Selasa, 26 Februari 2013

Kembali ke Orientasi Awal

Fokus.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.

maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)

pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.

Selasa, 05 Februari 2013

Sebuah Cerita Tanpa Judul


“Rasanya itu..
Seperti ada yang membuat pundakmu jadi ringan
Tapi di saat bersamaan justru hatimu menanggung beban
Ada cinta yang tak terkatakan
Dan perasaan yang tak tersampaikan
Namun biarkan
Asal semua mampu bermuara
Pada sebuah samudera bernama doa”

Kutipan  kata-kata di atas, adalah representasi perasaan yang aku tanggung setelah dinyatakan demisioner malam itu. Jujur, aku bukan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan di hadapan banyak orang. Misterius katanya, atau pada waktu BEM SPIRIT DAY pertama, banyak yang bilang kalau aku adalah orang yang sangat tertutup. Ya, memang. Karena aku sendiri menyadari, bahwa dari awal aku sudah didesain sebagai pendengar, tipe-tipe orang yang  suka mendapatkan keluh kesah dari orang lain. Bagaimana tidak? Memang terkadang sulit memiliki nama Damai, karena harus menjaga kedamaian hati orang lain meskipun hati sendiri  sedang “kemrungsung.” Atau mungkin karena itu aku dipilih sebagai kadept PSDM? Hehe… ^^ semoga walau tak terungkap lewat kata, tulisan ini dapat mengilustrasikannya.
Cerita ini  bermula  dari naik tahtanya seorang Satria. Suksesi untuknya berjalan mulus, karena  sejak awal pada dirinya telah tercermin hati yang tulus. Lalu aku pun diminta, untuk menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Berat. Sungguh berat, aku yang sering hidup dalam dunia prasangka  yang melankolis ini merasa tak memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKU) untuk memenuhi permintaannya. Merasa kapasitas belum sampai tapi telah diberikan amanah yang membadai. Hingga aku pun bertanya, adakah jembatan yang menghubungkan antara kapasitas yang pas-pasan dengan tanggung jawab yang besar??? Namun, Dasa Dharma Pramuka tak mengajarkan sesorang lari dari medan perang. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Maka kumantapkan niat, memperbarui semangat, dengan mengucap asma-Nya Yang Maha Agung, amanah itu pun kuletakkan pada pundakku, pada hatiku.
Lalu, setapak demi setapak aku diperkenalkan dengan orang-orang baru di sekelilingku. Lingkaran pertama, lingkaran PH, yang bertemu pertama kali dalam romantisme hujan di depan perpustakaan. Wahyu, Devi, Jumai, Agus, Bening, Handoko, Ipung, Azis, teman-teman baru yang akan bersama menjadi awak kapal dengan Iman sebagai nahkodanya. Lantas mengagendakan acara pengikat hati, dengan mengunjungi Kebumen bersama-sama.
PSDM itu melihat dengan hati, ketika selanjutnya Up Grading dimulai. Mencoba mengenali satu per satu pasukan yang akan membersamai perang selama satu periode kepengurusan. Dan semangat di awal-awal itu menjadi satu langkah baru, terlebih setelah dipertemukan dengan anak-anak pilihan yang dinisbatkan tanpa persetujuan menjadi Power Ranger. Sungguh, aku kekanak-kanakan, tapi sampai hari ini pun tak bisa kulepaskan.

Cerita di Balik Share, Care and Love

Bergelut di dunia sosial, membuatku harus membaca, terpaksa lebih tepatnya. Aku dipaksa oleh seseorang untuk membaca setiap kali aku akan berbuat sesuatu. Lalu, kata-kata itu, Share, Care and Love kutemukan pada sebuah buku marketing perusahaan. Hmmm… bagus pikirku. Lalu ketika Pak Komandan bertanya, sebenarnya aku asal jawab saja untuk jargon kita: Share, Care and Love. Tak kusangka keesokan harinya, kata-kata itu benar-benar dipakai setelah dimodifikasi dengan menggunakan gerakan-gerakan yang mengekspresikannya.
Namun, jargon ini selanjutnya membuatku khawatir, ketika akhirnya satu demi satu orang saling jatuh cinta di BEM. Aku mendapat teguran dari sana-sini, karena hal ini dikhawatirkan akan mengganggu profesionalitas kinerja. Karena pernah ada cerita, BEM di sisi lain UNY juga pernah menggunakan tema “Romantisme” sampai akhirnya benar-benar terjadi dua orang aktivis di dalamnya menikah dan menjadi suami istri di periode kepengurusan mereka. Bagus menurutku… J Namun, aku sempat merasa tak enak juga. Jangan-jangan karena jargon itu yang membuat para prajurit berjatuhan karena galau. Galau karena sebuah perasaan bernama cinta. Aku merasa bersalah, karena bagaimanapun kata-kata adalah doa.  Aku bingung bukan main. Masalah semangat, PSDM masih bisa berusaha, tapi masalah hati, treatment macam apa yang sesuai???

Menjelang Pertengahan Tahun

Ibarat sebuah perahu yang berlayar, tentu akan menemui rintangan-rintangan di lautan. Entah itu badai, yang membuat kapal kehilangan keseimbangan atau menabrak batu karang, meski tidak karam. Organisasi ini dengan sendirinya memiliki sistem imunitas yang tinggi, bahkan tanpa peran PSDM, karena orang-orang di dalamnya adalah orang-orang pilihan yang dapat berpikir dengan logika dan nurani. Bahasa sederhananya, solid tanpa harus disolidkan PSDM.  Itu kegagalan pertamaku, sekaligus kebanggaanku. Ditambah ternyata aku gagal mengenali satu per satu tiap personil yang ada, dan membuat sistem ranger terlalu kuat. Apalagi aku semakin autis dengan duniaku sendiri, yang sok sibuk dengan akademik dan agenda-agenda lain. Maka jika seringkali aku dipertanyakan karena jarang berkunjung ke rumah karya, itu karena kecanggunganku sendiri yang mendera, semakin menciptakan spasi antara aku dan kita. Agenda-agenda cultural sering kulalui, meski seberapa inginnya aku membersamai, selalu ada penghalang yang membuatku tak bisa. Maafkan aku kawan, karena dengan aku yang seperti ini, ternyata aku terlambat untuk menyadari sesuatu. Terlambat mendeteksi cinta yang seharusnya kutumbuhkan sejak dini, dan ketika akan kehilangan, baru aku merasakan memiliki. Ah,,, penyesalan memang selalu datang belakangan.

Pada Akhirnya, Cinta Adalah Sebuah Kata Kerja

“Karena cinta adalah kata kerja
Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya
Karena cinta adalah kata kerja,
Maka mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus
Alirannya adalah kerja yang terus-menerus.”
(Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang)
Begitulah cinta, ia adalah pekerjaan jiwa dan raga, bukan sekedar kata. Sementara aku tengah mencintai kalian melalui kata yang tak terucap, ada orang-orang yang telah membuktikan cintanya lewat kerja-kerja nyata. Sebut saja namanya, Iman pucuk pimpinan yang rela berkorban dan ahli negosiasi tingkat tinggi. Wahyu, loyalitasnya terbukti karena telah mewakafkan diri untuk organisasi ini. Devi, sekretaris yang mengerti harus berbuat apa bahkan tanpa diminta. Jumai, punggung terkuat yang selalu membersamai, Bening yang tetap bertahan meskipun sakit-sakitan, Ipung yang selalu menginspirasi dengan karya-karyanya, Agus dengan sifat kebapakan yang selalu bijaksana dan cekatan, Handoko yang mengatasi setiap kebutuhan organisasi dengan caranya sendiri, dan Azis dengan warnanya sendiri, memberi nuansa pelangi. Begitu juga dengan yang lain, yang tak bisa kusebutkan satu per satu kebaikannya, karena setiap langkah kebersamaan kita, semuanya tampak baik di pandangan mata.
Hmmm… inilah akhir coretan gak jelas ini, sebuah refleksi perjalanan yang di dalamnya aku banyak berkaca sendiri. Suatu hari, akan menjadi sebuah rekam jejak dan pembelajaran yang tak kan lekang dalam ingatan. Mari perbaiki kembali spasi antara aku dan kita, meski tak lagi bersama. J

Senin, 21 Januari 2013

My First Love


“Setiap ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuannya.”
(pepatah)

Ayahku, adalah cinta pertamaku. Bagaimana tidak? Beliau adalah kaum Adam pertama yang kulihat ketika aku membuka mata, yang dengan kelembutannya selalu menjagaku, ya mesti tak pernah ditampakkannya.
Dulunya, aku menganggap ayahku adalah seorang yang dingin, yang tidak pernah bisa dekat dengan anak-anaknya. Tapi itu spekulasi tanpa suatu data yang valid. Waktu aku masih kecil, ayahku memang sering  marah padaku, yah,,, mungkin karena aku memang nakal waktu itu. Sehingga, anggapan “galak” itu mampir ke benakku. Tapi baru-baru ini aku menyadari sesuatu, mungkin anggapan waktu itu timbul karena aku belum begitu memahami keadaan psikologi dari seseorang. Mungkin karena waktu itu, usia beliau masih relative sangat muda, dengan pernikahan yang berusia muda, lalu harus menghadapi dua anak  kecil yang nakal. Spekulasi lagi, tapi ini lebih objektif menilainya.
Aku mulai jatuh cinta padanya ketika mendengar cerita masa kecil ayahku dari pakdhe. Aku termasuk keponakan yang “grapyak” dengan saudara-saudara ayahku, karena aku adalah anak pertama, dan mau tidak mau harus memberi contoh pada adek-adekku. Ayahku , bungsu dari tiga bersaudara,  dua orang kakaknya laki-laki, dan semuanya berkeluarga di sebuah kota  besar yang panas bernama Bojonegoro. Hanya ayahku yang membangun karir dan keluarganya di kota kecil ini. Pakdhe pernah bercerita, bahwa keluarga mereka saat itu hidup sangat sederhana, kekurangan malah. Oleh karena itu, pakdheku itu mengambil pilihan untuk menjadi seorang tukang becak, untuk turut serta memberikan penghasilan bagi keluarga. Ibunya, yang juga nenek dari ayah, menjadi tukang cuci dan setrika untuk menghidupi keluarga. Pakdhe berkisah, bahwa ayahku adalah seorang yang memiliki kemauan yang keras untuk belajar dan sekolah. Jadi, meskipun hidup serba kesulitan, ayah tak pernah ingin putus sekolah. Maka waktu itu ayah berjualan es lilin keliling kampung, berjualan kelereng, dan apa saja yang bisa membuatnya tetap bersekolah. “Aku mbrebes Ta, yen kelingan bapakmu dodolan es lilin ben tetep iso sekolah” Kata Pakdhe. Pantas saja, sampai sekarang pun ketika hidupnya sudah terjamin sebagai Pegawai Negeri, tetap saja gaya hidupnya sangat sederhana. Beliau ini sangat rajin, bahkan tak bisa diam  meski hanya sejenak. Ketika kami, anak-anaknya masih terlelap, beliau sudah melakukan aktivitas paginya. Atau ketika kami yang tidur siang, beliau sudah jalan-jalan di kandang ayam, menyapu halaman dan  apa pun yang bisa dikerjakannya seusai dari kantor.
Cerita itu sudah lama sekali, namun tetap tersimpan rapi di memori otakku. Sampai suatu ketika, aku menyapu rumah dan menemukan sebuah “celengan” dari bamboo. Tampaknya buatan ayahku sendiri, bertuliskan “Mak, aku ingin pulang.” Melihat itu, aku tak kuasa untuk menahan bulir-bulir bening air mataku. Ya, aku pernah merasakan yang namanya kangen dengan ibu, dan mungkin itu pula yang dirasakannya waktu itu. Tidak sepertiku yang bisa pulang kapan saja dengan nyaman, tinggal menelepon agen travel, menentukan jam, lalu aku sudah berada di depan rumah. Tapi ayahku, untuk pulang ke Bojonegoro harus menempuh waktu yang lama, sekitar 8 jam, itu pun harus berganti bus sebanyak 3 kali. Maka aku pun maklum, jika untuk pulang pun harus memiliki bekal yang cukup, termasuk bekal financial.
Ayahku, tipe orang yang sangat rela berkorban. Entah apa yang dialami adek-adekku, tapi yang kualami sudah lebih dari cukup untuk meminta pembuktian dari cintanya. Kau tahu kawan, aku sangat mencintai Pramuka. Ketika aku SMA, ada suatu event yang disebut sebagai pelantikan bantara. Proses untuk mendapatkan tanda bantara itu, harus melalui serangkaian ujian, mulai dari ujian SKU, ujian fisik dan ujian mental. Singkat kata singkat cerita, di perkemahan itu juga diselenggarakan pelantikan bantara, di mana emblem bantara itu akan disematkan oleh orang tua masing-masing. Pukul 20.00 malam acara dilangsungkan, aku melihat teman-teman seperjuanganku yang berdomisili di kota sudah menemukan orang tuanya.  Namun ada pula, teman-termanku  yang tidak  didampingi orang tuanya, karena kebanyakan mereka adalah anak kos . Begitu juga aku, yang juga anak kos. Anak pinggiran yang bersekolah  di kota. Sebenarnya aku tak berharap banyak bahwa ayahku akan datang, karena jarak rumah kami dengan lokasi perkemahan waktu itu juga lumayan jauh, sekitar 30 menit, apalagi kondisi udara malam yang tak bagus untuk kesehatan itu. Maka, aku cukup berbesar hati dengan keadaan teman-temanku yang juga tak didampingi orang tuanya. Hehe…
Prosesi demi prosesi dilanjutkan, sampai ketika pembawa acara menyatakan bahwa akan ada penyematan  emblem  bantara yang dilakukan oleh orang tua masing-masing peserta pelantikan. Ayahku datang, mencari-cari aku di antara barisan para Pramuka. Aku melihatnya dan memanggil namanya. Emblem sudah di tangan, dan disematkan kepadaku bersama-sama dengan teman-teman yang lain diiringi lagu “Syukur”. “Selamat ya Nduk” katanya waktu itu, tersenyum lalu kembali ke bangku para undangan. Singkat saja, dan kurasa adegannya sama persis di sekuel Sang Pemimpi, ketika ayah Ikal datang di pengambilan raportnya setelah menempuh jarak yang jauh dengan bersepeda. Ketika datang dan menerima raport Ikal, ayahnya hanya menemuinya, tersenyum, menepuk pundak, lalu berucap salam, lantas pulang dengan kembali mengayuh sepeda. Setelah itu aku mengalami guncangan yang luar biasa. Teman-temanku sudah lebih dulu menangis, dan aku pun terbawa suasana. (waktu itu aku belum tahu kalau aku seorang melankolis sempurna).
Oh, ayahku. Bukan Cuma itu. Awal aku bisa mengendarai motor dan harus kubawa ke tempat sekolahku yang harus melewati jalanan yang menukik lagi curam, lagi-lagi beliaulah yang mengantarkanku. Lalu pulang ke rumah dengan menggunakan mobil andongan. Atau saat ini ketika aku dituntut memiliki mobilitas yang tinggi di kota pelajar ini, maka si Silvi juga diantarkannya, dan seperti waktu itu, beliau pulang menggunakan travel.
Ah entahlah, anak macam apa aku ini, yang sampai detik ini belum bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Sebuah toga wisuda dan ijazah kelulusan yang dapat mengukir secercah senyum untuknya. Hmmm,,,, semoga ya Yah,,, semua akan indah tepat pada waktunya. Atau alibiku saja??? Tapi, memang beliau tak pernah menuntutku untuk bersegera, justru beliau memberikan kebebasan untukku, untuk menikmati setiap jejak langkah ketika bergelar mahasiswa, tidak seperti ibuku yang telah memberikan MoU untuk lulus cepat waktu.
Laki-laki sederhana itu, di usianya yang semakin senja menjadi semakin bijaksana karena ilmu dan pengetahuan agama yang ada padanya. Dan untuk kesekian kali, lagi-lagi itu membuatku jatuh cinta.

Rumah Cahaya, 2 Januari 2013

Selasa, 11 Desember 2012

Pelangi

Terimakasih sudah menjadi pelangi yang mampir di beranda hatiku.

#eaa... :D
ada pelangi setelah hujan, meski malam ini tak nampak

Tanah Surga… Katanya…  #1


Indonesia kita adalah tanah surga. Tanah yang menyimpan begitu banyak potensi di dalamnya. Mulai dari minyak bumi dan gas, hasil bumi yang melimpah ruah, serta sumber daya manusia yang banyak tersedia. Indonesia kita adalah tanah yang menyimpan banyak cerita. Tanah yang  mencapai kemerdekaan dengan harga sangat mahal, pun untuk mencapai kedaulatan, harus melalui jalan yang begitu panjang. 
Begitulah, tanah surga yang memiliki banyak cerita, tentu saja diincar oleh bermacam-macam mata. Asing mulai merambah tanah Indonesia, dengan dalih menanamkan investasi demi pertumbuhan ekonomi.  Bukan Cuma Negara-negara yang jauh, tapi Negara-negara dekat pun turut serta, dan hal tersebut yang sering menimbulkan sengketa.
Sudah bukan rahasia lagi, bahwa pembangunan di Indonesia masih terpusat, seperti yang dulu dicanangkan oleh Presiden kedua Indonesia. Bahwa dengan pembangunan yang terpusat di Jawa akan memberikan trickle down effect bagi daerah-daerah di sekitarnya, termasuk pulau-pulau selain Jawa. Namun nyatanya, teori dari Adam Smith tersebut menemui jalan buntu, karena bukannya memberi efek positif bagi pembangunan di daerah lain, namun justru mengakibatkan arus urbanisasi yang begitu tinggi.  Orang-orang pinggiran terpukau dengan gemerlap kemewahan yang ditawarkan oleh Jawa, dan berusaha mengadu nasib ke sana. Lantas apa yang terjadi? Urbanisasi menjadi masalah baru bagi daerah metropolitan. Kemiskinan, pemukiman kumuh, pengangguran, gelandangan, dan sebagainya. Sementara daerah-daerah pinggiran yang mereka tinggalkan, tetap tidak tergarap dan tersentuh oleh pembangunan.
Daerah perbatasan, yang menjadi daerah terluar dari Indonesia adalah daerah yang sering dilupakan. Bahwa di dalamnya ada rakyat Indonesia yang alat tukarnya adalah mata uang asing. Rakyat Indonesia yang lebih suka berbelanja di pasar Malaysia atau Singapura daripada di Indonesia karena jaraknya yang lebih dekat ke luar negeri daripada ke Negara sendiri. Rakyat Indonesia yang akses untuk mendapatkan fasilitas umumnya seperti sekolah dan rumah sakit harus ditempuh dengan  menyeberang bantaran  sungai dan rawa. Rakyat Indonesia yang tak pernah melihat wajah presidennya, sekalipun lewat televisi. Rakyat Indonesia yang tak hafal Indonesia Raya dan tak tahu wujud Sang Saka Merah Putih. Ironis.
Daerah perbatasan yang sering menjadi sengketa dengan Negara tetangga. Satu Negara dengan Negara lain saling mengklaim. Hingga sebuah rasa kehilangan kepada Sipadan-Ligitan telah menimbukan lubang luka yang dalam, dan hampir terulang pada Ambalat yang ternyata mengandung 764 juta barel minyak bumi dan 1,4 triliyun kaki kubik gas. Bukan hanya itu, pelanggaran batas laut Indonesia oleh luar negeri. Tercatat pada tahun 2007, Tentara Laut Diraja Malaysia melakukan pelanggaran batas sebanyak 84 kali, dan pada tahun 2008  sebanyak 38 kali.  Sebenarnya Indonesia telah menempatkan banyak personilnya untuk menjaga lautan Indonesia, namun  jumlah personil angkatan laut tetaplah tidak sebanding dengan luasnya lautan Indonesia. Nasib yang sama terjadi pada pulau Nipah di Riau yang hampir tenggelam karena adanya reklamasi di Singapura, pun pulau Miangas di utara Sulawesi yang banyak dihuni oleh warga Filiphina.
Begitulah, cerita dari tanah surga yang menyimpan banyak cerita. Cerita dari daerah perbatasan, yang selain membutuhkan pendekatan kesejahteraan, yang harus dimulai dari Sumber Daya Manusianya  juga membutuhkan pendekatan keamanan dari segi penjagaan. Sejengkal tanah maupun setitis ait di lautan Indonesia adalah sebuah kedaulatan yang harus dipertahankan. NKRI harga mati!!!

*Inspired by sebuah film “Tanah Surga Katanya” dan sebuah buku “Heboh Ambalat”

Rabu, 31 Oktober 2012

jika aku on time

"Antum di mana e?
telat terus...
tahu gak, keterlambatan antum itu mendzalimi banyak orang"

teguran pertama. mak jleb-jleb...

selanjutnya...

"antum ini qiyadah bukan?
ada banyak yang merelakan banyak hal buat datang on time."

this is my fault.
apa orang lain memiliki rasa bersalah seperti rasa bersalah yang kumiliki?

Selasa, 09 Oktober 2012

learning by doing


belajar dari kehidupan

bukan sekedar teori karena kita beraksi
darisana kita bisa melihat, mendengar, memahami, merasakan

ternyata ada orang yang lebih lelah raganya, jiwanya, pikirnya.
ternyata masih banyak orang yang yang harus berseteru dengan kehidupan, pun di satu sisi banyak yang masih sembunyi atau bahkan malu-malu dari kehidupan.

belajar dari kehidupan, kita menemui kawan yang dengan sinarnya membuat kita hangat dan terus bersemangat
dan bahkan lawan, yang secara sembunyi atau terang-terangan ingin menjatuhkan

belajar dari kehidupan kita menemui pemimpin sejati
yang tidak pernah lari walau badai kehidupan menghampiri
karena ia menyelaraskan rasio dengan nurani
tetap tenang walau banyak tekanan
matanya teduh walau hatinya bergemuruh
ucapnya menentramkan jiwa semua hamba
tegas tanpa amarah
jelas kemana melangkah

dan bahkan kita menjadi pemimpin
bukan karena terpaksa tetapi kesadaran
karena jika hanya diam, tak akan ada perubahan

karena hakikatnya manusia adalah pemimpin di dunia
pemimpin bagi dirinya sendiri dan juga hatinya

belajar dari kehidupan kita akan menemui masalah-masalah
membuat kita berkata, "Aku bosan, aku lelah"
namun ketika dihadapkan dengan solusi, hati kita bahkan lebih cerah

belajar dari kehidupan membuat kita dewasa
karena kita paham dan kita telah melakukannya

belajar dari kehidupan menumbuhkan motivasi
karena dari siapa pun dari manapun kita terinspirasi
dan mulai sekarang giliran kita berkontribusi

SUDAH SIAPKAH MENGINSPIRASI DUNIA INI????

(teruntuk sahabat-sahabatku yang dengan tulusnya memperjuangkan kehidupan meski banyak orang meremehkan
sahabat-sahabatku yang lelah raganya, jiwanya, pikirnya... percayalah semua usahamu tidak sia-sia
sahabat-sahabatku yang tak pernah henti belajar memahami bahwa di balik masalah tercermin suatu hikmah,
dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan----> inna ma'al usri yusron
maka, tetaplah berdiri dan terus berlari mencapai mimpi-mimpi)

learning by doing


belajar dari kehidupan

bukan sekedar teori karena kita beraksi
darisana kita bisa melihat, mendengar, memahami, merasakan

ternyata ada orang yang lebih lelah raganya, jiwanya, pikirnya.
ternyata masih banyak orang yang yang harus berseteru dengan kehidupan, pun di satu sisi banyak yang masih sembunyi atau bahkan malu-malu dari kehidupan.

belajar dari kehidupan, kita menemui kawan yang dengan sinarnya membuat kita hangat dan terus bersemangat
dan bahkan lawan, yang secara sembunyi atau terang-terangan ingin menjatuhkan

belajar dari kehidupan kita menemui pemimpin sejati
yang tidak pernah lari walau badai kehidupan menghampiri
karena ia menyelaraskan rasio dengan nurani
tetap tenang walau banyak tekanan
matanya teduh walau hatinya bergemuruh
ucapnya menentramkan jiwa semua hamba
tegas tanpa amarah
jelas kemana melangkah

dan bahkan kita menjadi pemimpin
bukan karena terpaksa tetapi kesadaran
karena jika hanya diam, tak akan ada perubahan

karena hakikatnya manusia adalah pemimpin di dunia
pemimpin bagi dirinya sendiri dan juga hatinya

belajar dari kehidupan kita akan menemui masalah-masalah
membuat kita berkata, "Aku bosan, aku lelah"
namun ketika dihadapkan dengan solusi, hati kita bahkan lebih cerah

belajar dari kehidupan membuat kita dewasa
karena kita paham dan kita telah melakukannya

belajar dari kehidupan menumbuhkan motivasi
karena dari siapa pun dari manapun kita terinspirasi
dan mulai sekarang giliran kita berkontribusi

SUDAH SIAPKAH MENGINSPIRASI DUNIA INI????

(teruntuk sahabat-sahabatku yang dengan tulusnya memperjuangkan kehidupan meski banyak orang meremehkan
sahabat-sahabatku yang lelah raganya, jiwanya, pikirnya... percayalah semua usahamu tidak sia-sia
sahabat-sahabatku yang tak pernah henti belajar memahami bahwa di balik masalah tercermin suatu hikmah,
dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan----> inna ma'al usri yusron
maka, tetaplah berdiri dan terus berlari mencapai mimpi-mimpi)

revisi-untitle


teringat kata hati untuk tidak menigbarkan bendera putih. terlebih setelah berdiskusi dengan salah satu mahasiswa UGM. 
"Diadvokasi saja, kan jadi timbul pertanyaan, ke mana larinya uang hak mahasiswa itu kalau tidak tersalurkan?" katanya yang memang aktivis mahasiswa.

lalu aku minta pertimbangan advokasi BEM... "Berdayakan dulu advokasi hima, kalau tidak tembus, baru advokasi BEM.." sistem yang tidak to the point menurutku.

tapi kemudian aku teringat,,, ketika pernah mengikuti kajian ada perkataan yang selalu terngiang, "Kalau ada masalah, jangan protes kepada manusia, tapi proteslah kepada penguasa manusia"
dan memang kulakukan, karena itu adalah salah satu bentuk ikhtiar. waktu yang mustajab untuk berdoa, antara adzan dan iqomat subuh hari ini.. tentu saja merajuk pada Tuhan dan bukan berteriak-teriak laksana demo. takut...

dan apa yang terjadi saudara-saudara?

ketika aku ke kampus pagi harinya, mataku tertuju pada pengumuman urgent di papan pengumuman kemahasiswaan FISE yang intinya, perpanjangan pengambilan beasiswa diperpanjang sampai tanggal 30, dan pengumuman itu menyertakan namaku. MIFTA DAMAI R.

SUBHANALLAH... respon Allah memang sangat cepat... dan Dia memang sedang menguji prasangkaku pada-NYA. segera aku mencari tempat strategis untuk sujud syukur...

segala puji bagi ALLAH, Tuhan Semesta Alam...
dan seluruh elemen tubuhku bertahmid dan bertasbih memuji kuasa-NYA....

untitle


rasanya... bagai berjalan di bidang miring.
di satu sisi kau merasakan bahwa sebagian tubuhmu berada di tempat yang tinggi. di sisi lain kau merasa sebagian tubuhmu berada di tempat yang rendah. dan tak lama... kau akan tergelincir ke bawah.
time to take schoolarship was out... hanya terpaut satu hari...
yah,,, bagaimana pun, peraturan tetaplah peraturan, dan tidak bisa sembarangan memberikan kesempatan pada seorang mahasiswa yang belum bisa mengambil "hak" nya karena sakit.
" yah,,, berdoa saja, semoga ada perpanjangan waktu untuk mengambil beasiswa. ini lagi direkap. tapi kata PR III kemarin tak ada perpanjangan lagi," kata petugas di bagian kesejahteraan mahasiswa sambil tersenyum khas birokrat.
dan aku pun tersenyum... kecut...
"baiklah Pak, terima kasih, permisi..." kataku sambil berlalu, tapi naluriku berkata bahwa belum saatnya mengibarkan bendera putih.
"njenengan jurusan apa e mbak?" tanya seorang ibu petugas, mungkin timbul sedikit empati.
"administrasi negara, FISE, bu... mari..." dan aku benar-benar berlalu.
di satu waktu mereka memberi harapan yang indah dan membiarkan anganku melayang sampai ke langit, namun tak terpaut waktu, seketika mereka menghempaskannya ke bawah dan jatuh ke tanah...
bukan sedih... hanya sangat sedih...
bukan kecewa... tapi sangat kecewa...
mengingat perjuangan untuk mendapatkannya pun tak semudah membalikkan telapak tangan

dan langsung aku teringat pada lagunya Bondan feat Fade2 black:
"ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud
ya sudahlah...
saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai
ya sudahlah...
apa pun yang terjadi... dan sayangnya tak ada seorang pun di sini..."
ironis....

satu pelajaran bagi penerima beasiswa, jangan tunggu waktu untuk mengambil beasiswa mu... atau kau akan melihat bagianmu itu hangus terbakar waktu.

satu pelajaran lagi adalah Allah sedang menguji kepekaan, mungkin ini satu bentuk teguran karena kau lalai atau mungkin Dia menguji prasangkamu pada-Nya. karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

dan prasangka ku,,, kalau memang rejeki,,, gak bakal ke mana...

masih adakah benang merahnya?


masa,,, sepertinya boleh berganti
karena bagaimanapun kita diam, waktu tidak akan pernah berhenti
masalahnya,,, kalian pun terus berlari
hingga aku tak bisa menyentuh berapa masa yang telah terlewati?

rasanya memang baru kemarin
kita melalui ujian nasional, salah satu ujian kehidupan
tapi setelah kini kita lulus dari ujian kehidupan,
aku bingung kemana harus mencari kalian?

hmm... terlalu munafik jika tak mau mengakui
seperti aku, kalian mungkin telah jauh berubah
masa-masa SMA mungkin mengajarkan bagaimana kita harus berteori
tapi tampaknya kalian kini mulai beraksi dalam taraf aplikasi

masih terajut dalam hatiku
tiap potong senyum dan tawa kalian
sekalipun dimensi jarak dan waktu telah membentengi ruang kita saat ini
kuharap dimensi doa tetap tak terbatas
karena persahabatan bagiku bukanlah seberapa kita ingat pada kali pertama kita berjumpa
namun seberapa ingat nama-nama sahabat kita kala kita berdoa

aku pun cukup bahagia melihat kalian tumbuh
ya,,, dari sini
sekalipun jarang atau mungkin tak pernah meninjau lewat "say hello" dalam sms
tapi cukup melihat senyum kalian di facebook... kurasa,,,

pertanyaan besarnya,,, masih adakah benang merahnya?
masihkah kalian mengenangku sebagai seorang yang pernah tercatat dalam daftar orang yang kalian kenal dalam benakmu?
masihkah kalian mengingatku sebagai seorang Mifta yang dulu sekalipun kalian temui kini aku adalah orang yang begitu berbeda?

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...