Laskar 9...
Hmmm... entah siapa penggagasnya, bagaimana menjadi pelopornya serta seperti apa sejarah berdirinya, yang kutahu pertama kali aku diundang ke dalam forum itu adalah di mana ketika kami suatu senja bercengkrama bersama di Masjid Kampus UGM pada pertengahan tahun 2012. Tulisan ini adalah tanda cinta kepada sahabat dan saudara seperjuangan yang tergabung di Laskar Sembilan. Mungkin ingatan ini terbatas, meski terkadang aku sangat yakin bahwa aku memiliki ingatan yang fotografis. Semoga tidak terlewat kawan... :D
dimulai dari sahabat dan saudaraku yang akhwat...:
1. Pipin, si lembut hati
pertama kali bertemu dengannya adalah di sebuah tempat bernama Wisma Kadisoka, sebuah tempat yang ternyata tahun-tahun berikutnya menjadi tempat yang sangat dekat dengan aktivitasku selama di kampus ini. Waktu itu Pipin mengenakan jilbab warna abu-abu kembang-kembang (dan sekarang jilbab itu dipake oleh adiknya, dan aku pun berjumpa dengan adiknya pertama kali juga mengenakan jilbab itu, saudara!!!) Pipin ini sosok akhwat luar biasa yang lembut hati, sabar, dan jarang bahkan hampir tidak pernah berkata "tidak" kepada saudaranya. Pintar memasak segala jenis masakan, mulai dari kue sampai masakan-masakan yang menurutku "njlimet" baik bumbu maupun proses memasaknya. Keren lah... sepertinya sudah sangat siap menjadi seorang ibu, karena di manapun dia juga selalu berperan sebagai ibu.
2. Ipeh, eh Hanifah, si sepatu bulu reog #ups,,,
Ipeh ini sahabat karibku yang sudah dua periode menjadi rekan di sie acara OSPEK FISE. Kelihatannya memang galak, tapi sebenarnya dia ini baik hati lho... awalnya sangat "gentleman" dan macho, dengan sandal gunung dan tas ranselnya yang tidak pernah ketinggalan, tapi akhir-akhir ini kulihat banyak perubahan padanya. Dia jadi feminim sekali saudara,,, alhamdulillah, bahkan sekarang punya hijab style yang baru. Sebenarnya sama dengan Pipin (karena memang soulmate-nya), pertama kali bertemu di wisma Kadisoka, dan ketika forum dia pernah bertanya pada pembicara tentang "Kenapa akhwat harus punya jam malam sedangkan yang ikhwan tidak???" #bahkan waktu itu aku gak mudeng apa itu jam malam. hehe... :D
oh iya, tentang sepatu bulu reog. sebenarnya bulu reog ini gara-gara "bercandaan" seorang teman setiap kali bertemu dengannya yang memang berasal dari Ponorogo dan identik dengan Reog Ponorogo-nya, sampai suatu saat aku ketularan gatel nyebut sepatu barunya yang terbuat dari bulu-bulu sebagai "Sepatu Bulu Reog". Sebuah filosofi yang tidak disepakati. Tapi, memang begitulah aku, hehe,,, :D
3. Nisa, si Miss Rempong
Pertama ketemu di OSPEK, ternyata satu jurusan. waktu itu masih lugu abis, pake kaca mata pula. Sekarang???? rempong gilaaa... :D Kukasih tahu rahasia perusahaan orang yang satu ini. Di DM Pocong waktu kami jadi panitia, dia menjadi seorang sie konsumsi yang sangat kreatif, ketika tidak ada alat untuk mengaduk teh yang ada di jumbo, maka dia pakai sesuatu yang tersedia di dapur saat itu. tak ada rotan, akar pun jadi, tak ada pengaduk, sothil pun jadi...
terus teh nya jadi rasa apa saudara-saudara????
Miss rempong ini turut andil besar dalam merempongkan diriku, jadi kalau ada yang melihat sesuatu yang rempong pada seorang Miff Chan, maka itu adalah ajaran si Miss Rempong. ;)
4. Olpy, si pembalap.
ketemu pertama di IEC dalam suatu forum. Waktu itu dia kelihatan horor bin judes. Setelah lama kenal..... ya emang gitu. Lebih horor pas naik motor sama si Olpy,,,, hmmmm,,,, senam jantung tingkat dewa. terobos apa aja.... astaghfirullah.... Tapi dia itu tipe orang yang totalitas tanpa batas. tidak peduli tubuh cungkringnya itu lagi sakit, belum makan, atau belum tidur, selagi masih ada kerjaan ya dia kerjain sampai dia bener-bener ambruk.... habis ambruk kalau masih belum kelar lagi, mungkin sampe ngesot-ngesot.... salut dah...
5. Chika, bakul pulsa yang perfectionis
mungkin karena bergolongan darah A, jadi melakukan segala sesuatu dengan detail dan rapi. Dia ini rajin belajar dan semangat menuntut ilmu. buktinya, setiap ada kajian, pasti namanya nangkring paling atas di buku hadir. Paling disiplin kalau syuro, hampir tidak pernah datang terlambat. jos gandos lah... jadi malu, sangat berkebalikan dengan diriku,,, hahaha,,, :D yang jelas dia itu tempat kembali bagi semua orang yang pingin ngutang pulsa. sip, jos.
6. Bening, KAMMI sejati.
sejak mengenalnya pertama kali, di ini emang udah sangat KAMMI. sampai hari ini pun sangat KAMMI. Golongan darah A juga, katanya kalau memotong sesuatu, misal motong buah gitu, pasti ukurannya mendekati sama. Tipe perfeksionis juga, tapi terkadang membingungkan. Ben kun... :D
hoho,,, bersambung deh, semoga lain kesempatan masih bisa menuliskan nama-nama lain hingga mendekati lengkap.
Kenapa Miff? capek???
iya nih,,, mau istirahat dulu sambil kembali syuro.
*Belum jadi anggota dewan aja, jam terbang rapatnya sudah setinggi ini, gimana kalau jadi Dewan?
#tapi aku nggak mau og jadi anggota dewan, jadi istrinya anggota dewan, nah itu mungkin... hahaha.... :D
Minggu, 28 Juli 2013
Kamis, 30 Mei 2013
maaf, Buk...
00.00 WIB.
1 menit kemudian, halaman yang kuakses lewat N 6600 pemberianmu waktu itu sudah bisa dibuka. Penantian panjangku yang harap-harap cemas terbayar sudah. Kau menemaniku, meski kutahu lelah yang menggantung di pelupuk mata itu sengaja tak kau tampakkan. berbeda denganku yang telah terbiasa dengan insomnia selama masa-masa Ujian Nasional, kau pasti sangat mengantuk, ditambah dengan pekerjaanmu di kantor yang tampaknya menumpuk. Tapi, putri pertamamu, yang kali pertama ingin menjamah bangku kuliah itu mengalahkan segala rasa.
Kuketik no ujian hati-hati, sekedar memastikan tidak ada satu digit pun yang tercecer. Loading. 2 irama dari 2 jantung yang berbeda semakin kencang, meski tak terdengar. Lalu aku berteriak, setelah akhirnya menemukan namaku ada di halaman itu. Administrasi Negara, UNY. Pilihan ketiga memang, tapi cukup memberikan kehangatan malam itu. Ya, aku sudah diterima di sebuah universitas.
Aku tersungkur dalam sujud syukur. Haru menyelimuti hatiku kala itu, Allah baik sekali. Doaku dijawab-Nya dengan hal yang tidak kuduga. Aku sebenarnya ingin menjadi pengajar dan pendidik Bahasa Inggris, seperti expert-ku beberapa tahun terakhir. Administrasi Negara,,,, bahkan aku tak tahu apa itu, tapi jurusan itu kuplih ketika mengisi formulir pendaftaran SNMPTN dengan pertimbangan dari TES IQ terbaruku, bahwa aku dianjurkan untuk masuk ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Walaupun aku tak tahu apa itu, tetap saja logikaku kalah dengan perasaan haru. Dan naluriku mengarahkanku untuk sujud syukur. Tenggelam dalam rasa terima kasih yang tak terhingga pada Sang Penggenggam Jiwa.
Ibuku tersenyum, "Alhamdulillah,,,," katanya. Lalu keluar dari kamarku. "Selamat ya, Ibuk mau shalat tahajud sekalian..."
*****************************************************************************
Siangnya aku berpikir. Jogja, 1 kota yang bahkan tak pernah ada di benakku, dan kini aku harus ke sana. Masih terbesit harapan, mungkin aku diterima di STAN, tapi aku harus menjalani kehidupan di UNY terlebih dahulu, sambil menunggu pengumumannya.
Euphoria keluargaku saat itu, "Memang begitu, Nduk. Harus ada yang meneruskan Bapak dan Ibu jadi PNS. Mungkin kamu bisa jadi Camat atau Bupati nantinya," seloroh Ayahku. Aku cuma senyum-senyum, tak bisa membayangkan.
Maka, berangkat ke Jogja, dengan bekal sederhana. BELAJAR di bangku kuliah, lulus 3,5 tahun lalu bekerja. End. Sederhana sekali, dan aku tidak tahu apa yang telah menantiku di sana.
******************************************************************************
Saat memasuki kampus itu, dalam hati aku berkata, "Kalau aku diterima di STAN, maka aku akan menjadi mahasiswa yang rajin kuliah, tidak akan nyleneh, taat aturan. intinya itu. Tapi, kalau memang takdirku di sini, baiklah, aku tidak akan hanya sekedar kuliah, tapi aku akan ikut banyak organisasi."
titik-titik itu akhirnya terhubung menjadi sebuah benang merah kehidupan. Ketika tiba-tiba aku terpesona pada seseorang di OSPEK dan akhirnya mengantarkanku pada sebuah kata, "amanah". Memperkenalkanku pada Al Ishlah, lalu HIMA, selain itu ada pekerjaan-pekerjaan lain, seperti menjadi pansus, seminar-seminar, dan sebagainya. begitu pun di tahun kedua, menjadi salah satu "pejabat" di HIMA. Tahun ketiga, menjadi public figure dengan amanah yang berbobot meski kapasitas saat itu masih pas-pasan. Pun tahun keempat, memegang peran penting yang tidak bisa dilihat pentingnya di mana. *eh... entahlah apa itu.
selama tiga tahun terakhir, tak ada masalah dengan akademik, nilai-nilaiku cukup cemerlang, cukup bisa menjadi hiasan bintang-bintang yang digantungkan di atas tempat tidur, juga menjadi "anak emas" para dosen. Dan aku menargetkan bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun.
Hanya saja ketika tahun keempat, hal yang seharusnya kuselesaikan lebih dulu menjadi terbengkalai. Bukan karena aku tak resah, aku sangat resah. Bukan karena aku tak mau mengerjakan, aku mau mengerjakan, dan sudah kukerjakan. Bukan karena,,,, entah apa pun itu, aku tak mau berpledoi dan melakukan pembenaran. Aku ingat betul sifat dasar manusia, yang memiliki banyak alasan, bahkan untuk sekedar membela diri yang telah melakukan kesalahan.
Ada sesuatu yang mengalihkan duniaku. Dulu, aku berpikir sangat sederhana, bahwa kedatanganku di kota ini adalah belajar. Sampai saat ini pun aku masih berpikir seperti itu, tapi ada yang telihat lebih jelas setelah belajar. Bahwa ILMU YANG KUMILIKI SAAT INI BELUM CUKUP. Ada yang ingin kulihat lebih dalam lagi, dan ini karena hasil dari belajar. AKU INGIN BERMANFAAT. sederhana sekali, meski realita tak sesederhana itu.
*******************************************************************************
Juni segera datang. Tulisan di white board ku tetaplah tulisan "JUNI 2013 WISUDA". Memajang foto diri mengenakan toga dan berselendang cumlaude, sambil membawa beberapa tangkai bunga. Asal tahu saja, itu semua kuperoleh dari kakak kelasku yang sudah wisuda. Aku meminjamnya.
Lalu apa aku menyesal? Tidak.
Karena aku mendapat banyak ilmu, meski bukan lagi teori di dalam kelas. Karena aku telah mengetahui hakikat diri sebagai mahasiswa, bukanlah hanya seseorang yang hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga berpikir tentang perbaikan diri, masyarakat, bangsa dan agamanya.
Karena aku bersentuhan langsung dengan laboratorium kehidupan yang memberiku banyak bekal. Kehidupan nyata yang membuatku haus akan ilmu, semakin aku belajar, semakin aku merasa bodoh. Karena aku merangkai persahabatan di sini, bahkan persaudaraan yang mungkin irrasional bagi sebagian orang. Bagaimana bisa seseorang dengan seseorang lain bisa bersaudara tanpa ikatan darah di dalamnya??? Tapi ini nyata. Ikatan yang kami bangun memang bukan ikatan darah, tapi ikatan aqidah.
Karena aku percaya pada surat cinta-Nya pada manusia. "Jika kamu menolong agama Allah, maka Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Satu hal yang aku sesali adalah:
Aku tak bisa menyaksikan senyum kedua orang tuaku merekah di bulan Juni. Senyum bangga ketika melihat aku memakai toga. Anak macam apa yang bahkan belum bisa membalas setiap curahan kasih dan air mata dalam doa dengan sebuah bakti bernama wisuda???
Maaf, Buk....
Seorang wanita yang pada telapak kakinya terdapat surga. Maafkan aku...
Logikaku tak bisa menembus logika semesta. Bahwa Allah punya rencana lain untukku, dan semoga setiap kebaikan yang kulakukan, pahalanya mengalir untukmu....
Sabtu, 27 April 2013
mother
Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika MotomenakattanoAnata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother
Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...
English :
Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me
Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own
Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today
(Repeat*)
I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock
But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”
Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother
I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…
I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…
(Repeat*)
Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…
#although sometimes we can express our true feelings to our mother
Jumat, 08 Maret 2013
Lagi-Lagi Tentang Ayah
"... Allah, Ya Allah guide me all the way to your jannah..."
nada dering hp ku. dan aku tahu siapa yang tengah menelepon. Nomor ayahku, tapi aku tahu pasti bahwa ibu yang akan berbicara. Aku pun tahu kira-kira topik pembicaraan yang akan diangkat beliau. seperti sebuah tanya tanpa ujung. Kesabaran yang tiada batas menanyakan hal yang sama berulang kali, dan mendapatkan jawaban yang sama, berulang kali juga. pertanyaan yang akan dilontarkan akan seperti,
"Sudah sampai bab berapa?"
" Bab 3 sudah selesai belum?
Kok belum selesai, kapan?"
"Katanya Februari seminar proposal, ini sudah Maret lho... "
dan dengan air mata yang ditahan-tahan agar tak jatuh, di depan anak-anak kosku tentunya, aku menjawab dengan sok tegar, "lagi proses, bu...". jawaban yang sama, berulang kali. Ah... aku tahu, mungkin karena jawbanku sama terus, maka pertanyaannya pun juga selalu sama. mungkin lain kali aku harus menjawab dengan jawaban yang berbeda, pikirku.
Ibu... ibu, andai tahu betapa menderitanya anak rantau dengan segudang kegalauan akan skripsi ini. satu kata yang sangat sederhana, namun membawa kegelisahan yang amat pelik. Aku ragu, tapi harus. Maka, kusiapkan jawaban ala kadarnya, karena tak mampu berpikir lagi dengan kata-kata lain. Maka kuangkat juga telponnya.
"Assalamu'alaukum..." setelah kupencet tombol terima.
"Wa'alaykumsalam. Nduk, gimana udah sehat, katanya sakit?" aku salah, ternyata ayah yang berbicara. ini tumben, di luar batas kewajaran yang biasa. lalu mengalir pembicaraan kami yang sangat jarang itu. Ya, ayahku tak mengungkapkan cintanya lewat kata, melainkan lewat kata kerja.
dan tiap kali tema "sakit dan sehat" selalu ayah yang terbayang di pelupuk mata. seperti waktu itu....
semester 2 kuliah di kampus asing ini, ternyata menjerumuskanku pada kata manis berjudul aktivis. ya, lalu aku menyibukkan diri dengan berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas mahasiswa di tingkat ormawa. Menginspirasi, pikirku waktu itu yang juga terinspirasi oleh beberapa kakak kelas berbeda jurusan. hal itu membuatku terlibat dengan agenda terbesar organisasiku kala itu, dengan aku sebagai ketua panitia. masalahnya klise, dana. dan hal itu berujung pada pikiran kalut, sekalut benang ruwet. terlebih pada waktu itu aku adalah tipe pemikir berat, di mana setiap masalah kupikir begitu dalam, hingga mengalahkan nafsu makan. singkat cerita aku jatuh sakit, hingga menyebabkan aku dirawat di rumah sakit di kota ini. Ayah dan ibuku datang dengan perjuangan berdarah-darah karena terlalu khawatir. Maka travel yang seharusnya menjadi jatah satu orang, dipakai oleh dua orang sekaligus, dan tentu saja karena ayah adalah pria, ayah yang mengalah. bisa kubayangkan, penumpang yang lain duduk di kursi penumpang dengan nyaman, sementara ayah bergelantungan, mungkin lesehan, ah,,, aku tak tahu dan tak ingin membayangkan. Mereka datang ke kos, dan demamku tak kunjung sembuh, pun sakit kepala di sekujur tengkoraknya, adalah sakit yang tak biasa kualami. Maka paginya, aku dirujuk ke rumah sakit swasta terdekat, yang kutahu saat itu.
seperti skenario di dalam sinetron, aku dihampiri dokter di UGD, dan ibuku menangis-nangis, "Dokter... tolong anak saya dokter..."
aku membatin. "Hadeuh, sinetron beud ini." Maka aku berkata dengan lemah. "Gak ada acara nangis-nangisan bu... "
setelah diperiksa aku diinfus dan dibawa ke ruang perawatan. wow,,, ini luar biasa, pertama kalinya jarum suntik dan infus menancap di tubuhku, dan aku hanya pasrah.
dan ayah, terlihat sangat tegar. Setiap saat berada di sisiku, membacakan Al-Qur'an. Setiap hari bolak-balik keluar kamarku yang lantai empat, sedangkan ayah tak mau menggunakan lift. bisa diterka, ayah hanya menggunakan tangga manual bolak-balik dari lantai dasar ke lantai kamar rawat. belum lagi, harus berjalan bolak-balik dari rumah sakit ke kosanku dengan berjalan kaki. Mencuci bajuku, mencuci bekas ransum, membersihkan kamar, dan kembali membawa perbekalan. dan setiap kali kuprotes, kenapa tak pakai lift, kenapa tak pakai bus kota (karena waktu itu aku belum membawa si silvi, sahabat dan motor perjuangan), dengan santai ayah menjawab, "Sambil olah raga nduk. Lumayan."
tapi aku tahu, beliau lelah. dan makin membuncahkan rasa bersalah di dalam dada, kenapa aku harus sakit segala???
ayah,,,satu-satunya yang tak bertanya tentang skripsi. Dan itu membuatku sangat bahagia, karena beliau justru ingin aku menikmati masa-masa di kampus dengan segudang pengalaman berharga sebagai bekal kelak hidup di dunia nyata.
dan ibu, maafkan aku karena sampai sekarang belum bisa melukis senyum dan memberikan sebuah kebanggaan, sebuah sertifikat kelulusan dan toga wisuda.
nada dering hp ku. dan aku tahu siapa yang tengah menelepon. Nomor ayahku, tapi aku tahu pasti bahwa ibu yang akan berbicara. Aku pun tahu kira-kira topik pembicaraan yang akan diangkat beliau. seperti sebuah tanya tanpa ujung. Kesabaran yang tiada batas menanyakan hal yang sama berulang kali, dan mendapatkan jawaban yang sama, berulang kali juga. pertanyaan yang akan dilontarkan akan seperti,
"Sudah sampai bab berapa?"
" Bab 3 sudah selesai belum?
Kok belum selesai, kapan?"
"Katanya Februari seminar proposal, ini sudah Maret lho... "
dan dengan air mata yang ditahan-tahan agar tak jatuh, di depan anak-anak kosku tentunya, aku menjawab dengan sok tegar, "lagi proses, bu...". jawaban yang sama, berulang kali. Ah... aku tahu, mungkin karena jawbanku sama terus, maka pertanyaannya pun juga selalu sama. mungkin lain kali aku harus menjawab dengan jawaban yang berbeda, pikirku.
Ibu... ibu, andai tahu betapa menderitanya anak rantau dengan segudang kegalauan akan skripsi ini. satu kata yang sangat sederhana, namun membawa kegelisahan yang amat pelik. Aku ragu, tapi harus. Maka, kusiapkan jawaban ala kadarnya, karena tak mampu berpikir lagi dengan kata-kata lain. Maka kuangkat juga telponnya.
"Assalamu'alaukum..." setelah kupencet tombol terima.
"Wa'alaykumsalam. Nduk, gimana udah sehat, katanya sakit?" aku salah, ternyata ayah yang berbicara. ini tumben, di luar batas kewajaran yang biasa. lalu mengalir pembicaraan kami yang sangat jarang itu. Ya, ayahku tak mengungkapkan cintanya lewat kata, melainkan lewat kata kerja.
dan tiap kali tema "sakit dan sehat" selalu ayah yang terbayang di pelupuk mata. seperti waktu itu....
semester 2 kuliah di kampus asing ini, ternyata menjerumuskanku pada kata manis berjudul aktivis. ya, lalu aku menyibukkan diri dengan berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas mahasiswa di tingkat ormawa. Menginspirasi, pikirku waktu itu yang juga terinspirasi oleh beberapa kakak kelas berbeda jurusan. hal itu membuatku terlibat dengan agenda terbesar organisasiku kala itu, dengan aku sebagai ketua panitia. masalahnya klise, dana. dan hal itu berujung pada pikiran kalut, sekalut benang ruwet. terlebih pada waktu itu aku adalah tipe pemikir berat, di mana setiap masalah kupikir begitu dalam, hingga mengalahkan nafsu makan. singkat cerita aku jatuh sakit, hingga menyebabkan aku dirawat di rumah sakit di kota ini. Ayah dan ibuku datang dengan perjuangan berdarah-darah karena terlalu khawatir. Maka travel yang seharusnya menjadi jatah satu orang, dipakai oleh dua orang sekaligus, dan tentu saja karena ayah adalah pria, ayah yang mengalah. bisa kubayangkan, penumpang yang lain duduk di kursi penumpang dengan nyaman, sementara ayah bergelantungan, mungkin lesehan, ah,,, aku tak tahu dan tak ingin membayangkan. Mereka datang ke kos, dan demamku tak kunjung sembuh, pun sakit kepala di sekujur tengkoraknya, adalah sakit yang tak biasa kualami. Maka paginya, aku dirujuk ke rumah sakit swasta terdekat, yang kutahu saat itu.
seperti skenario di dalam sinetron, aku dihampiri dokter di UGD, dan ibuku menangis-nangis, "Dokter... tolong anak saya dokter..."
aku membatin. "Hadeuh, sinetron beud ini." Maka aku berkata dengan lemah. "Gak ada acara nangis-nangisan bu... "
setelah diperiksa aku diinfus dan dibawa ke ruang perawatan. wow,,, ini luar biasa, pertama kalinya jarum suntik dan infus menancap di tubuhku, dan aku hanya pasrah.
dan ayah, terlihat sangat tegar. Setiap saat berada di sisiku, membacakan Al-Qur'an. Setiap hari bolak-balik keluar kamarku yang lantai empat, sedangkan ayah tak mau menggunakan lift. bisa diterka, ayah hanya menggunakan tangga manual bolak-balik dari lantai dasar ke lantai kamar rawat. belum lagi, harus berjalan bolak-balik dari rumah sakit ke kosanku dengan berjalan kaki. Mencuci bajuku, mencuci bekas ransum, membersihkan kamar, dan kembali membawa perbekalan. dan setiap kali kuprotes, kenapa tak pakai lift, kenapa tak pakai bus kota (karena waktu itu aku belum membawa si silvi, sahabat dan motor perjuangan), dengan santai ayah menjawab, "Sambil olah raga nduk. Lumayan."
tapi aku tahu, beliau lelah. dan makin membuncahkan rasa bersalah di dalam dada, kenapa aku harus sakit segala???
ayah,,,satu-satunya yang tak bertanya tentang skripsi. Dan itu membuatku sangat bahagia, karena beliau justru ingin aku menikmati masa-masa di kampus dengan segudang pengalaman berharga sebagai bekal kelak hidup di dunia nyata.
dan ibu, maafkan aku karena sampai sekarang belum bisa melukis senyum dan memberikan sebuah kebanggaan, sebuah sertifikat kelulusan dan toga wisuda.
Selasa, 26 Februari 2013
Kembali ke Orientasi Awal
Fokus.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.
maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)
pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.
maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)
pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.
Selasa, 05 Februari 2013
Sebuah Cerita Tanpa Judul
“Rasanya itu..
Seperti ada yang membuat pundakmu
jadi ringan
Tapi di saat bersamaan justru
hatimu menanggung beban
Ada cinta yang tak terkatakan
Dan perasaan yang tak
tersampaikan
Namun biarkan
Asal semua mampu bermuara
Pada sebuah samudera bernama doa”
Kutipan kata-kata di atas, adalah representasi
perasaan yang aku tanggung setelah dinyatakan demisioner malam itu. Jujur, aku
bukan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan di hadapan banyak orang.
Misterius katanya, atau pada waktu BEM SPIRIT DAY pertama, banyak yang bilang
kalau aku adalah orang yang sangat tertutup. Ya, memang. Karena aku sendiri
menyadari, bahwa dari awal aku sudah didesain sebagai pendengar, tipe-tipe
orang yang suka mendapatkan keluh kesah
dari orang lain. Bagaimana tidak? Memang terkadang sulit memiliki nama Damai,
karena harus menjaga kedamaian hati orang lain meskipun hati sendiri sedang “kemrungsung.” Atau mungkin karena itu
aku dipilih sebagai kadept PSDM? Hehe… ^^ semoga walau tak terungkap lewat
kata, tulisan ini dapat mengilustrasikannya.
Cerita ini bermula
dari naik tahtanya seorang Satria. Suksesi untuknya berjalan mulus,
karena sejak awal pada dirinya telah
tercermin hati yang tulus. Lalu aku pun diminta, untuk menjadi salah satu
bagian dari keluarganya. Berat. Sungguh berat, aku yang sering hidup dalam
dunia prasangka yang melankolis ini
merasa tak memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKU) untuk memenuhi permintaannya.
Merasa kapasitas belum sampai tapi telah diberikan amanah yang membadai. Hingga
aku pun bertanya, adakah jembatan yang menghubungkan antara kapasitas yang
pas-pasan dengan tanggung jawab yang besar??? Namun, Dasa Dharma Pramuka tak
mengajarkan sesorang lari dari medan perang. Bertanggungjawab dan dapat
dipercaya. Maka kumantapkan niat, memperbarui semangat, dengan mengucap
asma-Nya Yang Maha Agung, amanah itu pun kuletakkan pada pundakku, pada hatiku.
Lalu, setapak demi setapak aku
diperkenalkan dengan orang-orang baru di sekelilingku. Lingkaran pertama,
lingkaran PH, yang bertemu pertama kali dalam romantisme hujan di depan
perpustakaan. Wahyu, Devi, Jumai, Agus, Bening, Handoko, Ipung, Azis,
teman-teman baru yang akan bersama menjadi awak kapal dengan Iman sebagai
nahkodanya. Lantas mengagendakan acara pengikat hati, dengan mengunjungi
Kebumen bersama-sama.
PSDM itu melihat dengan hati,
ketika selanjutnya Up Grading dimulai. Mencoba mengenali satu per satu pasukan
yang akan membersamai perang selama satu periode kepengurusan. Dan semangat di
awal-awal itu menjadi satu langkah baru, terlebih setelah dipertemukan dengan
anak-anak pilihan yang dinisbatkan tanpa persetujuan menjadi Power Ranger.
Sungguh, aku kekanak-kanakan, tapi sampai hari ini pun tak bisa kulepaskan.
Cerita
di Balik Share, Care and Love
Bergelut di dunia sosial,
membuatku harus membaca, terpaksa lebih tepatnya. Aku dipaksa oleh seseorang
untuk membaca setiap kali aku akan berbuat sesuatu. Lalu, kata-kata itu, Share, Care and Love kutemukan pada
sebuah buku marketing perusahaan. Hmmm… bagus pikirku. Lalu ketika Pak Komandan
bertanya, sebenarnya aku asal jawab saja untuk jargon kita: Share, Care and Love. Tak kusangka
keesokan harinya, kata-kata itu benar-benar dipakai setelah dimodifikasi dengan
menggunakan gerakan-gerakan yang mengekspresikannya.
Namun, jargon ini selanjutnya
membuatku khawatir, ketika akhirnya satu demi satu orang saling jatuh cinta di
BEM. Aku mendapat teguran dari sana-sini, karena hal ini dikhawatirkan akan
mengganggu profesionalitas kinerja. Karena pernah ada cerita, BEM di sisi lain
UNY juga pernah menggunakan tema “Romantisme” sampai akhirnya benar-benar
terjadi dua orang aktivis di dalamnya menikah dan menjadi suami istri di
periode kepengurusan mereka. Bagus menurutku… J Namun, aku sempat merasa tak
enak juga. Jangan-jangan karena jargon itu yang membuat para prajurit
berjatuhan karena galau. Galau karena sebuah perasaan bernama cinta. Aku merasa
bersalah, karena bagaimanapun kata-kata adalah doa. Aku bingung bukan main. Masalah semangat, PSDM
masih bisa berusaha, tapi masalah hati, treatment
macam apa yang sesuai???
Menjelang
Pertengahan Tahun
Ibarat sebuah perahu yang
berlayar, tentu akan menemui rintangan-rintangan di lautan. Entah itu badai,
yang membuat kapal kehilangan keseimbangan atau menabrak batu karang, meski
tidak karam. Organisasi ini dengan sendirinya memiliki sistem imunitas yang
tinggi, bahkan tanpa peran PSDM, karena orang-orang di dalamnya adalah
orang-orang pilihan yang dapat berpikir dengan logika dan nurani. Bahasa
sederhananya, solid tanpa harus disolidkan PSDM. Itu kegagalan pertamaku, sekaligus
kebanggaanku. Ditambah ternyata aku gagal mengenali satu per satu tiap personil
yang ada, dan membuat sistem ranger terlalu kuat. Apalagi aku semakin autis
dengan duniaku sendiri, yang sok sibuk dengan akademik dan agenda-agenda lain.
Maka jika seringkali aku dipertanyakan karena jarang berkunjung ke rumah karya,
itu karena kecanggunganku sendiri yang mendera, semakin menciptakan spasi
antara aku dan kita. Agenda-agenda cultural sering kulalui, meski seberapa
inginnya aku membersamai, selalu ada penghalang yang membuatku tak bisa.
Maafkan aku kawan, karena dengan aku yang seperti ini, ternyata aku terlambat
untuk menyadari sesuatu. Terlambat mendeteksi cinta yang seharusnya kutumbuhkan
sejak dini, dan ketika akan kehilangan, baru aku merasakan memiliki. Ah,,,
penyesalan memang selalu datang belakangan.
Pada
Akhirnya, Cinta Adalah Sebuah Kata Kerja
“Karena cinta adalah kata kerja
Lakukanlah kerja jiwa dan raga
untuk mencintainya
Karena cinta adalah kata kerja,
Maka mata airnya adalah niat baik
dari hati yang tulus
Alirannya adalah kerja yang
terus-menerus.”
(Salim A Fillah, Jalan Cinta Para
Pejuang)
Begitulah cinta, ia adalah
pekerjaan jiwa dan raga, bukan sekedar kata. Sementara aku tengah mencintai
kalian melalui kata yang tak terucap, ada orang-orang yang telah membuktikan
cintanya lewat kerja-kerja nyata. Sebut saja namanya, Iman pucuk pimpinan yang
rela berkorban dan ahli negosiasi tingkat tinggi. Wahyu, loyalitasnya terbukti
karena telah mewakafkan diri untuk organisasi ini. Devi, sekretaris yang
mengerti harus berbuat apa bahkan tanpa diminta. Jumai, punggung terkuat yang
selalu membersamai, Bening yang tetap bertahan meskipun sakit-sakitan, Ipung
yang selalu menginspirasi dengan karya-karyanya, Agus dengan sifat kebapakan yang
selalu bijaksana dan cekatan, Handoko yang mengatasi setiap kebutuhan
organisasi dengan caranya sendiri, dan Azis dengan warnanya sendiri, memberi
nuansa pelangi. Begitu juga dengan yang lain, yang tak bisa kusebutkan satu per
satu kebaikannya, karena setiap langkah kebersamaan kita, semuanya tampak baik
di pandangan mata.
Hmmm… inilah akhir coretan gak
jelas ini, sebuah refleksi perjalanan yang di dalamnya aku banyak berkaca
sendiri. Suatu hari, akan menjadi sebuah rekam jejak dan pembelajaran yang tak
kan lekang dalam ingatan. Mari perbaiki kembali spasi antara aku dan kita,
meski tak lagi bersama. J
Senin, 21 Januari 2013
My First Love
“Setiap
ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuannya.”
(pepatah)
Ayahku,
adalah cinta pertamaku. Bagaimana tidak? Beliau adalah kaum Adam pertama yang
kulihat ketika aku membuka mata, yang dengan kelembutannya selalu menjagaku, ya
mesti tak pernah ditampakkannya.
Dulunya,
aku menganggap ayahku adalah seorang yang dingin, yang tidak pernah bisa dekat
dengan anak-anaknya. Tapi itu spekulasi tanpa suatu data yang valid. Waktu aku
masih kecil, ayahku memang sering marah
padaku, yah,,, mungkin karena aku memang nakal waktu itu. Sehingga, anggapan
“galak” itu mampir ke benakku. Tapi baru-baru ini aku menyadari sesuatu,
mungkin anggapan waktu itu timbul karena aku belum begitu memahami keadaan
psikologi dari seseorang. Mungkin karena waktu itu, usia beliau masih relative
sangat muda, dengan pernikahan yang berusia muda, lalu harus menghadapi dua
anak kecil yang nakal. Spekulasi lagi,
tapi ini lebih objektif menilainya.
Aku
mulai jatuh cinta padanya ketika mendengar cerita masa kecil ayahku dari
pakdhe. Aku termasuk keponakan yang “grapyak” dengan saudara-saudara ayahku,
karena aku adalah anak pertama, dan mau tidak mau harus memberi contoh pada
adek-adekku. Ayahku , bungsu dari tiga bersaudara, dua orang kakaknya laki-laki, dan semuanya
berkeluarga di sebuah kota besar yang
panas bernama Bojonegoro. Hanya ayahku yang membangun karir dan keluarganya di
kota kecil ini. Pakdhe pernah bercerita, bahwa keluarga mereka saat itu hidup
sangat sederhana, kekurangan malah. Oleh karena itu, pakdheku itu mengambil
pilihan untuk menjadi seorang tukang becak, untuk turut serta memberikan
penghasilan bagi keluarga. Ibunya, yang juga nenek dari ayah, menjadi tukang
cuci dan setrika untuk menghidupi keluarga. Pakdhe berkisah, bahwa ayahku
adalah seorang yang memiliki kemauan yang keras untuk belajar dan sekolah.
Jadi, meskipun hidup serba kesulitan, ayah tak pernah ingin putus sekolah. Maka
waktu itu ayah berjualan es lilin keliling kampung, berjualan kelereng, dan apa
saja yang bisa membuatnya tetap bersekolah. “Aku mbrebes Ta, yen kelingan
bapakmu dodolan es lilin ben tetep iso sekolah” Kata Pakdhe. Pantas saja,
sampai sekarang pun ketika hidupnya sudah terjamin sebagai Pegawai Negeri,
tetap saja gaya hidupnya sangat sederhana. Beliau ini sangat rajin, bahkan tak
bisa diam meski hanya sejenak. Ketika
kami, anak-anaknya masih terlelap, beliau sudah melakukan aktivitas paginya.
Atau ketika kami yang tidur siang, beliau sudah jalan-jalan di kandang ayam,
menyapu halaman dan apa pun yang bisa
dikerjakannya seusai dari kantor.
Cerita
itu sudah lama sekali, namun tetap tersimpan rapi di memori otakku. Sampai
suatu ketika, aku menyapu rumah dan menemukan sebuah “celengan” dari bamboo.
Tampaknya buatan ayahku sendiri, bertuliskan “Mak, aku ingin pulang.” Melihat
itu, aku tak kuasa untuk menahan bulir-bulir bening air mataku. Ya, aku pernah
merasakan yang namanya kangen dengan ibu, dan mungkin itu pula yang
dirasakannya waktu itu. Tidak sepertiku yang bisa pulang kapan saja dengan
nyaman, tinggal menelepon agen travel, menentukan jam, lalu aku sudah berada di
depan rumah. Tapi ayahku, untuk pulang ke Bojonegoro harus menempuh waktu yang
lama, sekitar 8 jam, itu pun harus berganti bus sebanyak 3 kali. Maka aku pun
maklum, jika untuk pulang pun harus memiliki bekal yang cukup, termasuk bekal
financial.
Ayahku,
tipe orang yang sangat rela berkorban. Entah apa yang dialami adek-adekku, tapi
yang kualami sudah lebih dari cukup untuk meminta pembuktian dari cintanya. Kau
tahu kawan, aku sangat mencintai Pramuka. Ketika aku SMA, ada suatu event yang
disebut sebagai pelantikan bantara. Proses untuk mendapatkan tanda bantara itu,
harus melalui serangkaian ujian, mulai dari ujian SKU, ujian fisik dan ujian
mental. Singkat kata singkat cerita, di perkemahan itu juga diselenggarakan
pelantikan bantara, di mana emblem bantara itu akan disematkan oleh orang tua
masing-masing. Pukul 20.00 malam acara dilangsungkan, aku melihat teman-teman
seperjuanganku yang berdomisili di kota sudah menemukan orang tuanya. Namun ada pula, teman-termanku yang tidak
didampingi orang tuanya, karena kebanyakan mereka adalah anak kos .
Begitu juga aku, yang juga anak kos. Anak pinggiran yang bersekolah di kota. Sebenarnya aku tak berharap banyak
bahwa ayahku akan datang, karena jarak rumah kami dengan lokasi perkemahan
waktu itu juga lumayan jauh, sekitar 30 menit, apalagi kondisi udara malam yang
tak bagus untuk kesehatan itu. Maka, aku cukup berbesar hati dengan keadaan
teman-temanku yang juga tak didampingi orang tuanya. Hehe…
Prosesi
demi prosesi dilanjutkan, sampai ketika pembawa acara menyatakan bahwa akan ada
penyematan emblem bantara yang dilakukan oleh orang tua
masing-masing peserta pelantikan. Ayahku datang, mencari-cari aku di antara
barisan para Pramuka. Aku melihatnya dan memanggil namanya. Emblem sudah di
tangan, dan disematkan kepadaku bersama-sama dengan teman-teman yang lain
diiringi lagu “Syukur”. “Selamat ya Nduk” katanya waktu itu, tersenyum lalu
kembali ke bangku para undangan. Singkat saja, dan kurasa adegannya sama persis
di sekuel Sang Pemimpi, ketika ayah Ikal datang di pengambilan raportnya
setelah menempuh jarak yang jauh dengan bersepeda. Ketika datang dan menerima
raport Ikal, ayahnya hanya menemuinya, tersenyum, menepuk pundak, lalu berucap
salam, lantas pulang dengan kembali mengayuh sepeda. Setelah itu aku mengalami
guncangan yang luar biasa. Teman-temanku sudah lebih dulu menangis, dan aku pun
terbawa suasana. (waktu itu aku belum tahu kalau aku seorang melankolis
sempurna).
Oh,
ayahku. Bukan Cuma itu. Awal aku bisa mengendarai motor dan harus kubawa ke
tempat sekolahku yang harus melewati jalanan yang menukik lagi curam, lagi-lagi
beliaulah yang mengantarkanku. Lalu pulang ke rumah dengan menggunakan mobil
andongan. Atau saat ini ketika aku dituntut memiliki mobilitas yang tinggi di
kota pelajar ini, maka si Silvi juga diantarkannya, dan seperti waktu itu,
beliau pulang menggunakan travel.
Ah
entahlah, anak macam apa aku ini, yang sampai detik ini belum bisa memberikan
kebahagiaan untuknya. Sebuah toga wisuda dan ijazah kelulusan yang dapat
mengukir secercah senyum untuknya. Hmmm,,,, semoga ya Yah,,, semua akan indah
tepat pada waktunya. Atau alibiku saja??? Tapi, memang beliau tak pernah
menuntutku untuk bersegera, justru beliau memberikan kebebasan untukku, untuk menikmati
setiap jejak langkah ketika bergelar mahasiswa, tidak seperti ibuku yang telah
memberikan MoU untuk lulus cepat waktu.
Laki-laki
sederhana itu, di usianya yang semakin senja menjadi semakin bijaksana karena
ilmu dan pengetahuan agama yang ada padanya. Dan untuk kesekian kali, lagi-lagi
itu membuatku jatuh cinta.
Rumah
Cahaya, 2 Januari 2013
Selasa, 11 Desember 2012
Pelangi
Terimakasih sudah menjadi pelangi yang mampir di beranda hatiku.
#eaa... :D
ada pelangi setelah hujan, meski malam ini tak nampak
#eaa... :D
ada pelangi setelah hujan, meski malam ini tak nampak
Tanah Surga… Katanya… #1
Indonesia kita adalah tanah
surga. Tanah yang menyimpan begitu banyak potensi di dalamnya. Mulai dari
minyak bumi dan gas, hasil bumi yang melimpah ruah, serta sumber daya manusia
yang banyak tersedia. Indonesia kita adalah tanah yang menyimpan banyak cerita.
Tanah yang mencapai kemerdekaan dengan
harga sangat mahal, pun untuk mencapai kedaulatan, harus melalui jalan yang
begitu panjang.
Begitulah, tanah surga yang
memiliki banyak cerita, tentu saja diincar oleh bermacam-macam mata. Asing
mulai merambah tanah Indonesia, dengan dalih menanamkan investasi demi
pertumbuhan ekonomi. Bukan Cuma Negara-negara
yang jauh, tapi Negara-negara dekat pun turut serta, dan hal tersebut yang
sering menimbulkan sengketa.
Sudah bukan rahasia lagi,
bahwa pembangunan di Indonesia masih terpusat, seperti yang dulu dicanangkan
oleh Presiden kedua Indonesia. Bahwa dengan pembangunan yang terpusat di Jawa
akan memberikan trickle down effect
bagi daerah-daerah di sekitarnya, termasuk pulau-pulau selain Jawa. Namun
nyatanya, teori dari Adam Smith tersebut menemui jalan buntu, karena bukannya
memberi efek positif bagi pembangunan di daerah lain, namun justru
mengakibatkan arus urbanisasi yang begitu tinggi. Orang-orang pinggiran terpukau dengan gemerlap
kemewahan yang ditawarkan oleh Jawa, dan berusaha mengadu nasib ke sana. Lantas
apa yang terjadi? Urbanisasi menjadi masalah baru bagi daerah metropolitan.
Kemiskinan, pemukiman kumuh, pengangguran, gelandangan, dan sebagainya.
Sementara daerah-daerah pinggiran yang mereka tinggalkan, tetap tidak tergarap
dan tersentuh oleh pembangunan.
Daerah perbatasan, yang
menjadi daerah terluar dari Indonesia adalah daerah yang sering dilupakan.
Bahwa di dalamnya ada rakyat Indonesia yang alat tukarnya adalah mata uang
asing. Rakyat Indonesia yang lebih suka berbelanja di pasar Malaysia atau
Singapura daripada di Indonesia karena jaraknya yang lebih dekat ke luar negeri
daripada ke Negara sendiri. Rakyat Indonesia yang akses untuk mendapatkan
fasilitas umumnya seperti sekolah dan rumah sakit harus ditempuh dengan menyeberang bantaran sungai dan rawa. Rakyat Indonesia yang tak
pernah melihat wajah presidennya, sekalipun lewat televisi. Rakyat Indonesia
yang tak hafal Indonesia Raya dan tak tahu wujud Sang Saka Merah Putih. Ironis.
Daerah perbatasan yang sering
menjadi sengketa dengan Negara tetangga. Satu Negara dengan Negara lain saling
mengklaim. Hingga sebuah rasa kehilangan kepada Sipadan-Ligitan telah
menimbukan lubang luka yang dalam, dan hampir terulang pada Ambalat yang
ternyata mengandung 764 juta barel minyak bumi dan 1,4 triliyun kaki kubik gas.
Bukan hanya itu, pelanggaran batas laut Indonesia oleh luar negeri. Tercatat
pada tahun 2007, Tentara Laut Diraja Malaysia melakukan pelanggaran batas
sebanyak 84 kali, dan pada tahun 2008
sebanyak 38 kali. Sebenarnya
Indonesia telah menempatkan banyak personilnya untuk menjaga lautan Indonesia,
namun jumlah personil angkatan laut
tetaplah tidak sebanding dengan luasnya lautan Indonesia. Nasib yang sama
terjadi pada pulau Nipah di Riau yang hampir tenggelam karena adanya reklamasi
di Singapura, pun pulau Miangas di utara Sulawesi yang banyak dihuni oleh warga
Filiphina.
Begitulah, cerita dari tanah
surga yang menyimpan banyak cerita. Cerita dari daerah perbatasan, yang selain
membutuhkan pendekatan kesejahteraan, yang harus dimulai dari Sumber Daya
Manusianya juga membutuhkan pendekatan
keamanan dari segi penjagaan. Sejengkal tanah maupun setitis ait di lautan
Indonesia adalah sebuah kedaulatan yang harus dipertahankan. NKRI harga mati!!!
*Inspired by sebuah film “Tanah Surga
Katanya” dan sebuah buku “Heboh Ambalat”
Rabu, 31 Oktober 2012
jika aku on time
"Antum di mana e?
telat terus...
tahu gak, keterlambatan antum itu mendzalimi banyak orang"
teguran pertama. mak jleb-jleb...
selanjutnya...
"antum ini qiyadah bukan?
ada banyak yang merelakan banyak hal buat datang on time."
this is my fault.
apa orang lain memiliki rasa bersalah seperti rasa bersalah yang kumiliki?
telat terus...
tahu gak, keterlambatan antum itu mendzalimi banyak orang"
teguran pertama. mak jleb-jleb...
selanjutnya...
"antum ini qiyadah bukan?
ada banyak yang merelakan banyak hal buat datang on time."
this is my fault.
apa orang lain memiliki rasa bersalah seperti rasa bersalah yang kumiliki?
Selasa, 09 Oktober 2012
learning by doing
belajar dari kehidupan
bukan sekedar teori karena kita beraksi
darisana kita bisa melihat, mendengar, memahami, merasakan
ternyata ada orang yang lebih lelah raganya, jiwanya, pikirnya.
ternyata masih banyak orang yang yang harus berseteru dengan kehidupan, pun di satu sisi banyak yang masih sembunyi atau bahkan malu-malu dari kehidupan.
belajar dari kehidupan, kita menemui kawan yang dengan sinarnya membuat kita hangat dan terus bersemangat
dan bahkan lawan, yang secara sembunyi atau terang-terangan ingin menjatuhkan
belajar dari kehidupan kita menemui pemimpin sejati
yang tidak pernah lari walau badai kehidupan menghampiri
karena ia menyelaraskan rasio dengan nurani
tetap tenang walau banyak tekanan
matanya teduh walau hatinya bergemuruh
ucapnya menentramkan jiwa semua hamba
tegas tanpa amarah
jelas kemana melangkah
dan bahkan kita menjadi pemimpin
bukan karena terpaksa tetapi kesadaran
karena jika hanya diam, tak akan ada perubahan
karena hakikatnya manusia adalah pemimpin di dunia
pemimpin bagi dirinya sendiri dan juga hatinya
belajar dari kehidupan kita akan menemui masalah-masalah
membuat kita berkata, "Aku bosan, aku lelah"
namun ketika dihadapkan dengan solusi, hati kita bahkan lebih cerah
belajar dari kehidupan membuat kita dewasa
karena kita paham dan kita telah melakukannya
belajar dari kehidupan menumbuhkan motivasi
karena dari siapa pun dari manapun kita terinspirasi
dan mulai sekarang giliran kita berkontribusi
SUDAH SIAPKAH MENGINSPIRASI DUNIA INI????
(teruntuk sahabat-sahabatku yang dengan tulusnya memperjuangkan kehidupan meski banyak orang meremehkan
sahabat-sahabatku yang lelah raganya, jiwanya, pikirnya... percayalah semua usahamu tidak sia-sia
sahabat-sahabatku yang tak pernah henti belajar memahami bahwa di balik masalah tercermin suatu hikmah,
dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan----> inna ma'al usri yusron
maka, tetaplah berdiri dan terus berlari mencapai mimpi-mimpi)
Langganan:
Postingan (Atom)
Separuh Jalan
Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...