Selasa, 11 September 2012

DOA DARI JAUH


Air mata tanpa kusadari jatuh satu per satu. Perlahan membasahi mukena putihku, kemudian mengalir menuju sajadah hijauku. Ya Rabb, kali ini aku tak menangisi  perjalanan hidupku, yang kuanggap berliku. Entah ini bentuk air mata syukur terhadap jalan hidupku ataukah air mata kesedihan akan nasib seseorang di sana yang aku tahu pasti, ia sedang menghadapi cobaan yang teramat berat. Meskipun aku juga tahu, beratnya cobaan itu lantaran Allah begitu sayang padanya.
Terbayang wajahnya dulu yang begitu ceria, selalu tersenyum dan bersemangat, meski begitu banyak keterbatasan yang ada padanya. Tapi justru dari keterbatasan itu, ia bisa menemukan celah-celah yang membawanya pada dimensi kesuksesan. Dulu ia adalah salah satu dari siswa berprestasi di sekolah, selalu menjadi delegasi kebanggaan sekolah. Dikenal dan diakgumi begitu banyak kalangan, bukan hanya dari kalangan siswa junior dan senior, tapi juga dari kalangan guru-guru dan karyawan di sekolah. Nayris tak tampak kekurangannya sebagai manusia biasa. Agamanya, akhlaknya, kecerdasannya, kebijaksanaannya, kedewasaannya, dan segala kebaikan ada pada dirinya. Bahkan aku adalah salah satu pengagumnya, meskipun aku harusnya bisa sombong karena posisiku sebagai sahabat karibnya.
Di satu sisi kini terbayang wajahnya, yang kubayangkan begitu pias, cemas, kurus, dan begitu terlihat layu. Ah...bahkan aku pun tak pernah bertemu dengannya, bagaimana bisa aku membayangkan dia seperti itu? Dan dalam kondisinya seperti itu, di mana aku? Di mana orang yang berani mengaku sebagai sahabatnya itu? Semakin keras tubuhku menggigil, teriringi dengan tangisku yang makin menjadi walau tanpa suara.
Jogja-Solo bukanlah jarak yang jauh, tapi bukan pula jarak yang dapat ditempuh secepat kilat. Kesibukan kuliah lah yang mulanya mengawali misscommunication kami selama ini. Hingga terpikir untuk menghubunginya, meski aku tak yakin ia akan membalas sms ku atau tidak, karena aku tahu ia harus mencukupi kebutuhan hariannya sendiri. Ya, dia sudah tak berayah. Ia hanya memiliki seorang ibu dengan adik laki-lakinya yang juga sekolah di SMA favorit, yang tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sementara ibunya sendiri juga tak mempunyai pekerjaan tetap.
Nekad, kuketik sms berisi salam padanya dan langsung kukirimkan.  Sebenarnya aku tidak berharap balasan sms nya, karena itu aku melanjutkan  mengerjakan tugas paper yang menjadi deadline. Setelah agak penat, aku memutuskan untuk segera tidur saja. Namun tiba-tiba hp ku bergetar, 1 new message received.
Kubuka.
“Waalaikum salam mb, mf br q bls, br pgng hp,aq br aj nyampe kos.”
Kuketik sms balasan.
“Iy,gpp. Br plang kerja po?”
Sms darinya datang lagi.
“Lho kok mb thu? Iy, q br plang krja ni.”
Kurespon.
“Ya iyalah, masa 1orang tmen gak thu aktvitas temennya sndri? Semangat ya!! Aktivis spt km it mmg luar bysa!”
Lalu sms kami mengalir sebagaimana mestinya.
“Ak bkan aktivis kmpus lg kok mb...”
“Lho kok tmben? Jadi dmn skg ladang juangmu?”
 Aku mengira kini dia berbisnis dan meninggalkan aktivitas perpolitikan kampus, karena ia pernah bercerita, dia mengikuti suatu perusahaan bisnis, dan kutahu itu adalah semacam MLM. Sebenarnya aku begitu khawatir tentang aktivitasnya itu, tapi kudengar dia sudah ada di tingkat atas dalam bisnis itu, jadi aku diamkan. Namun jawabannya di luar dugaanku.
“Ladang juangku ada di cobaan yang hendak Allah ingin q mnylesaikannya saat ni...q pgn bgt crta kisahku skg ma mb,tp q blm bs ktmu mb...”
“Cerita aja lah skg. Shbt slu ad kpan pun, ya,,mski ak gak bs ksh solusi, ak bs jd pndgr yg baik, yg mgkin bs meringankan bebanmu krn km bgi dg org lain.”
Agak lama menunggu balasan darinya.
“maaf mb, q br crta. Ud 4 bln ni q g aktif d UKM. Smw brmla saat ak krja sma dg 1org distributor laptop. Q sng bs memasarkn laptop dlm jml yg bnyk. Tp akrny uang pmbli dbwa kbur ma distributor it, n ak msti tnggung jwb, kl tdk, mja hjau yg akn bcra. Smntr q g pny bkti bwt lapor. Jd mpe skg ak krj kras bwt blikinnya.”
Seketika air mata tak dapat dibendung. 4 bulan? Dan baru sekarang aku tahu nasib yang menimpa sahabatku? Aku meny
Lahkan diriku atas ketidaktahuanku tersebut, tapi dia segera membalas lagi.
“Mb, jgn gt. Hrusny q yg mt mf krn br crta. Ak g mau org lain kpkiran. Kluarga jg g q ksih tau, tkut mnmbah beban. Q jg pny tantangan k2 mb, mgkn smster dpan ibu’ ud nyerahin biaya spp ke q..”
“ak g th maw ngmong ap. Bner, g ad yg bs ak perbwt slain doa bwt km. Yg sabar ya, km diuji ALLAH dg cbaan bgtu bert, it krn  Dia jg bgt sayang pdmu. Sbr, prtlngan ALLAH it nyata.”
Mudah sekali aku berbicara, sedang bagaimana mencari solusinya???????
“Iy mb, ak brsykr dg ujian ni, krn tiap ksulitn akn mgjari makna hdup n kdwasaan. Ak ikhlas, wlau nti hrus ad suatu hal yg phit mnyangkt kelangsungan kuliah q,stdknya ak ud prnh mrsakan jd mhsiswa. Ah..akirnya q lega bs crt ma mb,,,”
“Hush,,,jgn ngmong g, jgn pesimis sm hdup. Slu mt tlng pd ALLAH, ak ykin Dia akn mmbri jalanbwt mu. “
“iy mb, km bnr. G ad yg prlu dcemaskn krn smww it blm trjdi. Mlm ni mb, telah mnmbh ktguhan hti q. Mksh shbtku...beban ni tlh brkrang krn q ud crt ma mb..”
Entah..kenapa aku tak bisa berkata-kata lagi setelah itu.
Review percakapan lewat sms kemarin malam itulah penyebab berderainya air mataku dini hari ini. Ketika aku mencoba mengomunikasikannya dengan Sang Penguasa Hati. Mencoba mengungkapkan, meski  Dia jauh lebih tahu. Sungguh aku tak tahu bagaimana cara membantu sahabatku itu, sedang dalam hal finansial aku pun masih bergantung pada orang tuaku, yang aku tahu juga kepayahan dalam mencukupi biaya kuliahku. Dan tak mungkin aku meminta pada mereka. Sedangkan beasiswa? Beasiswa prestasi karena IP ku yang memenuhi persyaratan sebagai kategori mahasiswa berprestasi yang aku ajukan pada pihak universitas 1 bulan yang lalu pun belum ada kabarnya hingga kini. Ya Allah, jika beasiswa itu bisa aku dapatkan mungkin akan bisa membantunya walau sedikit. Ah..tapi aku tak ingin berharap pada sesuatu yang belum pasti. Lalu apa yang bisa aku lakukan Ya Allah? Basah lagi mataku yang sempat mengering beberapa saat.
Doa. Ya, jawabannya adalah doa. Aku tahu seberapa besarnya kekuatan doa, dan itu adalah hal sederhana yang bisa aku lakukan saat ini, selain menulis naskah yang aku juga tak tahu apakah bisa dikomersialkan, karena aku begitu amatir dalam dunia tulis-menulis. Tak apa, itu bukan suatu masalah, setidaknya aku telah berusaha. Dan akhirnya hanya ini yang bisa kulakukan sahabatku, berdoa dari sini agar kau selalu tegar, tawakal, dan kuat dengan ujian Allah ini. Sesungguhnya Ia hanya ingin membuktikan imanmu, dan kau harus tetap di jalan-Nya, memohon hanya pada-Nya, karena pertolongan-Nya amatlah dekat dan nyata. Semangat!!! Kamu bisa melaluinya!!! Dari sini, doa dari jauh terlantun untukmu setiap saat, setiap waktu dari sebuah ketulusan hati yang menyayangimu karena-Nya, sahabatku.....

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...