Selasa, 09 Oktober 2012

REVIEW STRATEGI PERENCANAAN PEMBANGUNAN REGIONAL DALAM KAJIAN VARIASI KERUANGAN Oleh: Nurhadi


Pada awalnya, secara garis besar penulis mengemukakan kritiknya pada Teori Modernisasi khususnya Teori Keuntungan Komparativ yang dikemukakan oleh David Ricardo yang menyatakan bahwa setiap Negara harus melakukan spesialisasi produksi sesuai dengan keuntungan komparativ yang dimilikinya. Penulis cenderung menganalisis situasi dengan menggunakan Teori Ketergantungan sebagai kontradiksi dari Teori Modernisasi. Teori Modernisasi Keuntungan Komparativ memiliki konsep di mana Negara-negara harus melakukan spesialisasi hasil produksi sesuai dengan potensi yang dimiliki, di mana Negara dengan potensi pertanian yang tinggi harus focus kepada produksi pertanian, sedangkan Negara yang memiliki potensi industry yang tinggi juga harus focus kepada produksi industry. Menurut David Ricardo, Negara dengan spesialisasi pertanian maupun Negara dengan spesialisasi industry akan saling memberikan keuntungan, karena saling membutuhkan maka akan terjadi arus pertukaran di antara kedua jenis Negara. Namun, para pemikir dengan paradigma Teori Ketergantungan memberikan kritik kepada teori keuntungan komparativ bahwa spesialisasi tidak akan saling menguntungkan, namun merugikan Negara pinggiran.
Meminjam istilah Raul Prebisch, daerah dengan spesialisasi produksi industry disebut sebagai daerah pusat dan daerah dengan spesialisasi produksi pertanian disebut sebagai daerah pinggiran. Dalam konteks keruangan pembangunan regional dalam suatu Negara, selanjutnya daerah dalam konteks ini adalah kota dan daerah pinggiran adalah desa. Prebisch menyebutkan bahwa teori keuntungan komparativ sangat merugikan Negara pinggiran, seperti yang disebutkan penulis bahwa  industry yang tumbuh di kota, juga akan menyisihkan daerah pinggiran atau desa. Pernyataan Prebisch yang menyatakan bahwa Negara dengan spesialisasi komoditi industry sangat merugikan Negara dengan spesialisasi hasil pertanian didasarkan pada faktor- faktor di bawah ini:
Pertama, nilai tukar produk-produk pertanian berbeda dengan produk-produk industry. Produk-produk pertanian relative lebih murah daripada produk-produk industry, sehingga untuk mendapatkan sebuah produk industry harus ditukar dengan komoditi pertanian dengan jumlah yang sangat banyak.
Kedua, kemakmuran semakin meningkat di daerah industry dan kekuatan politik kaum buruh semakin besar, sehingga tingkat upah buruh meningkat. Hal tersebut akan menaikkan harga jual komoditi industry.
Faktor kedua tersebut sekaligus menginisiasi adanya urbanisasi dari daerah pinggiran ke pusat, pembangunan pun menjadi terpusat karena daerah pinggiran tidak tergarap. Dengan adanya pembangunan terpusat di kota, maka akan mengundang investasi dari pihak liberal yang lantas menerapkan Trickle Down Effect dan mengejar pertumbuhan ekonomi di kota. Saat itu memang terjadi pertumbuhan ekonomi, tapi belum bisa menunujukkan indicator keberhasilan pembangunan karena tidak ada ukuran pemerataan di dalamnya (kesenjangan tingkat ekonomi yang berakibat pada timbulnya kesenjangan sosial).
Namun, pada akhirnya  penulis mendukung teori Modernisasi, karena teori tersebut yang sering dan sedang dipraktikkan di Negara dunia ketiga yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Teori modernisasi yang diangkat penulis menggunakan konsep difusionis atau penyebaran, di mana dengan Trickle Down Effect yang dipelopori oleh daerah kota dapat menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi di daerah pinggiran.
Perlu kita cermati kembali, bahwa pembangunan pada era Orde Baru juga sering mengagungkan konsep Trickle Down Effect yang dianggap akan memacu pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah pinggiran, namun justru yang terjadi adalah kesenjangan yang sangat besar pada pembangunan dan kemajuan yang dicapai oleh Pulau Jawa sebagai pusat pertumbuhan indutri yang dianggap akan memberikan efek mentes ke bawah kepada pulau-pulau lain. Akan tetapi pada kenyataannya konsep itu tidak pernah terjadi, yang terjadi adalah kesenjangan yang besar antara Jawa, terutama kota-kota besar dengan daerah-daerah pinggiran, serta daerah-daerah di pulau lain yang belum tersentuh pembangunan secara keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...