Sabtu, 28 September 2013

Tersesat

"Katakan, apa mungkin mereka akan menganggapku sebagai orang yang berbeda?" tanyaku padamu kala itu.
"Ya, bisa jadi."

Aku terdiam, menatap tak percaya  jawaban ringanmu yang singkat-padat  pada beban berat yang hinggap menyekap.

"Apa aku salah?"

"Lalu, apa kau ingin kembali?"

"Tidak, sejujurnya. Aku tidak peduli. Bahkan aku menyadari bahwa aku telah tersesat dan tak bisa kembali. Sebuah kegetiran nyata yang mula-mula aku caci, namun perlahan ia kuterima sebagai sebuah realita."

"Dan?"

"Dan aku berbeda. Jalan yang kulalui tak lagi sama. Maka mungkin aku akan menjadi sebutir buih ombak yang terpisah dari kumpulannya. Mereka datang ke tepian pantai, lalu kembali bersama angin ke dalam peluk lautan. Sementara aku tertinggal, tertawan pada pasir putih atau menempel pada kokohnya karang. Atau, seperti seseorang yang tertinggal di dalam labirin dan menemukan harta terpendam, hingga ia malas-tak mau kembali pulang."

"Ah... perempuan. Kau menggenggam jawabannya, tapi masih pula kau mencoba bertanya."

"Mungkin... Karena aku hanya butuh diyakinkan. Hanya butuh seseorang berkata tentang kepastian- meski hanya sekedar hiburan-meski aku terjaga sepenuhnya, bahwa yang kuhadapi adalah ketidakpastian itu sendiri."

"Skenario takdir kita ditulis oleh tangan yang sama. Percayalah, bahwa 'ketersesatanmu' adalah bagian dari skenario itu sendiri, kau hanya perlu mengumpulkan puzzle demi puzzle sambil menyusunnya menjadi sebuah bentuk nada kehidupan. dan ketika puzzle itu telah lengkap, baru kau akan sadar, "Jadi... ini maksud Tuhan..."..."

Aku memandang takjub. Hakikatnya aku tahu, pertanyaanku hanyalah kalimat retoris yang sengaja kucipta untuk mengujimu.

#Huruf T pertama yang menyatukan kita, Tersesat.

Aku dan Waktu

Aku berperang melawan waktu. Sendiri di tengah sepi, kuhunuskan pedang ke arahnya. Aku sadar benar, jika aku tak membunuhnya, maka ia yang akan menebasku. Aku ingin melumpuhkannya lewat kata, menebas lengan, kaki yang membuatnya tak bisa berjalan. Setelah ia kalah, aku ingin ia menjadi budakku.

Namun rupanya aku hanyalah manusia lugu yang tak mengerti strategi waktu.  Aku setengah menyerah. Aku merangkulnya, bernegosiasi tiba-tiba dan mencoba bersahabat dengannya, setelah aku mengerti benar, jika aku pun kalah lobi, maka ia yang mengakhiri.

Aku tak mau. Aku ingin memastikan dengan tanganku, bahwa kisah ini akan selesai karena aku sendiri yang memutuskan, bukan waktu.

Jumat, 27 September 2013

Pada kata-kata

Aku jatuh cinta pada kata-kata. Tiap engkau berbicara tentang senja. Meski kerap kau menulis tentang pagi jua. Cukup itu yang kutahu, karena tiap kali kau menuliskan sajak, puisi, prosa atau fiksi, aku jatuh cinta pada kata-kata. Anehnya, aku tak merasa jatuh cinta padamu, penulisnya. aku hanya merasa, tiap kali kau berkata-kata, kau sedang menunujukkan duniaku, dan aku berlari kepadanya.

Aku jatuh cinta pada kata-kata. Bukan padamu, suatu anomali, ketidawajaran seperti layaknya perempuan-perempuan lainnya. Mereka berlomba, mengejarmu, mendapatkan setitik perhatianmu. Tapi aku merasa tak perlu melakukan itu. Yang kumau hanya kata-katamu, yang kau eja dengan sempurna menjadi baris-baris penuh makna.

Karena di sana, pada kata-kata aku melihat gurat tawa, kesedihan yang melanda, rindu menyeruak dada, kekaguman pada Pencipta semesta, segalanya,,,, melalui kehebatan tarian pena. Aku melihat hatimu pada kata-kata. Cukup itu, cukup aku menggenggam tiap kekuatan yang kau torehkan, dan aku akan menjadi seorang korban ilusi yang tertawa, menangis, bahagia, bersedih, merasa haru pada kata-kata. Karena aku telah jatuh cinta, pada kata-kata.


Minggu, 28 Juli 2013

Sebuah Ingatan Tentang Laskar Sembilan

Laskar 9...

Hmmm... entah siapa penggagasnya, bagaimana menjadi pelopornya serta seperti apa sejarah berdirinya, yang kutahu pertama kali aku diundang ke dalam forum itu adalah di mana ketika kami suatu senja bercengkrama bersama di Masjid Kampus UGM pada pertengahan tahun 2012. Tulisan ini adalah tanda cinta kepada sahabat dan saudara seperjuangan yang tergabung di Laskar Sembilan. Mungkin ingatan ini terbatas, meski terkadang aku sangat yakin bahwa aku memiliki ingatan yang fotografis. Semoga tidak terlewat kawan... :D


dimulai dari sahabat dan saudaraku yang akhwat...:

1. Pipin, si lembut hati
pertama kali bertemu dengannya adalah di sebuah tempat bernama Wisma Kadisoka, sebuah tempat yang ternyata tahun-tahun berikutnya menjadi tempat yang sangat dekat dengan aktivitasku selama di kampus ini. Waktu itu Pipin mengenakan jilbab warna abu-abu kembang-kembang (dan sekarang jilbab itu dipake oleh adiknya, dan aku pun berjumpa dengan adiknya pertama kali juga mengenakan jilbab itu, saudara!!!) Pipin ini sosok akhwat luar biasa yang lembut hati, sabar, dan jarang bahkan hampir tidak pernah berkata "tidak" kepada saudaranya. Pintar memasak segala jenis masakan, mulai dari kue sampai masakan-masakan yang menurutku "njlimet" baik bumbu maupun proses memasaknya. Keren lah... sepertinya sudah sangat siap menjadi seorang ibu, karena di manapun dia juga selalu berperan sebagai ibu.

2. Ipeh, eh Hanifah, si sepatu bulu reog #ups,,,
Ipeh ini sahabat karibku yang sudah dua periode menjadi rekan di sie acara OSPEK FISE. Kelihatannya memang galak, tapi sebenarnya dia ini baik hati lho... awalnya sangat "gentleman"   dan macho, dengan sandal gunung dan tas ranselnya yang tidak pernah ketinggalan, tapi akhir-akhir ini kulihat banyak perubahan padanya. Dia jadi feminim sekali saudara,,, alhamdulillah, bahkan sekarang punya hijab style yang baru. Sebenarnya sama dengan Pipin (karena memang soulmate-nya), pertama kali bertemu di wisma Kadisoka, dan ketika forum dia pernah bertanya pada pembicara tentang "Kenapa akhwat harus punya jam malam sedangkan yang ikhwan tidak???" #bahkan waktu itu aku gak mudeng apa itu jam malam. hehe... :D
oh iya, tentang sepatu bulu reog. sebenarnya bulu reog ini gara-gara "bercandaan" seorang teman setiap kali bertemu dengannya yang memang berasal dari Ponorogo dan identik dengan Reog Ponorogo-nya, sampai suatu saat aku ketularan gatel nyebut sepatu barunya yang terbuat dari bulu-bulu sebagai "Sepatu Bulu Reog". Sebuah filosofi yang tidak disepakati. Tapi, memang begitulah aku, hehe,,, :D

3. Nisa, si Miss Rempong
Pertama ketemu di OSPEK, ternyata satu jurusan. waktu itu masih lugu abis, pake kaca mata pula. Sekarang???? rempong gilaaa... :D Kukasih tahu rahasia perusahaan orang yang satu ini. Di DM Pocong waktu kami jadi panitia, dia menjadi seorang sie konsumsi yang sangat kreatif, ketika tidak ada alat untuk mengaduk teh yang ada di jumbo, maka dia pakai sesuatu yang tersedia di dapur saat itu. tak ada rotan, akar pun jadi, tak ada pengaduk, sothil pun jadi...
terus teh nya jadi rasa apa saudara-saudara????
Miss rempong ini turut andil besar dalam merempongkan diriku, jadi kalau ada yang melihat sesuatu yang rempong pada seorang Miff Chan, maka itu adalah ajaran si Miss Rempong. ;)

4. Olpy, si pembalap.
ketemu pertama di IEC dalam suatu forum. Waktu itu dia kelihatan horor bin judes. Setelah lama kenal..... ya emang gitu. Lebih horor pas naik motor sama si Olpy,,,, hmmmm,,,, senam jantung tingkat dewa. terobos apa aja.... astaghfirullah.... Tapi dia itu tipe orang yang totalitas tanpa batas. tidak peduli tubuh cungkringnya itu lagi sakit, belum makan, atau belum tidur, selagi masih ada kerjaan ya dia kerjain sampai dia bener-bener ambruk.... habis ambruk kalau masih belum kelar lagi, mungkin sampe ngesot-ngesot.... salut dah...

5. Chika, bakul pulsa yang perfectionis
mungkin karena bergolongan darah A, jadi melakukan segala sesuatu dengan detail dan rapi. Dia ini rajin belajar dan semangat menuntut ilmu. buktinya, setiap ada kajian, pasti namanya nangkring paling atas di buku hadir. Paling disiplin kalau syuro, hampir tidak pernah datang terlambat. jos gandos lah... jadi malu, sangat berkebalikan dengan diriku,,, hahaha,,, :D yang jelas dia itu tempat kembali bagi semua orang yang pingin ngutang pulsa. sip, jos.

6. Bening, KAMMI sejati.
sejak mengenalnya pertama kali, di ini emang udah sangat KAMMI. sampai hari ini pun sangat KAMMI. Golongan darah A juga, katanya kalau memotong sesuatu, misal motong buah gitu, pasti ukurannya mendekati sama. Tipe perfeksionis juga, tapi terkadang membingungkan. Ben kun... :D


hoho,,, bersambung deh, semoga lain kesempatan masih bisa menuliskan nama-nama lain hingga mendekati lengkap.

Kenapa Miff? capek???
iya nih,,, mau istirahat dulu sambil kembali syuro.
*Belum jadi anggota dewan aja, jam terbang rapatnya sudah setinggi ini, gimana kalau jadi Dewan?
#tapi aku nggak mau og jadi anggota dewan, jadi istrinya anggota dewan, nah itu mungkin... hahaha.... :D

Kamis, 30 Mei 2013

maaf, Buk...

00.00 WIB.
1 menit kemudian, halaman yang kuakses lewat N 6600 pemberianmu waktu itu sudah bisa dibuka. Penantian panjangku yang harap-harap cemas terbayar sudah. Kau menemaniku, meski kutahu lelah yang menggantung di pelupuk mata itu sengaja tak kau tampakkan. berbeda denganku yang telah terbiasa dengan insomnia selama masa-masa Ujian Nasional, kau pasti sangat mengantuk, ditambah dengan pekerjaanmu di kantor yang tampaknya menumpuk. Tapi, putri pertamamu, yang kali pertama ingin menjamah bangku kuliah itu mengalahkan segala rasa. 

Kuketik no ujian hati-hati, sekedar memastikan tidak ada satu digit pun yang tercecer. Loading. 2  irama dari 2 jantung yang berbeda semakin kencang, meski tak terdengar. Lalu aku berteriak, setelah akhirnya menemukan namaku ada di halaman itu. Administrasi Negara, UNY. Pilihan ketiga memang, tapi cukup memberikan kehangatan malam itu. Ya, aku sudah diterima di sebuah universitas. 

Aku tersungkur dalam sujud syukur. Haru menyelimuti hatiku kala itu, Allah baik sekali. Doaku dijawab-Nya dengan hal yang tidak kuduga. Aku sebenarnya ingin menjadi pengajar dan pendidik Bahasa Inggris, seperti expert-ku beberapa tahun terakhir. Administrasi Negara,,,, bahkan aku tak tahu apa itu, tapi jurusan itu kuplih ketika mengisi formulir pendaftaran SNMPTN dengan pertimbangan dari TES IQ terbaruku, bahwa aku dianjurkan untuk masuk ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Walaupun aku tak tahu apa itu, tetap saja logikaku kalah dengan perasaan haru. Dan naluriku mengarahkanku untuk sujud syukur. Tenggelam dalam rasa terima kasih yang tak terhingga pada Sang Penggenggam Jiwa. 

Ibuku tersenyum, "Alhamdulillah,,,," katanya. Lalu keluar dari kamarku. "Selamat ya, Ibuk mau shalat tahajud sekalian..."

*****************************************************************************

Siangnya aku berpikir. Jogja, 1 kota yang bahkan tak pernah ada di benakku, dan kini aku harus ke sana. Masih terbesit harapan, mungkin aku diterima di STAN, tapi aku harus menjalani kehidupan di UNY terlebih dahulu, sambil menunggu pengumumannya. 
Euphoria keluargaku saat itu, "Memang begitu, Nduk. Harus ada yang meneruskan Bapak dan Ibu jadi PNS. Mungkin kamu bisa jadi Camat atau Bupati nantinya," seloroh Ayahku. Aku cuma senyum-senyum, tak bisa membayangkan. 
Maka, berangkat ke Jogja, dengan bekal sederhana. BELAJAR di bangku kuliah, lulus 3,5 tahun lalu bekerja. End. Sederhana sekali, dan aku tidak tahu apa yang telah menantiku di sana.

******************************************************************************

Saat memasuki kampus itu, dalam hati aku berkata, "Kalau aku diterima di STAN, maka aku akan menjadi mahasiswa yang rajin kuliah, tidak akan nyleneh, taat aturan. intinya itu. Tapi, kalau memang takdirku di sini, baiklah, aku tidak akan hanya sekedar kuliah, tapi aku akan ikut banyak organisasi." 
titik-titik itu akhirnya terhubung menjadi sebuah benang merah kehidupan. Ketika tiba-tiba aku terpesona pada seseorang di OSPEK dan akhirnya mengantarkanku pada sebuah kata, "amanah". Memperkenalkanku pada Al Ishlah, lalu HIMA, selain itu ada pekerjaan-pekerjaan lain, seperti menjadi pansus, seminar-seminar, dan sebagainya. begitu pun di tahun kedua, menjadi salah satu "pejabat" di HIMA. Tahun ketiga, menjadi public figure dengan amanah yang berbobot meski kapasitas saat itu masih pas-pasan. Pun tahun keempat, memegang peran penting yang tidak bisa dilihat pentingnya di mana. *eh... entahlah apa itu. 

selama tiga tahun terakhir, tak ada masalah dengan akademik, nilai-nilaiku cukup cemerlang, cukup bisa menjadi hiasan bintang-bintang yang digantungkan di atas tempat tidur, juga menjadi "anak emas" para dosen.  Dan aku menargetkan bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun. 
 Hanya saja ketika tahun keempat, hal yang seharusnya kuselesaikan lebih dulu menjadi terbengkalai. Bukan karena aku tak resah, aku sangat resah. Bukan karena aku tak mau mengerjakan, aku mau mengerjakan, dan sudah kukerjakan. Bukan karena,,,, entah apa pun itu, aku tak mau berpledoi dan melakukan pembenaran. Aku ingat betul sifat dasar manusia, yang memiliki banyak alasan, bahkan untuk sekedar membela diri yang telah melakukan kesalahan.

Ada sesuatu yang mengalihkan duniaku. Dulu, aku berpikir sangat sederhana, bahwa kedatanganku  di kota ini adalah belajar. Sampai saat ini pun aku masih berpikir seperti itu, tapi ada yang telihat lebih jelas setelah belajar. Bahwa ILMU YANG KUMILIKI SAAT INI BELUM CUKUP. Ada yang ingin kulihat lebih dalam lagi, dan ini karena hasil dari belajar. AKU INGIN BERMANFAAT. sederhana sekali, meski realita tak sesederhana itu.

*******************************************************************************

Juni segera datang. Tulisan di white board ku tetaplah tulisan "JUNI 2013 WISUDA". Memajang foto diri mengenakan toga dan berselendang cumlaude, sambil membawa beberapa tangkai bunga. Asal tahu saja, itu semua kuperoleh dari kakak kelasku yang sudah wisuda. Aku  meminjamnya.
Lalu apa aku menyesal? Tidak. 
Karena aku mendapat banyak ilmu, meski bukan lagi teori di dalam kelas. Karena aku telah mengetahui hakikat diri sebagai mahasiswa, bukanlah hanya seseorang yang hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga berpikir tentang perbaikan diri, masyarakat, bangsa dan agamanya. 
Karena aku bersentuhan langsung dengan laboratorium kehidupan yang memberiku banyak bekal. Kehidupan nyata yang membuatku haus akan ilmu, semakin aku belajar, semakin aku merasa bodoh. Karena aku merangkai persahabatan di sini, bahkan persaudaraan yang mungkin irrasional bagi sebagian orang. Bagaimana bisa seseorang dengan seseorang lain bisa bersaudara tanpa ikatan darah di dalamnya??? Tapi ini nyata. Ikatan yang kami bangun memang bukan ikatan darah, tapi ikatan aqidah.
Karena aku percaya pada surat cinta-Nya pada manusia. "Jika kamu menolong agama Allah, maka Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Satu hal yang aku sesali adalah:
Aku tak bisa menyaksikan senyum kedua orang tuaku merekah di bulan Juni. Senyum bangga ketika melihat aku memakai toga. Anak macam apa yang bahkan belum bisa membalas setiap curahan kasih dan air mata dalam doa dengan sebuah bakti bernama wisuda???
Maaf, Buk....
Seorang wanita yang pada telapak kakinya terdapat surga. Maafkan aku...
Logikaku tak bisa menembus logika semesta. Bahwa Allah punya rencana lain untukku, dan semoga setiap kebaikan yang kulakukan, pahalanya mengalir untukmu....

Sabtu, 27 April 2013

mother


Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?

Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...


Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte

Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute

Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai


Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji

Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru

Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu

Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de


Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi

Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika MotomenakattanoAnata yo

Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta

Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa


Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte

Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute

Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai


"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte

Anata jikan doori ni okoshite kurete

Shikashi Rifujin na boku wa

Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"

Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni

Anata Mainichi okoshite kureta

Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta


Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii

FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi

Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita

Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta


Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte

Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute

Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother


Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara

Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru

Kore dake wa...


Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta

Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai

Boku wa anata no ikiutsushi dakara...


Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte

Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute

Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai


Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite

Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...


English :

Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…

*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me

Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own

Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today

(Repeat*)

I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock

But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…

(Repeat*)

Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…

#although sometimes we can express our true feelings to our mother

Jumat, 08 Maret 2013

Lagi-Lagi Tentang Ayah

"... Allah, Ya Allah guide me all the way to your jannah..."
nada dering hp ku. dan aku tahu siapa yang tengah menelepon. Nomor ayahku, tapi aku tahu pasti bahwa ibu yang akan berbicara. Aku pun tahu kira-kira topik pembicaraan yang akan diangkat beliau. seperti sebuah tanya tanpa ujung. Kesabaran yang tiada batas menanyakan hal yang sama berulang kali, dan mendapatkan jawaban yang sama, berulang kali juga. pertanyaan yang akan dilontarkan akan seperti,

"Sudah sampai bab berapa?"
" Bab 3 sudah selesai belum?
Kok belum selesai, kapan?"
"Katanya Februari seminar proposal, ini sudah Maret lho... "

dan dengan air mata yang ditahan-tahan agar tak jatuh, di depan anak-anak kosku tentunya, aku menjawab dengan sok tegar, "lagi proses, bu...". jawaban yang sama, berulang kali. Ah... aku tahu, mungkin karena jawbanku sama terus, maka pertanyaannya pun juga selalu sama. mungkin lain kali aku harus menjawab dengan jawaban yang berbeda, pikirku.

Ibu... ibu, andai tahu betapa menderitanya anak rantau dengan segudang kegalauan akan skripsi ini. satu kata yang sangat sederhana, namun membawa kegelisahan yang amat pelik.  Aku ragu, tapi harus. Maka, kusiapkan jawaban ala kadarnya, karena tak mampu berpikir lagi dengan kata-kata lain. Maka kuangkat juga telponnya.

"Assalamu'alaukum..." setelah kupencet tombol terima.
"Wa'alaykumsalam. Nduk, gimana udah sehat, katanya sakit?" aku salah, ternyata ayah yang berbicara. ini tumben, di luar batas kewajaran yang biasa. lalu mengalir pembicaraan kami yang sangat jarang itu. Ya, ayahku tak mengungkapkan cintanya lewat kata, melainkan lewat kata kerja.
dan tiap kali tema "sakit dan sehat" selalu ayah yang terbayang di pelupuk mata. seperti waktu itu....

semester 2 kuliah di kampus asing ini, ternyata menjerumuskanku pada kata manis berjudul aktivis. ya, lalu aku menyibukkan diri dengan berbagai hal yang berkaitan dengan aktivitas mahasiswa di tingkat ormawa. Menginspirasi, pikirku waktu itu yang juga terinspirasi oleh beberapa kakak kelas berbeda jurusan. hal itu membuatku terlibat dengan agenda terbesar organisasiku kala itu, dengan aku sebagai ketua panitia. masalahnya klise, dana. dan hal itu berujung pada pikiran kalut, sekalut benang ruwet. terlebih pada waktu itu aku adalah tipe pemikir berat, di mana setiap masalah kupikir begitu dalam, hingga mengalahkan nafsu makan. singkat cerita aku jatuh sakit, hingga menyebabkan aku dirawat di rumah sakit di kota ini. Ayah dan ibuku datang dengan perjuangan berdarah-darah karena terlalu khawatir. Maka travel yang seharusnya menjadi jatah satu orang, dipakai oleh dua orang sekaligus, dan tentu saja karena ayah adalah pria, ayah yang mengalah. bisa kubayangkan, penumpang yang lain duduk di kursi penumpang dengan nyaman, sementara ayah bergelantungan, mungkin lesehan, ah,,, aku tak tahu dan tak ingin membayangkan. Mereka datang ke kos, dan demamku tak kunjung sembuh, pun sakit kepala di sekujur tengkoraknya, adalah sakit yang tak biasa kualami. Maka paginya, aku dirujuk ke rumah sakit swasta terdekat, yang kutahu saat itu.

seperti skenario di dalam sinetron, aku dihampiri dokter di UGD, dan ibuku menangis-nangis, "Dokter... tolong anak saya dokter..."
aku membatin. "Hadeuh, sinetron beud ini." Maka aku berkata dengan lemah. "Gak ada acara nangis-nangisan bu... "
setelah diperiksa aku diinfus dan dibawa ke ruang perawatan. wow,,, ini luar biasa, pertama kalinya jarum suntik dan infus menancap di tubuhku, dan aku hanya pasrah.
dan ayah, terlihat sangat tegar. Setiap saat berada di sisiku, membacakan Al-Qur'an. Setiap hari bolak-balik keluar kamarku yang lantai empat, sedangkan ayah tak mau menggunakan lift. bisa diterka, ayah hanya menggunakan tangga manual bolak-balik dari lantai dasar ke lantai kamar rawat. belum lagi, harus berjalan bolak-balik dari rumah sakit ke kosanku dengan berjalan kaki. Mencuci bajuku, mencuci bekas ransum, membersihkan kamar, dan kembali membawa perbekalan. dan setiap kali kuprotes, kenapa tak pakai lift, kenapa tak pakai bus kota (karena waktu itu aku belum membawa si silvi, sahabat dan motor perjuangan), dengan santai ayah menjawab, "Sambil olah raga nduk. Lumayan."
tapi aku tahu, beliau lelah. dan makin membuncahkan rasa bersalah di dalam dada, kenapa aku harus sakit segala???

ayah,,,satu-satunya yang tak bertanya tentang skripsi. Dan itu membuatku sangat bahagia, karena beliau justru ingin aku menikmati masa-masa di kampus dengan segudang pengalaman berharga sebagai bekal kelak hidup di dunia nyata.
dan ibu, maafkan aku karena sampai sekarang belum bisa melukis senyum dan memberikan sebuah kebanggaan, sebuah sertifikat kelulusan dan toga wisuda.

Selasa, 26 Februari 2013

Kembali ke Orientasi Awal

Fokus.
satu kata yang pasti terlintas di benak manusia untuk konsen ke salah satu capability dalam dirinya. satu kata itu pula yang akan menjadikan seseorang expert di bidangnya. Ya, seperti apa yang sering disampaikan oleh Jamil Azzaini, seorang inspirator sukses-mulia, yang berkali-kali mengatakan, "jadilah expert." sederhana saja, misalnya kita berada di Jurusan Fisika, maka kita harus expert di bidang Fisika, pun dengan jurusan-jurusan lain, meskipun sebenarnya banyak potensi berserakan dalam diri kita. Kenapa harus begitu? karena ada satu hal yang harus kita dalami, kita konsen di sana, dan kita melakukan perbaikan-perbaikan di bidang itu, untuk bangsa, negara dan tentunya untuk agama yang teramat kita yakini.

maka, jika kini ada yang sedang kehilangan arah, maka mari bersama mulai berbenah. Kembali ke orientasi awal kita, ingin menjadi seperti apakah kita? kita sendiri yang menentukan. tentu saja kita tidak dapat mengubah takdir Tuhan, seperti burung-burung yang tak dapat mengubah arah angin, mereka hanya perlu mengubah arah kepakan sayap mereka. Kita berencana, Allah juga berencana, dan sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah arti dari surat di bawah ini,
"Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya."
(T.Q.S Ar Raadu': 11)

pada intinya, no free lunch for a such things, semua ada harganya. apapun cita-cita kita, harus diperjuangkan dengan ikhtiar, doa dan tawakal. bukan sekedar menerima takdir, meskipun itu adalah sebuah kepastian.

Selasa, 05 Februari 2013

Sebuah Cerita Tanpa Judul


“Rasanya itu..
Seperti ada yang membuat pundakmu jadi ringan
Tapi di saat bersamaan justru hatimu menanggung beban
Ada cinta yang tak terkatakan
Dan perasaan yang tak tersampaikan
Namun biarkan
Asal semua mampu bermuara
Pada sebuah samudera bernama doa”

Kutipan  kata-kata di atas, adalah representasi perasaan yang aku tanggung setelah dinyatakan demisioner malam itu. Jujur, aku bukan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan di hadapan banyak orang. Misterius katanya, atau pada waktu BEM SPIRIT DAY pertama, banyak yang bilang kalau aku adalah orang yang sangat tertutup. Ya, memang. Karena aku sendiri menyadari, bahwa dari awal aku sudah didesain sebagai pendengar, tipe-tipe orang yang  suka mendapatkan keluh kesah dari orang lain. Bagaimana tidak? Memang terkadang sulit memiliki nama Damai, karena harus menjaga kedamaian hati orang lain meskipun hati sendiri  sedang “kemrungsung.” Atau mungkin karena itu aku dipilih sebagai kadept PSDM? Hehe… ^^ semoga walau tak terungkap lewat kata, tulisan ini dapat mengilustrasikannya.
Cerita ini  bermula  dari naik tahtanya seorang Satria. Suksesi untuknya berjalan mulus, karena  sejak awal pada dirinya telah tercermin hati yang tulus. Lalu aku pun diminta, untuk menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Berat. Sungguh berat, aku yang sering hidup dalam dunia prasangka  yang melankolis ini merasa tak memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKU) untuk memenuhi permintaannya. Merasa kapasitas belum sampai tapi telah diberikan amanah yang membadai. Hingga aku pun bertanya, adakah jembatan yang menghubungkan antara kapasitas yang pas-pasan dengan tanggung jawab yang besar??? Namun, Dasa Dharma Pramuka tak mengajarkan sesorang lari dari medan perang. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Maka kumantapkan niat, memperbarui semangat, dengan mengucap asma-Nya Yang Maha Agung, amanah itu pun kuletakkan pada pundakku, pada hatiku.
Lalu, setapak demi setapak aku diperkenalkan dengan orang-orang baru di sekelilingku. Lingkaran pertama, lingkaran PH, yang bertemu pertama kali dalam romantisme hujan di depan perpustakaan. Wahyu, Devi, Jumai, Agus, Bening, Handoko, Ipung, Azis, teman-teman baru yang akan bersama menjadi awak kapal dengan Iman sebagai nahkodanya. Lantas mengagendakan acara pengikat hati, dengan mengunjungi Kebumen bersama-sama.
PSDM itu melihat dengan hati, ketika selanjutnya Up Grading dimulai. Mencoba mengenali satu per satu pasukan yang akan membersamai perang selama satu periode kepengurusan. Dan semangat di awal-awal itu menjadi satu langkah baru, terlebih setelah dipertemukan dengan anak-anak pilihan yang dinisbatkan tanpa persetujuan menjadi Power Ranger. Sungguh, aku kekanak-kanakan, tapi sampai hari ini pun tak bisa kulepaskan.

Cerita di Balik Share, Care and Love

Bergelut di dunia sosial, membuatku harus membaca, terpaksa lebih tepatnya. Aku dipaksa oleh seseorang untuk membaca setiap kali aku akan berbuat sesuatu. Lalu, kata-kata itu, Share, Care and Love kutemukan pada sebuah buku marketing perusahaan. Hmmm… bagus pikirku. Lalu ketika Pak Komandan bertanya, sebenarnya aku asal jawab saja untuk jargon kita: Share, Care and Love. Tak kusangka keesokan harinya, kata-kata itu benar-benar dipakai setelah dimodifikasi dengan menggunakan gerakan-gerakan yang mengekspresikannya.
Namun, jargon ini selanjutnya membuatku khawatir, ketika akhirnya satu demi satu orang saling jatuh cinta di BEM. Aku mendapat teguran dari sana-sini, karena hal ini dikhawatirkan akan mengganggu profesionalitas kinerja. Karena pernah ada cerita, BEM di sisi lain UNY juga pernah menggunakan tema “Romantisme” sampai akhirnya benar-benar terjadi dua orang aktivis di dalamnya menikah dan menjadi suami istri di periode kepengurusan mereka. Bagus menurutku… J Namun, aku sempat merasa tak enak juga. Jangan-jangan karena jargon itu yang membuat para prajurit berjatuhan karena galau. Galau karena sebuah perasaan bernama cinta. Aku merasa bersalah, karena bagaimanapun kata-kata adalah doa.  Aku bingung bukan main. Masalah semangat, PSDM masih bisa berusaha, tapi masalah hati, treatment macam apa yang sesuai???

Menjelang Pertengahan Tahun

Ibarat sebuah perahu yang berlayar, tentu akan menemui rintangan-rintangan di lautan. Entah itu badai, yang membuat kapal kehilangan keseimbangan atau menabrak batu karang, meski tidak karam. Organisasi ini dengan sendirinya memiliki sistem imunitas yang tinggi, bahkan tanpa peran PSDM, karena orang-orang di dalamnya adalah orang-orang pilihan yang dapat berpikir dengan logika dan nurani. Bahasa sederhananya, solid tanpa harus disolidkan PSDM.  Itu kegagalan pertamaku, sekaligus kebanggaanku. Ditambah ternyata aku gagal mengenali satu per satu tiap personil yang ada, dan membuat sistem ranger terlalu kuat. Apalagi aku semakin autis dengan duniaku sendiri, yang sok sibuk dengan akademik dan agenda-agenda lain. Maka jika seringkali aku dipertanyakan karena jarang berkunjung ke rumah karya, itu karena kecanggunganku sendiri yang mendera, semakin menciptakan spasi antara aku dan kita. Agenda-agenda cultural sering kulalui, meski seberapa inginnya aku membersamai, selalu ada penghalang yang membuatku tak bisa. Maafkan aku kawan, karena dengan aku yang seperti ini, ternyata aku terlambat untuk menyadari sesuatu. Terlambat mendeteksi cinta yang seharusnya kutumbuhkan sejak dini, dan ketika akan kehilangan, baru aku merasakan memiliki. Ah,,, penyesalan memang selalu datang belakangan.

Pada Akhirnya, Cinta Adalah Sebuah Kata Kerja

“Karena cinta adalah kata kerja
Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya
Karena cinta adalah kata kerja,
Maka mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus
Alirannya adalah kerja yang terus-menerus.”
(Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang)
Begitulah cinta, ia adalah pekerjaan jiwa dan raga, bukan sekedar kata. Sementara aku tengah mencintai kalian melalui kata yang tak terucap, ada orang-orang yang telah membuktikan cintanya lewat kerja-kerja nyata. Sebut saja namanya, Iman pucuk pimpinan yang rela berkorban dan ahli negosiasi tingkat tinggi. Wahyu, loyalitasnya terbukti karena telah mewakafkan diri untuk organisasi ini. Devi, sekretaris yang mengerti harus berbuat apa bahkan tanpa diminta. Jumai, punggung terkuat yang selalu membersamai, Bening yang tetap bertahan meskipun sakit-sakitan, Ipung yang selalu menginspirasi dengan karya-karyanya, Agus dengan sifat kebapakan yang selalu bijaksana dan cekatan, Handoko yang mengatasi setiap kebutuhan organisasi dengan caranya sendiri, dan Azis dengan warnanya sendiri, memberi nuansa pelangi. Begitu juga dengan yang lain, yang tak bisa kusebutkan satu per satu kebaikannya, karena setiap langkah kebersamaan kita, semuanya tampak baik di pandangan mata.
Hmmm… inilah akhir coretan gak jelas ini, sebuah refleksi perjalanan yang di dalamnya aku banyak berkaca sendiri. Suatu hari, akan menjadi sebuah rekam jejak dan pembelajaran yang tak kan lekang dalam ingatan. Mari perbaiki kembali spasi antara aku dan kita, meski tak lagi bersama. J

Senin, 21 Januari 2013

My First Love


“Setiap ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuannya.”
(pepatah)

Ayahku, adalah cinta pertamaku. Bagaimana tidak? Beliau adalah kaum Adam pertama yang kulihat ketika aku membuka mata, yang dengan kelembutannya selalu menjagaku, ya mesti tak pernah ditampakkannya.
Dulunya, aku menganggap ayahku adalah seorang yang dingin, yang tidak pernah bisa dekat dengan anak-anaknya. Tapi itu spekulasi tanpa suatu data yang valid. Waktu aku masih kecil, ayahku memang sering  marah padaku, yah,,, mungkin karena aku memang nakal waktu itu. Sehingga, anggapan “galak” itu mampir ke benakku. Tapi baru-baru ini aku menyadari sesuatu, mungkin anggapan waktu itu timbul karena aku belum begitu memahami keadaan psikologi dari seseorang. Mungkin karena waktu itu, usia beliau masih relative sangat muda, dengan pernikahan yang berusia muda, lalu harus menghadapi dua anak  kecil yang nakal. Spekulasi lagi, tapi ini lebih objektif menilainya.
Aku mulai jatuh cinta padanya ketika mendengar cerita masa kecil ayahku dari pakdhe. Aku termasuk keponakan yang “grapyak” dengan saudara-saudara ayahku, karena aku adalah anak pertama, dan mau tidak mau harus memberi contoh pada adek-adekku. Ayahku , bungsu dari tiga bersaudara,  dua orang kakaknya laki-laki, dan semuanya berkeluarga di sebuah kota  besar yang panas bernama Bojonegoro. Hanya ayahku yang membangun karir dan keluarganya di kota kecil ini. Pakdhe pernah bercerita, bahwa keluarga mereka saat itu hidup sangat sederhana, kekurangan malah. Oleh karena itu, pakdheku itu mengambil pilihan untuk menjadi seorang tukang becak, untuk turut serta memberikan penghasilan bagi keluarga. Ibunya, yang juga nenek dari ayah, menjadi tukang cuci dan setrika untuk menghidupi keluarga. Pakdhe berkisah, bahwa ayahku adalah seorang yang memiliki kemauan yang keras untuk belajar dan sekolah. Jadi, meskipun hidup serba kesulitan, ayah tak pernah ingin putus sekolah. Maka waktu itu ayah berjualan es lilin keliling kampung, berjualan kelereng, dan apa saja yang bisa membuatnya tetap bersekolah. “Aku mbrebes Ta, yen kelingan bapakmu dodolan es lilin ben tetep iso sekolah” Kata Pakdhe. Pantas saja, sampai sekarang pun ketika hidupnya sudah terjamin sebagai Pegawai Negeri, tetap saja gaya hidupnya sangat sederhana. Beliau ini sangat rajin, bahkan tak bisa diam  meski hanya sejenak. Ketika kami, anak-anaknya masih terlelap, beliau sudah melakukan aktivitas paginya. Atau ketika kami yang tidur siang, beliau sudah jalan-jalan di kandang ayam, menyapu halaman dan  apa pun yang bisa dikerjakannya seusai dari kantor.
Cerita itu sudah lama sekali, namun tetap tersimpan rapi di memori otakku. Sampai suatu ketika, aku menyapu rumah dan menemukan sebuah “celengan” dari bamboo. Tampaknya buatan ayahku sendiri, bertuliskan “Mak, aku ingin pulang.” Melihat itu, aku tak kuasa untuk menahan bulir-bulir bening air mataku. Ya, aku pernah merasakan yang namanya kangen dengan ibu, dan mungkin itu pula yang dirasakannya waktu itu. Tidak sepertiku yang bisa pulang kapan saja dengan nyaman, tinggal menelepon agen travel, menentukan jam, lalu aku sudah berada di depan rumah. Tapi ayahku, untuk pulang ke Bojonegoro harus menempuh waktu yang lama, sekitar 8 jam, itu pun harus berganti bus sebanyak 3 kali. Maka aku pun maklum, jika untuk pulang pun harus memiliki bekal yang cukup, termasuk bekal financial.
Ayahku, tipe orang yang sangat rela berkorban. Entah apa yang dialami adek-adekku, tapi yang kualami sudah lebih dari cukup untuk meminta pembuktian dari cintanya. Kau tahu kawan, aku sangat mencintai Pramuka. Ketika aku SMA, ada suatu event yang disebut sebagai pelantikan bantara. Proses untuk mendapatkan tanda bantara itu, harus melalui serangkaian ujian, mulai dari ujian SKU, ujian fisik dan ujian mental. Singkat kata singkat cerita, di perkemahan itu juga diselenggarakan pelantikan bantara, di mana emblem bantara itu akan disematkan oleh orang tua masing-masing. Pukul 20.00 malam acara dilangsungkan, aku melihat teman-teman seperjuanganku yang berdomisili di kota sudah menemukan orang tuanya.  Namun ada pula, teman-termanku  yang tidak  didampingi orang tuanya, karena kebanyakan mereka adalah anak kos . Begitu juga aku, yang juga anak kos. Anak pinggiran yang bersekolah  di kota. Sebenarnya aku tak berharap banyak bahwa ayahku akan datang, karena jarak rumah kami dengan lokasi perkemahan waktu itu juga lumayan jauh, sekitar 30 menit, apalagi kondisi udara malam yang tak bagus untuk kesehatan itu. Maka, aku cukup berbesar hati dengan keadaan teman-temanku yang juga tak didampingi orang tuanya. Hehe…
Prosesi demi prosesi dilanjutkan, sampai ketika pembawa acara menyatakan bahwa akan ada penyematan  emblem  bantara yang dilakukan oleh orang tua masing-masing peserta pelantikan. Ayahku datang, mencari-cari aku di antara barisan para Pramuka. Aku melihatnya dan memanggil namanya. Emblem sudah di tangan, dan disematkan kepadaku bersama-sama dengan teman-teman yang lain diiringi lagu “Syukur”. “Selamat ya Nduk” katanya waktu itu, tersenyum lalu kembali ke bangku para undangan. Singkat saja, dan kurasa adegannya sama persis di sekuel Sang Pemimpi, ketika ayah Ikal datang di pengambilan raportnya setelah menempuh jarak yang jauh dengan bersepeda. Ketika datang dan menerima raport Ikal, ayahnya hanya menemuinya, tersenyum, menepuk pundak, lalu berucap salam, lantas pulang dengan kembali mengayuh sepeda. Setelah itu aku mengalami guncangan yang luar biasa. Teman-temanku sudah lebih dulu menangis, dan aku pun terbawa suasana. (waktu itu aku belum tahu kalau aku seorang melankolis sempurna).
Oh, ayahku. Bukan Cuma itu. Awal aku bisa mengendarai motor dan harus kubawa ke tempat sekolahku yang harus melewati jalanan yang menukik lagi curam, lagi-lagi beliaulah yang mengantarkanku. Lalu pulang ke rumah dengan menggunakan mobil andongan. Atau saat ini ketika aku dituntut memiliki mobilitas yang tinggi di kota pelajar ini, maka si Silvi juga diantarkannya, dan seperti waktu itu, beliau pulang menggunakan travel.
Ah entahlah, anak macam apa aku ini, yang sampai detik ini belum bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Sebuah toga wisuda dan ijazah kelulusan yang dapat mengukir secercah senyum untuknya. Hmmm,,,, semoga ya Yah,,, semua akan indah tepat pada waktunya. Atau alibiku saja??? Tapi, memang beliau tak pernah menuntutku untuk bersegera, justru beliau memberikan kebebasan untukku, untuk menikmati setiap jejak langkah ketika bergelar mahasiswa, tidak seperti ibuku yang telah memberikan MoU untuk lulus cepat waktu.
Laki-laki sederhana itu, di usianya yang semakin senja menjadi semakin bijaksana karena ilmu dan pengetahuan agama yang ada padanya. Dan untuk kesekian kali, lagi-lagi itu membuatku jatuh cinta.

Rumah Cahaya, 2 Januari 2013

Selasa, 11 Desember 2012

Pelangi

Terimakasih sudah menjadi pelangi yang mampir di beranda hatiku.

#eaa... :D
ada pelangi setelah hujan, meski malam ini tak nampak

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...