Selasa, 11 September 2012

SEKILAS REKAM JEJAK KEPEMIMPINAN DUA UMAR (UMAR BIN KHATHTHAB & UMAR BIN ABDUL AZIZ )


Pendahuluan
Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz adalah dua sosok Umar yang patut diteladani oleh umat, khususnya dalam hal kepemimpinan. Kedua Umar ini dikenal sebagai sosok pemimpin yang ideal setelah Nabi Muhammad SAW. Kedua Umar yang masih merupakan satu garis keturunan tersebut  dikenal sebagai pemimpin yang adil dan amanah dalam menjalankan perannya sebagai khalifah. Umar bin Abdul Aziz merupakan cicit dari Umar bin Khaththab, salah satu khulafaurrasyidin atau khalifah kedua setelah Abu Bakar Asshiddiq. Dari garis keturunan pemimpin yang agung dan mulia tersebut, lahirlah Umar bin Abdul Aziz yang juga menjadi pemimpin yang agung dan mulia, selalu mementingkan rakyatnya dibanding dirinya sendiri, sehingga pada masa pemerintahannya sangat sulit ditemukan rakyat yang miskin. Karena itu, dalam masa pemerintahan yang sebentar itu, Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya, sehingga ketika beliau wafat maka tidak heran jika kepergiannya itu ditangisi oleh rakyatnya.
Kepemimpinan Dua Umar
Umar bin Khaththab merupakan khalifah kedua , yang digelari Al Faruq oleh Nabi Muhammad SAW, seorang penegak dakwah yang dikenal berani dan ditakuti baik kawan maupun lawan. Umar berupaya untuk merealisasikan misi Rasulullah untuk menjadikan Islam sebagai guru alam semesta, sehingga langkah yang ditempuhnya dalam kekhalifahan adalah melakukan ekspansi dan pembangunan. Karena itu apda zaman Umar, dakwah Islam meluas sampai ke Jordania, Irak , Baitul Maqdis, Mesir, Persia dan lain-lain, melalui tangan para panglima dan tentara Muslim yang berperang untuk Allah. Sebagai khalifah, Umar memiliki peran penting dalam memberikan semangat kepada  pasukan jihad dan selalu berpesan kepada pasukan sebelum berperang, bahwa kemenangan umat Islam yang diberikan oleh Allah adalah karena maksiat yang dilakukan musuh-musuhnya, sehingga  Umar selalu berpesan agar pasukan Muslim tidak bermaksiat karena hal tersebut akan sama artinya dengan pasukan musuh. Hendaknya pasukan muslim senantiasa takut kepada Allah dan selalu bertakwa.
Melalui kepemimpinan Umar yang meluaskan wilayah Islam tersebut, maka terbukalah peradaban Islam ke sebagian penjuru dunia. Umar bukan hanya meluaskan wilayah, tapi juga membangun isinya. Ia membangun perangkat politik yang sesuai dengan kondisi saat itu, yang artinya perangkat politik serba baru yang bahkan tidak pernah ada di jaman Rasulullah maupun Abu Bakar, seperti menciptakan pemerintahan, pembentukan departemen-departemen, menciptakan pusat kas Negara (baitul mal), mengermbangkan system gaji untuk kepala Negara agar bekerja focus tidak terganngu urusan pribadi , dan membuat penanggalan Islam yang dimulai dari hijrah Rasulullah. Prinsip politik yang dipegang Umar adalah syura, keadilan,  kesetaraan dan kebebasan. Di zaman ini, terdapat institusi kehakiman yang independen dari intervensi siapa pun, sehingga semua diadili tanpa diskriminasi status sosial.
Satu hal yang selalu menjadi pegangan para sahabat Rasulullah dalam meneladaninya adalah prinsip syura sebagaimana yang dilakukan Rasulullah pada waktu perang Uhud, Abu Bakar dan Umar pun selalu memegang teguh prinsip syura, terutama dalam hal peralihan kepemimpinan. Sehingga menjelang wafatnya, Umar menyerahkan kekhalifahan berikutnya pada majelis syura.
Pasca zaman kekhalifahan yang ditutup oleh Ali bin Abi thalib, kepemimpinan berada di tangan raja. Daulah pertama yang ada saat itu adalah Daulah Umayyah yang puncak kemakmurannya ada di tangan Umar bin Abdul Aziz, cicit dari Umar bin Khaththab. Pada masa ini Umar membuat gebrakan yang besar dalam kepemimpinannya. Institus syura dijunjung tinggi, keadilan tercipta bersamaan dengan kesejahteraan, karena tidak ada seorang pun yang miskin pada saat itu, dan raja tersebut memiliki gaya hidup yang berbeda dengan gaya raja kebanyakan, ia sangat hidup sederhana bersama keluarganya, bahkan satu-satunya kalung yang dimiliki istrinya ia masukkan ke baitul mal. Umar tidak pernah menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi, bahkan sekedar untuk mengobrol dengan istrinya ia tidak mau memakai lampu penerangan milik Negara.
Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang dipercaya oleh rakyatnya sejak pertama kali ia diangkat menjadi pemimpin, meskipun pada awalnya Umar dijadikan pemimpin melaui proses penetapan. Oleh karena itu, ia merasa tak nyaman dengan kondisi saat itu, dan mengembalikan kepemimpinan tersebut, namun ternyata rakyat tetap memilihnya menjadi pemimpin. Sehingga saat menjadi pemimpin, ia benar-benar menggunakan kepercayaan yang diberikan rakyat untuk memakmurkan rakyat, dan bukan untuk memakmurkan diri sendiri dan keluarga. Amanah dalam kepemimpinan, sehingga masa pemerintahan yang hanya 3 tahun tersebut telah menjadikan kondisi Negara yang stabil, damai, makmur dan sejahtera.
Penutup
Kunci keberhasilan kepemimpinan kedua Umar adalah Al-Qur’an dan hadist. Meski[un kedua Umar adalah sosok pemimpin yang inovatif dan memiliki gebrakan-gebrakan baru dalam kepemimpinan, keduanya selalu berpegang teguh pada syariat, dan tidak pernah mengurangi maupun meniadakan syariat dalam urusan pemerintahan. Menjadi pemimpin adalah amanah dari Allah SWT, oleh karena itu kedua Umar selalu menjaga amanah tersebut dengan berlaku yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin. Mindset keduanya adalah Allah dan bukan urusan dunia semata. Sehingga, ketika kita lihat realita saat ini, di Indonesia terutama, belum pernah ada pemimpin yang memiliki mindset kedua Umar, yang selalu mementingkan rakyatnya. Pemimpin yang ada saat ini tidak lebih dari sekedar politisi yang bersikap manis saat kampanye dan memperkaya diri sendiri ketika terpilih menjadi pemimpin. Pemimpin saat ini tidak pernah berorientasi untuk melayani rakyat, melainkan selalu ingin dilayani rakyat. Terlepas dari semua itu, pemimpin saat ini tidak memiliki keseimbangan antara ukhrawi dan duniawi. Pemimpin kini mengejar kesenangan duniawi semata. Namun, kedua Umar adalah sosok pemimpin ideal, yang memiliki keseimbangan antara dunia dan akherat. Selalu takut pada Allah, sehingga menjalankan hukum-NYA dengan sebaik-baiknya. Kedua Umar adalah teladan yang nyata bagi calon pemimpin-pemimpin muda Muslim untuk melakukan reformasi yang berdasarkan syariat Al-Qur’an dan hadist, serta memperhatikan konsep keseimbangan atau tawadzun.
Sumber Inspirasi:
-          Jalan Cinta Para Pejuang- Ust. Salim A Fillah
-          Inilah Politikku- Muhammad Elvandi
ditulis oleh:
Mifta Damai Riyaningtyas/ Ilmu Administrasi Negara UNY/Fakultas Ilmu Sosial/ 2009

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...