi, bukan menjadi sebuah masalah baru. Banyak sekali peran pemuda yang bisa dilakukan dalam merealisasikan Sumpah Pemuda, Sumpah yang bukan hanya milik pemuda 1928, tapi milik semua orang yang mengaku sebagai pemuda!
Menumbuhkan sector ekonomi melalui kegiatan wirausaha adalah salah satu aktivitas konkrit yang dapat dilakukan pemuda dalam upaya menumbuhkan perekonomian bangsa2. Tampaknya hal ini adalah kegiatan yang kecil, namun efeknya sangat besar bagi perekonomian bangsa, karena wirausaha adalah salah satu upaya untuk menicptakan lapangan kerja yang baru, yang tentu saja dalam kegiatannya akan menyerap tenaga kerja dengan jumlah tertentu. Selanjutnya kegiatan wirausaha juga dapat menumbuhkan perekonomian bangsa. Sehingga, kegiatan wirausaha adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan pemuda saat ini untuk mengentaskan bangsa dari kemiskinan.
Kegiatan lain yang dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia adalah pengabdian terhadap masyarakat, mahasiswa dapat membentuk sebuah pengabdian bertajuk “desa binaan”. Desa binaan ini akan terus menerus dibina dari segala sector, misalnya dalam sector pendidikan. Mahasiswa dapat memberi pendidikan tambahan atau les kepada anak-anak yang berada di desa binaan, membentuk kelompok belajar dengan bidang-bidang yang focus, menyediakan perpustakaan desa, dan sebagainya. Di desa binaan ini mahasiswa juga bisa memberikan pembekalan atau pelatihan keterampilan khusus untuk masyarakat, misalnya memanfaatkan kerang sebagai bros, hiasan, handycraft bagi masyarakat di sekitar pesisir pantai, juga membuka akses pemasaran atau mahasiswa membantu dalam segi pendistribusiannya. Pengabdian terhadap masyarakat juga dapat terbentuk dengan mengelola anak-anak jalanan, memberikan pendidikan, serta mengarahkan kepada prospek pekerjaan yang halal namun menguntungkan.
Banyak hal yang dapat dilakukan pemuda bagi bangsa ini, terutama oleh pemuda yang memiliki konsentrasi terhadap bidang keahlian tertentu, misalnya dalam bidang akademik, pemuda dapat mengharumkan nama bangsa dengan lomba-lomba di tingkat internasional seperti strategi bisnis dan pembangunan, olimpiade sains, bahasa, kepenulisan dan sebagainya. Begitu pula dengan pemuda yang memiliki sense dalam bidang olahraga, dapat berusaha untuk terus berprestasi dalam bidang yang digelutinya.
Begitulah seharusnya pemuda dalam menyikapi perubahan bangsa. Tidak hanya berdiam diri dan menunggu keadaan yang berubah, tapi ia sendiri yang memastikan bahwa keadaan berubah dengan perbuatannya. Memaknai Sumpah Pemuda dengan terus berkarya, karena perjuangan kita dengan Pemuda 1928 kini berbeda. Pemuda 1928 mengusir penjajah, dan kita mengisi kemerdekaan dengan karya-karya pembangunan yang nyata. Hidup pemuda Indonesia!!!
Referensi:
1 dan 2 Mansour Fakih dalam Teori Pembangunan Dunia Ketiga halaman 6


Sabtu, 29 Oktober 2011

Idealisme Saja.. itu tidak cukup

Pemuda, mengklaim perannya sebagai agent of change dan iron stock suatu bangsa memang patut untuk dibanggakan. Setidaknya dengan kekuatan, energi serta pemikiran yang besar dan idealis, pemuda telah memiliki semangat yang membara untuk bisa bermanfaat bagi sesama. Mereka, pemuda yang telah ditempa dengan pemahaman kondisi realitas yang ada terhadap permasalahan bangsa yang makin kompleks dan tersistem. Pemuda yang memiliki basic pengetahuan dan pemahaman terhadap perannya. Pemuda aktivis, yang kemudian menjadi motor penggerak organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, baik di masyarakat maupun di kampus-kampus. Itulah mengapa kampus menjadi basis gerakan yang efektif untuk menjadi pengawal kebijakan pemerintah, karena di dalamnya ada pemuda,,, yang masih menyandang gelar kebanggaannya yang  disebut dengan Mahasiswa.

kampus, seperti yang kita tahu, adalah suatu model miniatur yang tepat untuk gambaran sebuah bangsa, karena di dalamnya terdapat masyarakat yang majemuk, lengkap dengan struktur pemerintahan yang menggambarkan kondisi suatu bangsa. Masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai golongan, agama, ras, suku, warna kulit dan kebudayaan yang amat beragam. Dengan struktur pemerintahan yang di dalamnya terdapat subyek dan obyek kebijakan, yang di dalamnya ada birokrasi dan masyarakat yang selalu terkena imbas kebijakan. Dan di kampus ini, tumbuh kesadaran para masyarakatnya yang menjadi subyek sekaligus obyek kebijakan para birokrat, ya merekalah pemuda,,, ya, merekalah mahasiswa.

namun, tidak semua mahasiswa tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. di sisi lain para aktivis mahasiswa yang seolah mengabdikan hidupnya untuk organisasi kemahasiswaan, terdapat ruang-ruang yang luas bagi mahasiswa apatis terhadap kebijakan publik yang entah disadari atau tidak sebenarnya menyangkut hajat hidup dan kepentingan mereka. dan mereka tidak bergeming. Masih saja asyik dengan gaya hidup borjuis, mengenakan pakaian mewah setiap harinya, padahal di luar sana banyak anak kecil yang masih bertelanjang dada. Makan sepuasnya, dan terkadang mubazir lantaran membuangnya, padahal di sudut kota atau di bawah jembatan banyak orang yang mengais-ais sisa makanan untuk tetap mempertahankan hidupnya.  ya, itulah realita. Dan bagi mahasiswa aktivis pun, idealisme saja itu jauh dari sebuah kata cukup.

sementara mahasiswa aktivis sibuk berdemo ria, lalu dengan fasihnya berretotika. Atau mahasiswa apatis yang tahunya hanya kebutuhannya tercukupi dengan praktis, sungguh idealis,,, dengan isi otak yang berbeda-beda jalan pikirnya. Saat itu telah terjadi kesenjangan antara idealita dan realita, karena telah terjadi masalah maka idealisme saja tidak akan berguna. butuh aksi yang nyata... bukan sekedar aksi-aksi di jalan menuntut perbaikan. Atau hanya sekedar retorika menyebar wacana. Apalagi hanya berdiam diri saja dan tidak peka terhadap realita.


lalu apa yang harus dilakukan kawan? ketika ideologi hanya sebuah cita-cita yang mampu diucapkan lewat kata. Darimana hendaknya memulai untuk memutus lingkaran setan yang disebut dengan sistem yang kompleks? karena masalah bangsa ini bukan sekedar kemiskinan, bukan sekedar pendidikan, bukan hanya korupsi, masalah pembangunan, anarkisme berwujud tawuran, yang tampaknya begitu jauh untuk diselesaikan... Jawaban, ya.. bangsa ini butuh jawaban atas tiap tanya yang ia lontarkan,,,,,,

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...