…..
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
(Negeri Para Bedebah,
karya Adhie Massardi)
Setiap
zaman memiliki pahlawannya sendiri, begitu kata pepatah. Indonesia, dalam
setiap fase perjalanannya tidak bisa dipisahkan dengan gerakan pemuda. Setiap
zaman yang pernah dilalui oleh Indonesia pun juga memiliki pahlawan sendiri,
pahlawan itu bernama pemuda. Pemuda sebagai investasi masa depan, memiliki
peran yang besar dalam pembangunan suatu Negara. Pemuda adalah jiwa-jiwa yang
haus akan ilmu pengetahuan, memiliki energi yang besar, baik energi fisik, psikis
dan pikiran, oleh karenanya dalam setiap pembangunan selalu melibatkan
eksistensi pemuda yang memang dipersiapkan sebagai pewaris tongkat estafet
kepemimpinan di masa yang akan datang, yang tentunya diharapkan lebih gemilang.
Karena itu selayaknya pemuda mempunyai spirit pembelajar, yaitu semangat untuk
belajar dari apa pun, termasuk dari kesalahan generasi pendahulunya sehingga
para pemuda tidak terjebak pada kesalahan yang sama, serta belajar untuk
membuat atmosfer perubahan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.
Berbicara
tentang pemuda, tidak bisa dipisahkan dengan mahasiswa. Mahasiswa adalah pemuda
yang memiliki karakteristik khusus dibanding dengan pemuda pada umumnya.
Mahasiswa selayaknya bangga, karena dengan gelar yang disandangnya sebagai
“siswa tingkatan tertinggi” sering dinobatkan sebagai masyarakat intelektual
yang berpendidikan, berperingai santun dan mampu membawa perubahan melalui
kontribusi-kontribusi yang disyaratkan oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu
Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Mahasiswa juga tidak bisa dijauhkan
dengan suatu hal yang dinamakan dengan ideologi gerakan, karena mahasiswa
dinisbatkan sebagai agent of change
dan iron stock bagi bangsa dan
Negara. Maka sudah sewajarnya jika mendapati suatu masalah di Negara ini,
mahasiswa tidak lantas diam, namun bergerak dan menjadi solusi atas masalah
yang terjadi.
Pahlawan
tiap zaman dalam sejarah Indonesia adalah para pemuda, yang diinisiasi oleh
para mahasiswa. Masih segar dalam ingatan kita melalui buku-buku sejarah yang
mengajarkan bahwa gerakan mahasiswa yang monumental ditengarai dengan lahirnya
organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 yang kini diperingati sebagai Hari
Kebangkitan Nasional, disusul tanggal 28
Oktober 1928, di mana pemuda-pemuda dari seluruh Nusantara yang notabene
berasal dari bermacam-macam perhimpunan pemuda atas nama daerah, agama dan budaya
melepas atributnya dan mengikrarkan janji bersama demi persatuan dan kesatuan
bangsa Indoenesia melalui Sumpah Pemuda. Gerakan pemuda yang memiliki ideologi
tertinggi pencapaian Indonesia merdeka mencapai titik tertingginya pada tahun
1945 ketika dwitunggal memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, tidak
cukup sampai di sana pergerakan pemuda, yang semula berperang melawan penjajah,
kini harus berperang pula dengan bangsa sendiri yang ditandai dengan gerakan
pemuda dalam menumbangkan Orde Lama pada tahun 1966 dan Orde Baru pada tahun
1998. Reformasi! Sebuah tuntutan yang terus digaungkan hingga mampu meruntuhkan
rezim Orde Baru kala itu.
Berkaca
pada gerakan mahasiswa tempo dulu, gerakan mahasiswa tetap memiliki “taring”
tersendiri dalam menjalankan perannya sebagai pengontrol kebijakan yang menjadi
jembatan antara pemerintah dan rakyat. Maka, apabila mahasiswa merasa kebijakan
yang digelontorkan pemerintah mendzalimi rakyat, tidak ada pilihan lain selain
bergerak!!! Namun, ada beberapa faktor pembeda dalam gerakan mahasiswa kini
dengan tempo dulu. Pertama, Gerakan
bersifat sporadis akibat banyaknya komunitas kepemudaan yang ada, sehingga efek
yang ditimbulkan tidak terlalu memiliki arus yang besar. Kedua, Narsisme antar komunitas gerakan yang besar. Gerakan
didasarkan pada keberpihakan komunitas saja, kemudian merasa bahwa gerakan
komunitasnya adalah gerakan yang paling benar, dan gerakan komunitas lain itu
kurang benar. Lantas hal tersebut berubah menjadi adu argumen yang kebanyakan
dilakukan di media sosial dengan
cara-cara yang tidak sehat dan saling menghujat. Jika penyakit ini dibiarkan,
maka akan timbul penyakit kronis yang mengancam stabilitas persatuan dan
kesatuan Negara, karena perpecahan telah terjadi di ujung tombak suatu Negara,
yaitu di kalangan pemuda. Ketiga. Gerakan
anarkis dan tidak santun, diwarnai dengan hujat-menghujat, membakar ban,
merusak fasilitas umum, mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat,
bentrok dengan aparat penegak hukum, dan sebagainya.
Mengamati ketiga poin di atas, lantas siapa
sebenarnya yang bedebah? Jika aksi-aksi protes mahasiswa mulai meresahkan
rakyat yang namanya dipinjam untuk melakukan kerusuhan. Jika demonstrasi telah
berubah menjadi bencana yang telah merampas hak milik publik. Jika gerakan
mahasiswa tidak lagi santun serta tidak mengedepankan kecerdasan logika dan hati
nurani. Lantas apa bedanya dengan koruptor yang menjarah harta Negara, apa
bedanya dengan penguasa yang tidak berpihak pada rakyat jelata?
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Gerakan mahasiswa harus sering bercermin dengan
fenomena-fenomena yang ada. Fenomena di masa lalu, tentang gerakan mahasiswa
yang sering dibanggakan. Gerakan mahasiswa yang berpijak pada hati nurani untuk
mengubah keadaan rakyat di suatu negeri yang kaya namun kekayaannya tidak cukup
menyejahterakan rakyatnya, padahal pemimpinnya hidup berfoya-foya. Gerakan
mahasiswa yang membawa arus besar perubahan, sehingga sering dikatakan bahwa
gerakan mahasiswa adalah gerakan yang paling ditakutkan oleh para penguasa
Negara. Gerakan mahasiswa kini merupakan pantulan yang bias dari gerakan yang
dulu dibanggakan. Kini, setiap aksi yang dilakukan berubah menjadi kekacauan yang
menggemparkan, diwarnai dengan kekerasan dan hujatan tanpa memandang peri
kemanusiaan. Ada pula aksi yang tanpa nyawa, yang hanya berteriak-teriak
berusaha mendapat dukungan massa dan berharap suaranya didengarkan para
penguasa, yang ketika bertemu mahasiswa hanya mendapat obralan janji belaka.
Namun, tidak seharusnya gerakan mahasiswa menjadi cengeng dan hanya merenungi
nasibnya, karena bagaimanapun semangat mahasiswa adalah semangat yang memancarkan
keoptimisan bahwa di negeri para bedebah, masih tersimpan kesempatan untuk
bertaubat. Masih tersimpan harapan bahwa gerakan mahasiswa kembali ke wujud
asalnya, yaitu gerakan yang santun dan intelektual. Gerakan yang menyikapi setiap kebijakan
melalui pendekatan segitiga gerakan, yaitu edukasi, konsolidasi dan aksi.
Edukasi atau pendidikan untuk melakukan gerakan pencerdasan dan pengokohan keilmuan para ilmuwan muda.
Bergerak berdasarkan kepahaman, bukan sekedar ikut-ikutan. Konsolidasi untuk
membangun basis gerakan, agar tidak sporadis, agar tidak rapuh. Kuncinya berada
pada persatuan gerakan mahasiswa dan pemuda. Masing-masing komunitas menekan
rasa egosentris pergerakan dan meleburnya seperti yang dilakukan pemuda
1928. Melalui konsolidasi, aksi yang
menjadi titik puncak dari segitiga gerakan akan menjadi aksi yang memiliki
gelombang besar dan berdampak. Selanjutnya adalah aksi yang santun dan membawa
misi perdamaian, tidak anarkis, tidak merusak fasilitas umum dan berbuat
keonaran, menjauhi kekerasan dan tindakan kriminal, serta merangkul masyarakat
kelas bawah yang sedang mereka perjuangkan. Pertanyaan besarnya, siapa yang akan melakukan
perubahan itu? Tentu saja mahasiswa itu sendiri, karena Tuhan tidak akan
mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar