Minggu, 23 Oktober 2011

“WEEKLY ASSIGNMENT OF DEVELOPMENT THEORIES”

A.      TEORI-TEORI PEMBANGUNAN MODERNISASI
è Asumsi: keterbelakangan dan kemiskinan suatu Negara disebabkan oleh factor-faktor internal dari Negara itu sendiri.

1.       TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI ADAM SMITH

Adam Smith merupakan ilmuwan terkemuka dalam pembangunan ekonomi yang lahir di Skotlandia pada tahun 1723. Adam Smith menulis sebuah buku terkenal yang menjadi dasar dari ekonomi modern. Buku tersebut berjudul  Wealth of Nations, yang di dalamnya berisi kritikan tentang pemikiran ekonomi yang dianut oleh orang-orang terdahulu, seperti:
-          Penolakan terhadap pemikiran bahwa Negara harus memiliki persediaan emas batangan dalam jumlah besar yang digunakan dalam ekonomi perdagangan.
-          Kritikan terhadap pemikiran physiokrat bahwa tanah merupakan sumber utama nilai.
Adam Smith kemudian melontarkan kritikan terhadap campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi yang dianggap menhambat pertumbuhan ekonomi, maka Adam Smith dalam bukunya menyatakan teori baru yang menjadi peletak dasar pertama liberalisasi ekonomi. Teori Adam Smith berisi:
“Pada dasarnya manusia memiliki sifat self interest atau mementingkan diri sendiri,sehingga akan selalu berpikir tentang cost and benefit, serta berpikir secara efisien  maka dalam kegiatan ekonomi manusia akan bersaing untuk mengumpulkan kekayaan. Persaingan antar orang tersebut akan menghasilkan persaingan bebas para pemilik modal yang bekerja di dalam suatu mekanisme pasar yang dipengaruhi oleh invisible hand untuk mendapatkan akumulasi capital. Peran pemerintah yang campur tangan pada kegiatan ekonomi hanya akan menghambat persaingan bebas, maka tidak perlu ada peran pemerintah/ Negara dalam kegiatan ekonomi.”
Asumsi dari Adam Smith, jika telah terjadi akumulasi capital, maka akan timbul Trickle Down Effect (efek menetes ke bawah), di mana para pemilik modal tersebut dapat membantu kalangan bawah dengan membuka lapangan pekerjaan bagi mereka.

2.       Teori Thomas Robert Malthus

Malthus pada awalnya adalah seorang pendeta yang tidak begitu dikenal, namun setlah menulis buku tentang pertumbuhan penduduk, ia menjadi salah satu tokoh yang bepengaruh dalam sejarah. Menurutnya, pertumbuhan penduduk cenderung melampui pertumbuhan persediaan makanan. Malthus menyuguhkan idenya dalam bentuk yang cukup kaku, penduduk cenderung tumbuh secara "deret ukur" (misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara "deret hitung" (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya). Dari dua analogi tersebut, Malthus mengatakan bahwa penduduk cenderung bertumbuh secara tak terbatas hingga mencapai batas persediaan makanan. Sehingga kuantitas manusia akan tumbuh melampaui jumlah makanan yang ada. Hal tersebut dapat menyebabkan kelaparan dan kemiskinan yang melanda manusia, sehingga jumlah manusia harus dikendalikan. Teori ini dipakai oleh Adam Smith di dalam bukunya,  The Wealth of Nations.





3.       Teori Ekonomi John Maynard Keynes

Berbeda dengan para ilmuwan ekonomi klasik seperti Adam Smith yang menyatakan bahwa Negara tidak memiliki peran penting dalam perekonomian, Keynes menyatakan bahwa baik swasta maupun Negara memiliki peran yang penting dalam kegiatan perekonomian. Keynes menekankan pentingnya permintaan agregat sebagai faktor utama penggerak perekonomian, terutama dalam perekonomian yang sedang lesu. Ia berpendapat bahwa kebijakan pemerintah dapat digunakan untuk meningkatkan permintaan pada level makro, untuk mengurangi pengangguran dan deflasi. Jika pemerintah meningkatkan pengeluarannya, uang yang beredar di masyarakat akan bertambah sehingga masyarakat akan terdorong untuk berbelanja dan meningkatkan permintaannya (sehingga permintaan agregat bertambah). Selain itu, tabungan juga akan meningkat sehingga dapat digunakan sebagai modal investasi, dan kondisi perekonomian akan kembali ke tingkat normal.
Kesimpulan utama dari teori ini adalah bahwa tidak ada kecenderungan otomatis untuk menggerakan output dan lapangan pekerjaan ke kondisi full employment (lapangan kerja penuh). Kesimpulan ini bertentangan dengan prinsip ekonomi klasik seperti ekonomi supply-side yang menganjurkan untuk tidak menambah peredaran uang di masyarakat untuk menjaga titik keseimbangan di titik yang ideal.

4.       Teori David Ricardo (Teori Keunggulan Komparatif)

Keunggulan komparatif suatu Negara ditunjukkan dengan pengadaan spesialisasi barang dan jasa menurut potensi Negara tersebut, dalam artian jika suatu Negara berpotensi dalam bidang agraris, maka Negara itu harus memproduksi barang dan jasa dalam bidang agraris, begitu juga suatu negara berpotensi di bidang industry, maka Negara tersebut harus melakukan spesialisasi produk barang dan jasa di bidang industry. Karena adanya spesialisasi ini, maka akan terjadi perdagangan internasional. Perdagangan ini dapat menguntungkan kedua belah pihak. Negara agraris dapat membeli barang-barang industry secara lebih murah daripada memproduksinya sendiri, begitu juga Negara-negara industry dapat membeli hasil-hasil pertanian secara lebih murah daripada memproduksinya sendiri. Teori ini juga menyatakan bahwa perdagangan internasional ini akan menguntungkan semua pihak. Harga barang akan turun dan mencapai titik terendah bila terjadi perdagangan bebas.

5.       Teori Ekonomi John Stuart Mill

Mill merupakan salah satu tokoh utilitiarianisme yang suka mengeluarkan konsep kebebasan. Dalam hal pemikirannya mengenai ekonomi, Mill dipengaruhi oleh Thomas Robert Malthus, dimana pertumbuhan ekonomi selalu diliputi dengan tekanan jumlah penduduk dengan sumber yang tetap. Mill seorang utilitarian yang mencoba untuk memahami kebahagiaan secara lain, dimana menurutnya kebahagiaan, bukanlah semata bersifat fisik, melainkan lebih luas dari itu, dan Mill pun memperkenalkan sebuah konsep kebahagiaan individu, yang sebelumnya, para filsuf utilitarian kurang menyentuh hal tersebut.
Menurut Mill tentunya berbeda terkait kebahagiaan individu dengan kebahagiaan umum. Suara hati menjadi dasar moralitas kaum utilitarian, sehingga akan menimbulkan implikasi didalam kehidupan sehari-hari terkait hubungannya dengan orang lain, dan disanalah eksistensi sebagai makhluk sosial menjadi nyata. Perasaan sosial yang timbul menuntut adanya suatu perhatian terhadap kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Maka, dikemudian hari akan memunculkan konsep kebebasan dan keadilan. Keadilan, akan diawali dengan pengakuan atas eksistensi hak-hak orang lain dan keadilan juga tidak terpisahkan dengan unsur kebebasan manusia. Masyarakat menurut Mill mestilah melindungi kebebasan individu dikarenakan hal tersebut merupakan bagian dari kebahagiaan umum.
Universalime etis merupakan konsep utilitariannya yang lebih mengedepankan kepada kebahagiaan orang lain, dimana disanalah moralitas utilitarian dibangun oleh Mill. Prinsip tersebut memang cukup relevan dalam hal aktifitas ekonomi, disamping Mill menerima pasar bebas Adam Smith, namun usaha untuk memperhatikan kebahagiaan orang lain dalam hal persaingan ekonomi pasar, menjadi agenda Mill. Kondisi pasar bebas yang cenderung bersikap egoisme sentris, berusaha ditekan Mill dengan pemberlakuan nilai moralitas bersama, dimana prinsip kebahagiaan harus dirasakan oleh setiap pemain pasar, pelaku usaha, produsen, distribusi, hingga tataran konsumen. Pasar bebas memang cenderung melahirkan kondisi menang-kalah, namun diantara dua belah pihak diharapkan harus tetap mampu menjalin hubungan yang kelak melahirkan kebahagiaan bersama, yang merupakan konsekuensi atas universalisme etis ala John Stuart Mill.


6.       Teori Max Weber (Etika Protestan)

Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama. Salah satu hal yang dibahas Weber adalah peran agama sebagai factor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Dalam bukunya, The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, Weber mencoba menjawab pertanyaan mengapa Eropa Barat dan Amerika Serikat menjadi Negara maju di bawah system kapitalisme, ternyata setelah melakukan analisis Weber mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebabnya adalah Etika Protestan. Etika Protestan muncul dari agama Protestan yang mengajarkan bahwa seseorang yang bekerja keras akan masuk ke surge, akibatnya Negara-negara yang mayoritas merupakan penganut Protestan tersebut memiliki etos kerja yang tinggi, karena merasa bahwa jika dirinya bekerja keras di dunia, maka kelak akan masuk surga.

7.       Teori David McClelland (Dorongan Berprestasi atau n-Ach)

Menurut McClelland, untuk membuat sebuah pekerjaan berhasil, yang paling penting adalah sikap terhadap pekerjaan tersebut. persoalan yang terpenting, apakah seseorang memiliki semangat yang sempurna dalam menghadapi pekerjaannya?
Maka dia sampai pada pemikirannya tentang dorongan berprestasi atau disingkat n-Ach. Orang dengan n-Ach yang tinggi, maka diharapkan orang tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. n-Ach menjadi semacam virus yang bisa ditularkan, dengan banyaknya masyarakat yang memiliki n-Ach, maka akan menjadi pendorong untuk bekerja keras dan dengan hal tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi suatu Negara yang tinggi.

8.       W. W Rostow: Lima tahap Pembangunan

Menurut Rosyow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju. Proses ini dengan perbagai variasinya, pada dasarnya berlangsung sama di manapun dan kapan pun juga. Rostow membagi proses pembangunan ini menjadi lima tahap:
a.       Masyarakat tradisional à ilmu pengetahuan masih banyak belum dikuasai, masih percaya mistik, akibatnya produksi juga dilakukan secara tradisional dan terbatas. Masyarakat statis, kemajuan berjalan sangat lambat.
b.       Prakondisi untuk lepas landas à masyarakat tradisional yang terus bergerak meski pertumbuhannya lambat, hingga bisa mencapai titik untuk lepas landas. Biasanya karena ada campur tangan dari luar, dari masyarakat yang sudah maju. Campur tangan ini berupa ide-ide pembaruan.
c.       Lepas landas à periode ini ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan merupakan sesuatu yang berjalan wajar, tanpa hambatan yang berarti. Industry mulai berkembang dan sector modern juga mulai berkembang.
d.       Bergerak ke kedewasaan à setelah lepas landas, akan terjadi proses kemajuan yang bergerak ke depan, meski pasang surut. Industry berkembang dengan pesat. Negara memantapkan posisinya dalam perekonomian global : barang-barang yang semula diimpor, mulai diproduksi dalam negeri, impor baru menjadi kebutuhan, dan ekspor menjadi penyeimbang impor.
e.       Jaman konsumsi masal yang tinggi à karena kenaikan pendapatan mayarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup, tetapi meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi. produksi industry juga sudah berubah dari produksi kebutuhan dasar menjadi produksi barang konsumsi yang tahan lama. Pada titik ini, pembangunan sudah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang bisa menopang kemajuan secara terus menerus.

B.      TEORI STRUKTURAL
è Asumsi: keterbelakangan dan kemiskinan di Negara-negara dunia ketiga terjadi karena factor-faktor eksternal, seperti adanya struktur perekonomian yang eksploitatif di mana yang kuat melakukan eksploitasi kepada yang lemah.

1.       Karl Marx à mengemukakan tentang:
-          Dunia  sosial dibentuk oleh materi, maka materi juga yang akan membentuk nilai.
-          Masa depan Negara berkembang akan sama dengan Negara maju. Negara  berkembang mengadakan hubungan dengan Negara maju dalam hal teknologi, teknik produksi yang murah, karena itu semua Negara akan terpaksa  mengikuti teknik produksi Negara maju dan kaum borjuis, jika tidak mengikuti mereka akan hancur.
-          Maka semua Negara di dunia akan menjadi Negara kapitalis dan akan timbul konflik kelas, di mana kaum borjuis akan menindas kaum buruh. Karena itu, kaum buruh harus bersatu untuk melawan penindasan kaum borjuis.

2.       Raul Prebisch

-          Mengemukakan kritik terhadap system perdagangan internasional yang bebas dan hambatan dalam industrialisasi serta hambatan pembangunan yang ternyata disebabkan oleh factor-faktor eksternal.
-          Menurut Prebisch, adanya teori pembagian kerja internasional membuat Negara-negara di dunia melakukan spesialisasi produksinya, di mana Negara pusat yang merupakan Negara maju menghasilkan barang industry, dan Negara pinggiran yang merupakan Negara berkembang menghasilkan hasil pertanian yang seharusnya kedua jenis Negara tersebut harus saling menguntungkan, namun kenyataannya negar pusat makin kaya dan Negara pinggiran makin miskin. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan nilai tukar masing-masing Negara. Barang-barang industry jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan hasil pertanian, akibatnya terjadi deficit pada neraca perdagangan Negara pinggiran jika berdagang dengan Negara-negara industry dan deficit tersebut makin besar.

3.       Paul Baran : Sentuhan yang mematikan dan kretinisme

Paul Baran adalah pemikir marxis yang menolak pandangan Karl Marx tentang pembangunan di Negara dunia ketiga. Menurutnya sentuhan kapitalis pada Negara berkembang justru akan menghambat pertumbuhan Negara tersebut dan bahkan akan bertahan dalam hidup keterbelakangan. System ini disebut kretinisme atau kekerdilan. Rasionalisasinya, jika muncul kekuatan ekonomi asing dalam bentuk modal kuat dari dinia barat ke Negara-negara dunia ketiga membuat surplus yang terjadi di sana akan diambil oleh kaum pendatang dengan berbagai cara. Maka yang terjadi di Negara berkembang bukanlah akumulasi capital melainkan penyusutan modal.
Sumber referensi:

Budiman, Arif. Teori Pembangunan Dunia Ketiga.1995. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama




Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...