Selasa, 21 Januari 2014

Maret

Hujan senantiasa menemani langkahku. Aku heran, benarkah langit tengah mengisi kisahku? Bahkan aku sendiri pun tidak bisa selalu menangis untuk kehidupan ini.

Tapi, ia berkata, "Hujan selalu menyertai langkahmu, Ra. Jangan kau artikan langit tengah menangis untukmu. Hujan mengikutimu, karena Allah memberikan berkah untukmu dan membolehkanmu berdoa sebanyak-banyaknya."

Kau benar, Kak.
Andai saja aku mau memahami tanpa sepihak. Bahwa apa yang datang padaku kali ini, bukanlah sebuah kebetulan. Mungkin, bertahun-tahun lalu telah tertulis dan tersimpan di Lauh Mahfudz. Hanya saja, saat ini dokumen yang telah disiapkan Allah itu kini ditampakkannya padaku. Maka, aku tak akan bisa lari, tak akan bisa menghindar, atau bahkan sembunyi.

"Ia tidak datang kepada yang meminta, Ra. Ia menghampiri orang yang ditunjuki-Nya suatu jalan. Mungkin Allah telah memilihmu."

Lagi-lagi kau benar, Kak.
Tahukah kau, sepintas lalu, mereka memelukku. Membiarkan buliran-buliran bening dari mataku jatuh berhamburan. Mereka tahu, tanpa berusaha untuk menahannya. Mereka hanya berkata, "Allah akan membukakan jalan, Ra." Seolah membaca kegamanganku.
Atau mereka berkata, "Allah telah memilihmu, Ra. Kuatlah,,," sambil mendekapku dengan sangat erat. Saat itu kurasakan aku sulit bernafas. Aku hanya menangis. Bersama hujan dalam dekapan.

"Kalau Allah cinta, maka Dia akan menguji-Nya, Ra. Kau sedang diuji, layakkah kau mendapatkan cinta-Nya?"

Pertanyaanmu seperti pisau yang menikamku, Kak. Manusia sama sekali tak bisa menilai, tapi harus kuakui, lagi-lagi kau benar, Kak. Aku pun membayangkan bagaimana susahnya hidup seorang manusia mulia bernama Muhammad, seseorang yang jelas dicintai-Nya, tapi ia tetap merasakan perihnya luka saat dilempari batu oleh anak-anak Thaif. Merasakan sakit atas tanggalnya gigi saat perang Uhud. Merasakan lapar yang sangat, hingga mengganjal perutnya dengan batu. Bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi juga hatinya. Ketika kaumnya mengusirnya dari tanah airnya tercinta. Ketika ia dimusuhi, ketika ia disebut sebagai penyair, orang gila, bahkan penyihir.

Dan aku tak mengalami hal itu.

Aku hanya kadang lelah, kadang marah.
Aku hanya kadang penat, kadang jenuh, kadang ingin menjauh.
Aku hanya merasa hak-hak pribadiku terenggut, sejatinya tidak. Justru ada hak-hak yang senantiasa terpenuhi, yang kulihat luput.
Aku hanya merasa terus-menerus memperhatikan orang lain, tanpa secuil pun perhatian kuterima.
Dan merasa-merasa yang lainnya.
Lalu apa yang ingin kau katakan, Kak?

"Kalau kau ingin memberi cinta. Maka urusan di dalam dirimu sudah harus selesai terlebih dahulu. Dalam urusan cinta, perhatian adalah jalan pertama, kata Anis Matta. Maka, ketika kau memberi perhatian pada orang lain, sebenarnya kau tak lagi butuh untuk diperhatikan."

Aku manusia, Kak.

"Ya, kau manusia. Aku juga. Tempatnya salah dan dosa. Khilaf juga. Tapi tak lantas terus-menerus kita berlindung di balik fitrah itu. Kau hanya mencari pembenaran, pembelaan tepatnya."

"Bergeraklah, Ra. Berlarilah dari Januari  menuju Maret. Jangan terkungkung terus-menerus dengan perasaanmu. Di bulan itu, akan ada yang datang. Sekarang ia  tengah menanti masa itu. Kuatlah, Ra. Agar Maret tahu betapa tegarnya dirimu menempuh berbagai badai hanya untuk menjemputnya."

Maka, bolehkah aku berlari bersamamu, Kak?

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...