Selasa, 22 Oktober 2013

Bagaimanapun candu itu bernama....

Bagaimanapun, menulis itu candu. Suatu kelakuan aneh yang tiba-tiba mengintervensi sistem imunku. Bagaimana bisa? Ketika diam dan melamunkan dalam hati adalah yang indah lagi mudah untuk dilakukan. Tidak perlu repot-repot mengetik pada keyboard sebuah komputer tua, meletakkan 10 jarimu di sana, dan menempatkan tiap-tiap personil jari pada tuts-tuts tertentu, lalu membuatnya bersinergi dan bergerak bersama. Tidak perlu menyusun kata-kata yang terkadang muncul dan kadang hilang tenggelam, karam oleh lautan pikiran. Semacam syndrome kau ingin mengutarakan perasaanmu pada seseorang, tetapi tercekat di ujung tenggorokan, atau lidah menjadi seolah-olah kelu tanpa sebab yang tentu.

Bagaimanapun, menulis itu candu. Seperti menulis sebuah masterpiece tiap mahasiswa tingkat akhir. Sebuah kata saja, yang terkadang bisa menjadi momok yang paling menyiksa. Tak enak makan, kurang tidur, selalu kepikiran, terbawa dalam mimpi,  persis seperti gejala seseorang yang dikatakan jatuh cinta. Satu kata yang pada awalnya membuat gelisah, hanya untuk menentukan serangkaian kalimat yang kemudian disebut judul. Kau mungkin sama denganku, harus mencari jawabannya lewat sujud beberapa malam, meminta kemantapan. Lalu di tengah-tengah kau menjadi lupa. Menjelang waktu akhir, kau baru sadar, bahwa masa tenggang-mu hampir berakhir. Lalu menyesal di ujung harapan. Layu sebelum berkembang.
Kasus lain, ada yang tiba-tiba terbakar, menjadi seorang pemberani yang mencoba menantang berkelahi waktu. Perkara apa pun yang terjadi, bukankah Tuhan kita Maha Penentu? Si pemberani mendobrak ruang-ruang ketidakberdayaan yang berkecamuk seperti suara nyamuk, semacam "gemes" pada keterbatasan. Ah, keterbatasan mungkin saja hanya alasan. Bukankah manusia dicipta untuk menjadi pengelola?

Bagaimanapun, menulis adalah candu. Ketika pikiran mengalirkan sungai-sungai kata yang beranak- pinak menjadi kalimat-kalimat ajaib. Sungguh, menulisnya tak seperti bercerita di dalam novel. Di mana penulisnya bisa membuat alur cerita semaunya. Menjadi seorang putri yang di akhir cerita menikah dan hidup bahagia dengan Pangeran berkuda. Dongeng "sesat" setiap anak perempuan di negeri kita, lalu membuat pola pikirnya benar-benar seperti seorang putri, yang tak perlu melakukan apa-apa, tiba-tiba hidup bahagia. Sungguh, menulisnya sangat emosional, meski tak seperti menuangkan emosi pada curhatan di dalam diary. Emosional karena seringkali kau telah bekerja keras tapi masih banyak celah di sana sini. Belum lagi kau harus menghadapi rasa kesendirian yang jahat, karena tanpa kau sadari teman-temanmu satu -persatu telah mulai pergi. Kau masih di sini. Menatap layar komputer setiap saat, di antara berbagai tekanan karena sebuah pertanyaan klasik yang dapat berupa banyak bentuk dengan arti yang sama,
"Sudah sampai mana skripsinya?"
"Kapan ujian?"
"Jadi, target wisudanya kapan?"

Bagaimanapun, menulis adalah candu. Begitukah juga dengan menulis skripsimu? Jatuh cintakah kau padanya?








*Kipas angin 24 jam, pukul 2 kurang 10 menit dalam kotak pandora 3x3, insomia, afghan dan secangkir kopi.  Semoga menjadi saat-saat yang dirindukan. Karena tiap fase adalah pembelajaran.

Hey,,, sudahkah ada buku berjudul "Jalan Skripsi Para Aktivis?"
Kalau belum, bukankah baik mengkonversikan energi  kegalauan-kegalauan kita menjadi inspirasi tersendiri bagi orang-orang yang berkenan membacanya? :D


Sabtu, 19 Oktober 2013

Ingatan

Adalah kenangan. Suatu rasa yang tiba-tiba menyeruak dari dalam ingatan, berteriak-teriak untuk kembali dilihat. Sekalipun ia adalah masa lalu, ia tetap bisa menjadi alasan untuk tersenyum tiba-tiba, menitikkan air mata tiba-tiba, jengkel dan marah tiba-tiba, serta beragam perasaan lainnya.

Adalah mata. Organ penting untuk mengolah setiap informasi visual yang bisa kita tangkap dengan nyata. Mata dikendalikan oleh otak, organ lain yang menjadi sentral kehidupan setiap makhluk yang bernyawa, dan pada manusia memiliki fungsi unik yang tak didapati pada makhluk hidup yang lain. Berpikir dan merasa. Berpikir tentang kenangan yang pernah ditangkap oleh mata dan disimpan oleh otak dengan berbagai warna rasa. Mungkin bisa berupa laci-laci berupa dokumen berdebu, yang ketika kita mencoba untuk membukanya kembali, harus kita bersihkan dengan lap atau tissue.

Bagaimanapun, kenangan dapat berupa banyak hal. Hal pahit yang tak ingin diungkit atau sesuatu yang indah dan selalu ingin dipandang tanpa rasa gundah. Kebanyakan dari kita, ketika berbicara tentang kenangan adalah hal-hal yang menyenangkan. Fenomena-fenomena romantis, yang sebenarnya biasa  saja, tapi karena cara pandang kita yang tak biasa dalam memaknainya, bisa menjadi hal yang manis. Biasanya tentang cinta, senja, rinai gerimis, lazuardi dan muaranya adalah rindu.

Bagian terdalam dari sebuah kenangan, bisa jadi adalah sebuah persahabatan dan persaudaraan. Menjadi "ranting" bagi sebuah pohon organisasi yang di dalamnya juga terdapat mutiara. Analogi yang menurutku sulit untuk dicapai. Tapi apa boleh buat, kita tetap menyukainya. Atau saat-saat seseorang merasa menjadi seorang Bunda bagi anak-anak dewasa yang tak pernah dilahirkannya, dan ia menikmati panggilan itu. Filosofi yang bahkan tak disepakati, yang akhirnya membawa banyak tingkah, tawa, gelisah dan juga air mata.

Adalah doa. Yang merangkum tiap kenangan yang mungkin tak terkatakan. Dokumen yang masih rapi tersimpan di dasar hati dan dinikmati sendiri. Doa adalah tempat kita semua berjumpa meski tak berpijak pada ruang dan tanah yang sama. Doa adalah hal yang menghubungkan kita tanpa bertatap muka, semoga kalian baik-baik di sana. Meski dimensi kita tak lagi sama. Dan kini kita tetap bisa saling menyapa, mesti terkadang tak saling memahami.

"Kita sedang bersama, meski di jalur yang berbeda."


Jumat, 11 Oktober 2013


gambar yang dikirim oleh seorang sahabat. Harusnya kemarin aku sudah membukanya, tapi karena hari ini justru aku melihatnya di saat yang tepat. Saat malam-malam gerimis yang menjadi saksi dua anak sungai mengalir dengan derasnya. bersit kerisauan seorang makhluk bernama anak manusia pada dunia. Dunia yang seharusnya ia letakkan di dalam genggaman, bukan di hatinya.
Terimakasih sob,,, ia (Conan Edogawa, yang entah karya siapa) ini membuatku sedikit bisa membuat kurva lengkung yang bisa meluruskan segala sesuatu. Senyum. :)

#MALAM

saat berteman malam, beberapa orang akan merasakan benar apa itu bahasa kesunyian. Yang terkadang dipahami sebagai saat yang tepat untuk merenung, bercerita dan mengadu kepada Tuhan tentang kepenatan-kepenatan yang tak kunjung padam. Lalu manusia hanyut, dalam doa yang mengalir bersama air mata yang menetes diam-diam. Ah, mungkin air mata hanya bisa menunjukkannya pada malam, di mana ia merasa aman untuk berekspresi sebebas mungkin. Terlebih, malam mengizinkan untuk bercengkrama dengan Tuhan lebih dalam. Berbicara dalam suara tersendat-sendat dan dalam gumam yang terkadang padat.

saat berteman malam, beberapa orang menyadari akan hakikat terangnya siang. Malam yang semakin pekat, adalah sebuah isyarat bahwasanya fajar akan segera tiba. Menampakkan matahari yang masih berhias di balik peraduan, lalu bersinar meninggi menerangi semesta kita. Bukankah gelapnya malam membuat kita bersyukur dalam memaknai cahaya?

saat berteman malam, adalah saat-saat terbaik manusia melakukan introspeksi, evaluasi atas dirinya sendiri. ah, bahkan terkadang manusia mengalami kondisi gagal paham terhadap dirinya sendiri. itulah sebabnya, ketika manusia gagal pada pemahaman akan dirinya, ia menjadi terhambat dalam menemukan jati dirinya. Entah itu mengenai pation, gairah hidup serta semangat yang harusnya menyala menyertai kesuksesan-kesuksesan di masa muda. Bukankah seharusnya kita muda dan mendunia dengan karya-karya kita? Maka malam mengajarkan, bagaimana kita harus melihat lagi ke dalam diri, koreksi. Apa yang sudah kita lakukan dan apa yang belum? yang sudah akan menyejarah dan yang belum harus dikejar dan diupayakan. Maka kita tak boleh berhenti pada satu titik stagnan yang tidak merubah posisi kita dalam diagram kehidupan.

saat berteman malam, ah,,, beberapa orang dapat menjadi lebih puitis dari biasanya. otaknya dengan mudah lebih bisa bekerja.

saat berteman malam.... beruntungnya kita bisa mengendapkan kelelahan-kelelahan hari ini dalam sebuah istirahat sementara untuk mengembalikan energi kita di esok hari.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya yang telah menjadikan malam untuk beristirahat-bersiap, dan siang untuk bekerja-menjemput keberkahan dan ridho-Nya.


Takut ketinggian



Aku takut pada ketinggian
jika tiap kali aku naik, aku berpikir tentang rasa sakit
luka yang timbul sewaktu-waktu
karena tergelincir dari lereng yang landai

Aku takut pada ketinggian
jika tiap kali aku di sana, aku mengenang tentang tanah datar yang biasa
jalan yang justru tak kutempuh
ketika pilihan terhampar dan kini kusaksikan dari jauh

Aku takut pada ketinggian
jika dari tempat tinggi itu
aku tak bisa melihat makna terpendam
di tempat yang lebih rendah
 



Rabu, 09 Oktober 2013

Membijak

Langit itu tinggi, tapi ia menaungi
Bumi itu suci, tapi ia rela dipijak oleh kaki

Rumput, meski ia diinjak, dibunuh
Ia tetap bertumbuh
Padi, ia berisi tapi tak tinggi hati

Begitulah seharusnya kita
Membijak dengan setiap peran yang kita punya
Manusia bukan sesiapa, bukan apa-apa
Kita hanyalah sekumpulan makhluk
Yang harus sujud, tunduk dan takhluk
Pada kebesaran Tuhan
Yang Menciptakan

Dan juga Yang Meniadakan


Sabtu, 28 September 2013

Tersesat

"Katakan, apa mungkin mereka akan menganggapku sebagai orang yang berbeda?" tanyaku padamu kala itu.
"Ya, bisa jadi."

Aku terdiam, menatap tak percaya  jawaban ringanmu yang singkat-padat  pada beban berat yang hinggap menyekap.

"Apa aku salah?"

"Lalu, apa kau ingin kembali?"

"Tidak, sejujurnya. Aku tidak peduli. Bahkan aku menyadari bahwa aku telah tersesat dan tak bisa kembali. Sebuah kegetiran nyata yang mula-mula aku caci, namun perlahan ia kuterima sebagai sebuah realita."

"Dan?"

"Dan aku berbeda. Jalan yang kulalui tak lagi sama. Maka mungkin aku akan menjadi sebutir buih ombak yang terpisah dari kumpulannya. Mereka datang ke tepian pantai, lalu kembali bersama angin ke dalam peluk lautan. Sementara aku tertinggal, tertawan pada pasir putih atau menempel pada kokohnya karang. Atau, seperti seseorang yang tertinggal di dalam labirin dan menemukan harta terpendam, hingga ia malas-tak mau kembali pulang."

"Ah... perempuan. Kau menggenggam jawabannya, tapi masih pula kau mencoba bertanya."

"Mungkin... Karena aku hanya butuh diyakinkan. Hanya butuh seseorang berkata tentang kepastian- meski hanya sekedar hiburan-meski aku terjaga sepenuhnya, bahwa yang kuhadapi adalah ketidakpastian itu sendiri."

"Skenario takdir kita ditulis oleh tangan yang sama. Percayalah, bahwa 'ketersesatanmu' adalah bagian dari skenario itu sendiri, kau hanya perlu mengumpulkan puzzle demi puzzle sambil menyusunnya menjadi sebuah bentuk nada kehidupan. dan ketika puzzle itu telah lengkap, baru kau akan sadar, "Jadi... ini maksud Tuhan..."..."

Aku memandang takjub. Hakikatnya aku tahu, pertanyaanku hanyalah kalimat retoris yang sengaja kucipta untuk mengujimu.

#Huruf T pertama yang menyatukan kita, Tersesat.

Aku dan Waktu

Aku berperang melawan waktu. Sendiri di tengah sepi, kuhunuskan pedang ke arahnya. Aku sadar benar, jika aku tak membunuhnya, maka ia yang akan menebasku. Aku ingin melumpuhkannya lewat kata, menebas lengan, kaki yang membuatnya tak bisa berjalan. Setelah ia kalah, aku ingin ia menjadi budakku.

Namun rupanya aku hanyalah manusia lugu yang tak mengerti strategi waktu.  Aku setengah menyerah. Aku merangkulnya, bernegosiasi tiba-tiba dan mencoba bersahabat dengannya, setelah aku mengerti benar, jika aku pun kalah lobi, maka ia yang mengakhiri.

Aku tak mau. Aku ingin memastikan dengan tanganku, bahwa kisah ini akan selesai karena aku sendiri yang memutuskan, bukan waktu.

Jumat, 27 September 2013

Pada kata-kata

Aku jatuh cinta pada kata-kata. Tiap engkau berbicara tentang senja. Meski kerap kau menulis tentang pagi jua. Cukup itu yang kutahu, karena tiap kali kau menuliskan sajak, puisi, prosa atau fiksi, aku jatuh cinta pada kata-kata. Anehnya, aku tak merasa jatuh cinta padamu, penulisnya. aku hanya merasa, tiap kali kau berkata-kata, kau sedang menunujukkan duniaku, dan aku berlari kepadanya.

Aku jatuh cinta pada kata-kata. Bukan padamu, suatu anomali, ketidawajaran seperti layaknya perempuan-perempuan lainnya. Mereka berlomba, mengejarmu, mendapatkan setitik perhatianmu. Tapi aku merasa tak perlu melakukan itu. Yang kumau hanya kata-katamu, yang kau eja dengan sempurna menjadi baris-baris penuh makna.

Karena di sana, pada kata-kata aku melihat gurat tawa, kesedihan yang melanda, rindu menyeruak dada, kekaguman pada Pencipta semesta, segalanya,,,, melalui kehebatan tarian pena. Aku melihat hatimu pada kata-kata. Cukup itu, cukup aku menggenggam tiap kekuatan yang kau torehkan, dan aku akan menjadi seorang korban ilusi yang tertawa, menangis, bahagia, bersedih, merasa haru pada kata-kata. Karena aku telah jatuh cinta, pada kata-kata.


Minggu, 28 Juli 2013

Sebuah Ingatan Tentang Laskar Sembilan

Laskar 9...

Hmmm... entah siapa penggagasnya, bagaimana menjadi pelopornya serta seperti apa sejarah berdirinya, yang kutahu pertama kali aku diundang ke dalam forum itu adalah di mana ketika kami suatu senja bercengkrama bersama di Masjid Kampus UGM pada pertengahan tahun 2012. Tulisan ini adalah tanda cinta kepada sahabat dan saudara seperjuangan yang tergabung di Laskar Sembilan. Mungkin ingatan ini terbatas, meski terkadang aku sangat yakin bahwa aku memiliki ingatan yang fotografis. Semoga tidak terlewat kawan... :D


dimulai dari sahabat dan saudaraku yang akhwat...:

1. Pipin, si lembut hati
pertama kali bertemu dengannya adalah di sebuah tempat bernama Wisma Kadisoka, sebuah tempat yang ternyata tahun-tahun berikutnya menjadi tempat yang sangat dekat dengan aktivitasku selama di kampus ini. Waktu itu Pipin mengenakan jilbab warna abu-abu kembang-kembang (dan sekarang jilbab itu dipake oleh adiknya, dan aku pun berjumpa dengan adiknya pertama kali juga mengenakan jilbab itu, saudara!!!) Pipin ini sosok akhwat luar biasa yang lembut hati, sabar, dan jarang bahkan hampir tidak pernah berkata "tidak" kepada saudaranya. Pintar memasak segala jenis masakan, mulai dari kue sampai masakan-masakan yang menurutku "njlimet" baik bumbu maupun proses memasaknya. Keren lah... sepertinya sudah sangat siap menjadi seorang ibu, karena di manapun dia juga selalu berperan sebagai ibu.

2. Ipeh, eh Hanifah, si sepatu bulu reog #ups,,,
Ipeh ini sahabat karibku yang sudah dua periode menjadi rekan di sie acara OSPEK FISE. Kelihatannya memang galak, tapi sebenarnya dia ini baik hati lho... awalnya sangat "gentleman"   dan macho, dengan sandal gunung dan tas ranselnya yang tidak pernah ketinggalan, tapi akhir-akhir ini kulihat banyak perubahan padanya. Dia jadi feminim sekali saudara,,, alhamdulillah, bahkan sekarang punya hijab style yang baru. Sebenarnya sama dengan Pipin (karena memang soulmate-nya), pertama kali bertemu di wisma Kadisoka, dan ketika forum dia pernah bertanya pada pembicara tentang "Kenapa akhwat harus punya jam malam sedangkan yang ikhwan tidak???" #bahkan waktu itu aku gak mudeng apa itu jam malam. hehe... :D
oh iya, tentang sepatu bulu reog. sebenarnya bulu reog ini gara-gara "bercandaan" seorang teman setiap kali bertemu dengannya yang memang berasal dari Ponorogo dan identik dengan Reog Ponorogo-nya, sampai suatu saat aku ketularan gatel nyebut sepatu barunya yang terbuat dari bulu-bulu sebagai "Sepatu Bulu Reog". Sebuah filosofi yang tidak disepakati. Tapi, memang begitulah aku, hehe,,, :D

3. Nisa, si Miss Rempong
Pertama ketemu di OSPEK, ternyata satu jurusan. waktu itu masih lugu abis, pake kaca mata pula. Sekarang???? rempong gilaaa... :D Kukasih tahu rahasia perusahaan orang yang satu ini. Di DM Pocong waktu kami jadi panitia, dia menjadi seorang sie konsumsi yang sangat kreatif, ketika tidak ada alat untuk mengaduk teh yang ada di jumbo, maka dia pakai sesuatu yang tersedia di dapur saat itu. tak ada rotan, akar pun jadi, tak ada pengaduk, sothil pun jadi...
terus teh nya jadi rasa apa saudara-saudara????
Miss rempong ini turut andil besar dalam merempongkan diriku, jadi kalau ada yang melihat sesuatu yang rempong pada seorang Miff Chan, maka itu adalah ajaran si Miss Rempong. ;)

4. Olpy, si pembalap.
ketemu pertama di IEC dalam suatu forum. Waktu itu dia kelihatan horor bin judes. Setelah lama kenal..... ya emang gitu. Lebih horor pas naik motor sama si Olpy,,,, hmmmm,,,, senam jantung tingkat dewa. terobos apa aja.... astaghfirullah.... Tapi dia itu tipe orang yang totalitas tanpa batas. tidak peduli tubuh cungkringnya itu lagi sakit, belum makan, atau belum tidur, selagi masih ada kerjaan ya dia kerjain sampai dia bener-bener ambruk.... habis ambruk kalau masih belum kelar lagi, mungkin sampe ngesot-ngesot.... salut dah...

5. Chika, bakul pulsa yang perfectionis
mungkin karena bergolongan darah A, jadi melakukan segala sesuatu dengan detail dan rapi. Dia ini rajin belajar dan semangat menuntut ilmu. buktinya, setiap ada kajian, pasti namanya nangkring paling atas di buku hadir. Paling disiplin kalau syuro, hampir tidak pernah datang terlambat. jos gandos lah... jadi malu, sangat berkebalikan dengan diriku,,, hahaha,,, :D yang jelas dia itu tempat kembali bagi semua orang yang pingin ngutang pulsa. sip, jos.

6. Bening, KAMMI sejati.
sejak mengenalnya pertama kali, di ini emang udah sangat KAMMI. sampai hari ini pun sangat KAMMI. Golongan darah A juga, katanya kalau memotong sesuatu, misal motong buah gitu, pasti ukurannya mendekati sama. Tipe perfeksionis juga, tapi terkadang membingungkan. Ben kun... :D


hoho,,, bersambung deh, semoga lain kesempatan masih bisa menuliskan nama-nama lain hingga mendekati lengkap.

Kenapa Miff? capek???
iya nih,,, mau istirahat dulu sambil kembali syuro.
*Belum jadi anggota dewan aja, jam terbang rapatnya sudah setinggi ini, gimana kalau jadi Dewan?
#tapi aku nggak mau og jadi anggota dewan, jadi istrinya anggota dewan, nah itu mungkin... hahaha.... :D

Kamis, 30 Mei 2013

maaf, Buk...

00.00 WIB.
1 menit kemudian, halaman yang kuakses lewat N 6600 pemberianmu waktu itu sudah bisa dibuka. Penantian panjangku yang harap-harap cemas terbayar sudah. Kau menemaniku, meski kutahu lelah yang menggantung di pelupuk mata itu sengaja tak kau tampakkan. berbeda denganku yang telah terbiasa dengan insomnia selama masa-masa Ujian Nasional, kau pasti sangat mengantuk, ditambah dengan pekerjaanmu di kantor yang tampaknya menumpuk. Tapi, putri pertamamu, yang kali pertama ingin menjamah bangku kuliah itu mengalahkan segala rasa. 

Kuketik no ujian hati-hati, sekedar memastikan tidak ada satu digit pun yang tercecer. Loading. 2  irama dari 2 jantung yang berbeda semakin kencang, meski tak terdengar. Lalu aku berteriak, setelah akhirnya menemukan namaku ada di halaman itu. Administrasi Negara, UNY. Pilihan ketiga memang, tapi cukup memberikan kehangatan malam itu. Ya, aku sudah diterima di sebuah universitas. 

Aku tersungkur dalam sujud syukur. Haru menyelimuti hatiku kala itu, Allah baik sekali. Doaku dijawab-Nya dengan hal yang tidak kuduga. Aku sebenarnya ingin menjadi pengajar dan pendidik Bahasa Inggris, seperti expert-ku beberapa tahun terakhir. Administrasi Negara,,,, bahkan aku tak tahu apa itu, tapi jurusan itu kuplih ketika mengisi formulir pendaftaran SNMPTN dengan pertimbangan dari TES IQ terbaruku, bahwa aku dianjurkan untuk masuk ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Walaupun aku tak tahu apa itu, tetap saja logikaku kalah dengan perasaan haru. Dan naluriku mengarahkanku untuk sujud syukur. Tenggelam dalam rasa terima kasih yang tak terhingga pada Sang Penggenggam Jiwa. 

Ibuku tersenyum, "Alhamdulillah,,,," katanya. Lalu keluar dari kamarku. "Selamat ya, Ibuk mau shalat tahajud sekalian..."

*****************************************************************************

Siangnya aku berpikir. Jogja, 1 kota yang bahkan tak pernah ada di benakku, dan kini aku harus ke sana. Masih terbesit harapan, mungkin aku diterima di STAN, tapi aku harus menjalani kehidupan di UNY terlebih dahulu, sambil menunggu pengumumannya. 
Euphoria keluargaku saat itu, "Memang begitu, Nduk. Harus ada yang meneruskan Bapak dan Ibu jadi PNS. Mungkin kamu bisa jadi Camat atau Bupati nantinya," seloroh Ayahku. Aku cuma senyum-senyum, tak bisa membayangkan. 
Maka, berangkat ke Jogja, dengan bekal sederhana. BELAJAR di bangku kuliah, lulus 3,5 tahun lalu bekerja. End. Sederhana sekali, dan aku tidak tahu apa yang telah menantiku di sana.

******************************************************************************

Saat memasuki kampus itu, dalam hati aku berkata, "Kalau aku diterima di STAN, maka aku akan menjadi mahasiswa yang rajin kuliah, tidak akan nyleneh, taat aturan. intinya itu. Tapi, kalau memang takdirku di sini, baiklah, aku tidak akan hanya sekedar kuliah, tapi aku akan ikut banyak organisasi." 
titik-titik itu akhirnya terhubung menjadi sebuah benang merah kehidupan. Ketika tiba-tiba aku terpesona pada seseorang di OSPEK dan akhirnya mengantarkanku pada sebuah kata, "amanah". Memperkenalkanku pada Al Ishlah, lalu HIMA, selain itu ada pekerjaan-pekerjaan lain, seperti menjadi pansus, seminar-seminar, dan sebagainya. begitu pun di tahun kedua, menjadi salah satu "pejabat" di HIMA. Tahun ketiga, menjadi public figure dengan amanah yang berbobot meski kapasitas saat itu masih pas-pasan. Pun tahun keempat, memegang peran penting yang tidak bisa dilihat pentingnya di mana. *eh... entahlah apa itu. 

selama tiga tahun terakhir, tak ada masalah dengan akademik, nilai-nilaiku cukup cemerlang, cukup bisa menjadi hiasan bintang-bintang yang digantungkan di atas tempat tidur, juga menjadi "anak emas" para dosen.  Dan aku menargetkan bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun. 
 Hanya saja ketika tahun keempat, hal yang seharusnya kuselesaikan lebih dulu menjadi terbengkalai. Bukan karena aku tak resah, aku sangat resah. Bukan karena aku tak mau mengerjakan, aku mau mengerjakan, dan sudah kukerjakan. Bukan karena,,,, entah apa pun itu, aku tak mau berpledoi dan melakukan pembenaran. Aku ingat betul sifat dasar manusia, yang memiliki banyak alasan, bahkan untuk sekedar membela diri yang telah melakukan kesalahan.

Ada sesuatu yang mengalihkan duniaku. Dulu, aku berpikir sangat sederhana, bahwa kedatanganku  di kota ini adalah belajar. Sampai saat ini pun aku masih berpikir seperti itu, tapi ada yang telihat lebih jelas setelah belajar. Bahwa ILMU YANG KUMILIKI SAAT INI BELUM CUKUP. Ada yang ingin kulihat lebih dalam lagi, dan ini karena hasil dari belajar. AKU INGIN BERMANFAAT. sederhana sekali, meski realita tak sesederhana itu.

*******************************************************************************

Juni segera datang. Tulisan di white board ku tetaplah tulisan "JUNI 2013 WISUDA". Memajang foto diri mengenakan toga dan berselendang cumlaude, sambil membawa beberapa tangkai bunga. Asal tahu saja, itu semua kuperoleh dari kakak kelasku yang sudah wisuda. Aku  meminjamnya.
Lalu apa aku menyesal? Tidak. 
Karena aku mendapat banyak ilmu, meski bukan lagi teori di dalam kelas. Karena aku telah mengetahui hakikat diri sebagai mahasiswa, bukanlah hanya seseorang yang hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga berpikir tentang perbaikan diri, masyarakat, bangsa dan agamanya. 
Karena aku bersentuhan langsung dengan laboratorium kehidupan yang memberiku banyak bekal. Kehidupan nyata yang membuatku haus akan ilmu, semakin aku belajar, semakin aku merasa bodoh. Karena aku merangkai persahabatan di sini, bahkan persaudaraan yang mungkin irrasional bagi sebagian orang. Bagaimana bisa seseorang dengan seseorang lain bisa bersaudara tanpa ikatan darah di dalamnya??? Tapi ini nyata. Ikatan yang kami bangun memang bukan ikatan darah, tapi ikatan aqidah.
Karena aku percaya pada surat cinta-Nya pada manusia. "Jika kamu menolong agama Allah, maka Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Satu hal yang aku sesali adalah:
Aku tak bisa menyaksikan senyum kedua orang tuaku merekah di bulan Juni. Senyum bangga ketika melihat aku memakai toga. Anak macam apa yang bahkan belum bisa membalas setiap curahan kasih dan air mata dalam doa dengan sebuah bakti bernama wisuda???
Maaf, Buk....
Seorang wanita yang pada telapak kakinya terdapat surga. Maafkan aku...
Logikaku tak bisa menembus logika semesta. Bahwa Allah punya rencana lain untukku, dan semoga setiap kebaikan yang kulakukan, pahalanya mengalir untukmu....

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...