Pada
awalnya, secara garis besar penulis mengemukakan kritiknya pada Teori
Modernisasi khususnya Teori Keuntungan Komparativ yang dikemukakan oleh David
Ricardo yang menyatakan bahwa setiap Negara harus melakukan spesialisasi
produksi sesuai dengan keuntungan komparativ yang dimilikinya. Penulis cenderung
menganalisis situasi dengan menggunakan Teori Ketergantungan sebagai
kontradiksi dari Teori Modernisasi. Teori Modernisasi Keuntungan Komparativ
memiliki konsep di mana Negara-negara harus melakukan spesialisasi hasil
produksi sesuai dengan potensi yang dimiliki, di mana Negara dengan potensi
pertanian yang tinggi harus focus kepada produksi pertanian, sedangkan Negara
yang memiliki potensi industry yang tinggi juga harus focus kepada produksi
industry. Menurut David Ricardo, Negara dengan spesialisasi pertanian maupun
Negara dengan spesialisasi industry akan saling memberikan keuntungan, karena
saling membutuhkan maka akan terjadi arus pertukaran di antara kedua jenis
Negara. Namun, para pemikir dengan paradigma Teori Ketergantungan memberikan
kritik kepada teori keuntungan komparativ bahwa spesialisasi tidak akan saling
menguntungkan, namun merugikan Negara pinggiran.
Meminjam
istilah Raul Prebisch, daerah dengan spesialisasi produksi industry disebut
sebagai daerah pusat dan daerah dengan spesialisasi produksi pertanian disebut
sebagai daerah pinggiran. Dalam konteks keruangan pembangunan regional dalam
suatu Negara, selanjutnya daerah dalam konteks ini adalah kota dan daerah
pinggiran adalah desa. Prebisch menyebutkan bahwa teori keuntungan komparativ
sangat merugikan Negara pinggiran, seperti yang disebutkan penulis bahwa industry yang tumbuh di kota, juga akan
menyisihkan daerah pinggiran atau desa. Pernyataan Prebisch yang menyatakan
bahwa Negara dengan spesialisasi komoditi industry sangat merugikan Negara
dengan spesialisasi hasil pertanian didasarkan pada faktor- faktor di bawah
ini:
Pertama,
nilai tukar produk-produk pertanian berbeda dengan produk-produk industry.
Produk-produk pertanian relative lebih murah daripada produk-produk industry,
sehingga untuk mendapatkan sebuah produk industry harus ditukar dengan komoditi
pertanian dengan jumlah yang sangat banyak.
Kedua,
kemakmuran semakin meningkat di daerah industry dan kekuatan politik kaum buruh
semakin besar, sehingga tingkat upah buruh meningkat. Hal tersebut akan
menaikkan harga jual komoditi industry.
Faktor
kedua tersebut sekaligus menginisiasi adanya urbanisasi dari daerah pinggiran
ke pusat, pembangunan pun menjadi terpusat karena daerah pinggiran tidak
tergarap. Dengan adanya pembangunan terpusat di kota, maka akan mengundang
investasi dari pihak liberal yang lantas menerapkan Trickle Down Effect dan mengejar pertumbuhan ekonomi di kota. Saat
itu memang terjadi pertumbuhan ekonomi, tapi belum bisa menunujukkan indicator
keberhasilan pembangunan karena tidak ada ukuran pemerataan di dalamnya
(kesenjangan tingkat ekonomi yang berakibat pada timbulnya kesenjangan sosial).
Namun,
pada akhirnya penulis mendukung teori
Modernisasi, karena teori tersebut yang sering dan sedang dipraktikkan di
Negara dunia ketiga yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Teori
modernisasi yang diangkat penulis menggunakan konsep difusionis atau
penyebaran, di mana dengan Trickle Down
Effect yang dipelopori oleh daerah kota dapat menjadi pemicu pertumbuhan
ekonomi di daerah pinggiran.
Perlu
kita cermati kembali, bahwa pembangunan pada era Orde Baru juga sering
mengagungkan konsep Trickle Down Effect yang dianggap akan memacu pertumbuhan
ekonomi di daerah-daerah pinggiran, namun justru yang terjadi adalah
kesenjangan yang sangat besar pada pembangunan dan kemajuan yang dicapai oleh
Pulau Jawa sebagai pusat pertumbuhan indutri yang dianggap akan memberikan efek
mentes ke bawah kepada pulau-pulau lain. Akan tetapi pada kenyataannya konsep
itu tidak pernah terjadi, yang terjadi adalah kesenjangan yang besar antara
Jawa, terutama kota-kota besar dengan daerah-daerah pinggiran, serta
daerah-daerah di pulau lain yang belum tersentuh pembangunan secara
keseluruhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar