Rabu, 30 April 2014

Terimakasih Mas


Terimakasih Mas,
karena telah membuatku merasa menjadi adik.
meski aku tahu, kau tahu, kita semua sama-sama tahu bahwa antara kita sama sekali tak ada hubungan darah.
Lalu kenapa kau peduli padaku?
tak lain karena hubungan persaudaraan lain, yang disebut dengan ikatan aqidah.

" Mif, kamu itu lulusan terbaik. Sayang kalau gak lanjut. Coba kalau kamu bukan lulusan terbaik, pasti aku tak akan menasehatimu macam ini."
"Iya, Mas."

Aku terpekur diam.
Lebih dari itu kalau kau tahu Mas, sebenarnya itu semua adalah citaku. hanya saja rasanya waktu yang sepertinya belum tepat untuk itu.
Tahukah kau Mas, aku sedang menunggu.
Menunggu untuk kembali berlari. Tentunya aku akan lebih bersyukur jika ada yang ingin berlari bersamaku mengejar mimpi-mimpi.
Aku terharu.




Rabu, 26 Maret 2014

DMKS KOBARKAN SEMANGAT INDONESIA DI KAMPANYE PKS JOGJA

Ribuan massa PKS yang berasal dari  kalangan kader dan simpatisan tumpah ruah memenuhi  stadion Maguwoharjo (Selasa, 25/03). Masih mengusung tema “putih”, massa PKS benar-benar memutihkan stadion Maguwoharjo. Uniknya di antara massa PKS yang menggunakan atribut putih-putih, hadir pula massa dari DMKS mengenakan warna baju hitam-kuning yang kontras dengan tema hari itu. Divisi Mahasiswa Keadilan Sejahtera yang terdiri dari para pemuda tersebut turut memiliki andil  dalam mengobarkan semangat Indonesia di Kampanye Partai Keadilan Sejahtera Jogja.
Massa DMKS berkumpul di satu titik dan mengadakan upacara pembukaan sebelum berangkat menuju stadion. Dalam upacara pembukaan tersebut diawali dengan pembacaan Al Qur’an dan doa yang membuat sebagian peserta putri meneteskan air mata haru. Selanjutnya massa DMKS melakukan gladi resik gerakan flashmob “Kobarkan Semangat Indonesia” dipimpin oleh korlap putra. Suasana haru yang sempat tercipta berubah menjadi hangat kembali dengan aliran semangat dari theme song kampanye PKS tersebut.
Ayo bersama
kobarkan semangat Indonesia
PKS Nomor 3
PKS tetap di hati”
Menuju stadion, massa DMKS melakukan aksi damai  dan tertib sepanjang jalan. Mereka menyapa warga sekitar dan mengajak warga Jogja untuk memilih PKS pada tanggal 9 April. “Milih Nomer 3 ya Pak…” seru kader DMKS sambil tersenyum. Respon yang diberikan masyarakat pun beragam, mulai dari senyum ramah, mengacungkan salam tiga jari khas PKS, juga penolakan secara halus. “Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani” kata Taat, salah seorang koordinator lapangan DMKS.

Sesampainya di stadion Maguwoharjo, massa DMKS yang sempat berpapasan dengan massa kampanye PDI-P tersebut mengikuti prosesi kampanye yang dimulai dengan shalat Ashar berjamaah dan doa bersama. Disusul pembukaan acara kampanye, pemuda DMKS yang berbaju hitam-kuning mengibarkan bendera-bendera besar PKS dan mengitari massa yang lain. Beberapa pemuda DMKS di bawah komando Ngadino  dkk naik ke atas panggung untuk memberikan contoh gerakan theme song “Kobarkan Semangat Indonesia” kepada seluruh massa kampanye. Semangat pemuda DMKS pun mengobarkan semangat seluruh peserta kampanye di sore hari yang cerah dan teduh itu. Semangat turut menjalari para petinggi partai, sehingga Dr. Sukamta dan  Ustadz Cahyadi Takariawan turut melakukan gerakan flashmob. “Hanya PKS yang bisa menghadirkan massa sebanyak ini tanpa bayaran” tutur Taat lagi. Optimisme pemuda DMKS adalah cerminan dari kata-kata Anis Matta, “Anak-anak muda selamanya adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, maka sejarah segera menciptakan peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi.” (Mifta)
Photo by: Hamdan/ Aziz

Jingga Senja

“Bagaimana paras ibumu? Apakah ada jejak parasnya di dalam wajahmu?” Selalu aku bertanya-tanya.
Selalu pula kau punya jawaban yang sama.
“Kalau aku Harry Potter aku akan bilang, aku mirip ayahku, hanya saja aku memiliki mata ibuku.”
Aku tergelak, tak tahu orang sepertimu bisa juga mengutip kata-kata dalam film. Tak tahu pula bahwa orang sesibuk dirimu, masih punya waktu untuk menonton film.
“Lalu, sejak kapan kamu menyukai sastra? Tiba-tiba suka berkata dengan kata-kata indah berdiksi.”
“Sejak aku mengenal seseorang. Dan menyimpan namanya dalam waktu yang cukup lama.”
Aku terdiam.
“Apakah aku?” ingin aku bertanya begitu. Tapi, lagi-lagi hanya dalam hati. Justru yang keluar adalah kata-kata macam ini,
“Kenapa kamu hanya menyimpan namanya? Tidak kamu katakan saja yang sebenarnya?”
“Karena aku menyukai cinta yang diam-diam. Diam-diam hadir, diam-diam bertumbuh. Diam-diam mendoakan. Kudengar, doa yang diam-diam itu jauh lebih bisa terkabul, sebagaimana Tuhan mencintai ia yang melakukan kebaikan secara diam-diam. Seperti ungkapan, ketika tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan kiri mengetahui. Ya, seperti itulah.”
Kalimatmu itu terdengar seperti sebuah sindiran di telingaku. Karena sebenarnya aku pun begitu, padamu.
“Hmm… maukah kamu menjadi laut?” aku bertanya.
Kamu terdiam, melihatku sekilas lalu tersenyum.
“Agar  aku bisa menjadi muara atas cintamu?” sejenak kemudian kamu tergelak.
“Kenapa kamu menjadi orang yang over confidence?”
“Agar orang yang di sampingku memiliki keberanian untuk menyetarakan kadar kepercayaan dirinya hingga ke tingkat sepertiku.”
“Apa kamu tahu?”
“Ya?”
“Tiap detiknya aku telah menjadi seorang pemberani yang membunuh tiap jengkal tunas perasaanku padamu. Agar aku tidak menyentuhmu. Agar aku tidak menangis di hadapanmu. Agar aku bisa tetap menjadi sahabat seperti biasanya untukmu.” Dalam hatiku berkata seperti itu.
“Ah, lupakan. Karena aku juga sudah lupa apa yang hendak kubicarakan.”


sumber gambar: akuperempuanlangit.blogspot.com

Rabu, 19 Maret 2014

Saat Golput Terlintas di Pikiran

Sedikit share dari sebuah buku menarik yang sedang saya baca. Judulnya adalah Berani Mengubah-karya Pandji Pragiwaksono. Hai, angkat tanganmu untuk Indonesia! Artis yang tertarik pada politik dan cinta pada Indonesia ini menulis bukunya dengan apik dan tentu saja membuka pikiran para pembacanya. Bahkan saya pun, berkali-kali dibuat #nyadar oleh sang penulis. “Oh iya.. ya…”
Bab pertama, dimulai dari sebuah sub judul “Belajar Politik.” Sub bab inilah yang menginspirasi saya untuk sedikit berbagi kepada para pembaca yang budiman (hehe… aamiin… ^^). Jadi ceritanya begini, Saudara:
Pasti ada beberapa orang di antara kita yang terkadang anti berbicara politik dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan tidak tertarik sampai alasan yang terlihat lebih ideologis-seperti politik itu kotor. Kata-kata yang seperti ini mungkin seringkali kita dengar, tapi benarkah politik itu kotor? Bukan para pelaku politiknya? Hal ini juga yang sering melanda masyarakat kita, sering men-judge secara general meski kesalahan dilakukan oleh personal. Ibarat pepatah itu, “karena nila setitik rusak susu sebelanga.”
Padahal, politik itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Pandji memberi contoh, bila pemerintah memutuskan untuk menarik pajak dari BBM, maka yang akan terjadi adalah kita akan menemui banyak orang yang menggunakan kendaraan umum. Atau contoh lain, apabila pemerintah memutuskan untuk mensensor internet, maka yang terjadi adalah berkurangnya kebebasan berpendapat dan akses informasi yang beredar dalam masyarakat. Dari dua contoh itu, setidaknya kita #nyadar kalau memang politik itu penting. Saking pentingnya, jika kita biarkan politik dimainkan oleh orang-orang yang salah, maka kita akan menjadi korban. Proses dan produk yang dijalankan oleh orang-orang yang salah itu, akan menguntungkan pihak mereka tapi membuat rugi kita semua. Mau? Itu point pertama yang harus kita ingat, ketika golput terlintas di pikiran.
Teori klasik Aristoteles mengatakan bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk kebaikan bersama. Catet! Warga negara dan kebaikan bersama. Namun, di Indonesia sendiri pengertian politik lebih kepada segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan  dan negara. Nah, pengertian baru ini membuat mindset berubah, dari teori yang menitikberatkan pada peran aktif warga negara yang digantikan dengan kewajiban pemerintah saja. Jadi, jika ingin mewujudkan kebaikan bersama bagi negara, mari kembalikan lagi definisi awal politik, yaitu usaha bersama warga negara untuk mencapai kebaikan. Bagaimana caranya? Dengan partisipasi aktif, salah satunya adalah dengan tidak golput. Point kedua yang kita punya.
Jika golput terlintas di pikiran: Masih dari Pandji, ada sebuah tebak-tebakan zaman kita kecil, “Jika kamu seorang laki-laki yang  hidup di sebuah pulau terpencil di mana hanya ada dua orang perempuan tidak sempurna yang sama-sama tidak kamu sukai dan seorang laki-laki tampan, mana yang akan kamu pilih sebagai pendamping?” masalah yang dilematis memang, memutuskan golput dalam masalah itu adalah perkara gampang. Atau kita mulai memberi opsi lain dengan berandai-andai, “Ah,,, andai ada ada satu lagi wanita yang sempurna dan aku menyukainya…”. Tapi nyatanya (dalam tebak-tebakan itu) tidak ada opsi lain. Maka, mau tidak mau kita harus memilih bukan? Akhirnya kamu (laki-laki) akan memilih salah satu dari perempuan itu, meskipun tidak sempurna. Begitu juga dengan logika demokrasi saat ini. Kita bisa saja golput, tapi kita harus tetap memilih. Dalam hidup, kita memang selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang terkadang sangat sulit untuk kita putuskan. Tapi bagaimanapun, kita memilih dan harus mempertanggungjawabkan konsekuensi atas pilihan itu.
Maka, jangan lagi terlintas golput. Karena jika pemimpin yang nantinya terpilih saat kamu golput melakukan kebijakan yang salah, kamu tidak bisa melakukan demo padanya, karena kamu tak pernah memilihnya. Pun ketika si pemimpin punya prestasi luar biasa, kamu tak bisa membanggakannya karena kamu tidak pernah memilihnya. Ketika golput terlintas di pikiran, cermati lagi supaya kita sama-sama #nyadar, bahwa tidak ada untungya melakukan golput.
Setelah #nyadar untuk tidak golput, segera pahami apa dan siapa yang akan kamu pilih. Pahami visi misinya, latar belakangnya, indeks korupsinya, track recordnya, dan sebagainya. Jangan sampai silau karena pencitraan politik sesaatnya, padahal yang akan dipilih kurang kompeten. Karena itu, pilih yang selalu dekat dengan masyarakat sejak dari awal, yang selalu berjuang untuk kepentingan publik meski jarang diekspose media, cinta Indonesia dan tentu saja memiliki kompetensi yang bagus di bidangnya.

Menjelang fajar ini, saya berdoa semoga angka golput di Indonesia semakin berkurang. Butuh rujukan partai apa yang bisa dipilih? Boleh banget kontak saya. Hehehe… :D Saat golput terlintas di pikiran, segera istighfar, dan kemudian #nyadar apa yang harus dilakukan.


Rabu, 05 Maret 2014

Tentang Mimpi dan Menuliskannya


Pernahkah mendengar kalimat ini? "Tuliskan mimpimu, jangan hanya diingat, karena suatu saat kau bisa melupakannya."
Saya, adalah salah satu orang yang sangat percaya dengan hal tersebut. Terlebih, menuliskan mimpi agaknya memang memiliki efek signifikan dalam pencapaian mimpi dan realisasinya. Saya memang belum bisa menyebutkan, siapa saja orang-orang di dunia ini yang telah berhasil mewujudkan mimpi yang dulunya ditulis dengan tulisan tangan di secarik kertas. Tapi, sebut saja seseorang yang sampai sekarang (masih) fenomenal, Mas Danang AP. Sebut saja Sang Pembuat Jejak. Anak pesisir yang merantau untuk menimba ilmu di sebuah kampus bernama IPB, mengenal tarbiyah di kampus, lalu mendengar satu nasehat bijak yang mengubah hidupnya. Ya, kata-kata di atas! tentang menuliskan mimpi yang dia punya, meski awalnya mimpi-mimpi yang rasanya mustahil itu memang ditertawakan, bahkan dilecehkan! Tapi, mimpi yang ditulis itu selalu mempunyai kekuatan, hingga pada akhirnya satu demi satu telah tercoret karena berhasil diwujudkan.

Jamil Azzaini, pernah berkata dalam sebuah bukunya, "Tuhan, Inilah Proposal Hidupku." Saya cuplikkan intisari dari perkataan beliau, "Mengapa untuk kegiatan dunia saja kita mati-matian membuat proposal sedemikian rupa, tapi untuk kehidupan kita sendiri di dunia dan akhirat tidak pernah kita perhatikan proposal terhadap Tuhan."

Maka, terhadap dua panutan itu,saya pun yang sejatinya seorang pemimpi (yang memulai mimpinya dengan tidur) juga mencoba untuk menuliskan mimpi-mimpi yang ada dalam sebuah buku khusus. Target ke 100 mimpi saya berbunyi, "Menjadi lulusan terbaik di fakultas dan universitas." Tertanggal, 4 Syawal 1433 H, atau sekitar tahun 2012. Saya menulisnya, sembari menunggu kedatangan seorang sahabat. Terlintas begitu saja, "Bisa gak ya?" Saya hanya berpikir dan tangan saya sudah menuliskannya di halaman itu. Bernomor 100, dan saya nyatakan khatam untuk sementara. Masih ada mimpi-mimpi lain yang menjadi bintang yang menggantung di langit rindu. Hanya saja, lembar bergaris itu belum mampu untuk menampungnya. 

Saya lantas menjalani kehidupan yang biasa. Untuk meraih mimpi, kita tidak boleh selamanya tertidur. Ada saatnya harus bergerak dan berupaya sekuat tenaga untuk meraihnya. Perlu proses yang melelahkan, perjuangan yang berdarah-darah, serta luka-luka yang berujung tangisan. Belum lagi keresahan-ketakutan yang terpendam. Di balik senyuman, ada sesuatu di belakangnya. Stres, insomnia, maag menggejala. Berhari-hari tidak tidur. Atau malah tertidur di siang harinya. Tulisan di blog dan status facebook semakin banyak, hanya sebagai alternaltif lain ketika sudah buntu menyusun kata-kata. Menulis skripsi, memang tidak semudah menyusun prosa. Tapi masing-masing, bisa didramatisasi dengan cara yang berbeda. Ah,,, nggaya... :D

Putus asa? Hampir! Ketika berkejaran dengan waktu dan dosen yang susah ditemui, membuat saya berhari-hari berdiam diri. Tanya saja adik saya (@Rizkismile1), waktu itu saya uring-uringan, diam, lalu suka tidur lebih awal. Tapi ketika saya menyadari, bahwa suatu saat hal-hal seperti itu harus "dilepaskan", maka saya mencoba mengikhlaskan. Mengingat lagi cerita tentang Bunda Hajar yang berlari-lari sampai kepayahan dan keajaiban justru datang karena hentakan kaki Ismail kecil. Pasti ada jalan! Saya berpikir. Ditambah lagi, saat itu saya mencoba membaca biografi  seorang tokoh antimainstream yang dinovelkan bernama Oda Nobunaga, saya memulai jalur diplomasi darat dengan Ketua Jurusan, yang juga pembimbing saya. Alhasil, keluarlah putusan yang sama sekali tidak saya perhitungkan, saya selamat dari ultimatum ujian ulang! Begitulah, cara Allah mendengarkan dan mengabulkan tiap pinta hamba yang selalu dikasihi-Nya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Sampai di mana kadar kita? Saat telah kita kerahkan semuanya dan tidak ada yang tersisa, saat itulah pertolongan menyapa. 

Maka, pekan itu. Pekan terakhir bulan Februari, yang juga bulan kelahiran sahabat saya yang berjanji akan datang di bulan Maret ini, tapi karena ada tugas negara, ia tak jadi datang, saya dihubungi oleh pihak fakultas dan universitas. Setelah sebelumnya didaulat untuk menjadi pembaca ikrar alumni di prosesi Yudisium Fakultas, saya diminta untuk menjadi wakil wisudawan pada acara pelepasan Fakultas tanggal 28 Februari malam. Begitu juga dengan Humas Universitas, meminta untuk datang pada pekan terakhir menjelang wisuda, "Wawancara mbak, besok dimasukkan Koran dan dibagikan kepada semua orang tua wisudawan. Biar orang tuamu dan Camermu bangga." *Beliau nyebut-nyebut camer yang sampai sekarang saya juga belum tahu siapa, dan saya hanya tersenyum. Disusul permintaan menjadi perwakilan wisudawan untuk memberikan sambutan di tingkat universitas. Saya benar-benar tidak menyangka, bahwa mimpi yang hanya tertulis di secarik kertas itu telah mewujud nyata! Dan saya salah satu buktinya. Meski, saya sangat yakin, campur tangan Allah lah yang membuat semua ini dapat terjadi. Momentum pula yang menjadikan semua terasa indah pada waktu yang tepat. 

Seperti itulah saya memaknai sebuah penantian. Sebuah perjuangan. Sebuah fase kehidupan.

"Sekarang, saya memang sudah bukan mahasiswa. Tapi saya tetaplah seorang pembelajar, hingga akhir usia."

"Tulislah mimpimu, karena mimpi yang kau tulis akan lebih dekat untuk kau genggam."







Special thanks to:

Allah SWT
Bapak dan Ibu yang telah bersabar lebih lama
Rizki atas dukungannya
Tarbiyah yang telah menginspirasi kehidupan sebutir debu ini
Sahabat-sahabat yang menginspirasi dan menjadi bagian dari diri ini.

Pada Sebuah Momentum

Agar kau tahu,

bahwa pahitnya penantian, berdarah-darahnya perjuangan dan luka hati yang berujung tangisan akan semakin membuat manis buah kesabaran yang engkau rasakan.

Kelak, 
pada sebuah hari yang telah ditentukan.

Jangan menyerah pada dirimu, terlebih pada waktu!

Menanti

Aku menanti bahkan saat aku tahu kau tak sedang berjanji. Aku menunggu bahkan saat aku tahu kau tak sedang mengobral rindu. Ah, biarlah perasaan yang enggan kunamai ini terbina, bila kelak penantianku ini berujung senja. Atau bisa jadi, ia akan binasa seiring ujian waktu yang mendera. Jika memang bukanlah kamu pelabuhanku, aku tak akan menyesal telah menunggu. Selama itu.

Hanya saja, namamu tetap saja terucap. Dalam tiap doa senyap dan sujud yang kadang tak terlihat. Semoga, kamu adalah aliran sungai yang kelak pada lautku akan bermuara.

Senin, 10 Februari 2014

Februari

Kini Februari lagi.
Tepat setahun peristiwa itu harusnya merayakan Dirgahayu.
Aku, sangat ketakutan,,, ketika suatu hari merasa diculik oleh diriku sendiri, lalu menyembunyikan diriku yang sebenarnya, takhluk pada perintah mereka yang tak kukenal siapa.

Setahun ini, aku lebih melankolis dari biasanya.
menjalani hari-hari yang dingin sepanjang 2013, lebih dari tahun-tahun sebelumnya.  Aku tak seharusnya di sini! dan aku merengek sepanjang tahun. Menangis lebih intensif, menggerutu dan kadang menyalahkan diri sendiri dengan akut.

Setahun ini aku seperti setengah manusia, setengah zombie. Tak berkarya dengan hati. Akankah tiba masanya aku berkarya dan menumbuhkan diri?
Nyatanya tiba-tiba pertumbuhan terhenti, kreativitas mati, dan banyak masalah hati.
Kini Februari lagi, dan tak ingin seperti sebelumnya kembali.

Rabu, 29 Januari 2014

Diplomasi Hujan #2

Jogja mengenal baik aroma hujan
yang datang rintik-rintik dan tanpa jeda
di luar jendela kaca
air menggenang, membasahi kaos kaki dan sepatu sesiapa yang berjalan

Jogja mengenal baik bau hujan
Derasnya memberhentikan semua orang
manusia berhelm, topi, jilbab warna-warni
pun yang rambutnya tergerai
berpadu dalam terminal sementara
berteduh pada sebuah masjid
setelah mengaduh kedinginan

Jogja mengenal baik sensasi hujan
romantis, bagi yang melankolis
membuang waktu terlalu lama, bagi yang menunggu
gembira, jika hujan siswa bersorak-sorai tak ada guru yang masuk kelasnya
berduka, para penjual es yang harus segera membereskan dagangannya,
atau berganti profesinya.

Diplomasi Hujan

Jika kau berbicara pada perempuan, perhatikan tentang rasa.
Jika kau berbicara pada laki-laki, pehatikan logika.
Tentu dengan kadar dan waktu yang tepat.

Rasa bertemu rasa akan dengan cepat bereaksi. Ia bernama isyarat ketulusan.
Logika bersua logika akan dengan cepat saling menangkap kode. Ia bernama lobi.

Bisa jadi, rasa akan bertemu dengan logika.
Dan logika harus mengerti rasa.
Mereka akan saling berpaut pada kadar dan waktu yang semestinya.

Jika tidak, maka selamanya logika dan rasa tidak akan pernah berjumpa.

#yang berasal dari hati akan sampai juga ke hati.




Ruang Diplomasi Hujan,

29 Januari 2014

Sabtu, 25 Januari 2014

Menjadi Manusia Normal

Menjadi manusia normal. Mungkin judulnya agak sedikit mengherankan. Apa? Manusia Normal? Jadi selama ini tidak normal, begituuuhh?

Jangan salah paham.

Saya normal, sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan, pun sebagai seorang mahasiswa. Saya makan, saya tidur, saya bermimpi, saya mandi, saya menulis, mengerjakan skripsi, dimarahi dosen, berteman, menjalin relasi, sedih, menangis, galau dan sebagainya. Semoga hal-hal yang saya sebutkan adalah hal-hal yang dianggap normal oleh orang kebanyakan. Manusiawi.

Jadi, apa yang menyebabkan saya mengambil judul di atas?

Sore ini, saya benar-benar merasa menjadi normal karena bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Dalam pertemuan itu, kami saling berbagi kabar, saling mengejek, saling tertawa, saling melempar  dan menyembunyikan sandal. Suatu hal yang sangat jarang saya lakukan satu tahun ini.
Bagaimana tidak? saya telah berpisah dengan teman-teman itu sejak mereka lulus satu per satu, meninggalkan saya sendirian dengan aktivitas saya yang terkadang "autis".

Memang begitulah. Menjadi bahagia itu adalah sangat sederhana. Salah satunya adalah menjadi manusia yang normal. Yang tertawa tanpa harus malu-malu. Yang tidak mencoba menyembunyikan diri dan menggunakan topeng bernama "jaga image" (meskipun hal-hal yang seperti itu terkadang juga perlu). Yang dapat berbagi kebahagiaan meskipun terkadang berupa ejekan-ejekan.

Yang jelas, tidak melebihi batas dan  tidak berlebihan.

Maka, menjadi manusia normal terkadang memang perlu. Melakukannya adalah sebagai hadiah hiburan untuk setiap kejemuan yang menjamu di tiap harinya. Mungkin ia akan menjadi suatu obat tersendiri bagi jiwa-jiwa yang merasa jenuh dengan segala padatnya aktivitas harian.

Selamat menjadi manusia normal!

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...