Indonesia kita adalah tanah
surga. Tanah yang menyimpan begitu banyak potensi di dalamnya. Mulai dari
minyak bumi dan gas, hasil bumi yang melimpah ruah, serta sumber daya manusia
yang banyak tersedia. Indonesia kita adalah tanah yang menyimpan banyak cerita.
Tanah yang mencapai kemerdekaan dengan
harga sangat mahal, pun untuk mencapai kedaulatan, harus melalui jalan yang
begitu panjang.
Begitulah, tanah surga yang
memiliki banyak cerita, tentu saja diincar oleh bermacam-macam mata. Asing
mulai merambah tanah Indonesia, dengan dalih menanamkan investasi demi
pertumbuhan ekonomi. Bukan Cuma Negara-negara
yang jauh, tapi Negara-negara dekat pun turut serta, dan hal tersebut yang
sering menimbulkan sengketa.
Sudah bukan rahasia lagi,
bahwa pembangunan di Indonesia masih terpusat, seperti yang dulu dicanangkan
oleh Presiden kedua Indonesia. Bahwa dengan pembangunan yang terpusat di Jawa
akan memberikan trickle down effect
bagi daerah-daerah di sekitarnya, termasuk pulau-pulau selain Jawa. Namun
nyatanya, teori dari Adam Smith tersebut menemui jalan buntu, karena bukannya
memberi efek positif bagi pembangunan di daerah lain, namun justru
mengakibatkan arus urbanisasi yang begitu tinggi. Orang-orang pinggiran terpukau dengan gemerlap
kemewahan yang ditawarkan oleh Jawa, dan berusaha mengadu nasib ke sana. Lantas
apa yang terjadi? Urbanisasi menjadi masalah baru bagi daerah metropolitan.
Kemiskinan, pemukiman kumuh, pengangguran, gelandangan, dan sebagainya.
Sementara daerah-daerah pinggiran yang mereka tinggalkan, tetap tidak tergarap
dan tersentuh oleh pembangunan.
Daerah perbatasan, yang
menjadi daerah terluar dari Indonesia adalah daerah yang sering dilupakan.
Bahwa di dalamnya ada rakyat Indonesia yang alat tukarnya adalah mata uang
asing. Rakyat Indonesia yang lebih suka berbelanja di pasar Malaysia atau
Singapura daripada di Indonesia karena jaraknya yang lebih dekat ke luar negeri
daripada ke Negara sendiri. Rakyat Indonesia yang akses untuk mendapatkan
fasilitas umumnya seperti sekolah dan rumah sakit harus ditempuh dengan menyeberang bantaran sungai dan rawa. Rakyat Indonesia yang tak
pernah melihat wajah presidennya, sekalipun lewat televisi. Rakyat Indonesia
yang tak hafal Indonesia Raya dan tak tahu wujud Sang Saka Merah Putih. Ironis.
Daerah perbatasan yang sering
menjadi sengketa dengan Negara tetangga. Satu Negara dengan Negara lain saling
mengklaim. Hingga sebuah rasa kehilangan kepada Sipadan-Ligitan telah
menimbukan lubang luka yang dalam, dan hampir terulang pada Ambalat yang
ternyata mengandung 764 juta barel minyak bumi dan 1,4 triliyun kaki kubik gas.
Bukan hanya itu, pelanggaran batas laut Indonesia oleh luar negeri. Tercatat
pada tahun 2007, Tentara Laut Diraja Malaysia melakukan pelanggaran batas
sebanyak 84 kali, dan pada tahun 2008
sebanyak 38 kali. Sebenarnya
Indonesia telah menempatkan banyak personilnya untuk menjaga lautan Indonesia,
namun jumlah personil angkatan laut
tetaplah tidak sebanding dengan luasnya lautan Indonesia. Nasib yang sama
terjadi pada pulau Nipah di Riau yang hampir tenggelam karena adanya reklamasi
di Singapura, pun pulau Miangas di utara Sulawesi yang banyak dihuni oleh warga
Filiphina.
Begitulah, cerita dari tanah
surga yang menyimpan banyak cerita. Cerita dari daerah perbatasan, yang selain
membutuhkan pendekatan kesejahteraan, yang harus dimulai dari Sumber Daya
Manusianya juga membutuhkan pendekatan
keamanan dari segi penjagaan. Sejengkal tanah maupun setitis ait di lautan
Indonesia adalah sebuah kedaulatan yang harus dipertahankan. NKRI harga mati!!!
*Inspired by sebuah film “Tanah Surga
Katanya” dan sebuah buku “Heboh Ambalat”
1 komentar:
gatel setelah nonton tanah surga katanya, apalagi ada tugas nulis tentang pembangunan regional... :D
Posting Komentar