Selasa, 11 Desember 2012

Tanah Surga… Katanya…  #1


Indonesia kita adalah tanah surga. Tanah yang menyimpan begitu banyak potensi di dalamnya. Mulai dari minyak bumi dan gas, hasil bumi yang melimpah ruah, serta sumber daya manusia yang banyak tersedia. Indonesia kita adalah tanah yang menyimpan banyak cerita. Tanah yang  mencapai kemerdekaan dengan harga sangat mahal, pun untuk mencapai kedaulatan, harus melalui jalan yang begitu panjang. 
Begitulah, tanah surga yang memiliki banyak cerita, tentu saja diincar oleh bermacam-macam mata. Asing mulai merambah tanah Indonesia, dengan dalih menanamkan investasi demi pertumbuhan ekonomi.  Bukan Cuma Negara-negara yang jauh, tapi Negara-negara dekat pun turut serta, dan hal tersebut yang sering menimbulkan sengketa.
Sudah bukan rahasia lagi, bahwa pembangunan di Indonesia masih terpusat, seperti yang dulu dicanangkan oleh Presiden kedua Indonesia. Bahwa dengan pembangunan yang terpusat di Jawa akan memberikan trickle down effect bagi daerah-daerah di sekitarnya, termasuk pulau-pulau selain Jawa. Namun nyatanya, teori dari Adam Smith tersebut menemui jalan buntu, karena bukannya memberi efek positif bagi pembangunan di daerah lain, namun justru mengakibatkan arus urbanisasi yang begitu tinggi.  Orang-orang pinggiran terpukau dengan gemerlap kemewahan yang ditawarkan oleh Jawa, dan berusaha mengadu nasib ke sana. Lantas apa yang terjadi? Urbanisasi menjadi masalah baru bagi daerah metropolitan. Kemiskinan, pemukiman kumuh, pengangguran, gelandangan, dan sebagainya. Sementara daerah-daerah pinggiran yang mereka tinggalkan, tetap tidak tergarap dan tersentuh oleh pembangunan.
Daerah perbatasan, yang menjadi daerah terluar dari Indonesia adalah daerah yang sering dilupakan. Bahwa di dalamnya ada rakyat Indonesia yang alat tukarnya adalah mata uang asing. Rakyat Indonesia yang lebih suka berbelanja di pasar Malaysia atau Singapura daripada di Indonesia karena jaraknya yang lebih dekat ke luar negeri daripada ke Negara sendiri. Rakyat Indonesia yang akses untuk mendapatkan fasilitas umumnya seperti sekolah dan rumah sakit harus ditempuh dengan  menyeberang bantaran  sungai dan rawa. Rakyat Indonesia yang tak pernah melihat wajah presidennya, sekalipun lewat televisi. Rakyat Indonesia yang tak hafal Indonesia Raya dan tak tahu wujud Sang Saka Merah Putih. Ironis.
Daerah perbatasan yang sering menjadi sengketa dengan Negara tetangga. Satu Negara dengan Negara lain saling mengklaim. Hingga sebuah rasa kehilangan kepada Sipadan-Ligitan telah menimbukan lubang luka yang dalam, dan hampir terulang pada Ambalat yang ternyata mengandung 764 juta barel minyak bumi dan 1,4 triliyun kaki kubik gas. Bukan hanya itu, pelanggaran batas laut Indonesia oleh luar negeri. Tercatat pada tahun 2007, Tentara Laut Diraja Malaysia melakukan pelanggaran batas sebanyak 84 kali, dan pada tahun 2008  sebanyak 38 kali.  Sebenarnya Indonesia telah menempatkan banyak personilnya untuk menjaga lautan Indonesia, namun  jumlah personil angkatan laut tetaplah tidak sebanding dengan luasnya lautan Indonesia. Nasib yang sama terjadi pada pulau Nipah di Riau yang hampir tenggelam karena adanya reklamasi di Singapura, pun pulau Miangas di utara Sulawesi yang banyak dihuni oleh warga Filiphina.
Begitulah, cerita dari tanah surga yang menyimpan banyak cerita. Cerita dari daerah perbatasan, yang selain membutuhkan pendekatan kesejahteraan, yang harus dimulai dari Sumber Daya Manusianya  juga membutuhkan pendekatan keamanan dari segi penjagaan. Sejengkal tanah maupun setitis ait di lautan Indonesia adalah sebuah kedaulatan yang harus dipertahankan. NKRI harga mati!!!

*Inspired by sebuah film “Tanah Surga Katanya” dan sebuah buku “Heboh Ambalat”

1 komentar:

Miftaaa mengatakan...

gatel setelah nonton tanah surga katanya, apalagi ada tugas nulis tentang pembangunan regional... :D

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...