Minggu, 29 November 2015

Skripsi (Pasti) Berlalu [For Activists]

Chapter 1: Ketika Mahasiswa Bertasbih
Pilihan Hidup
“Education is not preparation for life; education is life itself.”
-John Dewey-
Siapa yang tidak kenal dengan nama besar Thomas Alva Edison? Yap! Thomas adalah seorang penemu dari Amerika yang namanya melegenda. Ia menemukan bola lampu listrik, gramophone  dan juga kamera film. Atas jasa-jasanya untuk peradaban umat manusia di seluruh dunia, namanya tercatat sebagai salah seorang penemu terbesar di sepanjang sejarah. Ada yang ingin membuat catatan sejarah?  Atau namanya tercatat dalam buku-buku sejarah? Pasti ada kan?!
Pencapaian Thomas Alva Edison ini tentu tidak terlepas dari kegigihannya dalam belajar dan bereksperimen. Belajar dan bereksperimen adalah bagian dari pendidikan. Tapi siapa sangka, Thomas Alva Edison yang memiliki nama besar ini ternyata memiliki kisah yang sangat  menyedihkan sekaligus mengharukan dalam bidang pendidikan?
Diceritakan bahwa pada suatu hari Thomas Edison kecil pulang ke rumah dengan membawa sebuah surat untuk ibunya. Ketika bertemu sang Ibu, Thomas berkata, “Guru di sekolahku memberiku surat ini dan menyuruhku memberikannya khusus untuk Ibu.” Setelah menerima surat itu, mata jernih milik Ibu Thomas mulai berkaca-kaca lalu meneteskan air mata.  Lalu dengan lantang sang Ibu membacakan surat dari guru Thomas itu kepada putranya, “Putra Anda sangat jenius. Sekolah ini terlalu kecil dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk mengajari putra Anda, sehingga Anda sendirilah yang harus mengajari dan melatih putra Anda.”
Begitulah, pada akhirnya Thomas Alva Edison keluar dari sekolah formal dan mulai belajar sendiri. Membaca banyak buku, membuat laboratorium kecil,  serta melakukan eksperimen-eksperimennya di rumah. Bertahun-tahun kemudian, Thomas Alva Edison telah menjadi salah seorang penemu terhebat di abad itu dan ibunya telah meninggal dunia. Thomas berniat untuk mencari barang-barang lama milik keluarga dan menemukan sepotong kertas di sebuah bangku. Dia lalu membuka kertas itu dan membaca apa yang tertulis di dalamnya. Dalam kertas tersebut tertulis, “Putra Anda sepertinya menderita kelainan mental. Dengan terpaksa, kami mengeluarkannya dari sekolah.”
Edison seketika menangis mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia lalu menulis dalam catatan pribadinya, “Thomas Alva Edison yang dulunya adalah seorang anak yang mengalami penyakit mental, melalui tangan seorang Ibu yang heroik telah menjadi seorang jenius dalam abad ini.”
Mengharukan bukan? Lihat, betapa peran seorang Ibu sangatlah besar dalam membentuk kepribadian dan kecerdasan anaknya. Bayangkan, betapa hancurnya hati Ibunda Edison begitu menerima surat yang isinya adalah pemecatan dari sekolah serta kata-kata yang menjatuhkan buah hatinya. Ibu-ibu yang lain mungkin bisa saja tidak mengambil pilihan yang sama dengan apa yang dilakukan Ibu Edison. Mereka mungkin akan memarahi sang anak, menyudutkan, menjewer bahkan melakukan tindak kekerasan lainnya hingga membuat sang anak menangis dan trauma. Lebih dari itu, mungkin ibu-ibu yang lain akan memandang anaknya sendiri dengan sudut pandang yang dipakai oleh pihak sekolah. Menempatkan anaknya sebagai seorang idiot, memiliki penyakit kelainan mental,tidak tertolong. Jika pilihan itu yang diambil oleh Ibunda Edison, maka hari ini kita tidak akan pernah mendengar dan mengenal nama besar penemu bola lampu  listrik bernama Thomas Alva Edison. Mungkin juga hari ini kita tidak bisa menikmati malam  dengan sinar lampu listrik yang terang benderang karena tidak pernah ditemukannya bola lampu listrik.
Beruntungnya, ibunda Edison adalah seorang perempuan yang bijak. Ia menguasai dirinya sendiri lalu menyinarkan cahaya harapan pada Thomas Alva Edison kecil untuk tumbuh dengan baik meski tanpa sekolah formal. Bertahun-tahun kemudian, seorang anak yang dinilai memiliki kelainan mental tersebut telah menjadi seorang penemu yang jenius.
Eits, apa hubungannya sikap bijak Ibu Thomas Alva Edison dengan pendidikan?
Tentu berkaitan erat. Sikap bijak Ibu Thomas Alva Edison yang terus mensupport pendidikan bagi anak meskipun tanpa sekolah formal adalah suatu hal yang perlu diapresiasi. Ia tak membiarkan sang anak patah semangat lalu mengabaikan pendidikan begitu saja. Seperti yang dikatakan oleh John Dewey, pendidikan memang bukanlah persiapan untuk menghadapi kehidupan, tapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
Terlepas dari pendidikan formal atau non formal, kita semua tahu betapa penting pendidikan dalam hidup ini. Nelson Mandela pernah mengatakan, “ Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Yes! Pendidikan adalah senjata terkuat yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Tidak terlalu berlebihan sebenarnya, karena setidaknya pendidikan memang dapat mengubah hidup seseorang atau keluarganya. Percaya?
Bagi kalian penggemar novel best seller, pasti akrab dengan novel karya Iwan Setyawan yang berjudul “9 Summers 10 Autumns” dan “Ibuk.” Novel tersebut bercerita tentang kehidupan keluarga si penulis yang teramat sederhana, namun senantiasa memelihara kepercayaan bahwa pendidikan dapat merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik. Bagaimana akhirnya? Meskipun harus menghadapi berbagai rintangan serta harus menempuh perjuangan yang berdarah-darah, mimpi untuk membuat kehidupan keluarga menjadi lebih baik benar-benar tercapai.
Begitu juga dengan novel Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, pendidikan yang tinggi dan semangat untuk selalu percaya pada mimpi dapat mengubah hidup seorang anak dari pulau kecil menjadi seseorang yang berarti bagi keluarga, agama, masyarakat dan juga negara. Bukti-bukti yang lain juga banyak terhampar di sekeliling kita. Apa? Masih kurang contohnya?
Pada chapter ini, kita akan lebih banyak berbicara tentang pilihan hidup dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia adalah amanah konstitusi sekaligus merupakan salah satu tujuan negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itulah digagas Program Wajib Belajar berikut dengan kurikulum dan sistem pendidikannya. Sayangnya, pendidikan di Indonesia belum bisa dirasakan oleh semua kalangan karena biaya pendidikan yang mahal dan berbagai penyebab lainnya, sehingga ada anak usia wajib belajar yang harus putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Hal ini tentu banyak terjadi di tingkat transisi antara Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Tidak semua orang beruntung dapat mengenyam rasa menjadi mahasiswa. Beberapa anak memang memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan karena alasan biaya, namun ada juga yang memang tak ingin. Di satu sisi ada juga anak-anak  yang sangat ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi namun terkendala biaya atau tidak lolos kualifikasi. Bagusnya, beberapa tahun belakangan Pemerintah telah menyediakan berbagai macam beasiswa yang dapat memfasilitasi anak-anak yang kurang mampu untuk turut merasakan pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Semua kembali kepada pilihan hidup masing-masing pada akhirnya, karena memang tidak semua menyadari betapa pentingnya pendidikan itu sendiri.


[Next…] Luruskan Niat dan Bersyukurwww.ernawatililys.comwww.ernawatililys.com

Kamis, 28 Agustus 2014

Tak Selalu Purnama (Balada Mahasiswa Tingkat Akhir)


Cerita di bawah ini bukanlah cerita fiktif semata. Jika ada kesamaan nama, alur cerita, dan tempat kejadian bukanlah sebuah kesengajaan. Jika cerita ini terlihat dramatis, romantis dan fantastis, bukanlah sebuah rekaan belaka. Semoga dapat diambil hikmahnya.
 
 

Titik Ketersesatan

Yogyakarta bukanlah kota tujuan saya untuk melanjutkan pendidikan tinggi pasca SMA, pun Universitas Negeri Yogyakarta. Saya tidak lebih dari seorang mahasiswa yang tersesat dalam memilih program study-nya.
Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di sebuah kabupaten kecil bagian barat daya Jawa Timur. Kabupaten kecil itu bernama Pacitan. Beruntung, Pacitan mulai dikenal oleh manusia seantero Nusantara lantaran ada orang Pacitan yang di kemudian hari menjadi Presiden Indonesia selama dua periode. Jika SBY tidak pernah menjadi Presiden, mungkin Pacitan hanya akan dikenang sebagai kabupaten di mana Jupe mencalonkan diri sebagai  Wakil Bupati atau sama sekali tidak akan dikenal karena disangka tidak ada di dalam peta Indonesia.
Menjadi mahasiswa adalah impian yang lumrah bagi anak-anak di kabupaten kecil ini, saat masih ada banyak anak yang menganggap menjadi mahasiswa adalah impian yang terlalu mewah. Maka, kita yang terpilih, selayaknya banyak bersyukur dengan segala kemudahan yang diberikan-Nya hingga dapat menyandang gelar mahasiswa.
Dahulu, paradigma seperti itu belum saya miliki. Saya berasal dari jurusan IPA, namun sangat menyukai Bahasa Inggris. Ketika tiba masanya untuk menentukan masa depan pendidikan, saya berada di sebuah persimpangan jalan yang membingungkan. Siswa yang berasal dari jurusan IPA tidak bisa masuk jurusan Bahasa melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat). Padahal, jika diizinkan, saya bisa masuk jurusan yang saya inginkan tanpa harus melalui tes. Karena itu, saya harus menunggu sebuah titik temu yang dapat mengakomodir jurusan sekaligus keinginan itu. Titik temu itu bernama SNMPTN, di mana saya bisa memilih jalur tes IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran).
Saya mengikuti SNMPTN di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta yang menjadi salah satu tujuan saya.  Program IPC menyediakan tiga alternatif pilihan jurusan. Saya memilih jurusan Pendidikan Kimia dengan pertimbangan basic IPA dan cukup bagus di bidang tersebut. Pilihan kedua jatuh pada Pendidikan Bahasa Inggris yang sejak awal saya inginkan, serta pilihan ketiga adalah Administrasi Negara. Khusus untuk pilihan ketiga ini memiliki rasionalisasi yang cukup unik, karena hanya berdasarkan pada hasil tes IQ yan pernah saya ikuti. Hasil tes menyarankan untuk masuk di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di urutan pertama, namun belakangan ketika hasil tes itu saya tinjau kembali, saran pertama untuk saya adalah Fakultas Sastra. Pilihan ketiga ini juga hadir karena saran dari kedua orang tua yang notabene adalah PNS. Regenerasi keluarga PNS, begitu pesan Ibu saat itu.
Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua. Kalimat yang tak asing di telinga itu, akhirnya berlaku pada saya. Saya diterima di program study Administrasi Negara Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2009. Sebuah program study yang bahkan tidak saya mengerti. Hanya berbekal keyakinan bahwa masih ada harapan untuk diterima di STAN, saya mulai melakoni titik awal ketersesatan yang berbuah pada ketersesatan selanjutnya. Menjadi mahasiswa Administrasi Negara UNY.

Ketika Harus Administrasi Negara

Apa yang mau dikata saat harapan hilang dari pandangan mata? Ternyata saya tidak diterima di STAN, yang memberikan pengumuman hasil seleksinya beberapa waktu setelah saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa UNY. The show must go on, hidup harus terus berlanjut. Mungkin ini adalah tanda bahwa saya memang ditakdirkan di sini, di UNY. Maka, sedikit demi sedikit saya harus berdamai dengan hati dan berteman dengan kenyataan bahwa kini saya adalah seorang mahasiswa Administrasi Negara.
Malangnya, Administrasi Negara UNY baru didirikan sebagai program study pada tahun 2008, otomatis saya menempati angkatan kedua program study tersebut. Bisa dipahami dengan usia seumur jagung tersebut, Administrasi Negara belum menjadi program study yang mapan. Beberapa bulan awal perkuliahan, kami tertelantarkan karena tidak memiliki ruang kelas yang memadai, sehingga kami melaksanakan KBM di kelas manapun yang tidak berpenghuni. Sempat di laboratorium mengetik, laboratorium computer, atau ruang Cut Nyak Dien.
Himpunan Mahasiswa saat itu masih bergabung dengan Prodi Administrasi Perkantoran. Orang-orang di luar jurusan juga menganggap bias kedua prodi yang dianggap sama, padahal sangat berbeda. Hingga di kemudian hari AN menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan ADP adalah bagian dari Fakultas Ekonomi. Hal yang membuat sedih, adalah pertanyaan mahasiswa lain di tingkat fakultas atau universitas setiap kali saya mengenalkan diri dari jurusan Administrasi Negara. “Oh, ada ya jurusan Administrasi Negara di UNY?”
Mulai saat itu saya bertekad. Semua harus tahu bahwa Administrasi Negara UNY itu ada dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Saya tidak tahu apakah teman-teman lain memiliki perasaan dan pikiran yang sama. Tapi dalam perjalanan cerita ini saya berjumpa dengan sahabat-sahabat perjuangan yang memiliki misi yang sama. Di kemudian hari, kami sama-sama mencetuskan pembentukan HIMA Ilmu Administrasi Negara. Di kemudian hari, kami merajut kisah yang disebut orang-orang sebagai aktivis kampus, dan salah satu dari kami menjadi seorang Ketua BEM di tingkat fakultas dan universitas. Mulai saat itu kami berusaha untuk selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di jurusan, fakultas dan universitas sambil terus menjadi agen untuk mengenalkan Administrasi Negara.

Bersentuhan dengan Dakwah

Pada dasarnya, saya adalah seorang anak yang tumbuh dalam organisasi. Sejak duduk di SMP, saya telah mengikuti OSIS, PRAMUKA dan ROHIS. Anak-anak perempuan di SMP waktu itu belum ada yang berjilbab, sehingga ketika kami mengikuti kegiatan ROHIS di hari Minggu, kami mengenakan jilbab khusus di hari itu. Saat tahun kedua di SMP, saya menjadi pengurus harian ROHIS dan sempat berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di IQRO’ CLUB. Entah apa sebabnya, setiap kali saya berinteraksi dengan “mbak-mbak berjilbab besar” itu, ada perasaan aneh yang menyusup dan membuat jantung berdetak lebih kencang. Banyak pengetahuan keislaman yang saya dapatkan. Sayangnya, interaksi dengan IQRO’ CLUB terputus di masa kepengurusan setelahnya.
Masuk SMA telah saya awali dengan memakai jilbab, meski belum benar-benar mengacu pada syari’at. Saya suka sekali memakai celana jeans yang dipadu dengan baju lengan panjang dengan jilbab yang ala kadarnya. Begitupun saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus, dengan style yang sama saya melakukan registrasi, KRS-an dan mendaftar OSPEK berkeliling FISE. Sampai suatu hari, saya merasa lebih nyaman memakai rok dan sedikit memanjangkan jilbab yang saya pakai, tepat di hari saya mengikuti ESQ.
Persentuhan awal saya dengan dakwah adalah saat saya menjadi  sie acara di kepanitiaan Musyawarah Besar Al Ishlah, sebuah acara Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan periode itu. Sampai akhirnya saya harus “jatuh cinta” pada kata-kata “Tiada yang kami inginkan selain perbaikan.” Mungkin kalimat itu hanyalah kalimat biasa bagi orang-orang lainnya, tapi kalimat itu yang telah menghantarkan saya pada sebuah pergolakan batin yang hebat hanya untuk sekedar memutuskan: bergabung atau tidak dalam barisan Al Ishlah.
Allah menunjukkan hidayah-Nya dengan jawaban saya akan bergabung dengan Al Ishlah. Hal itu semakin dikuatkan dengan kehadiran seorang pemandu mentoring yang saya kagumi di OSPEK. Beliau adalah seorang yang rempong dengan handy talky, megaphone dan beberapa handphone di tangannya ketika OSPEK. Sesosok koordinator acara yang selalu mondar-mandir dan terlihat sangat sibuk daripada lainnya. Dan itu keren di mata saya. Di Al Ishlah, saya mengenal banyak orang-orang “besar” di fakultas, yang membentuk sebuah paradigma di kepala saya, bahwa setiap aktivis kampus yang hebat itu dilahirkan dan dibesarkan oleh Al Ishlah. Mulai saat itulah saya banyak bersentuhan dengan agenda-agenda dakwah.
Ada beberapa orang yang turut berjasa “menyesatkan” saya di jalan kebaikan. Ingatan saya kembali pada Kepala Departemen di Al Ishlah yang waktu itu menanyakan apa arti dakwah bagi saya. Tidak disangka setelah pertanyaan itu hadir, saya mulai diberi amanah yang lebih berat dari sebelumnya. Konspirasi semesta juga seakan terjadi di bangku akademik. Dosen Agama waktu itu, Bapak Syukri Fathuddin memberikan ujian lisan kepada para mahasiswa. Sampai ketika beliau menguji saya, setelah semua pertanyaan berhasil saya jawab, beliau mengajukan sebuah permintaan agar saya bersedia menjadi tutor di Tutorial PAI UNY. Saya meng-iya-kan apa yang beliau sampaikan.

Tak Selalu Purnama: Sebuah Balada

Perjalanan dakwah seperti fase-fase bulan. Terkadang kita menyaksikan kegelapan pekat saat fase bulan mati. Kita menyaksikan bulan sabit, bulan separuh, hingga bulan purnama. Dalam setiap fase tidak selalu bergelimang cahaya purnama. Hal yang tidak pernah berbeda dari setiap fase adalah sujud-sujud kepada Sang Pencipta. Dalam fase seperti apa pun, masjid kampus senantiasa menjadi tempat tujuan setiap hamba-Nya, terutama yang bersandang “aktivis kampus” yang selalu merasa dekat dengan masjid kampus tersebut. Dia bernama Mujahidin, lebih akrab dipanggil Masmuja.
Sebagai episentrum dakwah, Mujahidin menjadi tempat berkumpulnya para aktivis kampus dan aktivis masjid. Menjadi tempat di mana ritualitas dielaborasikan dengan intelektualitas, Mujahidin bukan sekedar tempat ibadah semata. Kami menjadikan Mujahidin untuk tempat berdiskusi, kajian, dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dakwah. Mujahidin juga rela jika terkadang dijadikan tempat untuk melepas rasa lelah. Bukan itu saja, Mujahidin adalah saksi bisu dari setiap pengaduan dan tetesan air mata atas amanah yang terkadang terasa sangat berat di pundak.
Saya pun pernah mengalami fase-fase itu. Tak selalu purnama yang menemani langkah kaki. Saat saya yang masih harus mencari jembatan yang menghubungkan antara kapasitas diri dengan beban amanah yang diberi, saat itulah purnama seakan terenggut cahayanya. “Kita adalah da’i sebelum menjadi apa pun.” Satu doktrin yang senantiasa ditanamkan agar di manapun atau apa pun amanah kita, kita wajib membawa misi dakwah. Begitupun saat saya diamanahi menjadi koordinator acara OSPEK FISE terakhir dan justru terjadi aksi balik badan. Saat saya diamanahi menjadi Kepala Departemen PSDM BEM FIS di saat pergolakan antar mahasiswa semakin menjadi. Saat saya menjadi mahasiswa tingkat akhir dan masih menerima amanah lembaga di tahun keempat, saat teman-teman sekelas telah banyak yang berhamburan keluar dari universitas. Ya, mereka sudah lulus dan saya masih mengurusi pernak-pernik kampus.
Sempat saya merasa ingin segera menyudahi ini semua, tapi kemudian saya tersadar. Bahwa seharusnya amanah tidak menjadi pembenaran bagi saya untuk tidak bekerja. Bahwa setiap aktivis dakwah bisa berprestasi layaknya mereka yang tidak memiliki amanah. Bahwa tidak selayaknya saya mengkambinghitamkan ketidakmampuan saya atas nama amanah.
Apalagi sejak kecil saya termasuk anak yang dipantau prestasinya oleh kedua orang tua. Tiga besar adalah posisi yang tidak pernah luput di setiap tingkatan. Ketika saya tidak lulus lebih awal, terjadilah sebuah pertanyaan tersendiri dari kedua orang tua, padahal anak-anak kolega mereka telah lulus dari institusinya masing-masing. Saya hanya mengatakan, “Semua akan indah pada waktunya.”
Ada kegetiran luar biasa yang terjadi saat saya menghadiri  malam pelepasan wisuda seorang teman. Pertama, karena mereka yang seangkatan telah menyelesaikan masa study-nya, sedangkan saya sendiri belum menuntaskannya. Kedua, karena mereka yang mendapatkan predikat terbaik di angkatannya, bukan berasal dari kalangan aktivis. Saat itu saya bertanya pada diri sendiri, “Pergi ke manakah mereka yang diberi gelar para pewaris peradaban?”

Ada Kalanya Purnama

Saya selalu terpesona pada dua ayat Al Qur’an yaitu Q. S. Muhammad ayat 7 dan Q. S. Ar Rahman yang menyebutkan tentang “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Setiap mukmin akan selalu meyakini bahwa setiap janji Allah itu nyata dan setiap takdir yang Allah tuliskan untuk hamba-Nya adalah takdir yang terbaik.
Saya mengerjakan skripsi di sela-sela aktivitas saya di kampus. Berbagai metode saya gunakan agar tetap maksimal menjalankan amanah, salah satunya menerapkan hari khusus skripsi. Hari di mana saya tidak bisa diganggu gugat untuk agenda apapun selain skripsi, kecuali agenda-agenda yang bersifat sangat darurat. Satu hari itu benar-benar saya manfaatkan untuk mengerjakan skripsi, bimbingan, dan sebagainya yang membuat saya seringkali sama sekali tidak terpejam semalam suntuk.
Tahap demi tahap saya lalui, mulai dari penyusunan proposal, seminar proposal, penelitian, hingga akhirnya ujian di bulan November 2013, beberapa hari sebelum Dosen Pembimbing saya berangkat ke Australia untuk mengambil program Doktoral. Tidak disangka, saat yudisium saya didaulat untuk membacakan ikrar alumni. Setelahnya saya dipanggil pihak kemahasiswaan fakultas yang menyatakan bahwa saya adalah peraih IPK tertinggi fakultas dan univeersitas periode wisuda Maret 2014. Saya juga dinyatakan sebagai aktivis terbaik fakultas saat malam pelepasan wisuda di FIS. Bukan itu saja, saya kembali diberi kehormatan untuk membacakan pidato mewakili wisudawan/ wisudawati di tingkat universitas. Suatu hal yang tidak saya duga sama sekali. Dakwah Kampus UNY memiliki andil yang besar atas “purnama” yang saya terima saat itu. Sungguh, janji Allah sangatlah nyata. Manusia hanya belum mampu melihat dengan kedua matanya jika belum diizinkan-Nya. Semua diskenariokan dengan sangat indah, di waktu yang tepat.

Agen Rahmatan lil’alamin

Pada akhirnya setiap diri kita adalah agen yang harus menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin. Siapapun kita, di mana pun kita, wajib menyampaikan kebaikan dan memberi kemanfaatan untuk orang lain. Seperti yang selalu diajarkan oleh Rasulullah, bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lainnya.”
Untuk menjadi agen yang baik, kita juga membutuhkan lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik akan kita dapatkan jika kita bergaul dengan orang-orang baik, kita dapat menemuinya di lingkungan masjid. Setiap kali kita berinteraksi dengan masjid, selanjutnya kita akan menempatkan lingkungan masjid itu di hati, agar di manapun kita berada kita selalu mengingat masjid dan orang-orang yang ada di dalamnya.



Kembali

Kembali,,,,
Beranjaklah dari mimpi
yang selama ini membuai dan melenakan matamu
tentang janji-janji indah yang kau temui malam itu

Pagi hari, saat mentari bersinar lagi
Tapakilah dunia nyata
Bergegaslah meraih mimpi
Bukan duduk melamun dan mengingati.

Kembalilah ke dunia nyata
tempat di mana aku berada

Kamis, 17 Juli 2014

Beralih

Assalamu'alaikum, sahabat Damai di manapun berada,,,
semoga setiap langkah senantiasa bersama jejak berkah... :)

bagi sahabat yang suka menyimak tulisan-tulisan di blog ketika sastra dan administrasi negara ini, saya beritahukan bahwa untuk sementara tulisan-tulisan tersebut beralih ke blog saya yang lain, catatanperjalananmiftadamai.tumblr.com.

sampai ketemu di sana yaa... :)

Selasa, 13 Mei 2014

Tugas

Tugas seorang inspirator adalah menginspirasi: dengan pikiran, perkataan dan perbuatan.

Lakukan saja tugasmu, dan aku akan melakukan tugasku.

"Dan... jangan tersenyum untuk orang lain."


#inspired by Three Days.

Pintu

Ada yang kutunggu senyumnya
hadir di balik pintu
sementara pintu lain dalam hatiku
telah terbuka menyambut pemilik senyum itu

Hanya saja...
tiba-tiba aku menjadi takut
Jika ada tangan lain yang mengetuk pintu lebih dulu
Apa yang harus kukatakan padanya?
Aku lebih dulu mencintaimu.

Jangan terlambat,
mengetuk-membuka pintu itu.

SKCK

Kalau kau ingin jujur pada dirimu,
kalau kau ingin mencari jati dirimu,
tak perlu risau hendak melangkah ke mana
Pergi saja ke kantor polisi dan buatlah SKCK

(Sekelumit kisah SKCK 8 Mei 2014 @Polres Pacitan)

Bapak

Kau, anak Bapak yang belum mengenal dunia
Mari Bapak ajarkan bagaimana cara memandang dan menghadapinya.
Realita.
Mungkin tak akan sama dengan cerita-cerita rakyat yang Bapak bacakan untukmu dulu.
Ia bisa jadi tak seceria masa kanak-kanakmu waktu itu.

Hanya saja, ingatlah satu hal.
Saat Bapak menyisir rambutmu dan mengucirnya menjadi dua saat SD,
atau
saat Bapak membuat simpul pada tali sepatumu sembari berkata,
"Kelak dewasa dan sukseslah. Setinggi apa pun dirimu kelak, sejauh apapun kamu melangkah, jagalah selalu pesanku, Jangan lupakan kedua orang tuamu."



*Dad, Mom,,,
Without you, I'm nothing...

Rindu

Bolehkah aku bertanya apa arti rindu buatmu?

Perasaan menggebu-gebu ingin bertemu?
Usaha untuk mengaburkan jarak dan waktu yang sekian lama mengekangmu?

Bagiku, rindu adalah tanaman yang dipelihara di dalam jiwa
Selalu menyirami dan memupuknya dengan harapan yang terus menyala
Suatu saat, jika tiba saatnya ia akan berbunga
Lebih dari itu, ia akan tumbuh dan berkembang membawa manfaat bagi manusia
Saat ia menjadi pohon yang besar dan mengayomi semesta.

Maka, rindu yang bagiku adalah tanaman itu
Selayaknya selalu dijaga
Tak perlu diumbar di hadapan mata manusia

Karena Tuhan punya skenario waktu
Semua akan indah pada waktunya.


*Rindu... Aku rindu kamu.
Kamu...
Iya kamu...
Semoga kelak kita bertemu
Dalam jumpa barakah, ke manapun kaki melangkah.

Rabu, 30 April 2014

Terimakasih Mas


Terimakasih Mas,
karena telah membuatku merasa menjadi adik.
meski aku tahu, kau tahu, kita semua sama-sama tahu bahwa antara kita sama sekali tak ada hubungan darah.
Lalu kenapa kau peduli padaku?
tak lain karena hubungan persaudaraan lain, yang disebut dengan ikatan aqidah.

" Mif, kamu itu lulusan terbaik. Sayang kalau gak lanjut. Coba kalau kamu bukan lulusan terbaik, pasti aku tak akan menasehatimu macam ini."
"Iya, Mas."

Aku terpekur diam.
Lebih dari itu kalau kau tahu Mas, sebenarnya itu semua adalah citaku. hanya saja rasanya waktu yang sepertinya belum tepat untuk itu.
Tahukah kau Mas, aku sedang menunggu.
Menunggu untuk kembali berlari. Tentunya aku akan lebih bersyukur jika ada yang ingin berlari bersamaku mengejar mimpi-mimpi.
Aku terharu.




Rabu, 26 Maret 2014

DMKS KOBARKAN SEMANGAT INDONESIA DI KAMPANYE PKS JOGJA

Ribuan massa PKS yang berasal dari  kalangan kader dan simpatisan tumpah ruah memenuhi  stadion Maguwoharjo (Selasa, 25/03). Masih mengusung tema “putih”, massa PKS benar-benar memutihkan stadion Maguwoharjo. Uniknya di antara massa PKS yang menggunakan atribut putih-putih, hadir pula massa dari DMKS mengenakan warna baju hitam-kuning yang kontras dengan tema hari itu. Divisi Mahasiswa Keadilan Sejahtera yang terdiri dari para pemuda tersebut turut memiliki andil  dalam mengobarkan semangat Indonesia di Kampanye Partai Keadilan Sejahtera Jogja.
Massa DMKS berkumpul di satu titik dan mengadakan upacara pembukaan sebelum berangkat menuju stadion. Dalam upacara pembukaan tersebut diawali dengan pembacaan Al Qur’an dan doa yang membuat sebagian peserta putri meneteskan air mata haru. Selanjutnya massa DMKS melakukan gladi resik gerakan flashmob “Kobarkan Semangat Indonesia” dipimpin oleh korlap putra. Suasana haru yang sempat tercipta berubah menjadi hangat kembali dengan aliran semangat dari theme song kampanye PKS tersebut.
Ayo bersama
kobarkan semangat Indonesia
PKS Nomor 3
PKS tetap di hati”
Menuju stadion, massa DMKS melakukan aksi damai  dan tertib sepanjang jalan. Mereka menyapa warga sekitar dan mengajak warga Jogja untuk memilih PKS pada tanggal 9 April. “Milih Nomer 3 ya Pak…” seru kader DMKS sambil tersenyum. Respon yang diberikan masyarakat pun beragam, mulai dari senyum ramah, mengacungkan salam tiga jari khas PKS, juga penolakan secara halus. “Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani” kata Taat, salah seorang koordinator lapangan DMKS.

Sesampainya di stadion Maguwoharjo, massa DMKS yang sempat berpapasan dengan massa kampanye PDI-P tersebut mengikuti prosesi kampanye yang dimulai dengan shalat Ashar berjamaah dan doa bersama. Disusul pembukaan acara kampanye, pemuda DMKS yang berbaju hitam-kuning mengibarkan bendera-bendera besar PKS dan mengitari massa yang lain. Beberapa pemuda DMKS di bawah komando Ngadino  dkk naik ke atas panggung untuk memberikan contoh gerakan theme song “Kobarkan Semangat Indonesia” kepada seluruh massa kampanye. Semangat pemuda DMKS pun mengobarkan semangat seluruh peserta kampanye di sore hari yang cerah dan teduh itu. Semangat turut menjalari para petinggi partai, sehingga Dr. Sukamta dan  Ustadz Cahyadi Takariawan turut melakukan gerakan flashmob. “Hanya PKS yang bisa menghadirkan massa sebanyak ini tanpa bayaran” tutur Taat lagi. Optimisme pemuda DMKS adalah cerminan dari kata-kata Anis Matta, “Anak-anak muda selamanya adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, maka sejarah segera menciptakan peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi.” (Mifta)
Photo by: Hamdan/ Aziz

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...