"... Allah, Ya Allah guide me all the way to your jannah..."
nada dering hp ku. dan aku tahu siapa yang tengah menelepon. Nomor ayahku, tapi aku tahu pasti bahwa ibu yang akan berbicara. Aku pun tahu kira-kira topik pembicaraan yang akan diangkat beliau. seperti sebuah tanya tanpa ujung. Kesabaran yang tiada batas menanyakan hal yang sama berulang kali, dan mendapatkan jawaban yang sama, berulang kali juga. pertanyaan yang akan dilontarkan akan seperti,
"Sudah sampai bab berapa?"
" Bab 3 sudah selesai belum?
Kok belum selesai, kapan?"
"Katanya Februari seminar proposal, ini sudah Maret lho... "
dan dengan air mata yang ditahan-tahan agar tak jatuh, di depan anak-anak kosku tentunya, aku menjawab dengan sok tegar, "lagi proses, bu...". jawaban yang sama, berulang kali. Ah... aku tahu, mungkin karena jawbanku sama terus, maka pertanyaannya pun juga selalu sama. mungkin lain kali aku harus menjawab dengan jawaban yang berbeda, pikirku.
Ibu... ibu, andai tahu betapa menderitanya anak rantau dengan segudang kegalauan akan skripsi ini. satu kata yang sangat sederhana, namun membawa kegelisahan yang amat pelik. Aku ragu, tapi harus. Maka, kusiapkan jawaban ala kadarnya, karena tak mampu berpikir lagi dengan kata-kata lain. Maka kuangkat juga telponnya.
"Assalamu'alaukum..." setelah kupencet tombol terima.
"Wa'alaykumsalam. Nduk, gimana udah sehat, katanya sakit?" aku salah, ternyata ayah yang berbicara. ini tumben, di luar batas kewajaran yang biasa. lalu mengalir pembicaraan kami yang sangat jarang itu. Ya, ayahku tak mengungkapkan cintanya lewat kata, melainkan lewat kata kerja.
dan tiap kali tema "sakit dan sehat" selalu ayah yang terbayang di pelupuk mata. seperti waktu itu....
semester 2 kuliah di kampus asing ini, ternyata menjerumuskanku pada kata manis berjudul aktivis. ya, lalu aku menyibukkan diri dengan berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas mahasiswa di tingkat ormawa. Menginspirasi, pikirku waktu itu yang juga terinspirasi oleh beberapa kakak kelas berbeda jurusan. hal itu membuatku terlibat dengan agenda terbesar organisasiku kala itu, dengan aku sebagai ketua panitia. masalahnya klise, dana. dan hal itu berujung pada pikiran kalut, sekalut benang ruwet. terlebih pada waktu itu aku adalah tipe pemikir berat, di mana setiap masalah kupikir begitu dalam, hingga mengalahkan nafsu makan. singkat cerita aku jatuh sakit, hingga menyebabkan aku dirawat di rumah sakit di kota ini. Ayah dan ibuku datang dengan perjuangan berdarah-darah karena terlalu khawatir. Maka travel yang seharusnya menjadi jatah satu orang, dipakai oleh dua orang sekaligus, dan tentu saja karena ayah adalah pria, ayah yang mengalah. bisa kubayangkan, penumpang yang lain duduk di kursi penumpang dengan nyaman, sementara ayah bergelantungan, mungkin lesehan, ah,,, aku tak tahu dan tak ingin membayangkan. Mereka datang ke kos, dan demamku tak kunjung sembuh, pun sakit kepala di sekujur tengkoraknya, adalah sakit yang tak biasa kualami. Maka paginya, aku dirujuk ke rumah sakit swasta terdekat, yang kutahu saat itu.
seperti skenario di dalam sinetron, aku dihampiri dokter di UGD, dan ibuku menangis-nangis, "Dokter... tolong anak saya dokter..."
aku membatin. "Hadeuh, sinetron beud ini." Maka aku berkata dengan lemah. "Gak ada acara nangis-nangisan bu... "
setelah diperiksa aku diinfus dan dibawa ke ruang perawatan. wow,,, ini luar biasa, pertama kalinya jarum suntik dan infus menancap di tubuhku, dan aku hanya pasrah.
dan ayah, terlihat sangat tegar. Setiap saat berada di sisiku, membacakan Al-Qur'an. Setiap hari bolak-balik keluar kamarku yang lantai empat, sedangkan ayah tak mau menggunakan lift. bisa diterka, ayah hanya menggunakan tangga manual bolak-balik dari lantai dasar ke lantai kamar rawat. belum lagi, harus berjalan bolak-balik dari rumah sakit ke kosanku dengan berjalan kaki. Mencuci bajuku, mencuci bekas ransum, membersihkan kamar, dan kembali membawa perbekalan. dan setiap kali kuprotes, kenapa tak pakai lift, kenapa tak pakai bus kota (karena waktu itu aku belum membawa si silvi, sahabat dan motor perjuangan), dengan santai ayah menjawab, "Sambil olah raga nduk. Lumayan."
tapi aku tahu, beliau lelah. dan makin membuncahkan rasa bersalah di dalam dada, kenapa aku harus sakit segala???
ayah,,,satu-satunya yang tak bertanya tentang skripsi. Dan itu membuatku sangat bahagia, karena beliau justru ingin aku menikmati masa-masa di kampus dengan segudang pengalaman berharga sebagai bekal kelak hidup di dunia nyata.
dan ibu, maafkan aku karena sampai sekarang belum bisa melukis senyum dan memberikan sebuah kebanggaan, sebuah sertifikat kelulusan dan toga wisuda.
Jumat, 08 Maret 2013
Selasa, 26 Februari 2013
Kembali ke Orientasi Awal
Fokus.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.
maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)
pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.
maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)
pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.
Selasa, 05 Februari 2013
Sebuah Cerita Tanpa Judul
“Rasanya itu..
Seperti ada yang membuat pundakmu
jadi ringan
Tapi di saat bersamaan justru
hatimu menanggung beban
Ada cinta yang tak terkatakan
Dan perasaan yang tak
tersampaikan
Namun biarkan
Asal semua mampu bermuara
Pada sebuah samudera bernama doa”
Kutipan kata-kata di atas, adalah representasi
perasaan yang aku tanggung setelah dinyatakan demisioner malam itu. Jujur, aku
bukan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan di hadapan banyak orang.
Misterius katanya, atau pada waktu BEM SPIRIT DAY pertama, banyak yang bilang
kalau aku adalah orang yang sangat tertutup. Ya, memang. Karena aku sendiri
menyadari, bahwa dari awal aku sudah didesain sebagai pendengar, tipe-tipe
orang yang suka mendapatkan keluh kesah
dari orang lain. Bagaimana tidak? Memang terkadang sulit memiliki nama Damai,
karena harus menjaga kedamaian hati orang lain meskipun hati sendiri sedang “kemrungsung.” Atau mungkin karena itu
aku dipilih sebagai kadept PSDM? Hehe… ^^ semoga walau tak terungkap lewat
kata, tulisan ini dapat mengilustrasikannya.
Cerita ini bermula
dari naik tahtanya seorang Satria. Suksesi untuknya berjalan mulus,
karena sejak awal pada dirinya telah
tercermin hati yang tulus. Lalu aku pun diminta, untuk menjadi salah satu
bagian dari keluarganya. Berat. Sungguh berat, aku yang sering hidup dalam
dunia prasangka yang melankolis ini
merasa tak memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKU) untuk memenuhi permintaannya.
Merasa kapasitas belum sampai tapi telah diberikan amanah yang membadai. Hingga
aku pun bertanya, adakah jembatan yang menghubungkan antara kapasitas yang
pas-pasan dengan tanggung jawab yang besar??? Namun, Dasa Dharma Pramuka tak
mengajarkan sesorang lari dari medan perang. Bertanggungjawab dan dapat
dipercaya. Maka kumantapkan niat, memperbarui semangat, dengan mengucap
asma-Nya Yang Maha Agung, amanah itu pun kuletakkan pada pundakku, pada hatiku.
Lalu, setapak demi setapak aku
diperkenalkan dengan orang-orang baru di sekelilingku. Lingkaran pertama,
lingkaran PH, yang bertemu pertama kali dalam romantisme hujan di depan
perpustakaan. Wahyu, Devi, Jumai, Agus, Bening, Handoko, Ipung, Azis,
teman-teman baru yang akan bersama menjadi awak kapal dengan Iman sebagai
nahkodanya. Lantas mengagendakan acara pengikat hati, dengan mengunjungi
Kebumen bersama-sama.
PSDM itu melihat dengan hati,
ketika selanjutnya Up Grading dimulai. Mencoba mengenali satu per satu pasukan
yang akan membersamai perang selama satu periode kepengurusan. Dan semangat di
awal-awal itu menjadi satu langkah baru, terlebih setelah dipertemukan dengan
anak-anak pilihan yang dinisbatkan tanpa persetujuan menjadi Power Ranger.
Sungguh, aku kekanak-kanakan, tapi sampai hari ini pun tak bisa kulepaskan.
Cerita
di Balik Share, Care and Love
Bergelut di dunia sosial,
membuatku harus membaca, terpaksa lebih tepatnya. Aku dipaksa oleh seseorang
untuk membaca setiap kali aku akan berbuat sesuatu. Lalu, kata-kata itu, Share, Care and Love kutemukan pada
sebuah buku marketing perusahaan. Hmmm… bagus pikirku. Lalu ketika Pak Komandan
bertanya, sebenarnya aku asal jawab saja untuk jargon kita: Share, Care and Love. Tak kusangka
keesokan harinya, kata-kata itu benar-benar dipakai setelah dimodifikasi dengan
menggunakan gerakan-gerakan yang mengekspresikannya.
Namun, jargon ini selanjutnya
membuatku khawatir, ketika akhirnya satu demi satu orang saling jatuh cinta di
BEM. Aku mendapat teguran dari sana-sini, karena hal ini dikhawatirkan akan
mengganggu profesionalitas kinerja. Karena pernah ada cerita, BEM di sisi lain
UNY juga pernah menggunakan tema “Romantisme” sampai akhirnya benar-benar
terjadi dua orang aktivis di dalamnya menikah dan menjadi suami istri di
periode kepengurusan mereka. Bagus menurutku… J Namun, aku sempat merasa tak
enak juga. Jangan-jangan karena jargon itu yang membuat para prajurit
berjatuhan karena galau. Galau karena sebuah perasaan bernama cinta. Aku merasa
bersalah, karena bagaimanapun kata-kata adalah doa. Aku bingung bukan main. Masalah semangat, PSDM
masih bisa berusaha, tapi masalah hati, treatment
macam apa yang sesuai???
Menjelang
Pertengahan Tahun
Ibarat sebuah perahu yang
berlayar, tentu akan menemui rintangan-rintangan di lautan. Entah itu badai,
yang membuat kapal kehilangan keseimbangan atau menabrak batu karang, meski
tidak karam. Organisasi ini dengan sendirinya memiliki sistem imunitas yang
tinggi, bahkan tanpa peran PSDM, karena orang-orang di dalamnya adalah
orang-orang pilihan yang dapat berpikir dengan logika dan nurani. Bahasa
sederhananya, solid tanpa harus disolidkan PSDM. Itu kegagalan pertamaku, sekaligus
kebanggaanku. Ditambah ternyata aku gagal mengenali satu per satu tiap personil
yang ada, dan membuat sistem ranger terlalu kuat. Apalagi aku semakin autis
dengan duniaku sendiri, yang sok sibuk dengan akademik dan agenda-agenda lain.
Maka jika seringkali aku dipertanyakan karena jarang berkunjung ke rumah karya,
itu karena kecanggunganku sendiri yang mendera, semakin menciptakan spasi
antara aku dan kita. Agenda-agenda cultural sering kulalui, meski seberapa
inginnya aku membersamai, selalu ada penghalang yang membuatku tak bisa.
Maafkan aku kawan, karena dengan aku yang seperti ini, ternyata aku terlambat
untuk menyadari sesuatu. Terlambat mendeteksi cinta yang seharusnya kutumbuhkan
sejak dini, dan ketika akan kehilangan, baru aku merasakan memiliki. Ah,,,
penyesalan memang selalu datang belakangan.
Pada
Akhirnya, Cinta Adalah Sebuah Kata Kerja
“Karena cinta adalah kata kerja
Lakukanlah kerja jiwa dan raga
untuk mencintainya
Karena cinta adalah kata kerja,
Maka mata airnya adalah niat baik
dari hati yang tulus
Alirannya adalah kerja yang
terus-menerus.”
(Salim A Fillah, Jalan Cinta Para
Pejuang)
Begitulah cinta, ia adalah
pekerjaan jiwa dan raga, bukan sekedar kata. Sementara aku tengah mencintai
kalian melalui kata yang tak terucap, ada orang-orang yang telah membuktikan
cintanya lewat kerja-kerja nyata. Sebut saja namanya, Iman pucuk pimpinan yang
rela berkorban dan ahli negosiasi tingkat tinggi. Wahyu, loyalitasnya terbukti
karena telah mewakafkan diri untuk organisasi ini. Devi, sekretaris yang
mengerti harus berbuat apa bahkan tanpa diminta. Jumai, punggung terkuat yang
selalu membersamai, Bening yang tetap bertahan meskipun sakit-sakitan, Ipung
yang selalu menginspirasi dengan karya-karyanya, Agus dengan sifat kebapakan yang
selalu bijaksana dan cekatan, Handoko yang mengatasi setiap kebutuhan
organisasi dengan caranya sendiri, dan Azis dengan warnanya sendiri, memberi
nuansa pelangi. Begitu juga dengan yang lain, yang tak bisa kusebutkan satu per
satu kebaikannya, karena setiap langkah kebersamaan kita, semuanya tampak baik
di pandangan mata.
Hmmm… inilah akhir coretan gak
jelas ini, sebuah refleksi perjalanan yang di dalamnya aku banyak berkaca
sendiri. Suatu hari, akan menjadi sebuah rekam jejak dan pembelajaran yang tak
kan lekang dalam ingatan. Mari perbaiki kembali spasi antara aku dan kita,
meski tak lagi bersama. J
Senin, 21 Januari 2013
My First Love
“Setiap
ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuannya.”
(pepatah)
Ayahku,
adalah cinta pertamaku. Bagaimana tidak? Beliau adalah kaum Adam pertama yang
kulihat ketika aku membuka mata, yang dengan kelembutannya selalu menjagaku, ya
mesti tak pernah ditampakkannya.
Dulunya,
aku menganggap ayahku adalah seorang yang dingin, yang tidak pernah bisa dekat
dengan anak-anaknya. Tapi itu spekulasi tanpa suatu data yang valid. Waktu aku
masih kecil, ayahku memang sering marah
padaku, yah,,, mungkin karena aku memang nakal waktu itu. Sehingga, anggapan
“galak” itu mampir ke benakku. Tapi baru-baru ini aku menyadari sesuatu,
mungkin anggapan waktu itu timbul karena aku belum begitu memahami keadaan
psikologi dari seseorang. Mungkin karena waktu itu, usia beliau masih relative
sangat muda, dengan pernikahan yang berusia muda, lalu harus menghadapi dua
anak kecil yang nakal. Spekulasi lagi,
tapi ini lebih objektif menilainya.
Aku
mulai jatuh cinta padanya ketika mendengar cerita masa kecil ayahku dari
pakdhe. Aku termasuk keponakan yang “grapyak” dengan saudara-saudara ayahku,
karena aku adalah anak pertama, dan mau tidak mau harus memberi contoh pada
adek-adekku. Ayahku , bungsu dari tiga bersaudara, dua orang kakaknya laki-laki, dan semuanya
berkeluarga di sebuah kota besar yang
panas bernama Bojonegoro. Hanya ayahku yang membangun karir dan keluarganya di
kota kecil ini. Pakdhe pernah bercerita, bahwa keluarga mereka saat itu hidup
sangat sederhana, kekurangan malah. Oleh karena itu, pakdheku itu mengambil
pilihan untuk menjadi seorang tukang becak, untuk turut serta memberikan
penghasilan bagi keluarga. Ibunya, yang juga nenek dari ayah, menjadi tukang
cuci dan setrika untuk menghidupi keluarga. Pakdhe berkisah, bahwa ayahku
adalah seorang yang memiliki kemauan yang keras untuk belajar dan sekolah.
Jadi, meskipun hidup serba kesulitan, ayah tak pernah ingin putus sekolah. Maka
waktu itu ayah berjualan es lilin keliling kampung, berjualan kelereng, dan apa
saja yang bisa membuatnya tetap bersekolah. “Aku mbrebes Ta, yen kelingan
bapakmu dodolan es lilin ben tetep iso sekolah” Kata Pakdhe. Pantas saja,
sampai sekarang pun ketika hidupnya sudah terjamin sebagai Pegawai Negeri,
tetap saja gaya hidupnya sangat sederhana. Beliau ini sangat rajin, bahkan tak
bisa diam meski hanya sejenak. Ketika
kami, anak-anaknya masih terlelap, beliau sudah melakukan aktivitas paginya.
Atau ketika kami yang tidur siang, beliau sudah jalan-jalan di kandang ayam,
menyapu halaman dan apa pun yang bisa
dikerjakannya seusai dari kantor.
Cerita
itu sudah lama sekali, namun tetap tersimpan rapi di memori otakku. Sampai
suatu ketika, aku menyapu rumah dan menemukan sebuah “celengan” dari bamboo.
Tampaknya buatan ayahku sendiri, bertuliskan “Mak, aku ingin pulang.” Melihat
itu, aku tak kuasa untuk menahan bulir-bulir bening air mataku. Ya, aku pernah
merasakan yang namanya kangen dengan ibu, dan mungkin itu pula yang
dirasakannya waktu itu. Tidak sepertiku yang bisa pulang kapan saja dengan
nyaman, tinggal menelepon agen travel, menentukan jam, lalu aku sudah berada di
depan rumah. Tapi ayahku, untuk pulang ke Bojonegoro harus menempuh waktu yang
lama, sekitar 8 jam, itu pun harus berganti bus sebanyak 3 kali. Maka aku pun
maklum, jika untuk pulang pun harus memiliki bekal yang cukup, termasuk bekal
financial.
Ayahku,
tipe orang yang sangat rela berkorban. Entah apa yang dialami adek-adekku, tapi
yang kualami sudah lebih dari cukup untuk meminta pembuktian dari cintanya. Kau
tahu kawan, aku sangat mencintai Pramuka. Ketika aku SMA, ada suatu event yang
disebut sebagai pelantikan bantara. Proses untuk mendapatkan tanda bantara itu,
harus melalui serangkaian ujian, mulai dari ujian SKU, ujian fisik dan ujian
mental. Singkat kata singkat cerita, di perkemahan itu juga diselenggarakan
pelantikan bantara, di mana emblem bantara itu akan disematkan oleh orang tua
masing-masing. Pukul 20.00 malam acara dilangsungkan, aku melihat teman-teman
seperjuanganku yang berdomisili di kota sudah menemukan orang tuanya. Namun ada pula, teman-termanku yang tidak
didampingi orang tuanya, karena kebanyakan mereka adalah anak kos .
Begitu juga aku, yang juga anak kos. Anak pinggiran yang bersekolah di kota. Sebenarnya aku tak berharap banyak
bahwa ayahku akan datang, karena jarak rumah kami dengan lokasi perkemahan
waktu itu juga lumayan jauh, sekitar 30 menit, apalagi kondisi udara malam yang
tak bagus untuk kesehatan itu. Maka, aku cukup berbesar hati dengan keadaan
teman-temanku yang juga tak didampingi orang tuanya. Hehe…
Prosesi
demi prosesi dilanjutkan, sampai ketika pembawa acara menyatakan bahwa akan ada
penyematan emblem bantara yang dilakukan oleh orang tua
masing-masing peserta pelantikan. Ayahku datang, mencari-cari aku di antara
barisan para Pramuka. Aku melihatnya dan memanggil namanya. Emblem sudah di
tangan, dan disematkan kepadaku bersama-sama dengan teman-teman yang lain
diiringi lagu “Syukur”. “Selamat ya Nduk” katanya waktu itu, tersenyum lalu
kembali ke bangku para undangan. Singkat saja, dan kurasa adegannya sama persis
di sekuel Sang Pemimpi, ketika ayah Ikal datang di pengambilan raportnya
setelah menempuh jarak yang jauh dengan bersepeda. Ketika datang dan menerima
raport Ikal, ayahnya hanya menemuinya, tersenyum, menepuk pundak, lalu berucap
salam, lantas pulang dengan kembali mengayuh sepeda. Setelah itu aku mengalami
guncangan yang luar biasa. Teman-temanku sudah lebih dulu menangis, dan aku pun
terbawa suasana. (waktu itu aku belum tahu kalau aku seorang melankolis
sempurna).
Oh,
ayahku. Bukan Cuma itu. Awal aku bisa mengendarai motor dan harus kubawa ke
tempat sekolahku yang harus melewati jalanan yang menukik lagi curam, lagi-lagi
beliaulah yang mengantarkanku. Lalu pulang ke rumah dengan menggunakan mobil
andongan. Atau saat ini ketika aku dituntut memiliki mobilitas yang tinggi di
kota pelajar ini, maka si Silvi juga diantarkannya, dan seperti waktu itu,
beliau pulang menggunakan travel.
Ah
entahlah, anak macam apa aku ini, yang sampai detik ini belum bisa memberikan
kebahagiaan untuknya. Sebuah toga wisuda dan ijazah kelulusan yang dapat
mengukir secercah senyum untuknya. Hmmm,,,, semoga ya Yah,,, semua akan indah
tepat pada waktunya. Atau alibiku saja??? Tapi, memang beliau tak pernah
menuntutku untuk bersegera, justru beliau memberikan kebebasan untukku, untuk menikmati
setiap jejak langkah ketika bergelar mahasiswa, tidak seperti ibuku yang telah
memberikan MoU untuk lulus cepat waktu.
Laki-laki
sederhana itu, di usianya yang semakin senja menjadi semakin bijaksana karena
ilmu dan pengetahuan agama yang ada padanya. Dan untuk kesekian kali, lagi-lagi
itu membuatku jatuh cinta.
Rumah
Cahaya, 2 Januari 2013
Selasa, 11 Desember 2012
Pelangi
Terimakasih sudah menjadi pelangi yang mampir di beranda hatiku.
#eaa... :D
ada pelangi setelah hujan, meski malam ini tak nampak
#eaa... :D
ada pelangi setelah hujan, meski malam ini tak nampak
Tanah Surga… Katanya… #1
Indonesia kita adalah tanah
surga. Tanah yang menyimpan begitu banyak potensi di dalamnya. Mulai dari
minyak bumi dan gas, hasil bumi yang melimpah ruah, serta sumber daya manusia
yang banyak tersedia. Indonesia kita adalah tanah yang menyimpan banyak cerita.
Tanah yang mencapai kemerdekaan dengan
harga sangat mahal, pun untuk mencapai kedaulatan, harus melalui jalan yang
begitu panjang.
Begitulah, tanah surga yang
memiliki banyak cerita, tentu saja diincar oleh bermacam-macam mata. Asing
mulai merambah tanah Indonesia, dengan dalih menanamkan investasi demi
pertumbuhan ekonomi. Bukan Cuma Negara-negara
yang jauh, tapi Negara-negara dekat pun turut serta, dan hal tersebut yang
sering menimbulkan sengketa.
Sudah bukan rahasia lagi,
bahwa pembangunan di Indonesia masih terpusat, seperti yang dulu dicanangkan
oleh Presiden kedua Indonesia. Bahwa dengan pembangunan yang terpusat di Jawa
akan memberikan trickle down effect
bagi daerah-daerah di sekitarnya, termasuk pulau-pulau selain Jawa. Namun
nyatanya, teori dari Adam Smith tersebut menemui jalan buntu, karena bukannya
memberi efek positif bagi pembangunan di daerah lain, namun justru
mengakibatkan arus urbanisasi yang begitu tinggi. Orang-orang pinggiran terpukau dengan gemerlap
kemewahan yang ditawarkan oleh Jawa, dan berusaha mengadu nasib ke sana. Lantas
apa yang terjadi? Urbanisasi menjadi masalah baru bagi daerah metropolitan.
Kemiskinan, pemukiman kumuh, pengangguran, gelandangan, dan sebagainya.
Sementara daerah-daerah pinggiran yang mereka tinggalkan, tetap tidak tergarap
dan tersentuh oleh pembangunan.
Daerah perbatasan, yang
menjadi daerah terluar dari Indonesia adalah daerah yang sering dilupakan.
Bahwa di dalamnya ada rakyat Indonesia yang alat tukarnya adalah mata uang
asing. Rakyat Indonesia yang lebih suka berbelanja di pasar Malaysia atau
Singapura daripada di Indonesia karena jaraknya yang lebih dekat ke luar negeri
daripada ke Negara sendiri. Rakyat Indonesia yang akses untuk mendapatkan
fasilitas umumnya seperti sekolah dan rumah sakit harus ditempuh dengan menyeberang bantaran sungai dan rawa. Rakyat Indonesia yang tak
pernah melihat wajah presidennya, sekalipun lewat televisi. Rakyat Indonesia
yang tak hafal Indonesia Raya dan tak tahu wujud Sang Saka Merah Putih. Ironis.
Daerah perbatasan yang sering
menjadi sengketa dengan Negara tetangga. Satu Negara dengan Negara lain saling
mengklaim. Hingga sebuah rasa kehilangan kepada Sipadan-Ligitan telah
menimbukan lubang luka yang dalam, dan hampir terulang pada Ambalat yang
ternyata mengandung 764 juta barel minyak bumi dan 1,4 triliyun kaki kubik gas.
Bukan hanya itu, pelanggaran batas laut Indonesia oleh luar negeri. Tercatat
pada tahun 2007, Tentara Laut Diraja Malaysia melakukan pelanggaran batas
sebanyak 84 kali, dan pada tahun 2008
sebanyak 38 kali. Sebenarnya
Indonesia telah menempatkan banyak personilnya untuk menjaga lautan Indonesia,
namun jumlah personil angkatan laut
tetaplah tidak sebanding dengan luasnya lautan Indonesia. Nasib yang sama
terjadi pada pulau Nipah di Riau yang hampir tenggelam karena adanya reklamasi
di Singapura, pun pulau Miangas di utara Sulawesi yang banyak dihuni oleh warga
Filiphina.
Begitulah, cerita dari tanah
surga yang menyimpan banyak cerita. Cerita dari daerah perbatasan, yang selain
membutuhkan pendekatan kesejahteraan, yang harus dimulai dari Sumber Daya
Manusianya juga membutuhkan pendekatan
keamanan dari segi penjagaan. Sejengkal tanah maupun setitis ait di lautan
Indonesia adalah sebuah kedaulatan yang harus dipertahankan. NKRI harga mati!!!
*Inspired by sebuah film “Tanah Surga
Katanya” dan sebuah buku “Heboh Ambalat”
Rabu, 31 Oktober 2012
jika aku on time
"Antum di mana e?
telat terus...
tahu gak, keterlambatan antum itu mendzalimi banyak orang"
teguran pertama. mak jleb-jleb...
selanjutnya...
"antum ini qiyadah bukan?
ada banyak yang merelakan banyak hal buat datang on time."
this is my fault.
apa orang lain memiliki rasa bersalah seperti rasa bersalah yang kumiliki?
telat terus...
tahu gak, keterlambatan antum itu mendzalimi banyak orang"
teguran pertama. mak jleb-jleb...
selanjutnya...
"antum ini qiyadah bukan?
ada banyak yang merelakan banyak hal buat datang on time."
this is my fault.
apa orang lain memiliki rasa bersalah seperti rasa bersalah yang kumiliki?
Selasa, 09 Oktober 2012
learning by doing
belajar dari kehidupan
bukan sekedar teori karena kita beraksi
darisana kita bisa melihat, mendengar, memahami, merasakan
ternyata ada orang yang lebih lelah raganya, jiwanya, pikirnya.
ternyata masih banyak orang yang yang harus berseteru dengan kehidupan, pun di satu sisi banyak yang masih sembunyi atau bahkan malu-malu dari kehidupan.
belajar dari kehidupan, kita menemui kawan yang dengan sinarnya membuat kita hangat dan terus bersemangat
dan bahkan lawan, yang secara sembunyi atau terang-terangan ingin menjatuhkan
belajar dari kehidupan kita menemui pemimpin sejati
yang tidak pernah lari walau badai kehidupan menghampiri
karena ia menyelaraskan rasio dengan nurani
tetap tenang walau banyak tekanan
matanya teduh walau hatinya bergemuruh
ucapnya menentramkan jiwa semua hamba
tegas tanpa amarah
jelas kemana melangkah
dan bahkan kita menjadi pemimpin
bukan karena terpaksa tetapi kesadaran
karena jika hanya diam, tak akan ada perubahan
karena hakikatnya manusia adalah pemimpin di dunia
pemimpin bagi dirinya sendiri dan juga hatinya
belajar dari kehidupan kita akan menemui masalah-masalah
membuat kita berkata, "Aku bosan, aku lelah"
namun ketika dihadapkan dengan solusi, hati kita bahkan lebih cerah
belajar dari kehidupan membuat kita dewasa
karena kita paham dan kita telah melakukannya
belajar dari kehidupan menumbuhkan motivasi
karena dari siapa pun dari manapun kita terinspirasi
dan mulai sekarang giliran kita berkontribusi
SUDAH SIAPKAH MENGINSPIRASI DUNIA INI????
(teruntuk sahabat-sahabatku yang dengan tulusnya memperjuangkan kehidupan meski banyak orang meremehkan
sahabat-sahabatku yang lelah raganya, jiwanya, pikirnya... percayalah semua usahamu tidak sia-sia
sahabat-sahabatku yang tak pernah henti belajar memahami bahwa di balik masalah tercermin suatu hikmah,
dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan----> inna ma'al usri yusron
maka, tetaplah berdiri dan terus berlari mencapai mimpi-mimpi)
learning by doing
belajar dari kehidupan
bukan sekedar teori karena kita beraksi
darisana kita bisa melihat, mendengar, memahami, merasakan
ternyata ada orang yang lebih lelah raganya, jiwanya, pikirnya.
ternyata masih banyak orang yang yang harus berseteru dengan kehidupan, pun di satu sisi banyak yang masih sembunyi atau bahkan malu-malu dari kehidupan.
belajar dari kehidupan, kita menemui kawan yang dengan sinarnya membuat kita hangat dan terus bersemangat
dan bahkan lawan, yang secara sembunyi atau terang-terangan ingin menjatuhkan
belajar dari kehidupan kita menemui pemimpin sejati
yang tidak pernah lari walau badai kehidupan menghampiri
karena ia menyelaraskan rasio dengan nurani
tetap tenang walau banyak tekanan
matanya teduh walau hatinya bergemuruh
ucapnya menentramkan jiwa semua hamba
tegas tanpa amarah
jelas kemana melangkah
dan bahkan kita menjadi pemimpin
bukan karena terpaksa tetapi kesadaran
karena jika hanya diam, tak akan ada perubahan
karena hakikatnya manusia adalah pemimpin di dunia
pemimpin bagi dirinya sendiri dan juga hatinya
belajar dari kehidupan kita akan menemui masalah-masalah
membuat kita berkata, "Aku bosan, aku lelah"
namun ketika dihadapkan dengan solusi, hati kita bahkan lebih cerah
belajar dari kehidupan membuat kita dewasa
karena kita paham dan kita telah melakukannya
belajar dari kehidupan menumbuhkan motivasi
karena dari siapa pun dari manapun kita terinspirasi
dan mulai sekarang giliran kita berkontribusi
SUDAH SIAPKAH MENGINSPIRASI DUNIA INI????
(teruntuk sahabat-sahabatku yang dengan tulusnya memperjuangkan kehidupan meski banyak orang meremehkan
sahabat-sahabatku yang lelah raganya, jiwanya, pikirnya... percayalah semua usahamu tidak sia-sia
sahabat-sahabatku yang tak pernah henti belajar memahami bahwa di balik masalah tercermin suatu hikmah,
dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan----> inna ma'al usri yusron
maka, tetaplah berdiri dan terus berlari mencapai mimpi-mimpi)
revisi-untitle
teringat kata hati untuk tidak menigbarkan bendera putih. terlebih setelah berdiskusi dengan salah satu mahasiswa UGM.
"Diadvokasi saja, kan jadi timbul pertanyaan, ke mana larinya uang hak mahasiswa itu kalau tidak tersalurkan?" katanya yang memang aktivis mahasiswa.
lalu aku minta pertimbangan advokasi BEM... "Berdayakan dulu advokasi hima, kalau tidak tembus, baru advokasi BEM.." sistem yang tidak to the point menurutku.
tapi kemudian aku teringat,,, ketika pernah mengikuti kajian ada perkataan yang selalu terngiang, "Kalau ada masalah, jangan protes kepada manusia, tapi proteslah kepada penguasa manusia"
dan memang kulakukan, karena itu adalah salah satu bentuk ikhtiar. waktu yang mustajab untuk berdoa, antara adzan dan iqomat subuh hari ini.. tentu saja merajuk pada Tuhan dan bukan berteriak-teriak laksana demo. takut...
dan apa yang terjadi saudara-saudara?
ketika aku ke kampus pagi harinya, mataku tertuju pada pengumuman urgent di papan pengumuman kemahasiswaan FISE yang intinya, perpanjangan pengambilan beasiswa diperpanjang sampai tanggal 30, dan pengumuman itu menyertakan namaku. MIFTA DAMAI R.
SUBHANALLAH... respon Allah memang sangat cepat... dan Dia memang sedang menguji prasangkaku pada-NYA. segera aku mencari tempat strategis untuk sujud syukur...
segala puji bagi ALLAH, Tuhan Semesta Alam...
dan seluruh elemen tubuhku bertahmid dan bertasbih memuji kuasa-NYA....
untitle
rasanya... bagai berjalan di bidang miring.
di satu sisi kau merasakan bahwa sebagian tubuhmu berada di tempat yang tinggi. di sisi lain kau merasa sebagian tubuhmu berada di tempat yang rendah. dan tak lama... kau akan tergelincir ke bawah.
time to take schoolarship was out... hanya terpaut satu hari...
yah,,, bagaimana pun, peraturan tetaplah peraturan, dan tidak bisa sembarangan memberikan kesempatan pada seorang mahasiswa yang belum bisa mengambil "hak" nya karena sakit.
" yah,,, berdoa saja, semoga ada perpanjangan waktu untuk mengambil beasiswa. ini lagi direkap. tapi kata PR III kemarin tak ada perpanjangan lagi," kata petugas di bagian kesejahteraan mahasiswa sambil tersenyum khas birokrat.
dan aku pun tersenyum... kecut...
"baiklah Pak, terima kasih, permisi..." kataku sambil berlalu, tapi naluriku berkata bahwa belum saatnya mengibarkan bendera putih.
"njenengan jurusan apa e mbak?" tanya seorang ibu petugas, mungkin timbul sedikit empati.
"administrasi negara, FISE, bu... mari..." dan aku benar-benar berlalu.
di satu waktu mereka memberi harapan yang indah dan membiarkan anganku melayang sampai ke langit, namun tak terpaut waktu, seketika mereka menghempaskannya ke bawah dan jatuh ke tanah...
bukan sedih... hanya sangat sedih...
bukan kecewa... tapi sangat kecewa...
mengingat perjuangan untuk mendapatkannya pun tak semudah membalikkan telapak tangan
dan langsung aku teringat pada lagunya Bondan feat Fade2 black:
"ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud
ya sudahlah...
saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai
ya sudahlah...
apa pun yang terjadi... dan sayangnya tak ada seorang pun di sini..."
ironis....
satu pelajaran bagi penerima beasiswa, jangan tunggu waktu untuk mengambil beasiswa mu... atau kau akan melihat bagianmu itu hangus terbakar waktu.
satu pelajaran lagi adalah Allah sedang menguji kepekaan, mungkin ini satu bentuk teguran karena kau lalai atau mungkin Dia menguji prasangkamu pada-Nya. karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
dan prasangka ku,,, kalau memang rejeki,,, gak bakal ke mana...
Langganan:
Postingan (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
-
Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah ...
-
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...