Pendahuluan
Umar bin Khaththab dan Umar bin
Abdul Aziz adalah dua sosok Umar yang patut diteladani oleh umat, khususnya
dalam hal kepemimpinan. Kedua Umar ini dikenal sebagai sosok pemimpin yang
ideal setelah Nabi Muhammad SAW. Kedua Umar yang masih merupakan satu garis
keturunan tersebut dikenal sebagai
pemimpin yang adil dan amanah dalam menjalankan perannya sebagai khalifah. Umar
bin Abdul Aziz merupakan cicit dari Umar bin Khaththab, salah satu
khulafaurrasyidin atau khalifah kedua setelah Abu Bakar Asshiddiq. Dari garis
keturunan pemimpin yang agung dan mulia tersebut, lahirlah Umar bin Abdul Aziz
yang juga menjadi pemimpin yang agung dan mulia, selalu mementingkan rakyatnya
dibanding dirinya sendiri, sehingga pada masa pemerintahannya sangat sulit
ditemukan rakyat yang miskin. Karena itu, dalam masa pemerintahan yang sebentar
itu, Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya,
sehingga ketika beliau wafat maka tidak heran jika kepergiannya itu ditangisi
oleh rakyatnya.
Kepemimpinan Dua Umar
Umar bin Khaththab merupakan
khalifah kedua , yang digelari Al Faruq oleh Nabi Muhammad SAW, seorang penegak
dakwah yang dikenal berani dan ditakuti baik kawan maupun lawan. Umar berupaya
untuk merealisasikan misi Rasulullah untuk menjadikan Islam sebagai guru alam
semesta, sehingga langkah yang ditempuhnya dalam kekhalifahan adalah melakukan
ekspansi dan pembangunan. Karena itu apda zaman Umar, dakwah Islam meluas
sampai ke Jordania, Irak , Baitul Maqdis, Mesir, Persia dan lain-lain, melalui
tangan para panglima dan tentara Muslim yang berperang untuk Allah. Sebagai
khalifah, Umar memiliki peran penting dalam memberikan semangat kepada pasukan jihad dan selalu berpesan kepada
pasukan sebelum berperang, bahwa kemenangan umat Islam yang diberikan oleh
Allah adalah karena maksiat yang dilakukan musuh-musuhnya, sehingga Umar selalu berpesan agar pasukan Muslim
tidak bermaksiat karena hal tersebut akan sama artinya dengan pasukan musuh.
Hendaknya pasukan muslim senantiasa takut kepada Allah dan selalu bertakwa.
Melalui kepemimpinan Umar yang
meluaskan wilayah Islam tersebut, maka terbukalah peradaban Islam ke sebagian
penjuru dunia. Umar bukan hanya meluaskan wilayah, tapi juga membangun isinya.
Ia membangun perangkat politik yang sesuai dengan kondisi saat itu, yang
artinya perangkat politik serba baru yang bahkan tidak pernah ada di jaman
Rasulullah maupun Abu Bakar, seperti menciptakan pemerintahan, pembentukan departemen-departemen,
menciptakan pusat kas Negara (baitul mal), mengermbangkan system gaji untuk
kepala Negara agar bekerja focus tidak terganngu urusan pribadi , dan membuat
penanggalan Islam yang dimulai dari hijrah Rasulullah. Prinsip politik yang
dipegang Umar adalah syura, keadilan,
kesetaraan dan kebebasan. Di zaman ini, terdapat institusi kehakiman
yang independen dari intervensi siapa pun, sehingga semua diadili tanpa
diskriminasi status sosial.
Satu hal yang selalu menjadi
pegangan para sahabat Rasulullah dalam meneladaninya adalah prinsip syura
sebagaimana yang dilakukan Rasulullah pada waktu perang Uhud, Abu Bakar dan
Umar pun selalu memegang teguh prinsip syura, terutama dalam hal peralihan
kepemimpinan. Sehingga menjelang wafatnya, Umar menyerahkan kekhalifahan
berikutnya pada majelis syura.
Pasca zaman kekhalifahan yang
ditutup oleh Ali bin Abi thalib, kepemimpinan berada di tangan raja. Daulah
pertama yang ada saat itu adalah Daulah Umayyah yang puncak kemakmurannya ada
di tangan Umar bin Abdul Aziz, cicit dari Umar bin Khaththab. Pada masa ini Umar
membuat gebrakan yang besar dalam kepemimpinannya. Institus syura dijunjung
tinggi, keadilan tercipta bersamaan dengan kesejahteraan, karena tidak ada
seorang pun yang miskin pada saat itu, dan raja tersebut memiliki gaya hidup
yang berbeda dengan gaya raja kebanyakan, ia sangat hidup sederhana bersama
keluarganya, bahkan satu-satunya kalung yang dimiliki istrinya ia masukkan ke
baitul mal. Umar tidak pernah menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan
pribadi, bahkan sekedar untuk mengobrol dengan istrinya ia tidak mau memakai
lampu penerangan milik Negara.
Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin
yang dipercaya oleh rakyatnya sejak pertama kali ia diangkat menjadi pemimpin,
meskipun pada awalnya Umar dijadikan pemimpin melaui proses penetapan. Oleh
karena itu, ia merasa tak nyaman dengan kondisi saat itu, dan mengembalikan
kepemimpinan tersebut, namun ternyata rakyat tetap memilihnya menjadi pemimpin.
Sehingga saat menjadi pemimpin, ia benar-benar menggunakan kepercayaan yang
diberikan rakyat untuk memakmurkan rakyat, dan bukan untuk memakmurkan diri
sendiri dan keluarga. Amanah dalam kepemimpinan, sehingga masa pemerintahan
yang hanya 3 tahun tersebut telah menjadikan kondisi Negara yang stabil, damai,
makmur dan sejahtera.
Penutup
Kunci keberhasilan kepemimpinan
kedua Umar adalah Al-Qur’an dan hadist. Meski[un kedua Umar adalah sosok
pemimpin yang inovatif dan memiliki gebrakan-gebrakan baru dalam kepemimpinan,
keduanya selalu berpegang teguh pada syariat, dan tidak pernah mengurangi
maupun meniadakan syariat dalam urusan pemerintahan. Menjadi pemimpin adalah
amanah dari Allah SWT, oleh karena itu kedua Umar selalu menjaga amanah
tersebut dengan berlaku yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin. Mindset
keduanya adalah Allah dan bukan urusan dunia semata. Sehingga, ketika kita
lihat realita saat ini, di Indonesia terutama, belum pernah ada pemimpin yang
memiliki mindset kedua Umar, yang selalu mementingkan rakyatnya. Pemimpin yang
ada saat ini tidak lebih dari sekedar politisi yang bersikap manis saat
kampanye dan memperkaya diri sendiri ketika terpilih menjadi pemimpin. Pemimpin
saat ini tidak pernah berorientasi untuk melayani rakyat, melainkan selalu
ingin dilayani rakyat. Terlepas dari semua itu, pemimpin saat ini tidak
memiliki keseimbangan antara ukhrawi dan duniawi. Pemimpin kini mengejar
kesenangan duniawi semata. Namun, kedua Umar adalah sosok pemimpin ideal, yang
memiliki keseimbangan antara dunia dan akherat. Selalu takut pada Allah,
sehingga menjalankan hukum-NYA dengan sebaik-baiknya. Kedua Umar adalah teladan
yang nyata bagi calon pemimpin-pemimpin muda Muslim untuk melakukan reformasi
yang berdasarkan syariat Al-Qur’an dan hadist, serta memperhatikan konsep
keseimbangan atau tawadzun.
Sumber Inspirasi:
-
Jalan
Cinta Para Pejuang- Ust. Salim A Fillah
-
Inilah
Politikku- Muhammad Elvandi
ditulis oleh:
Mifta Damai Riyaningtyas/ Ilmu
Administrasi Negara UNY/Fakultas Ilmu Sosial/ 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar