Sabtu, 25 Januari 2014

Menjadi Manusia Normal

Menjadi manusia normal. Mungkin judulnya agak sedikit mengherankan. Apa? Manusia Normal? Jadi selama ini tidak normal, begituuuhh?

Jangan salah paham.

Saya normal, sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan, pun sebagai seorang mahasiswa. Saya makan, saya tidur, saya bermimpi, saya mandi, saya menulis, mengerjakan skripsi, dimarahi dosen, berteman, menjalin relasi, sedih, menangis, galau dan sebagainya. Semoga hal-hal yang saya sebutkan adalah hal-hal yang dianggap normal oleh orang kebanyakan. Manusiawi.

Jadi, apa yang menyebabkan saya mengambil judul di atas?

Sore ini, saya benar-benar merasa menjadi normal karena bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Dalam pertemuan itu, kami saling berbagi kabar, saling mengejek, saling tertawa, saling melempar  dan menyembunyikan sandal. Suatu hal yang sangat jarang saya lakukan satu tahun ini.
Bagaimana tidak? saya telah berpisah dengan teman-teman itu sejak mereka lulus satu per satu, meninggalkan saya sendirian dengan aktivitas saya yang terkadang "autis".

Memang begitulah. Menjadi bahagia itu adalah sangat sederhana. Salah satunya adalah menjadi manusia yang normal. Yang tertawa tanpa harus malu-malu. Yang tidak mencoba menyembunyikan diri dan menggunakan topeng bernama "jaga image" (meskipun hal-hal yang seperti itu terkadang juga perlu). Yang dapat berbagi kebahagiaan meskipun terkadang berupa ejekan-ejekan.

Yang jelas, tidak melebihi batas dan  tidak berlebihan.

Maka, menjadi manusia normal terkadang memang perlu. Melakukannya adalah sebagai hadiah hiburan untuk setiap kejemuan yang menjamu di tiap harinya. Mungkin ia akan menjadi suatu obat tersendiri bagi jiwa-jiwa yang merasa jenuh dengan segala padatnya aktivitas harian.

Selamat menjadi manusia normal!

Tidak ada komentar:

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...