Selasa, 09 Oktober 2012

Gerakan Mahasiswa di Negeri Para Bedebah


…..
Di negeri para bedebah 
Orang baik dan bersih dianggap salah 
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan 
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah 
Karena hanya penguasa yang boleh marah 
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah 
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah 
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum 
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah 
Usirlah mereka dengan revolusi 
Bila tak mampu dengan revolusi, 
Dengan demonstrasi 
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi 
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
(Negeri Para Bedebah, karya Adhie Massardi)

Setiap zaman memiliki pahlawannya sendiri, begitu kata pepatah. Indonesia, dalam setiap fase perjalanannya tidak bisa dipisahkan dengan gerakan pemuda. Setiap zaman yang pernah dilalui oleh Indonesia pun juga memiliki pahlawan sendiri, pahlawan itu bernama pemuda. Pemuda sebagai investasi masa depan, memiliki peran yang besar dalam pembangunan suatu Negara. Pemuda adalah jiwa-jiwa yang haus akan ilmu pengetahuan, memiliki energi yang besar, baik energi fisik, psikis dan pikiran, oleh karenanya dalam setiap pembangunan selalu melibatkan eksistensi pemuda yang memang dipersiapkan sebagai pewaris tongkat estafet kepemimpinan di masa yang akan datang, yang tentunya diharapkan lebih gemilang. Karena itu selayaknya pemuda mempunyai spirit pembelajar, yaitu semangat untuk belajar dari apa pun, termasuk dari kesalahan generasi pendahulunya sehingga para pemuda tidak terjebak pada kesalahan yang sama, serta belajar untuk membuat atmosfer perubahan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.
Berbicara tentang pemuda, tidak bisa dipisahkan dengan mahasiswa. Mahasiswa adalah pemuda yang memiliki karakteristik khusus dibanding dengan pemuda pada umumnya. Mahasiswa selayaknya bangga, karena dengan gelar yang disandangnya sebagai “siswa tingkatan tertinggi” sering dinobatkan sebagai masyarakat intelektual yang berpendidikan, berperingai santun dan mampu membawa perubahan melalui kontribusi-kontribusi yang disyaratkan oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Mahasiswa juga tidak bisa dijauhkan dengan suatu hal yang dinamakan dengan ideologi gerakan, karena mahasiswa dinisbatkan sebagai agent of change dan iron stock bagi bangsa dan Negara. Maka sudah sewajarnya jika mendapati suatu masalah di Negara ini, mahasiswa tidak lantas diam, namun bergerak dan menjadi solusi atas masalah yang terjadi.
Pahlawan tiap zaman dalam sejarah Indonesia adalah para pemuda, yang diinisiasi oleh para mahasiswa. Masih segar dalam ingatan kita melalui buku-buku sejarah yang mengajarkan bahwa gerakan mahasiswa yang monumental ditengarai dengan lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 yang kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, disusul  tanggal 28 Oktober 1928, di mana pemuda-pemuda dari seluruh Nusantara yang notabene berasal dari bermacam-macam perhimpunan pemuda atas nama daerah, agama dan budaya melepas atributnya dan mengikrarkan janji bersama demi persatuan dan kesatuan bangsa Indoenesia melalui Sumpah Pemuda. Gerakan pemuda yang memiliki ideologi tertinggi pencapaian Indonesia merdeka mencapai titik tertingginya pada tahun 1945 ketika dwitunggal memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, tidak cukup sampai di sana pergerakan pemuda, yang semula berperang melawan penjajah, kini harus berperang pula dengan bangsa sendiri yang ditandai dengan gerakan pemuda dalam menumbangkan Orde Lama pada tahun 1966 dan Orde Baru pada tahun 1998. Reformasi! Sebuah tuntutan yang terus digaungkan hingga mampu meruntuhkan rezim Orde Baru kala itu.
Berkaca pada gerakan mahasiswa tempo dulu, gerakan mahasiswa tetap memiliki “taring” tersendiri dalam menjalankan perannya sebagai pengontrol kebijakan yang menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat. Maka, apabila mahasiswa merasa kebijakan yang digelontorkan pemerintah mendzalimi rakyat, tidak ada pilihan lain selain bergerak!!! Namun, ada beberapa faktor pembeda dalam gerakan mahasiswa kini dengan tempo dulu. Pertama, Gerakan bersifat sporadis akibat banyaknya komunitas kepemudaan yang ada, sehingga efek yang ditimbulkan tidak terlalu memiliki arus yang besar. Kedua, Narsisme antar komunitas gerakan yang besar. Gerakan didasarkan pada keberpihakan komunitas saja, kemudian merasa bahwa gerakan komunitasnya adalah gerakan yang paling benar, dan gerakan komunitas lain itu kurang benar. Lantas hal tersebut berubah menjadi adu argumen yang kebanyakan dilakukan di media  sosial dengan cara-cara yang tidak sehat dan saling menghujat. Jika penyakit ini dibiarkan, maka akan timbul penyakit kronis yang mengancam stabilitas persatuan dan kesatuan Negara, karena perpecahan telah terjadi di ujung tombak suatu Negara, yaitu di kalangan pemuda. Ketiga. Gerakan anarkis dan tidak santun, diwarnai dengan hujat-menghujat, membakar ban, merusak fasilitas umum, mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat, bentrok dengan aparat penegak hukum, dan sebagainya.

Mengamati ketiga poin di atas, lantas siapa sebenarnya yang bedebah? Jika aksi-aksi protes mahasiswa mulai meresahkan rakyat yang namanya dipinjam untuk melakukan kerusuhan. Jika demonstrasi telah berubah menjadi bencana yang telah merampas hak milik publik. Jika gerakan mahasiswa tidak lagi santun serta tidak  mengedepankan kecerdasan logika dan hati nurani. Lantas apa bedanya dengan koruptor yang menjarah harta Negara, apa bedanya dengan penguasa yang tidak berpihak pada rakyat jelata?

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah 
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah 
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum 
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah 
Usirlah mereka dengan revolusi 
Bila tak mampu dengan revolusi, 
Dengan demonstrasi 
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi 
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan


Gerakan mahasiswa harus sering bercermin dengan fenomena-fenomena yang ada. Fenomena di masa lalu, tentang gerakan mahasiswa yang sering dibanggakan. Gerakan mahasiswa yang berpijak pada hati nurani untuk mengubah keadaan rakyat di suatu negeri yang kaya namun kekayaannya tidak cukup menyejahterakan rakyatnya, padahal pemimpinnya hidup berfoya-foya. Gerakan mahasiswa yang membawa arus besar perubahan, sehingga sering dikatakan bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan yang paling ditakutkan oleh para penguasa Negara. Gerakan mahasiswa kini merupakan pantulan yang bias dari gerakan yang dulu dibanggakan. Kini, setiap aksi yang dilakukan berubah menjadi kekacauan yang menggemparkan, diwarnai dengan kekerasan dan hujatan tanpa memandang peri kemanusiaan. Ada pula aksi yang tanpa nyawa, yang hanya berteriak-teriak berusaha mendapat dukungan massa dan berharap suaranya didengarkan para penguasa, yang ketika bertemu mahasiswa hanya mendapat obralan janji belaka. Namun, tidak seharusnya gerakan mahasiswa menjadi cengeng dan hanya merenungi nasibnya, karena bagaimanapun semangat mahasiswa adalah semangat yang memancarkan keoptimisan bahwa di negeri para bedebah, masih tersimpan kesempatan untuk bertaubat. Masih tersimpan harapan bahwa gerakan mahasiswa kembali ke wujud asalnya, yaitu gerakan yang santun dan intelektual.  Gerakan yang menyikapi setiap kebijakan melalui pendekatan segitiga gerakan, yaitu edukasi, konsolidasi dan aksi. Edukasi atau pendidikan untuk melakukan gerakan pencerdasan  dan pengokohan keilmuan para ilmuwan muda. Bergerak berdasarkan kepahaman, bukan sekedar ikut-ikutan. Konsolidasi untuk membangun basis gerakan, agar tidak sporadis, agar tidak rapuh. Kuncinya berada pada persatuan gerakan mahasiswa dan pemuda. Masing-masing komunitas menekan rasa egosentris pergerakan dan meleburnya seperti yang dilakukan pemuda 1928.  Melalui konsolidasi, aksi yang menjadi titik puncak dari segitiga gerakan akan menjadi aksi yang memiliki gelombang besar dan berdampak. Selanjutnya adalah aksi yang santun dan membawa misi perdamaian, tidak anarkis, tidak merusak fasilitas umum dan berbuat keonaran, menjauhi kekerasan dan tindakan kriminal, serta merangkul masyarakat kelas bawah yang sedang mereka perjuangkan.  Pertanyaan besarnya, siapa yang akan melakukan perubahan itu? Tentu saja mahasiswa itu sendiri, karena Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubahnya.

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...