Cerita
di bawah ini bukanlah cerita fiktif semata. Jika ada kesamaan nama, alur
cerita, dan tempat kejadian bukanlah sebuah kesengajaan. Jika cerita ini
terlihat dramatis, romantis dan fantastis, bukanlah sebuah rekaan belaka.
Semoga dapat diambil hikmahnya.
|
|
Titik Ketersesatan
Yogyakarta
bukanlah kota tujuan saya untuk melanjutkan pendidikan tinggi pasca SMA, pun
Universitas Negeri Yogyakarta. Saya tidak lebih dari seorang mahasiswa yang
tersesat dalam memilih program study-nya.
Saya
adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di sebuah kabupaten kecil
bagian barat daya Jawa Timur. Kabupaten kecil itu bernama Pacitan. Beruntung,
Pacitan mulai dikenal oleh manusia seantero Nusantara lantaran ada orang
Pacitan yang di kemudian hari menjadi Presiden Indonesia selama dua periode.
Jika SBY tidak pernah menjadi Presiden, mungkin Pacitan hanya akan dikenang sebagai
kabupaten di mana Jupe mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati atau sama sekali tidak akan
dikenal karena disangka tidak ada di dalam peta Indonesia.
Menjadi
mahasiswa adalah impian yang lumrah bagi anak-anak di kabupaten kecil ini, saat
masih ada banyak anak yang menganggap menjadi mahasiswa adalah impian yang
terlalu mewah. Maka, kita yang terpilih, selayaknya banyak bersyukur dengan
segala kemudahan yang diberikan-Nya hingga dapat menyandang gelar mahasiswa.
Dahulu,
paradigma seperti itu belum saya miliki. Saya berasal dari jurusan IPA, namun
sangat menyukai Bahasa Inggris. Ketika tiba masanya untuk menentukan masa depan
pendidikan, saya berada di sebuah persimpangan jalan yang membingungkan. Siswa
yang berasal dari jurusan IPA tidak bisa masuk jurusan Bahasa melalui jalur
PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat). Padahal, jika diizinkan, saya bisa masuk
jurusan yang saya inginkan tanpa harus melalui tes. Karena itu, saya harus
menunggu sebuah titik temu yang dapat mengakomodir jurusan sekaligus keinginan
itu. Titik temu itu bernama SNMPTN, di mana saya bisa memilih jalur tes IPC
(Ilmu Pengetahuan Campuran).
Saya
mengikuti SNMPTN di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta yang menjadi
salah satu tujuan saya. Program IPC
menyediakan tiga alternatif pilihan jurusan. Saya memilih jurusan Pendidikan
Kimia dengan pertimbangan basic IPA
dan cukup bagus di bidang tersebut. Pilihan kedua jatuh pada Pendidikan Bahasa
Inggris yang sejak awal saya inginkan, serta pilihan ketiga adalah Administrasi
Negara. Khusus untuk pilihan ketiga ini memiliki rasionalisasi yang cukup unik,
karena hanya berdasarkan pada hasil tes IQ yan pernah saya ikuti. Hasil tes
menyarankan untuk masuk di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di urutan pertama,
namun belakangan ketika hasil tes itu saya tinjau kembali, saran pertama untuk
saya adalah Fakultas Sastra. Pilihan ketiga ini juga hadir karena saran dari
kedua orang tua yang notabene adalah PNS. Regenerasi keluarga PNS, begitu pesan
Ibu saat itu.
Ridho
Allah bergantung pada ridho orang tua. Kalimat yang tak asing di telinga itu,
akhirnya berlaku pada saya. Saya diterima di program study Administrasi Negara Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun
2009. Sebuah program study yang
bahkan tidak saya mengerti. Hanya berbekal keyakinan bahwa masih ada harapan
untuk diterima di STAN, saya mulai melakoni
titik awal ketersesatan yang berbuah pada ketersesatan selanjutnya. Menjadi
mahasiswa Administrasi Negara UNY.
Ketika Harus Administrasi Negara
Apa
yang mau dikata saat harapan hilang dari pandangan mata? Ternyata saya tidak
diterima di STAN, yang memberikan pengumuman hasil seleksinya beberapa waktu
setelah saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa UNY. The show must go on, hidup harus terus berlanjut. Mungkin ini
adalah tanda bahwa saya memang ditakdirkan di sini, di UNY. Maka, sedikit demi
sedikit saya harus berdamai dengan hati dan berteman dengan kenyataan bahwa
kini saya adalah seorang mahasiswa Administrasi Negara.
Malangnya,
Administrasi Negara UNY baru didirikan sebagai program study pada tahun 2008, otomatis saya menempati angkatan kedua
program study tersebut. Bisa dipahami
dengan usia seumur jagung tersebut, Administrasi Negara belum menjadi program study yang mapan. Beberapa bulan awal
perkuliahan, kami tertelantarkan karena tidak memiliki ruang kelas yang
memadai, sehingga kami melaksanakan KBM di kelas manapun yang tidak
berpenghuni. Sempat di laboratorium mengetik, laboratorium computer, atau ruang Cut Nyak Dien.
Himpunan
Mahasiswa saat itu masih bergabung dengan Prodi Administrasi Perkantoran.
Orang-orang di luar jurusan juga menganggap bias kedua prodi yang dianggap
sama, padahal sangat berbeda. Hingga di kemudian hari AN menjadi bagian dari
Fakultas Ilmu Sosial dan ADP adalah bagian dari Fakultas Ekonomi. Hal yang
membuat sedih, adalah pertanyaan mahasiswa lain di tingkat fakultas atau universitas
setiap kali saya mengenalkan diri dari jurusan Administrasi Negara. “Oh, ada ya jurusan Administrasi Negara di
UNY?”
Mulai
saat itu saya bertekad. Semua harus tahu bahwa Administrasi Negara UNY itu ada
dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Saya tidak tahu apakah teman-teman lain
memiliki perasaan dan pikiran yang sama. Tapi dalam perjalanan cerita ini saya
berjumpa dengan sahabat-sahabat perjuangan yang memiliki misi yang sama. Di
kemudian hari, kami sama-sama mencetuskan pembentukan HIMA Ilmu Administrasi
Negara. Di kemudian hari, kami merajut kisah yang disebut orang-orang sebagai
aktivis kampus, dan salah satu dari kami menjadi seorang Ketua BEM di tingkat
fakultas dan universitas. Mulai saat itu kami berusaha untuk selalu aktif dalam
kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di jurusan, fakultas dan universitas sambil
terus menjadi agen untuk mengenalkan Administrasi Negara.
Bersentuhan dengan Dakwah
Pada
dasarnya, saya adalah seorang anak yang tumbuh dalam organisasi. Sejak duduk di
SMP, saya telah mengikuti OSIS, PRAMUKA dan ROHIS. Anak-anak perempuan di SMP
waktu itu belum ada yang berjilbab, sehingga ketika kami mengikuti kegiatan
ROHIS di hari Minggu, kami mengenakan jilbab khusus di hari itu. Saat tahun
kedua di SMP, saya menjadi pengurus harian ROHIS dan sempat berinteraksi dengan
mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di IQRO’ CLUB. Entah apa sebabnya, setiap
kali saya berinteraksi dengan “mbak-mbak
berjilbab besar” itu, ada perasaan aneh yang menyusup dan membuat jantung
berdetak lebih kencang. Banyak pengetahuan keislaman yang saya dapatkan.
Sayangnya, interaksi dengan IQRO’ CLUB terputus di masa kepengurusan
setelahnya.
Masuk
SMA telah saya awali dengan memakai jilbab, meski belum benar-benar mengacu
pada syari’at. Saya suka sekali memakai celana jeans yang dipadu dengan baju
lengan panjang dengan jilbab yang ala kadarnya. Begitupun saat pertama kali
menginjakkan kaki di kampus, dengan style
yang sama saya melakukan registrasi, KRS-an dan mendaftar OSPEK berkeliling
FISE. Sampai suatu hari, saya merasa lebih nyaman memakai rok dan sedikit
memanjangkan jilbab yang saya pakai, tepat di hari saya mengikuti ESQ.
Persentuhan
awal saya dengan dakwah adalah saat saya menjadi sie acara di kepanitiaan Musyawarah Besar Al
Ishlah, sebuah acara Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan periode itu.
Sampai akhirnya saya harus “jatuh cinta” pada kata-kata “Tiada yang kami
inginkan selain perbaikan.” Mungkin kalimat itu hanyalah kalimat biasa bagi
orang-orang lainnya, tapi kalimat itu yang telah menghantarkan saya pada sebuah
pergolakan batin yang hebat hanya untuk sekedar memutuskan: bergabung atau
tidak dalam barisan Al Ishlah.
Allah
menunjukkan hidayah-Nya dengan jawaban saya akan bergabung dengan Al Ishlah.
Hal itu semakin dikuatkan dengan kehadiran seorang pemandu mentoring yang saya
kagumi di OSPEK. Beliau adalah seorang yang rempong dengan handy talky, megaphone dan beberapa handphone di tangannya ketika OSPEK. Sesosok koordinator acara yang
selalu mondar-mandir dan terlihat sangat sibuk daripada lainnya. Dan itu keren
di mata saya. Di Al Ishlah, saya mengenal banyak orang-orang “besar” di
fakultas, yang membentuk sebuah paradigma di kepala saya, bahwa setiap aktivis
kampus yang hebat itu dilahirkan dan dibesarkan oleh Al Ishlah. Mulai saat
itulah saya banyak bersentuhan dengan agenda-agenda dakwah.
Ada
beberapa orang yang turut berjasa “menyesatkan” saya di jalan kebaikan. Ingatan
saya kembali pada Kepala Departemen di Al Ishlah yang waktu itu menanyakan apa
arti dakwah bagi saya. Tidak disangka setelah pertanyaan itu hadir, saya mulai
diberi amanah yang lebih berat dari sebelumnya. Konspirasi semesta juga seakan
terjadi di bangku akademik. Dosen Agama waktu itu, Bapak Syukri Fathuddin
memberikan ujian lisan kepada para mahasiswa. Sampai ketika beliau menguji
saya, setelah semua pertanyaan berhasil saya jawab, beliau mengajukan sebuah
permintaan agar saya bersedia menjadi tutor di Tutorial PAI UNY. Saya
meng-iya-kan apa yang beliau sampaikan.
Tak Selalu Purnama: Sebuah Balada
Perjalanan
dakwah seperti fase-fase bulan. Terkadang kita menyaksikan kegelapan pekat saat
fase bulan mati. Kita menyaksikan bulan sabit, bulan separuh, hingga bulan
purnama. Dalam setiap fase tidak selalu bergelimang cahaya purnama. Hal yang
tidak pernah berbeda dari setiap fase adalah sujud-sujud kepada Sang Pencipta.
Dalam fase seperti apa pun, masjid kampus senantiasa menjadi tempat tujuan
setiap hamba-Nya, terutama yang bersandang “aktivis kampus” yang selalu merasa
dekat dengan masjid kampus tersebut. Dia bernama Mujahidin, lebih akrab
dipanggil Masmuja.
Sebagai
episentrum dakwah, Mujahidin menjadi tempat berkumpulnya para aktivis kampus
dan aktivis masjid. Menjadi tempat di mana ritualitas dielaborasikan dengan
intelektualitas, Mujahidin bukan sekedar tempat ibadah semata. Kami menjadikan
Mujahidin untuk tempat berdiskusi, kajian, dan menyelenggarakan
kegiatan-kegiatan dakwah. Mujahidin juga rela jika terkadang dijadikan tempat
untuk melepas rasa lelah. Bukan itu saja, Mujahidin adalah saksi bisu dari
setiap pengaduan dan tetesan air mata atas amanah yang terkadang terasa sangat
berat di pundak.
Saya
pun pernah mengalami fase-fase itu. Tak selalu purnama yang menemani langkah
kaki. Saat saya yang masih harus mencari jembatan yang menghubungkan antara
kapasitas diri dengan beban amanah yang diberi, saat itulah purnama seakan
terenggut cahayanya. “Kita adalah da’i sebelum menjadi apa pun.” Satu doktrin
yang senantiasa ditanamkan agar di manapun atau apa pun amanah kita, kita wajib
membawa misi dakwah. Begitupun saat saya diamanahi menjadi koordinator acara
OSPEK FISE terakhir dan justru terjadi aksi balik badan. Saat saya diamanahi
menjadi Kepala Departemen PSDM BEM FIS di saat pergolakan antar mahasiswa
semakin menjadi. Saat saya menjadi mahasiswa tingkat akhir dan masih menerima
amanah lembaga di tahun keempat, saat teman-teman sekelas telah banyak yang
berhamburan keluar dari universitas. Ya, mereka sudah lulus dan saya masih
mengurusi pernak-pernik kampus.
Sempat
saya merasa ingin segera menyudahi ini semua, tapi kemudian saya tersadar.
Bahwa seharusnya amanah tidak menjadi pembenaran bagi saya untuk tidak bekerja.
Bahwa setiap aktivis dakwah bisa berprestasi layaknya mereka yang tidak
memiliki amanah. Bahwa tidak selayaknya saya mengkambinghitamkan ketidakmampuan
saya atas nama amanah.
Apalagi
sejak kecil saya termasuk anak yang dipantau prestasinya oleh kedua orang tua.
Tiga besar adalah posisi yang tidak pernah luput di setiap tingkatan. Ketika
saya tidak lulus lebih awal, terjadilah sebuah pertanyaan tersendiri dari kedua
orang tua, padahal anak-anak kolega mereka telah lulus dari institusinya
masing-masing. Saya hanya mengatakan, “Semua akan indah pada waktunya.”
Ada
kegetiran luar biasa yang terjadi saat saya menghadiri malam pelepasan wisuda seorang teman. Pertama, karena mereka yang seangkatan
telah menyelesaikan masa study-nya,
sedangkan saya sendiri belum menuntaskannya. Kedua, karena mereka yang mendapatkan predikat terbaik di
angkatannya, bukan berasal dari kalangan aktivis. Saat itu saya bertanya pada
diri sendiri, “Pergi ke manakah mereka yang diberi gelar para pewaris
peradaban?”
Ada Kalanya Purnama
Saya
selalu terpesona pada dua ayat Al Qur’an yaitu Q. S. Muhammad ayat 7 dan Q. S.
Ar Rahman yang menyebutkan tentang “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu
dustakan?” Setiap mukmin akan selalu meyakini bahwa setiap janji Allah itu
nyata dan setiap takdir yang Allah tuliskan untuk hamba-Nya adalah takdir yang
terbaik.
Saya
mengerjakan skripsi di sela-sela aktivitas saya di kampus. Berbagai metode saya
gunakan agar tetap maksimal menjalankan amanah, salah satunya menerapkan hari
khusus skripsi. Hari di mana saya tidak bisa diganggu gugat untuk agenda apapun
selain skripsi, kecuali agenda-agenda yang bersifat sangat darurat. Satu hari
itu benar-benar saya manfaatkan untuk mengerjakan skripsi, bimbingan, dan
sebagainya yang membuat saya seringkali sama sekali tidak terpejam semalam
suntuk.
Tahap
demi tahap saya lalui, mulai dari penyusunan proposal, seminar proposal,
penelitian, hingga akhirnya ujian di bulan November 2013, beberapa hari sebelum
Dosen Pembimbing saya berangkat ke Australia untuk mengambil program Doktoral.
Tidak disangka, saat yudisium saya didaulat untuk membacakan ikrar alumni.
Setelahnya saya dipanggil pihak kemahasiswaan fakultas yang menyatakan bahwa
saya adalah peraih IPK tertinggi fakultas dan univeersitas periode wisuda Maret
2014. Saya juga dinyatakan sebagai aktivis terbaik fakultas saat malam
pelepasan wisuda di FIS. Bukan itu saja, saya kembali diberi kehormatan untuk
membacakan pidato mewakili wisudawan/ wisudawati di tingkat universitas. Suatu
hal yang tidak saya duga sama sekali. Dakwah Kampus UNY memiliki andil yang
besar atas “purnama” yang saya terima saat itu. Sungguh, janji Allah sangatlah
nyata. Manusia hanya belum mampu melihat dengan kedua matanya jika belum
diizinkan-Nya. Semua diskenariokan dengan sangat indah, di waktu yang tepat.
Agen Rahmatan lil’alamin
Pada
akhirnya setiap diri kita adalah agen yang harus menunjukkan pada dunia bahwa
Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin. Siapapun kita, di mana pun kita,
wajib menyampaikan kebaikan dan memberi kemanfaatan untuk orang lain. Seperti
yang selalu diajarkan oleh Rasulullah, bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat untuk orang lainnya.”
Untuk
menjadi agen yang baik, kita juga membutuhkan lingkungan yang baik. Lingkungan
yang baik akan kita dapatkan jika kita bergaul dengan orang-orang baik, kita
dapat menemuinya di lingkungan masjid. Setiap kali kita berinteraksi dengan
masjid, selanjutnya kita akan menempatkan lingkungan masjid itu di hati, agar
di manapun kita berada kita selalu mengingat masjid dan orang-orang yang ada di
dalamnya.