tiba-tiba rekam jejak setahun yang lalu
membayang di pelupuk mataku
biar, ia berlalu
terbang bersama angin syahdu
bagi orang lain mungkin ia adalah debu
tapi bagiku
ia akan tetap hidup, bersahaja dalam bahasa kalbu
Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan sebuah moment bersejarah yang akan selamanya terkenang.
beginilah hidup, tiap insan memiliki takdirnya masing-masing, begitu pula setiap insan memiliki ceritanya masing-masing. dan ini ceritaku, tentang OSPEK saat menjadi koordinator acara.
aku tak tahu saat itu aku memang masih harus banyak belajar, sehingga Allah memilihku untuk membelajarkanku. tentang arti kesabaran, tentang arti ketulusan, tentang arti pengorbanan, tentang persahabatan. Pun katanya dengan tawa kala bahagia, dan air mata ketika haru dan berduka. Panitia saat itu, di bawah komando seorang pemimpin yang luar biasa, menjelma menjadi sebuah keluarga, bukan sekedar orang-orang profesional yang saling berhubungan karena formalitas dan struktur belaka.
Moment-moment yang luar biasa, yang memberikan pelajaran tak ternilai. hanya saja, tak ada jalan yang selalu lurus, tak ada yang selalu mulus. kerikil-kerikil kehidupan yang kecil, namun tajam melukai pun turut menghiasi. Secercah kebanggaan itu bagaikan api semangat di dalam dada, namun terkadang padam ketika terkenang satu dosa sejarah yang sempat merampas senyum orang-orang yang kucinta.
bodoh...
kenapa hal itu harus terjadi?
dan kenapa harus aku yang mengalami?
kenapa tak orang-orang yang memiliki kapasitas yang lebih tinggi, yang mendapatkan ujian yang lebih berat?
kenapa?
sempat bergulir tanya yang selalu menyiksa dada, dan akhirnya pun aku sendiri yang harus menepisnya.
"Tak ada sehelai daun pun yang jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan-Nya"
maka aku yakin, bahwa itu bukanlah suatu kebetulan. skenario mereka bilang. Ya, skenario yang dibuat oleh Sang Pembuat Skenario. entah apa maksud-Nya, logikaku belum sampai menembusnya. tapi aku yakin suatu saat aku akan dapat menghubungkan titik-titik di masa lalu itu kemudian merangkainya menjadi sebuah kenangan yang penuh dengan hikmah.
biarkan, kebanggaan itu terus menyala.
pun dosa sejarah itu, biar generasi kami yang menanggunggnya,
dan aku pastikan dosa sejarah itu tak akan terulang pada generasi selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar