“Fa, sekarang pake’ jilbab ya? Selamat ya...moga-moga tetep
istiqomah ya Fa...” kata Andi, temen terbaik Latifah yang pintar dan pengertian,
ketika mereka bertemu pertama kalinya di sekolah mereka yang baru .
“Amien,,,Ndi,, doain aja ya,,,” kata Latifah.
Kata orang, masa abu-abu putih adalah
masa-masa indah yang tak kan pernah terulang untuk kedua kalinya. Masa-masa
yang sayang untuk dilewati begitu saja, karena puncak segala asa ada saat SMA.
Masa-masa remaja yang penuh dengan dilema dalam segala kehidupan. Tapi justru,
ketika teman-teman remaja wanita lainnya yang mulai suka merias diri agar
terlihat cantik dari segi fisik, Latifah memutuskan untuk berjilbab. Ia
sebenarnya tidak begitu peduli dengan respon orang-orang di sekitarnya nanti.
Ia hanya ingin memperbaiki dirinya. Okelah, dulu waktu SMP Latifah memang siswa
yang aktif dalam segala kegiatan, baik itu dalam prestasi akademik maupun
organisasi, sehingga ia punya banyak teman dan beberapa sahabat dekat, bukan
hanya sesama perempuan, tapi juga sahabat laki-laki. Sejauh ini, respon sahabat
pada penampilan barunya terkesan mendukung, terutama Andi. Tapi ia belum tahu,
bagaimana respon Arwin, karena mereka beda SMA.Ya, Pilihan pertama yang diambil Latifah, suatu
pilihan yang menurut orang lain akan membatasi ruang geraknya, yang kata orang
bisa mengurangi kecantikannya, dan yang
dulunya juga sempat menjadi perdebatan dengan mamanya.
“Kamu yakin Fa? Apa kamu gak pingin kaya temen-temen lain yang
gaul dan modis di SMA?” tanya mama Latifah.
“InsyaALLAH Ma, habis kapan lagi Fa bisa berjilbab?”
“Ya, kan bisa nanti kalau kamu udah bener-bener siap. Jilbab
itu bukan main-main Fa, tingkah kamu aja belum bener gini, kok udah mau pake
jilbab. Salah-salah, kamu malah bikin sesuatu yang bisa merusak image orang
berjilbab..” serbu mamanya lagi.
“Yah,,,,Mama,,,siap atau gak siap kan sebenernya wanita itu
kan emang wajib berjilbab kan? Fa tahu Ma..sikap Fa emang belum bisa
dikategorikan sempurna sebagai muslim, jauh malah. Tapi Fa punya keinginan Ma,
untuk jadi lebih baik dari diri Fa yang dulu. Mungkin dengan berjilbab nanti,
seiring dengan waktu Fa bisa bersikap lebih baik kan?”
“Tapi, nanti jangan-jangan kamu gak bisa menikmati masa muda
kamu, apalagi kamu kan baru masuk SMA?”
“Kata siapa Ma? Fa yakin, masa-masa SMA akan tetap indah buat
Fa...”
“Ya udahlah terserah kamu Fa,,,yang penting kamu konsekuen ya,
dengan pilihan itu...” akhirnya Mama menyerah pada anak semata wayangnya itu.
Begitulah,
akhirnya Latifah mengenakan jilbab di sekolah. Kerudung tepatnya, karena
Latifah memulainya dengan menggunakan jilbab yang tidak selalu lebar, namun ia
berusaha agar kain yang dikenakannya itu dapat menutupi dada. Tapi kesadarannya
untuk mulai menutup aurat itulah yang layak dipuji saat ini.
Di kelas baru bersama teman baru....
“Fa, emang gak gerah ya pake jilbab kaya gitu? Cuacanya panas
banget tahu’...” kata Ardhia sambil mengipasi dirinya dengan buku yang ia bawa.
“Yah,,,masih panasan di neraka kali...” jawab Latifah.
“What? Jadi udah pernah ke neraka Fa?”
“Hehe,,, amit-amit lah Ar,,,siapa juga yang mau ke
neraka,mampir aja ogah...nggak lah. Jadi gini, emang gerah sih, apalagi karena
aku juga baru make’nya. Tapi nanti kalau udah biasa ya nggak akan terasa
gerahnya..” jelas Latifah.
Tiba-tiba...
“Halo...neng-neng
geulis...kenalan yuk?” sapa seorang anak laki-laki yang terlihat paling modis
style-nya.
“Aku Richo..” lanjutnya sambil menyodorkan tangannya ke arah
Ardhia, bermaksud bersalaman.
“Hai...aku Ardhia..” sambut Ardhia sambil menjabat tangan
Richo.
Dan Richo beralih, hendak bersalaman dengan Latifah, namun
Latifah menangkupkan kedua tanganny di depan dada, sambil tersenyum, “ Hai, aku
Latifah, panggil aja Fa..”
Richo tercengang, karena jabatan tangannya tak disambut,
buru-buru ia menarik tangannya, lalu berusaha menguasai keadaan lagi.
“Ehm,,,oh ya Ar, Fa, kenalin, mereka juga teman sekelas kita,
yang ini Arga dan yang ini Reyhan...” kata Richo lagi. Arga menyalami Ardhia
dan tersenyum pada Latifah, seperti yang dilakukan Richo tadi. Sedangkan Reyhan
hanya menyunggingkan senyum pada keduanya.
“Eh, udah pada nyobain soto-nya ibu kantin belum? Kata
kakakku, soto di sana terkenal banget, murah tapi enaknya,,,,ehm...puooolll...”
kata Arga.
“Wah, kebetulan kita belum makan ya Ar,,,,” sambut Latifah
antusias.
“Kalau gitu, kita bareng-bareng aja ke kantin...yuk...” ajak
Richo. Dan mereka semua menanggapi ajakan Richo itu dengan semangat.
Itulah awal persahabatan baru di sekolah baru.
*_*
Keesokan harinya,,,,,
“Eh,,bro. Aku heran sih sama si Fa. Sebenernya orangnya sih
asyik, lucu lagi..tapi kenapa ya dia sombong juga..” kata Arga memulai
pembicaraan.
“Maksud kamu apa Ga?” tanya Richo.
“Ehm,,,aku paham deh. Kamu pasti mau bilang Fa sombong karena
gak mau salaman ma kita kemarin. Iya kan?”
kata Reyhan.
“Sip..bener banget sob...” timpal Arga.
“Ya, itu kan prinsip dia Ga. Dan kita harus menghormati, toh
kita juga gak terganggu dengan prinsip yang dia yakini kan?” kata Richo.
“Tumben, ngobrol bijak Cho. Habis makan apa kamu?” kata Arga
lagi.
Reyhan tersenyum, mendengar celoteh 2 sahabatnya yang ia kenal
sejak SD, bahkan mereka selalu satu kelas sampai sekolah di SMA, hingga
ketiganya sudah saling mengenal dengan baik, layaknya saudara.
“Tanya, Reyhan aja tuh, kalau gak mantap sama jawabanku..,”
komentar Richo.
Reyhan tersenyum lagi. “ Iya, bener apa yang diaktakan Richo,
lagian emang kita kan gak boleh bersentuhan dengan lain jenis yang bukan muhrim.
Harusnya kita beri dia high appreciation
dengan tindakannya yang berani itu, di tengah zaman gak waras ini. Coba lihat aja,
cewek-cewek sekarang ini malah suka buka-bukaan terus melakukan hal-hal di luar
batas, yang menurutku itu merendahkan harga diri mereka sebagai perempuan. Nah,
teman kita si Fa itu kan udah berani mengambil keputusan, yang aku rasa juga
keputusan yang besar, untuk berjilbab dan untuk membatasi pergaulannya dengan
lain jenis. Langka lho cewek kaya dia...”
“Kamu kira dia badak apa? Pake’ istilah langka segala. Perlu
dibawa ke suaka margasatwa kali ya?” celetuk Arga.
“Eh,,gak sopan. Udahlah, kenapa jadi ngomongin orang gini? Gak
baik ah..” kata Reyhan.
“Bener itu...yok kita keliling sekolah aja, biar tambah
wawasan...sambil cuci mata..hehe..” ajakan Richo mengakhiri percakapan mereka
tentang Latifah.
*_*
Sementara itu, Latifah menerima sms dari Arwin.
“Fa, ktemuan yuk ma genk 66.”
Latifah menjawab sms itu.
“Ok. Kpn,dmn?”
Balasan dari Arwin.
“Minggu ini jam 10, di warung lesehan langganan kita aj.”
“Ok. Km ksh th Nadia ma Risa, ak kash th Andi..”
“Yupz,,,c u soon”
Hari Minggu yang dinanti pun tiba. Latifah sudah memberitahu
Andi, mereka pun berkumpul di tempat
yang sudah ditentukan. Latifah agak gelisah sebenarnya, karena akan berjumpa
dengan Arwin. Bukan karena apa-apa, tapi ia takut Arwin tidak bisa menerima
perubahan dirinya. Arwin ia kenal sebagai sosok yang keras kepala dan kukuh
pada pendiriannya. Kegelisahan Latifah pada Arwin, begitu beralasan, karena
dulu ketika SMP, ia begitu dekat dengan
Arwin.
Ketika Latifah
memutuskan untuk berjilbab, ia tidak memberi tahu Arwin, karena hal itu ia
anggap sebagai hal yang menyangkut pribadinya sendiri.
“Kenapa Fa?” tanya Andi, yang menangkap gelagat aneh Latifah.
“Ah,,nggak kok,,,”sahutnya, tapi dalam hati ia berkata, “ Kamu
terlalu peka pada kondisiku Ndi..”
Akhirnya, Arwin datang juga. seperti dulu, ia masih murah
senyum. Begitu bertemu dengan teman-temannya, ia menyalami semua temannya,
terkecuali Latifah. Apa yang terjadi pada Richo beberapa waktu lalu, terjadi
juga padanya. Bahkan ia terlihat lebih terkejut, karena itu Arwin terpaku menatap
Latifah, namun Latifah segera menundukkan wajahnya. Senyum di wajah Arwin sirna.
“Ya Allah, pada-Mu, aku berserah diri. Jika Arwin tidak bisa
menghargai keputusanku, semua itu adalah ujian yang Kau berikan untukku dan aku
yakin bisa melaluinya, selama Engkau bersamaku. Cinta dari-Mu lebih berharga
dari apa pun di dunia ini, dan aku ingin mencintai-Mu melebihi apa pun yang aku
anggap berharga di dunia ini. Jangan bolak-balikkan hatiku..” kata Latifah
dalam hati.
Dan benar saja, ia merasa Arwin begitu acuh tak acuh padanya,
namun ketika bercanda dengan teman lain Arwin begitu lepas. Latifah jadi merasa
tersingkir secara tidak langsung.
Malamnya...
Arwin mengirim sms untuk Latifah...
“Km berubah..”
Latifah sudah menduga.
“Ak th km bkal berpkir sprti itu.
Tp bukankah perubahanku
it adl hal pstf?”
“Pstif katamu? Km sdh mncptkan jarak dgn ak, tdk mau memndang
aplgi bersalaman. Hal pstf ap yg km mksd?”
“Ak tak brmksd mnciptkn jrak. Sungguh. Ak hnya mrsa hrus melakukan ap yg shrusnya dr
dlu ak lkukan sbg 1org muslim.”
“Tp, km bda. Bkan lg Fa yg ak kenal dlu.”
“Ak gak maksa km bwt mnrima kptsan ini. Tp ak harap km bs
mghrgai ak, stidaknya sbg temanmu. Ak hnya ingin perbaikan,cinta dri-Nya. N 1
hal yg hrs km th, bgaimana pun perubhan ku, ak ttp tmenmu yg dlu.”
Sms berakhir, dan benar-benar berakhir sampai di situ. Karena
selama SMA tidak pernah Arwin menghubungi Latifah lagi.
Pilihan kedua Latifah.
“Jika ini yang bisa kulakukan untuk meraih cinta-Mu, mengapa
harus bersedih? Aku yakin, suatu saat dia bisa mengerti pilihanku, Ya
Rabb.....”
*_*
Tak terasa waktu bergulir, masa-masa abu-abu putih berakhir.
Latifah pun sudah lupa dengan kejadian itu, karena ia segera mengisi
hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat di bidang akademik, organisasi dan
juga dalam hal agama. Ia ingin membuktikan bahwa dengan berjilbab, ia tidak
akan terbatasi, bahkan bisa lebih berprestasi. Ia juga akrab dengan banyak
teman dan sahabat baru,hingga dia merasa begitu kehilangan ketika harus
berpisah dengan teman-temannya itu untuk melanjutkan kuliah di kota-kota yang
berbeda.
Di hari terakhir pertemuannya dengan teman-temannya di
sekolah, ia begitu terkejut, karena menerima sms dari orang yang tak
disangkanya akan mengirim sms lagi. Sms yang cukup panjang.
“Fa, maafkan ak, yg trlalu naif menilai drimu dlu. Ak slah.
Tak sepatutny,ak mghalangi se2org yg ingn dkat dgn Tuhan. Tak sepatutny ak mrah
pdmu. It smua trjd krn ak tkt khilanganmu. Entah mgp,ak tak thu. Ah...tak
sepntasnya ak pny perasaan lbh pdamu. Tp darimu ak bljar,bhw trnyta ak trlalu
jauh dgn Rabb ku, hingga hatiku buta. Skrg, ak sdng bljar mgnal-Nya, brusha
dkat dgn-Nya, ingin mendpt cinta-Nya. Hnya sja, ak masih brhrap, suatu saat kt
bsa dkat kmbali, dlm kpntasan yg diperbolehkan-Nya,saat wktunya tba.”
“3 tahun waktu yang lama Ar, dan selama ini aku tetap
menganggapmu sebagai sahabat. Aku senang, kamu berusaha dekat dengan-Nya. Dan
saat itulah kamu akan merasakan cinta yang sebenarnya.” Latifah berkata dalam
hati.
Ia tersenyum, melangkahkan kaki ke kampus pilihannya...begitu
banyak pilihan yang harus diambil dalam hidup. Dan pilihan yang diridhoi-Nya,
akan diridhoi pula oleh semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar