Air
mata tanpa kusadari jatuh satu per satu. Perlahan membasahi mukena putihku,
kemudian mengalir menuju sajadah hijauku. Ya Rabb, kali ini aku tak
menangisi perjalanan hidupku, yang
kuanggap berliku. Entah ini bentuk air mata syukur terhadap jalan hidupku
ataukah air mata kesedihan akan nasib seseorang di sana yang aku tahu pasti, ia
sedang menghadapi cobaan yang teramat berat. Meskipun aku juga tahu, beratnya
cobaan itu lantaran Allah begitu sayang padanya.
Terbayang
wajahnya dulu yang begitu ceria, selalu tersenyum dan bersemangat, meski begitu
banyak keterbatasan yang ada padanya. Tapi justru dari keterbatasan itu, ia
bisa menemukan celah-celah yang membawanya pada dimensi kesuksesan. Dulu ia
adalah salah satu dari siswa berprestasi di sekolah, selalu menjadi delegasi
kebanggaan sekolah. Dikenal dan diakgumi begitu banyak kalangan, bukan hanya
dari kalangan siswa junior dan senior, tapi juga dari kalangan guru-guru dan
karyawan di sekolah. Nayris tak tampak kekurangannya sebagai manusia biasa.
Agamanya, akhlaknya, kecerdasannya, kebijaksanaannya, kedewasaannya, dan segala
kebaikan ada pada dirinya. Bahkan aku adalah salah satu pengagumnya, meskipun
aku harusnya bisa sombong karena posisiku sebagai sahabat karibnya.
Di
satu sisi kini terbayang wajahnya, yang kubayangkan begitu pias, cemas, kurus,
dan begitu terlihat layu. Ah...bahkan aku pun tak pernah bertemu dengannya,
bagaimana bisa aku membayangkan dia seperti itu? Dan dalam kondisinya seperti
itu, di mana aku? Di mana orang yang berani mengaku sebagai sahabatnya itu?
Semakin keras tubuhku menggigil, teriringi dengan tangisku yang makin menjadi
walau tanpa suara.
Jogja-Solo
bukanlah jarak yang jauh, tapi bukan pula jarak yang dapat ditempuh secepat
kilat. Kesibukan kuliah lah yang mulanya mengawali misscommunication kami
selama ini. Hingga terpikir untuk menghubunginya, meski aku tak yakin ia akan
membalas sms ku atau tidak, karena aku tahu ia harus mencukupi kebutuhan hariannya
sendiri. Ya, dia sudah tak berayah. Ia hanya memiliki seorang ibu dengan adik
laki-lakinya yang juga sekolah di SMA favorit, yang tentu membutuhkan biaya
yang tak sedikit. Sementara ibunya sendiri juga tak mempunyai pekerjaan tetap.
Nekad,
kuketik sms berisi salam padanya dan langsung kukirimkan. Sebenarnya aku tidak berharap balasan sms
nya, karena itu aku melanjutkan mengerjakan tugas paper yang menjadi deadline.
Setelah agak penat, aku memutuskan untuk segera tidur saja. Namun tiba-tiba hp
ku bergetar, 1 new message received.
Kubuka.
“Waalaikum salam mb, mf br q bls, br
pgng hp,aq br aj nyampe kos.”
Kuketik sms
balasan.
“Iy,gpp. Br plang kerja po?”
Sms darinya
datang lagi.
“Lho kok mb thu?
Iy, q br plang krja ni.”
Kurespon.
“Ya iyalah, masa
1orang tmen gak thu aktvitas temennya sndri? Semangat ya!! Aktivis spt km it
mmg luar bysa!”
Lalu sms kami
mengalir sebagaimana mestinya.
“Ak bkan aktivis
kmpus lg kok mb...”
“Lho kok tmben?
Jadi dmn skg ladang juangmu?”
Aku mengira kini dia berbisnis dan
meninggalkan aktivitas perpolitikan kampus, karena ia pernah bercerita, dia
mengikuti suatu perusahaan bisnis, dan kutahu itu adalah semacam MLM.
Sebenarnya aku begitu khawatir tentang aktivitasnya itu, tapi kudengar dia
sudah ada di tingkat atas dalam bisnis itu, jadi aku diamkan. Namun jawabannya
di luar dugaanku.
“Ladang juangku
ada di cobaan yang hendak Allah ingin q mnylesaikannya saat ni...q pgn bgt crta
kisahku skg ma mb,tp q blm bs ktmu mb...”
“Cerita aja lah
skg. Shbt slu ad kpan pun, ya,,mski ak gak bs ksh solusi, ak bs jd pndgr yg
baik, yg mgkin bs meringankan bebanmu krn km bgi dg org lain.”
Agak lama
menunggu balasan darinya.
“maaf mb, q br
crta. Ud 4 bln ni q g aktif d UKM. Smw brmla saat ak krja sma dg 1org
distributor laptop. Q sng bs memasarkn laptop dlm jml yg bnyk. Tp akrny uang
pmbli dbwa kbur ma distributor it, n ak msti tnggung jwb, kl tdk, mja hjau yg
akn bcra. Smntr q g pny bkti bwt lapor. Jd mpe skg ak krj kras bwt blikinnya.”
Seketika air
mata tak dapat dibendung. 4 bulan? Dan baru sekarang aku tahu nasib yang
menimpa sahabatku? Aku meny
Lahkan diriku
atas ketidaktahuanku tersebut, tapi dia segera membalas lagi.
“Mb, jgn gt.
Hrusny q yg mt mf krn br crta. Ak g mau org lain kpkiran. Kluarga jg g q ksih
tau, tkut mnmbah beban. Q jg pny tantangan k2 mb, mgkn smster dpan ibu’ ud
nyerahin biaya spp ke q..”
“ak g th maw
ngmong ap. Bner, g ad yg bs ak perbwt slain doa bwt km. Yg sabar ya, km diuji
ALLAH dg cbaan bgtu bert, it krn Dia jg
bgt sayang pdmu. Sbr, prtlngan ALLAH it nyata.”
Mudah sekali aku
berbicara, sedang bagaimana mencari solusinya???????
“Iy mb, ak brsykr
dg ujian ni, krn tiap ksulitn akn mgjari makna hdup n kdwasaan. Ak ikhlas, wlau
nti hrus ad suatu hal yg phit mnyangkt kelangsungan kuliah q,stdknya ak ud prnh
mrsakan jd mhsiswa. Ah..akirnya q lega bs crt ma mb,,,”
“Hush,,,jgn
ngmong g, jgn pesimis sm hdup. Slu mt tlng pd ALLAH, ak ykin Dia akn mmbri
jalanbwt mu. “
“iy mb, km bnr.
G ad yg prlu dcemaskn krn smww it blm trjdi. Mlm ni mb, telah mnmbh ktguhan hti
q. Mksh shbtku...beban ni tlh brkrang krn q ud crt ma mb..”
Entah..kenapa
aku tak bisa berkata-kata lagi setelah itu.
Review
percakapan lewat sms kemarin malam itulah penyebab berderainya air mataku dini
hari ini. Ketika aku mencoba mengomunikasikannya dengan Sang Penguasa Hati.
Mencoba mengungkapkan, meski Dia jauh
lebih tahu. Sungguh aku tak tahu bagaimana cara membantu sahabatku itu, sedang
dalam hal finansial aku pun masih bergantung pada orang tuaku, yang aku tahu
juga kepayahan dalam mencukupi biaya kuliahku. Dan tak mungkin aku meminta pada
mereka. Sedangkan beasiswa? Beasiswa prestasi karena IP ku yang memenuhi
persyaratan sebagai kategori mahasiswa berprestasi yang aku ajukan pada pihak
universitas 1 bulan yang lalu pun belum ada kabarnya hingga kini. Ya Allah,
jika beasiswa itu bisa aku dapatkan mungkin akan bisa membantunya walau sedikit.
Ah..tapi aku tak ingin berharap pada sesuatu yang belum pasti. Lalu apa yang
bisa aku lakukan Ya Allah? Basah lagi mataku yang sempat mengering beberapa
saat.
Doa.
Ya, jawabannya adalah doa. Aku tahu seberapa besarnya kekuatan doa, dan itu
adalah hal sederhana yang bisa aku lakukan saat ini, selain menulis naskah yang
aku juga tak tahu apakah bisa dikomersialkan, karena aku begitu amatir dalam
dunia tulis-menulis. Tak apa, itu bukan suatu masalah, setidaknya aku telah
berusaha. Dan akhirnya hanya ini yang bisa kulakukan sahabatku, berdoa dari
sini agar kau selalu tegar, tawakal, dan kuat dengan ujian Allah ini.
Sesungguhnya Ia hanya ingin membuktikan imanmu, dan kau harus tetap di
jalan-Nya, memohon hanya pada-Nya, karena pertolongan-Nya amatlah dekat dan
nyata. Semangat!!! Kamu bisa melaluinya!!! Dari sini, doa dari jauh terlantun
untukmu setiap saat, setiap waktu dari sebuah ketulusan hati yang menyayangimu
karena-Nya, sahabatku.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar