Selasa, 11 September 2012

PILIHAN LATIFAH


“Fa, sekarang pake’ jilbab ya? Selamat ya...moga-moga tetep istiqomah ya Fa...” kata Andi, temen terbaik Latifah yang pintar dan pengertian, ketika mereka bertemu pertama kalinya di sekolah mereka yang baru .
“Amien,,,Ndi,, doain aja ya,,,” kata Latifah.
Kata orang, masa abu-abu putih adalah masa-masa indah yang tak kan pernah terulang untuk kedua kalinya. Masa-masa yang sayang untuk dilewati begitu saja, karena puncak segala asa ada saat SMA. Masa-masa remaja yang penuh dengan dilema dalam segala kehidupan. Tapi justru, ketika teman-teman remaja wanita lainnya yang mulai suka merias diri agar terlihat cantik dari segi fisik, Latifah memutuskan untuk berjilbab. Ia sebenarnya tidak begitu peduli dengan respon orang-orang di sekitarnya nanti. Ia hanya ingin memperbaiki dirinya. Okelah, dulu waktu SMP Latifah memang siswa yang aktif dalam segala kegiatan, baik itu dalam prestasi akademik maupun organisasi, sehingga ia punya banyak teman dan beberapa sahabat dekat, bukan hanya sesama perempuan, tapi juga sahabat laki-laki. Sejauh ini, respon sahabat pada penampilan barunya terkesan mendukung, terutama Andi. Tapi ia belum tahu, bagaimana respon Arwin, karena mereka beda SMA.Ya,  Pilihan pertama yang diambil Latifah, suatu pilihan yang menurut orang lain akan membatasi ruang geraknya, yang kata orang bisa mengurangi kecantikannya, dan  yang dulunya juga sempat menjadi perdebatan dengan mamanya.
“Kamu yakin Fa? Apa kamu gak pingin kaya temen-temen lain yang gaul dan modis di SMA?” tanya mama Latifah.
“InsyaALLAH Ma, habis kapan lagi Fa bisa berjilbab?”
“Ya, kan bisa nanti kalau kamu udah bener-bener siap. Jilbab itu bukan main-main Fa, tingkah kamu aja belum bener gini, kok udah mau pake jilbab. Salah-salah, kamu malah bikin sesuatu yang bisa merusak image orang berjilbab..” serbu mamanya lagi.
“Yah,,,,Mama,,,siap atau gak siap kan sebenernya wanita itu kan emang wajib berjilbab kan? Fa tahu Ma..sikap Fa emang belum bisa dikategorikan sempurna sebagai muslim, jauh malah. Tapi Fa punya keinginan Ma, untuk jadi lebih baik dari diri Fa yang dulu. Mungkin dengan berjilbab nanti, seiring dengan waktu Fa bisa bersikap lebih baik kan?”
“Tapi, nanti jangan-jangan kamu gak bisa menikmati masa muda kamu, apalagi kamu kan baru masuk SMA?”
“Kata siapa Ma? Fa yakin, masa-masa SMA akan tetap indah buat Fa...”
“Ya udahlah terserah kamu Fa,,,yang penting kamu konsekuen ya, dengan pilihan itu...” akhirnya Mama menyerah pada anak semata wayangnya itu.
Begitulah,  akhirnya Latifah mengenakan jilbab di sekolah. Kerudung tepatnya, karena Latifah memulainya dengan menggunakan jilbab yang tidak selalu lebar, namun ia berusaha agar kain yang dikenakannya itu dapat menutupi dada. Tapi kesadarannya untuk mulai menutup aurat itulah yang layak dipuji saat ini.
Di kelas baru bersama teman baru....
“Fa, emang gak gerah ya pake jilbab kaya gitu? Cuacanya panas banget tahu’...” kata Ardhia sambil mengipasi dirinya dengan buku yang ia bawa.
“Yah,,,masih panasan di neraka kali...”  jawab Latifah.
“What? Jadi udah pernah ke neraka Fa?”
“Hehe,,, amit-amit lah Ar,,,siapa juga yang mau ke neraka,mampir aja ogah...nggak lah. Jadi gini, emang gerah sih, apalagi karena aku juga baru make’nya. Tapi nanti kalau udah biasa ya nggak akan terasa gerahnya..” jelas Latifah.
Tiba-tiba...
 “Halo...neng-neng geulis...kenalan yuk?” sapa seorang anak laki-laki yang terlihat paling modis style-nya.
“Aku Richo..” lanjutnya sambil menyodorkan tangannya ke arah Ardhia, bermaksud bersalaman.
“Hai...aku Ardhia..” sambut Ardhia sambil menjabat tangan Richo.
Dan Richo beralih, hendak bersalaman dengan Latifah, namun Latifah menangkupkan kedua tanganny di depan dada, sambil tersenyum, “ Hai, aku Latifah, panggil aja Fa..”
Richo tercengang, karena jabatan tangannya tak disambut, buru-buru ia menarik tangannya, lalu berusaha menguasai keadaan lagi.
“Ehm,,,oh ya Ar, Fa, kenalin, mereka juga teman sekelas kita, yang ini Arga dan yang ini Reyhan...” kata Richo lagi. Arga menyalami Ardhia dan tersenyum pada Latifah, seperti yang dilakukan Richo tadi. Sedangkan Reyhan hanya menyunggingkan senyum pada keduanya.
“Eh, udah pada nyobain soto-nya ibu kantin belum? Kata kakakku, soto di sana terkenal banget, murah tapi enaknya,,,,ehm...puooolll...” kata Arga.
“Wah, kebetulan kita belum makan ya Ar,,,,” sambut Latifah antusias.
“Kalau gitu, kita bareng-bareng aja ke kantin...yuk...” ajak Richo. Dan mereka semua menanggapi ajakan Richo itu dengan semangat.
Itulah awal persahabatan baru di sekolah baru.
*_*
Keesokan harinya,,,,,
“Eh,,bro. Aku heran sih sama si Fa. Sebenernya orangnya sih asyik, lucu lagi..tapi kenapa ya dia sombong juga..” kata Arga memulai pembicaraan.
“Maksud kamu apa Ga?” tanya Richo.
“Ehm,,,aku paham deh. Kamu pasti mau bilang Fa sombong karena gak mau salaman ma kita kemarin. Iya kan?”  kata Reyhan.
“Sip..bener banget sob...” timpal Arga.
“Ya, itu kan prinsip dia Ga. Dan kita harus menghormati, toh kita juga gak terganggu dengan prinsip yang dia yakini kan?” kata Richo.
“Tumben, ngobrol bijak Cho. Habis makan apa kamu?” kata Arga lagi.
Reyhan tersenyum, mendengar celoteh 2 sahabatnya yang ia kenal sejak SD, bahkan mereka selalu satu kelas sampai sekolah di SMA, hingga ketiganya sudah saling mengenal dengan baik, layaknya saudara.
“Tanya, Reyhan aja tuh, kalau gak mantap sama jawabanku..,” komentar Richo.
Reyhan tersenyum lagi. “ Iya, bener apa yang diaktakan Richo, lagian emang kita kan gak boleh bersentuhan dengan lain jenis yang bukan muhrim. Harusnya kita beri dia  high appreciation dengan tindakannya yang berani itu, di tengah zaman gak waras ini. Coba lihat aja, cewek-cewek sekarang ini malah suka buka-bukaan terus melakukan hal-hal di luar batas, yang menurutku itu merendahkan harga diri mereka sebagai perempuan. Nah, teman kita si Fa itu kan udah berani mengambil keputusan, yang aku rasa juga keputusan yang besar, untuk berjilbab dan untuk membatasi pergaulannya dengan lain jenis. Langka lho cewek kaya dia...”
“Kamu kira dia badak apa? Pake’ istilah langka segala. Perlu dibawa ke suaka margasatwa kali ya?” celetuk Arga.
“Eh,,gak sopan. Udahlah, kenapa jadi ngomongin orang gini? Gak baik ah..” kata Reyhan.
“Bener itu...yok kita keliling sekolah aja, biar tambah wawasan...sambil cuci mata..hehe..” ajakan Richo mengakhiri percakapan mereka tentang Latifah.
*_*
Sementara itu, Latifah menerima sms dari Arwin.
“Fa, ktemuan yuk ma genk 66.”
Latifah menjawab sms itu.
“Ok. Kpn,dmn?”
Balasan dari Arwin.
“Minggu ini jam 10, di warung lesehan langganan kita aj.”
“Ok. Km ksh th Nadia ma Risa, ak kash th Andi..”
“Yupz,,,c u soon”
Hari Minggu yang dinanti pun tiba. Latifah sudah memberitahu Andi, mereka pun berkumpul  di tempat yang sudah ditentukan. Latifah agak gelisah sebenarnya, karena akan berjumpa dengan Arwin. Bukan karena apa-apa, tapi ia takut Arwin tidak bisa menerima perubahan dirinya. Arwin ia kenal sebagai sosok yang keras kepala dan kukuh pada pendiriannya. Kegelisahan Latifah pada Arwin, begitu beralasan, karena dulu ketika  SMP, ia begitu dekat dengan Arwin. Ketika Latifah memutuskan untuk berjilbab, ia tidak memberi tahu Arwin, karena hal itu ia anggap sebagai hal yang menyangkut pribadinya sendiri.
“Kenapa Fa?” tanya Andi, yang menangkap gelagat aneh Latifah.
“Ah,,nggak kok,,,”sahutnya, tapi dalam hati ia berkata, “ Kamu terlalu peka pada kondisiku Ndi..”
Akhirnya, Arwin datang juga. seperti dulu, ia masih murah senyum. Begitu bertemu dengan teman-temannya, ia menyalami semua temannya, terkecuali Latifah. Apa yang terjadi pada Richo beberapa waktu lalu, terjadi juga padanya. Bahkan ia terlihat lebih terkejut, karena itu Arwin terpaku menatap Latifah, namun Latifah segera menundukkan wajahnya.  Senyum di wajah Arwin sirna.
“Ya Allah, pada-Mu, aku berserah diri. Jika Arwin tidak bisa menghargai keputusanku, semua itu adalah ujian yang Kau berikan untukku dan aku yakin bisa melaluinya, selama Engkau bersamaku. Cinta dari-Mu lebih berharga dari apa pun di dunia ini, dan aku ingin mencintai-Mu melebihi apa pun yang aku anggap berharga di dunia ini. Jangan bolak-balikkan hatiku..” kata Latifah dalam hati.
Dan benar saja, ia merasa Arwin begitu acuh tak acuh padanya, namun ketika bercanda dengan teman lain Arwin begitu lepas. Latifah jadi merasa tersingkir secara tidak langsung.
Malamnya...
Arwin mengirim sms untuk Latifah...
“Km berubah..”
Latifah sudah menduga.
“Ak th km bkal berpkir sprti itu.
 Tp bukankah perubahanku it adl hal pstf?”
“Pstif katamu? Km sdh mncptkan jarak dgn ak, tdk mau memndang aplgi bersalaman. Hal pstf ap yg km mksd?”
“Ak tak brmksd mnciptkn jrak. Sungguh.  Ak hnya mrsa hrus melakukan ap yg shrusnya dr dlu ak lkukan sbg 1org muslim.”
“Tp, km bda. Bkan lg Fa yg ak kenal dlu.”
“Ak gak maksa km bwt mnrima kptsan ini. Tp ak harap km bs mghrgai ak, stidaknya sbg temanmu. Ak hnya ingin perbaikan,cinta dri-Nya. N 1 hal yg hrs km th, bgaimana pun perubhan ku, ak ttp tmenmu yg dlu.”
Sms berakhir, dan benar-benar berakhir sampai di situ. Karena selama SMA tidak pernah Arwin menghubungi Latifah lagi.
Pilihan kedua Latifah.
“Jika ini yang bisa kulakukan untuk meraih cinta-Mu, mengapa harus bersedih? Aku yakin, suatu saat dia bisa mengerti pilihanku, Ya Rabb.....”
*_*
Tak terasa waktu bergulir, masa-masa abu-abu putih berakhir. Latifah pun sudah lupa dengan kejadian itu, karena ia segera mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat di bidang akademik, organisasi dan juga dalam hal agama. Ia ingin membuktikan bahwa dengan berjilbab, ia tidak akan terbatasi, bahkan bisa lebih berprestasi. Ia juga akrab dengan banyak teman dan sahabat baru,hingga dia merasa begitu kehilangan ketika harus berpisah dengan teman-temannya itu untuk melanjutkan kuliah di kota-kota yang berbeda.
Di hari terakhir pertemuannya dengan teman-temannya di sekolah, ia begitu terkejut, karena menerima sms dari orang yang tak disangkanya akan mengirim sms lagi. Sms yang cukup panjang.
“Fa, maafkan ak, yg trlalu naif menilai drimu dlu. Ak slah. Tak sepatutny,ak mghalangi se2org yg ingn dkat dgn Tuhan. Tak sepatutny ak mrah pdmu. It smua trjd krn ak tkt khilanganmu. Entah mgp,ak tak thu. Ah...tak sepntasnya ak pny perasaan lbh pdamu. Tp darimu ak bljar,bhw trnyta ak trlalu jauh dgn Rabb ku, hingga hatiku buta. Skrg, ak sdng bljar mgnal-Nya, brusha dkat dgn-Nya, ingin mendpt cinta-Nya. Hnya sja, ak masih brhrap, suatu saat kt bsa dkat kmbali, dlm kpntasan yg diperbolehkan-Nya,saat wktunya tba.”
“3 tahun waktu yang lama Ar, dan selama ini aku tetap menganggapmu sebagai sahabat. Aku senang, kamu berusaha dekat dengan-Nya. Dan saat itulah kamu akan merasakan cinta yang sebenarnya.” Latifah berkata dalam hati.
Ia tersenyum, melangkahkan kaki ke kampus pilihannya...begitu banyak pilihan yang harus diambil dalam hidup. Dan pilihan yang diridhoi-Nya, akan diridhoi pula oleh semuanya.

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...