Bagaimanapun, menulis itu candu. Suatu kelakuan aneh yang tiba-tiba mengintervensi sistem imunku. Bagaimana bisa? Ketika diam dan melamunkan dalam hati adalah yang indah lagi mudah untuk dilakukan. Tidak perlu repot-repot mengetik pada keyboard sebuah komputer tua, meletakkan 10 jarimu di sana, dan menempatkan tiap-tiap personil jari pada tuts-tuts tertentu, lalu membuatnya bersinergi dan bergerak bersama. Tidak perlu menyusun kata-kata yang terkadang muncul dan kadang hilang tenggelam, karam oleh lautan pikiran. Semacam syndrome kau ingin mengutarakan perasaanmu pada seseorang, tetapi tercekat di ujung tenggorokan, atau lidah menjadi seolah-olah kelu tanpa sebab yang tentu.
Bagaimanapun, menulis itu candu. Seperti menulis sebuah masterpiece tiap mahasiswa tingkat akhir. Sebuah kata saja, yang terkadang bisa menjadi momok yang paling menyiksa. Tak enak makan, kurang tidur, selalu kepikiran, terbawa dalam mimpi, persis seperti gejala seseorang yang dikatakan jatuh cinta. Satu kata yang pada awalnya membuat gelisah, hanya untuk menentukan serangkaian kalimat yang kemudian disebut judul. Kau mungkin sama denganku, harus mencari jawabannya lewat sujud beberapa malam, meminta kemantapan. Lalu di tengah-tengah kau menjadi lupa. Menjelang waktu akhir, kau baru sadar, bahwa masa tenggang-mu hampir berakhir. Lalu menyesal di ujung harapan. Layu sebelum berkembang.
Kasus lain, ada yang tiba-tiba terbakar, menjadi seorang pemberani yang mencoba menantang berkelahi waktu. Perkara apa pun yang terjadi, bukankah Tuhan kita Maha Penentu? Si pemberani mendobrak ruang-ruang ketidakberdayaan yang berkecamuk seperti suara nyamuk, semacam "gemes" pada keterbatasan. Ah, keterbatasan mungkin saja hanya alasan. Bukankah manusia dicipta untuk menjadi pengelola?
Bagaimanapun, menulis adalah candu. Ketika pikiran mengalirkan sungai-sungai kata yang beranak- pinak menjadi kalimat-kalimat ajaib. Sungguh, menulisnya tak seperti bercerita di dalam novel. Di mana penulisnya bisa membuat alur cerita semaunya. Menjadi seorang putri yang di akhir cerita menikah dan hidup bahagia dengan Pangeran berkuda. Dongeng "sesat" setiap anak perempuan di negeri kita, lalu membuat pola pikirnya benar-benar seperti seorang putri, yang tak perlu melakukan apa-apa, tiba-tiba hidup bahagia. Sungguh, menulisnya sangat emosional, meski tak seperti menuangkan emosi pada curhatan di dalam diary. Emosional karena seringkali kau telah bekerja keras tapi masih banyak celah di sana sini. Belum lagi kau harus menghadapi rasa kesendirian yang jahat, karena tanpa kau sadari teman-temanmu satu -persatu telah mulai pergi. Kau masih di sini. Menatap layar komputer setiap saat, di antara berbagai tekanan karena sebuah pertanyaan klasik yang dapat berupa banyak bentuk dengan arti yang sama,
"Sudah sampai mana skripsinya?"
"Kapan ujian?"
"Jadi, target wisudanya kapan?"
Bagaimanapun, menulis adalah candu. Begitukah juga dengan menulis skripsimu? Jatuh cintakah kau padanya?
*Kipas angin 24 jam, pukul 2 kurang 10 menit dalam kotak pandora 3x3, insomia, afghan dan secangkir kopi. Semoga menjadi saat-saat yang dirindukan. Karena tiap fase adalah pembelajaran.
Hey,,, sudahkah ada buku berjudul "Jalan Skripsi Para Aktivis?"
Kalau belum, bukankah baik mengkonversikan energi kegalauan-kegalauan kita menjadi inspirasi tersendiri bagi orang-orang yang berkenan membacanya? :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
-
Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah ...
-
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar