Senin, 10 Februari 2014

Februari

Kini Februari lagi.
Tepat setahun peristiwa itu harusnya merayakan Dirgahayu.
Aku, sangat ketakutan,,, ketika suatu hari merasa diculik oleh diriku sendiri, lalu menyembunyikan diriku yang sebenarnya, takhluk pada perintah mereka yang tak kukenal siapa.

Setahun ini, aku lebih melankolis dari biasanya.
menjalani hari-hari yang dingin sepanjang 2013, lebih dari tahun-tahun sebelumnya.  Aku tak seharusnya di sini! dan aku merengek sepanjang tahun. Menangis lebih intensif, menggerutu dan kadang menyalahkan diri sendiri dengan akut.

Setahun ini aku seperti setengah manusia, setengah zombie. Tak berkarya dengan hati. Akankah tiba masanya aku berkarya dan menumbuhkan diri?
Nyatanya tiba-tiba pertumbuhan terhenti, kreativitas mati, dan banyak masalah hati.
Kini Februari lagi, dan tak ingin seperti sebelumnya kembali.

Rabu, 29 Januari 2014

Diplomasi Hujan #2

Jogja mengenal baik aroma hujan
yang datang rintik-rintik dan tanpa jeda
di luar jendela kaca
air menggenang, membasahi kaos kaki dan sepatu sesiapa yang berjalan

Jogja mengenal baik bau hujan
Derasnya memberhentikan semua orang
manusia berhelm, topi, jilbab warna-warni
pun yang rambutnya tergerai
berpadu dalam terminal sementara
berteduh pada sebuah masjid
setelah mengaduh kedinginan

Jogja mengenal baik sensasi hujan
romantis, bagi yang melankolis
membuang waktu terlalu lama, bagi yang menunggu
gembira, jika hujan siswa bersorak-sorai tak ada guru yang masuk kelasnya
berduka, para penjual es yang harus segera membereskan dagangannya,
atau berganti profesinya.

Diplomasi Hujan

Jika kau berbicara pada perempuan, perhatikan tentang rasa.
Jika kau berbicara pada laki-laki, pehatikan logika.
Tentu dengan kadar dan waktu yang tepat.

Rasa bertemu rasa akan dengan cepat bereaksi. Ia bernama isyarat ketulusan.
Logika bersua logika akan dengan cepat saling menangkap kode. Ia bernama lobi.

Bisa jadi, rasa akan bertemu dengan logika.
Dan logika harus mengerti rasa.
Mereka akan saling berpaut pada kadar dan waktu yang semestinya.

Jika tidak, maka selamanya logika dan rasa tidak akan pernah berjumpa.

#yang berasal dari hati akan sampai juga ke hati.




Ruang Diplomasi Hujan,

29 Januari 2014

Sabtu, 25 Januari 2014

Menjadi Manusia Normal

Menjadi manusia normal. Mungkin judulnya agak sedikit mengherankan. Apa? Manusia Normal? Jadi selama ini tidak normal, begituuuhh?

Jangan salah paham.

Saya normal, sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan, pun sebagai seorang mahasiswa. Saya makan, saya tidur, saya bermimpi, saya mandi, saya menulis, mengerjakan skripsi, dimarahi dosen, berteman, menjalin relasi, sedih, menangis, galau dan sebagainya. Semoga hal-hal yang saya sebutkan adalah hal-hal yang dianggap normal oleh orang kebanyakan. Manusiawi.

Jadi, apa yang menyebabkan saya mengambil judul di atas?

Sore ini, saya benar-benar merasa menjadi normal karena bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Dalam pertemuan itu, kami saling berbagi kabar, saling mengejek, saling tertawa, saling melempar  dan menyembunyikan sandal. Suatu hal yang sangat jarang saya lakukan satu tahun ini.
Bagaimana tidak? saya telah berpisah dengan teman-teman itu sejak mereka lulus satu per satu, meninggalkan saya sendirian dengan aktivitas saya yang terkadang "autis".

Memang begitulah. Menjadi bahagia itu adalah sangat sederhana. Salah satunya adalah menjadi manusia yang normal. Yang tertawa tanpa harus malu-malu. Yang tidak mencoba menyembunyikan diri dan menggunakan topeng bernama "jaga image" (meskipun hal-hal yang seperti itu terkadang juga perlu). Yang dapat berbagi kebahagiaan meskipun terkadang berupa ejekan-ejekan.

Yang jelas, tidak melebihi batas dan  tidak berlebihan.

Maka, menjadi manusia normal terkadang memang perlu. Melakukannya adalah sebagai hadiah hiburan untuk setiap kejemuan yang menjamu di tiap harinya. Mungkin ia akan menjadi suatu obat tersendiri bagi jiwa-jiwa yang merasa jenuh dengan segala padatnya aktivitas harian.

Selamat menjadi manusia normal!

Selasa, 21 Januari 2014

Maret

Hujan senantiasa menemani langkahku. Aku heran, benarkah langit tengah mengisi kisahku? Bahkan aku sendiri pun tidak bisa selalu menangis untuk kehidupan ini.

Tapi, ia berkata, "Hujan selalu menyertai langkahmu, Ra. Jangan kau artikan langit tengah menangis untukmu. Hujan mengikutimu, karena Allah memberikan berkah untukmu dan membolehkanmu berdoa sebanyak-banyaknya."

Kau benar, Kak.
Andai saja aku mau memahami tanpa sepihak. Bahwa apa yang datang padaku kali ini, bukanlah sebuah kebetulan. Mungkin, bertahun-tahun lalu telah tertulis dan tersimpan di Lauh Mahfudz. Hanya saja, saat ini dokumen yang telah disiapkan Allah itu kini ditampakkannya padaku. Maka, aku tak akan bisa lari, tak akan bisa menghindar, atau bahkan sembunyi.

"Ia tidak datang kepada yang meminta, Ra. Ia menghampiri orang yang ditunjuki-Nya suatu jalan. Mungkin Allah telah memilihmu."

Lagi-lagi kau benar, Kak.
Tahukah kau, sepintas lalu, mereka memelukku. Membiarkan buliran-buliran bening dari mataku jatuh berhamburan. Mereka tahu, tanpa berusaha untuk menahannya. Mereka hanya berkata, "Allah akan membukakan jalan, Ra." Seolah membaca kegamanganku.
Atau mereka berkata, "Allah telah memilihmu, Ra. Kuatlah,,," sambil mendekapku dengan sangat erat. Saat itu kurasakan aku sulit bernafas. Aku hanya menangis. Bersama hujan dalam dekapan.

"Kalau Allah cinta, maka Dia akan menguji-Nya, Ra. Kau sedang diuji, layakkah kau mendapatkan cinta-Nya?"

Pertanyaanmu seperti pisau yang menikamku, Kak. Manusia sama sekali tak bisa menilai, tapi harus kuakui, lagi-lagi kau benar, Kak. Aku pun membayangkan bagaimana susahnya hidup seorang manusia mulia bernama Muhammad, seseorang yang jelas dicintai-Nya, tapi ia tetap merasakan perihnya luka saat dilempari batu oleh anak-anak Thaif. Merasakan sakit atas tanggalnya gigi saat perang Uhud. Merasakan lapar yang sangat, hingga mengganjal perutnya dengan batu. Bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi juga hatinya. Ketika kaumnya mengusirnya dari tanah airnya tercinta. Ketika ia dimusuhi, ketika ia disebut sebagai penyair, orang gila, bahkan penyihir.

Dan aku tak mengalami hal itu.

Aku hanya kadang lelah, kadang marah.
Aku hanya kadang penat, kadang jenuh, kadang ingin menjauh.
Aku hanya merasa hak-hak pribadiku terenggut, sejatinya tidak. Justru ada hak-hak yang senantiasa terpenuhi, yang kulihat luput.
Aku hanya merasa terus-menerus memperhatikan orang lain, tanpa secuil pun perhatian kuterima.
Dan merasa-merasa yang lainnya.
Lalu apa yang ingin kau katakan, Kak?

"Kalau kau ingin memberi cinta. Maka urusan di dalam dirimu sudah harus selesai terlebih dahulu. Dalam urusan cinta, perhatian adalah jalan pertama, kata Anis Matta. Maka, ketika kau memberi perhatian pada orang lain, sebenarnya kau tak lagi butuh untuk diperhatikan."

Aku manusia, Kak.

"Ya, kau manusia. Aku juga. Tempatnya salah dan dosa. Khilaf juga. Tapi tak lantas terus-menerus kita berlindung di balik fitrah itu. Kau hanya mencari pembenaran, pembelaan tepatnya."

"Bergeraklah, Ra. Berlarilah dari Januari  menuju Maret. Jangan terkungkung terus-menerus dengan perasaanmu. Di bulan itu, akan ada yang datang. Sekarang ia  tengah menanti masa itu. Kuatlah, Ra. Agar Maret tahu betapa tegarnya dirimu menempuh berbagai badai hanya untuk menjemputnya."

Maka, bolehkah aku berlari bersamamu, Kak?

Senin, 20 Januari 2014

(Dia) Lagi


Amanah tidak datang kepada ia yang meminta...
ia justru memilih pundak orang-orang yang menginginkannya...

Ah... Tuhan terserah padaMu
Aku ikut maunya Tuhan...

Karena aku adalah milikMu, Tuhan...

Jumat, 17 Januari 2014

Akan Ada yang Datang di Bulan Maret

Akan ada yang datang di bulan Maret...

Sehingga akan meninggalkan jejak-jejak keindahan
Langit warna pink
Seperti saat memandangi

"Cherry Blossom in March"



Inspiring Wisdom From AKB48

"Jika kamu merasa bahagia
semoga saat ini kamu selalu terus berharap

Walaupun ditiup angin
kuakan melindungi bunga itu
Cinta itu adalah suara
Yang tak  membutuhkan jawaban
Dan dikirimkan satu arah

Di saat dirimu merasa resah
Aku berdiam diri mendengarmu
Kuberi payung yang kupakai untuk menghindari hujan
Air mata yang mengalir kan kuseka dengan jari di anganku
Cinta bagai riak air
yang meluas dengan perlahan
dan pusatnya adalah diriMu.."


"Jika kau mencintai, maka harus segera merencakan memberi. Bukan tentang siapa mendapat apa, tetapi siapa memberi apa."

(Disarikan dari Serial Cinta_ Anis Matta)

Untukmu Dek, yang Datang Setelahku...

Untukmu Dek, yang datang setelahku...
Hapuslah jejak-jejakku jika memang kau rasa berdebu.
Tapi tinggalkan beberapa memori tentangku, jika ada yang baik menurutmu.

Kurasa, memang sudah waktunya pergi, menggenapkan langkah yang masih ganjil itu. Karenanya, ini adalah masamu. Berkarya di masa muda, agar kelak ada yang bisa kau kenang di saat tua. Menghadirikan kisah haru biru yang bisa kau banggakan di hadapan anak cucumu.

Untukmu Dek, yang datang setelahku...
Jangan pernah takut. Kau tidak akan pernah berjalan sendiri, meski sering kali kau akan merasa sangat kesepian. Ingatlah, sejauh apapun kita melangkah, selalu ada Allah di hati. Karena itu, isilah ruang hatimu dengan nama-Nya, selalu.

Untukmu Dek, yang datang setelahku...
Program-program kerja itu, bukanlah apa-apa jika tak kau kerjakan sepenuh jiwa.
Jangan sepertiku, yang masih compang-camping dalam merenda karya. Lihatlah, apa yang terjadi tahun ini. Jika ada yang tak berkenan, sungguh aku tak melakukannya dengan kesengajaan. Ah, mungkin hanya ilmuku saja yang masih kurang. Atau kapasitasku yang masih dipertanyakan? Aku hanya berusaha mengimbanginya dengan terus mencoba. Jatuh, lalu bangkit. Selalu seperti itu. Belajar, menjadi insan yang bangkit, meski tak akan pernah mencapai kata sempurna.
Aku mencoba merenggut mutiara hikmah yang berserakan atas kisahku itu.

Kau, jadilah dirimu sendiri. Mulailah dengan memiliki sebuah visi yang besar. Ya, visi adalah mimpi yang memiliki potensi. Sibukkanlah dirimu dengan visi besarmu itu, agar kau tidak sempat mengurus hal-hal kecil yang ada di sekitarmu, yang mungkin hanya akan membuatmu merasa jatuh. Jangan pernah takut untuk mencoba. Selalu ada jalan bagi orang yang memiliki kemauan. Itu adalah bekal pertama.
Maka, apa itu yang disebut dengan rekruitmen, Meteor, Suplemen, Mator, Montir Tutor, SJ atau apa saja, bisa kau buat sesuai dengan inginmu, dengan visi dan mimpimu itu. Lebih banyak baca dan belajar, itu adalah jalan yang kita pilih sejak mula.

Untukmu Dek, yang datang setelahku...
Dalam keluargamu selama satu periode kelak, akan ada masa-masa di mana kau akan merasa, bahwa satu hal yang disebut komunikasi sangatlah penting. Karena itu, pandai-pandailah berkomunikasi. Tak selalu harus bicara. Ada kalanya kau harus lama terdiam dan mendengar. Ada saatnya kau menengahi. Ada waktunya pula kau menjembatani. Satu hal yang selalu kita pegang, bahwa "katakanlah yang benar, meski terkadang menyakitkan."

Untukmu Dek, yang datang setelahku. Kutitipkan pesan rindu padamu. Aku tahu, kau tahu, Bahwa semua tidak akan berjalan begitu saja. Seperti pendakian, akan ada saatnya kau mendaki yang membuatmu lelah, nafasmu tersengal. Akan ada pula jalan turun, di mana kau bisa melengang dengan leluasa. Jalan kerikil yang menggelitik kaki saat berjalan, atau jalanan lurus yang memungkinkanmu lebih menikmati pemandangan. Akan datang kesulitan-kesulitan, tapi bersamanya akan datang pula kemudahan-kemudahan.
La tahzan, Jangan bersedih. Allah bersama kita. Bersabarlah, tanpa mencari batas. Karena sabar memang tiada berbatas.
La tahzan, akan ada orang-orang  seperjalanan. Di sana kau akan menemukan cinta tanpa kau mencarinya. Sadarilah sejak dari awal bersua. Kalian akan bekerjasama dan sama-sama bekerja. Di sanalah titik rindu akan menggumpal seperti awan yang menaungi hati-hati kalian. Sama-sama berkarya, bekerja, tertawa, bercanda, bahkan menangis bersama.

Untukmu Dek, yang datang setelahku...
Kutitipkan estafet dakwah ini kepadamu. Sesungguhnya air akan terus mengalir, meski tanpa ikan. Seperti itu pulalah dakwah akan terus berjalan, meski ada atau tanpa kita. Tapi, menjadi bagian darinya adalah sebuah keniscayaan.
Bukan tentang apa saja yang telah kita lakukan, bagaimanapun kita hanya bagian kecil dari perjalanan ini. Berjalanlah terus tanpa kenal waktu. Berkontribusi dengan cara kita sendiri.
Terakhir, ingatlah selalu salah satu karya Taufiq Ismail, tentang kerendahan hati. Kupetikkan sekilas sajaknya untukmu Dek, yang akan segera menaiki bahtera baru bernama amanah itu.

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

 Semangat bermanfaat dan selalu menginspirasi, seperti kata-kata Rasul kita yang mulia, "Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain."

Dari kakakmu,
yang datang lebih dulu.


Selasa, 14 Januari 2014

Kenapa Memilih Tarbiyah?

Siang itu, di tengah hening dan syahdunya pertapaan seorang anak manusia. Berderinglah hape-nya, dan ketika dibaca sms itu, ada sebuah tanya dari seorang sahabat.

"Kenapa antum memilih tarbiyah?"

Bukannya dibalas, si pembaca sms justru tersenyum sendiri.

"Bukan aku yang memilih tarbiyah, tapi Allah yang memilihkan tarbiyah untukku."

Begitu kata dalam hatinya, dengan segala proses yang menyertainya. Ada banyak pilihan terhampar, tapi ia memilih untuk tetap berada dalam pilihannya itu.

Amanah di Penghujung Januari

Terkadang, cinta datang terlambat di penghujung hari. Atau bisa jadi, cinta telah hadir di awal kebersamaan, hanya saja kita tak saling menyadari. Beginilah, cinta yang hadir pada sebuah rumah tumbuh bernama organisasi. Organisasi yang selalu disandingkan dengan amanah, yang dipikul di pundak. Menjadi tema dalam otak. Membutuhkan waktu, energi dan kesabaran lebih untuk dihadapi dan dijaga. Terlebih, jika pada awalnya, tidak merasa "sreg" berada di sana. Maka berproses adalah jawaban atas ketidak-sreg-an itu sendiri. Bagaimanapun, yang dihadapi adalah sebuah kepastian, bahwa mau tidak mau, kita telah berada di situ. Tidak ada jalan lain, kecuali menjadi pribadi pembelajar yang jatuh bangun untuk mencoba. Meski banyak celah-lubang-tantangan dalam proses pembelajaran itu. Pun, sangat jauh dari sempurna.

"Pena telah terangkat dan tinta telah kering!"

Maka di bagian awal sampai tengah itu adalah masa-masa yang sulit dan berat bagi sebagian orang yang berada pada sebuah organisasi. Merasa tidak nyaman, belum bisa beradaptasi, bukan "gue" banget, merasa tidak berkapasitas, tidak expert dalam bidangnya dan semua alasan lain. Ah, manusia memang pandai mencari-cari alasan. Payahnya, alasan-alasan itu dianggap sebagai sebuah pembenaran atas kepentingan ego. Ya, masalah perasaan. Manusiawi, wajar. Padahal, jika ada kemauan pasti ada jalan. Berproses, berproses, berproses... menjadi lebih baik dari hari ke hari, seperti para kupu-kupu. Kupu-kupu cantik itu, terbang dengan indah di antara bunga-bunga karena melewati masa-masa yang sulit dalam hidupnya. Setelah menjadi larva, ulat, dan kepompong. Terlebih, ketika akan berubah menjadi kupu-kupu, ia terjerat oleh jaring-jaring tertentu, yang menyusahkannya untuk segera keluar. Tapi begitulah, justru kesusahan yang dia dapatkan itu akan membuat sayapnya menjadi lebih kuat dan kokok, ketika terbang nanti.

Meminjam filosofi Dandelion, yang baru akhir-akhir ini dapat termaknai. Bunga kecil yang kelihatan rapuh itu, sebenarnya sangat tangguh menghadapi kencangnya angin. Kalaupun pada akhirnya, ia harus diterbangkan oleh angin, ketika jatuh di tanah yang baru ia akan memulai kehidupan yang baru. Secara sederhana, dapat dimaknai sebagai kekuatan untuk bertumbuh di manapun berada.
Seperti itulah kehidupan sebuah organisasi. Tidak perlu mengeluh terlalu jauh, atau menangis hingga membuat miris, ketika kita ditempatkan di sebuah organisasi yang sama sekali asing, tidak kita kenal, dan bahkan tidak kita cintai. Di luar sana, ada organisasi yang lebih kita inginkan. Tapi kebutuhan lapangan, lantaran ada atau tidaknya orang, atau rasionalitas lain yang mengharuskan kita untuk berada "di sana", pikirkan sebagai sebuah petualangan. Bahwa Allah telah menuliskan dalam lembaran takdir untuk kita. Bahwa kita sedang diuji dalam pemaknaan kehidupan. Bahwa kita harus meminjam filosofi sang dandelion, dapat hidup dan bertumbuh, di manapun berada.

Pada prosesnya, tiap tantangan tidak akan pernah terhindarkan. Selalu ada masalah, ketidakmulusan agenda, atau apa pun namanya. Sebut saja batu sandungan. Sebuah pembelajaran yang membuat kita untuk lebih hati-hati berjalan. Maka, mari meminjam arti kegigihan pada rumput liar. Terus hidup dan tumbuh meski diinjak berkali-kali. Anggap saja training untuk lebih menguatkan langkah dan kesabaran.

Namun, tidak semuanya berjalan menyedihkan. Selalu ada, dalam kisah perjalanan manusia, bukan hanya nestapa yang menyapa, tapi juga kisah tentang bahagia. Surplus yang kita dapat dari berorganisasi adalah rasa kekeluargaan, terlebih yang dibungkus dengan bingkai ukhuwah. Indah. Bukan sedarah, tapi diikat oleh tali aqidah. Mereka ini adalah orang-orang yang menjadi warna-warni pelangi yang menghiasi hitam putihnya kehidupan dalam organisasi. Mereka mewujud menjadi sahabat sejati, yang teruji untuk membersamai kita menangisi pahit-getirnya perjuangan. Mereka juga adalah pemanis dalam tiap kebahagiaan yang kita punya. "Gak ada loe, gak rame." Maka, mereka ini akan menjadi salah satu episode yang tidak akan pernah kita lupakan. Cinta antara kita dan mereka telah teruji oleh waktu, yang menghadirkan berbagai cerita tentang persaudaraan.

Maka tak ada yang heran, selalu ada perasaan  memiliki begitu ada yang merasa kehilangan. Akan ada perasaan untuk mengulangi, begitu ada yang terlepaskan. Merasa baru akan mencintai, begitu waktu harus mengakhiri.

Jangan pernah ada cinta yang terlambat!

 

* di penghujung amanah, menanti detik-detik demisioner. 

Mifta Damai R
 Rabu, 15 Januari 2014 01.48

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...