Terkadang kita meminta untuk dimengerti. Berusaha menyeret hati orang lain yang tengah berada di ruang, dimensi dan sekat berbeda untuk melebur bersama rasa.
Curhat.
Menyatakan tiap gelisah yang menggelayut di ujung mata. Terbaca, lewat sepasang bola mata yang menyiratkan kisah yang tak biasa. Mungkin karena pundak yang terlalu sakit untuk sekedar diberi beban tambahan. Mungkin karena hati tanpa ruang yang tak memiliki jeda atau spasi. Mungkin karena kecamuk logika yang berusaha mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang tak kunjung kelar.
Terkadang kita ingin dipahami. Memaksa seseorang untuk menyelami samudra lautan hati yang kita miliki. Tapi, bukankan itu sangat sulit untuk dijalani? Bahkan seseorang tersenyum untukmu saja itu adalah suatu hal yang melegakan. Bahkan jika masih ada yang mau mengulurkan tangannya untuk sekedar menggenggam kuat jari-jemarimu, itu sudah luar biasa. Bahkan hati kita terlalu luas dan dalam untuk diselami penyelam setangguh dan sepengalaman apa pun. Buntu. Sebenarnya tidak ada yang benar-benar mengerti-memahami. Sejujurnya yang ada hanyalah empati-mencoba menempatkan diri dan membayangkan jika itu seandainya terjadi padanya.
Tidak, tidak ada yang benar-benar mengerti kecuali dirimu sendiri. Kecuali hati yang terlihat diam membisu. Tentu saja, karena ia berteriak tanpa suara dan menangis tanpa air mata.
Maka, tiada lain yang benar-benar mengerti. Selain Penggenggam Hati. Yang dengan mudah membolak-balikkannya dan menguji tepat di titik lemahnya.
Kamis, 24 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...
-
Administrasi Negara: Batu Loncatan Untuk Masa Depan (Sebuah Refleksi Dari, Untuk, Oleh Mahasiswa AN)Masih terbayang jelas, ketika pengumuman SNMPTN menunjukkan bahwa penulis diterima di Ilmu Administrasi Negara UNY yang merupakan salah ...
-
Pernahkah mendengar kalimat ini? "Tuliskan mimpimu, jangan hanya diingat, karena suatu saat kau bisa melupakannya." Saya, ada...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar