Rabu, 12 September 2012

Pengingat dari Seorang Sahabat


Kalo maen nya sama perasaan. Aku seringkali gagal dalam memahami perasaan orang, apalagi yang melankolis seperti dirimu. Mungkin karena aku orang koleris kuat yang gak peka. Hehe. Aku Cuma pengen sharing….


Terkadang kekuatan asumsi dan khayalan mampu mengkerdilkan realita. Jadi dalam beberapa segmen hidup, kita gagal menganalisis kenyataan hanya karena kekuatan asumsi yang telah kita bangun sendiri. Dulu saat SMA aku pernah dapat beasiswa bimbel gratis d primagama 1 semester. Disana ada paket tes potensi akademik lewat sidik jari. Gratis buatku. Alhamdulillah. Disana tertulis banyak hal tentang diriku, dan aku mengamininya. Sebagian besar yang tertulis disana memang seringkali aku alami, mulai dari hal yang positif sampe negative. Tetapi pada beberapa poin yang negative, aku mencoba untuk sedikit mengabaikannya. Disana tertulis cirri negatifku ‘memberikan pendapat atau pandangan yang kurang jelas kepada pihal lain’. Aku berpikir kalo terlalu sering membaca hasil tes itu kemudian ada sugesti yang kuat di dalam diriku bahwa aku tidak mampu memberikan penjelasan yang baik kepada orang lain, aku takut kalo nantinya aku terlalu percaya dengan prediksi itu, aku mencoba mengambil pikiran lain. Mungkin memang IYA bahwa aku tidak mampu memberikan penjelasan yang apik kepada orang lain, tapi bukan berarti itu suratan takdir dari Allah, tapi karena ilmu dan wawasanku yang masih cemen. Berarti PR ku Cuma menambah ilmu dan wawasan, bukan mempercayai apa yang tertulis di ‘buku ramalan’ itu. Hehe
 Coba kamu memposisikan dirimu sebagai sesuatu yang sedikit berbeda. Kalo biasanya seorang yang melankolis sempurna itu selalu membutuhkan waktu yang panjang untuk merencanakan sesuatu secara matang dan mendetail, sangat sensitif, sangat idealis, ingin mnjadi yang terbaik, mencari yang terbaik, berusaha mendapatkan yang terbaik, dll. Karena kalo seperti itu pada akhirnya kamu akan mengharapkan HASIL (masa depan) yang sesuai dengan apa yang sudah kamu rencanakan secara matang dan mendalam (keinginan). Padahal masa lalu itu milik semua orang, masa kini adalah murni milik kita masing2, sedangkan masa depan hanya milik Allah.
Yang IYA tidak mungkin jadi TIDAK,
Yang TIDAK tak pernah akan menjadi IYA,
Karena itu semua kekuasaan Allah, terserah Allah.
Kasus:
1.       Seorang pemimpin yang berorientasi pada hasil. Ketika ada kinerja bawahannya yang tidak sesuai dengan rencana yang telah ia buat diawal, ia akan senantiasa marah-marah. Karena baginya, yang paling penting adalah hasil, bukan proses.
a.       Jendralà selamatkan sandera perang Vietnam apapun yang terjadi!
b.      Bawahanà caranya bagaimana, padahal bla, bla, bla (alasan)…
c.       Jendralà aku tidak ada urusan dengan itu, yang jelas kamu harus bisa membebaskan mereka!
2.       Seorang ibu kepada anaknya. Bagi seorang ibu, ia tak pernah sekalipun mendapat kepastian apakah anak yang ia kandung dan besarkan akan menjadi orang yang baik-baik atau malah menjadi bejat. Tak ada kepastian sedikitpun. Yang ia miliki hanyalah harapan. Ia tak bisa memetik hasil, karenanya ia lebih memilih untuk peduli pada proses, karenanya, ibu yang baik bukanlah ibu yang selalu melindungi anaknya, bukan yang selalu menghibur anaknya. Ibu yang baik adalah ibu yang tak pernah sedikitpun menghindarkan anaknya dari kerikil kehidupan. Karena setiap kesalahan yang dilakukan anaknya merupakan sarana tarbiyah. Ia merupakan proses yang sangat berharga. Dan sejarah selalu membuktikan bahwa orang yang senantiasa hidup dalam himpitan yang luar biasa, pada akhirnya akan menjadi tokoh yang fenomenal. Yang manja justru ditinggalkan sejarah. Hehe

Jika bukan karena harapan, tak seorang ibu pun mau menyusui anaknya
Jika bukan karena harapan, tak seorang petani mau menanam padi
Hal yang sama pun ada pada diri kita. Apakah kita memilih menjadi orang yang mengutamakan HASIL atau PROSES….???! Orang yang senantiasa mengutamakan hasil akan sering kecewa, tetapi yang mengutamakan proses akan lebih banyak pemakluman dan tak mudah kecewa. Bukankah kewenangan kita hanya pada dunia ikhtiar saja…. Urusan hasil kan hak perogratif Allah. Ya gak mift…. ^_^

 Meskipun aku tidak mengenal dirimu dengan baik, karena kita tidak pernah menjadi mitra sejajar dalam amanah. Tapi Mungkin ini menjadi agenda yang berat bagi dirimu. Mengingat bahwa dirimu termasuk orang yang rapih, mampu membuat rencana jangka panjang, lembut, senantiasa melakukan pengecekan terhadap rencana yang sudah dibuat, tidak suka berkonfrontasi, lebih memilih menyimpan rasa sakit dalam hati, dll. Ketika apa yang sudah kamu rencanakan dengan sangat matang itu tidak terlaksana, cobalah berpikir bahwa mungkin hari ini kamu pantas dianggap gagal, tetapi bukankah kegagalan dalam membangun relationship hari ini menjadi modal dasar bagimu untuk menjalin hubungan di masa mendatang, bukankah ini keberhasilan yang lain ^_^
Orang yang putus sekolah bisa dianggap gagal dalam mendapatkan ilmu, tetapi ia berhasil dalam mendapatkan uang dari hasil kerjanya.
Orang yang kuliah berhasil mendapatkan ilmu dan teman, tetapi ia gagal dalam menghasilkan uang di usia dini.

Bersama kesulitan terdapat kemudahan….

*lihatlah, betapa aku tidak piawai dalam memainkan kata-kata. Tidak jelas dalam menghubungkan kalimat jadi sangat mungkin setelah membaca ini kamu justru jadi pusing. Hehe. Sejatinya aku tidak punya kompetensi apapun yang pantas untuk menasihati dirimu. Aku tahu dalam banyak hal kamu jauh lebih ekspert dariku. Jadi tulisan ini murni hanya sharing aja. Hehe. Keberhasilan aliansi shinobi dalam mengalahkan Asuma dan membersihkan zetsu putih dari battle-field karena jasa dari Shikaku. Tipikal yang tenang, lembut, mampu membaca masa depan, perencana yang ulung, cerdas pastinya*

Aku hanya perlu menghujamkan keyakinan bahwa orang yang membaca teks ini mampu bertahan lebih lama dalam konfrontasi ini, tanpa harus menyalahkan jama’ah yang telah menempatkan dirinya disana. Apalagi menghancurkan gerakan dakwah ini. Aku percaya dia orang yang kuat dan penuh semangat seperti yang aku kenal 3 tahun lalu.
Semangat Mift….!!!!

Selasa, 11 September 2012

Untuk Ukhti-ku


“Dan mentari mengintip malu-malu dari balik cakrawala
Namun perlahan, sinar hangatnya mulai membangunkan jiwa-jiwa dari tidur lelapnya
Maka mentari sadar, hangatnya dibutuhkan sesama, bukan milik dirinya seutuhnya
Ia pun bergegas dengan berani mengambil peran dalam kehidupan, semesta….”
Bismillah…
Nisa, kami memanggilmu. Seperti namamu Annisa, berarti wanita… wanita yang tegar menghadapi dunia, bukan wanita yang lemah dan hanya bisa meratap pasrah. Wanita yang selalu punya peran mulia dalam sejarah kehidupan manusia, semoga suatu saat kau pun merasakan kemuliaan sebagai wanita.
Kenapa mentari menjadi pembuka kata-kata ini? Karena hangat senyummu bagaikan mentari, semangat membaramu bagai matahari, dan tetaplah menjadi matahari kami yang selalu semangat dan ceria di mana pun berada. Berjanjilah, untuk sekarang dan juga nanti!!!
Ukhti, saudari kami… tak pantas rasanya berbicara terlalu banyak tentangmu, karena kami pun belum yakin benarkah telah mengenalmu? Rasanya tak cukup waktu setahun ini untuk menyelami dalamnya perasaanmu. Yang kami tahu, kau lah nyala api itu, yang menghangatkan dan menerangi.
Di hari bahagiamu ini, tak ada yang bisa kami beri selain kasih mendalam lewat ingatan kami dalam menyebut namamu di tiap bait doa yang kami panjatkan pada TUHAN.

PILIHAN LATIFAH


“Fa, sekarang pake’ jilbab ya? Selamat ya...moga-moga tetep istiqomah ya Fa...” kata Andi, temen terbaik Latifah yang pintar dan pengertian, ketika mereka bertemu pertama kalinya di sekolah mereka yang baru .
“Amien,,,Ndi,, doain aja ya,,,” kata Latifah.
Kata orang, masa abu-abu putih adalah masa-masa indah yang tak kan pernah terulang untuk kedua kalinya. Masa-masa yang sayang untuk dilewati begitu saja, karena puncak segala asa ada saat SMA. Masa-masa remaja yang penuh dengan dilema dalam segala kehidupan. Tapi justru, ketika teman-teman remaja wanita lainnya yang mulai suka merias diri agar terlihat cantik dari segi fisik, Latifah memutuskan untuk berjilbab. Ia sebenarnya tidak begitu peduli dengan respon orang-orang di sekitarnya nanti. Ia hanya ingin memperbaiki dirinya. Okelah, dulu waktu SMP Latifah memang siswa yang aktif dalam segala kegiatan, baik itu dalam prestasi akademik maupun organisasi, sehingga ia punya banyak teman dan beberapa sahabat dekat, bukan hanya sesama perempuan, tapi juga sahabat laki-laki. Sejauh ini, respon sahabat pada penampilan barunya terkesan mendukung, terutama Andi. Tapi ia belum tahu, bagaimana respon Arwin, karena mereka beda SMA.Ya,  Pilihan pertama yang diambil Latifah, suatu pilihan yang menurut orang lain akan membatasi ruang geraknya, yang kata orang bisa mengurangi kecantikannya, dan  yang dulunya juga sempat menjadi perdebatan dengan mamanya.

SEKILAS REKAM JEJAK KEPEMIMPINAN DUA UMAR (UMAR BIN KHATHTHAB & UMAR BIN ABDUL AZIZ )


Pendahuluan
Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz adalah dua sosok Umar yang patut diteladani oleh umat, khususnya dalam hal kepemimpinan. Kedua Umar ini dikenal sebagai sosok pemimpin yang ideal setelah Nabi Muhammad SAW. Kedua Umar yang masih merupakan satu garis keturunan tersebut  dikenal sebagai pemimpin yang adil dan amanah dalam menjalankan perannya sebagai khalifah. Umar bin Abdul Aziz merupakan cicit dari Umar bin Khaththab, salah satu khulafaurrasyidin atau khalifah kedua setelah Abu Bakar Asshiddiq. Dari garis keturunan pemimpin yang agung dan mulia tersebut, lahirlah Umar bin Abdul Aziz yang juga menjadi pemimpin yang agung dan mulia, selalu mementingkan rakyatnya dibanding dirinya sendiri, sehingga pada masa pemerintahannya sangat sulit ditemukan rakyat yang miskin. Karena itu, dalam masa pemerintahan yang sebentar itu, Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya, sehingga ketika beliau wafat maka tidak heran jika kepergiannya itu ditangisi oleh rakyatnya.
Kepemimpinan Dua Umar
Umar bin Khaththab merupakan khalifah kedua , yang digelari Al Faruq oleh Nabi Muhammad SAW, seorang penegak dakwah yang dikenal berani dan ditakuti baik kawan maupun lawan. Umar berupaya untuk merealisasikan misi Rasulullah untuk menjadikan Islam sebagai guru alam semesta, sehingga langkah yang ditempuhnya dalam kekhalifahan adalah melakukan ekspansi dan pembangunan. Karena itu apda zaman Umar, dakwah Islam meluas sampai ke Jordania, Irak , Baitul Maqdis, Mesir, Persia dan lain-lain, melalui tangan para panglima dan tentara Muslim yang berperang untuk Allah. Sebagai khalifah, Umar memiliki peran penting dalam memberikan semangat kepada  pasukan jihad dan selalu berpesan kepada pasukan sebelum berperang, bahwa kemenangan umat Islam yang diberikan oleh Allah adalah karena maksiat yang dilakukan musuh-musuhnya, sehingga  Umar selalu berpesan agar pasukan Muslim tidak bermaksiat karena hal tersebut akan sama artinya dengan pasukan musuh. Hendaknya pasukan muslim senantiasa takut kepada Allah dan selalu bertakwa.
Melalui kepemimpinan Umar yang meluaskan wilayah Islam tersebut, maka terbukalah peradaban Islam ke sebagian penjuru dunia. Umar bukan hanya meluaskan wilayah, tapi juga membangun isinya. Ia membangun perangkat politik yang sesuai dengan kondisi saat itu, yang artinya perangkat politik serba baru yang bahkan tidak pernah ada di jaman Rasulullah maupun Abu Bakar, seperti menciptakan pemerintahan, pembentukan departemen-departemen, menciptakan pusat kas Negara (baitul mal), mengermbangkan system gaji untuk kepala Negara agar bekerja focus tidak terganngu urusan pribadi , dan membuat penanggalan Islam yang dimulai dari hijrah Rasulullah. Prinsip politik yang dipegang Umar adalah syura, keadilan,  kesetaraan dan kebebasan. Di zaman ini, terdapat institusi kehakiman yang independen dari intervensi siapa pun, sehingga semua diadili tanpa diskriminasi status sosial.
Satu hal yang selalu menjadi pegangan para sahabat Rasulullah dalam meneladaninya adalah prinsip syura sebagaimana yang dilakukan Rasulullah pada waktu perang Uhud, Abu Bakar dan Umar pun selalu memegang teguh prinsip syura, terutama dalam hal peralihan kepemimpinan. Sehingga menjelang wafatnya, Umar menyerahkan kekhalifahan berikutnya pada majelis syura.
Pasca zaman kekhalifahan yang ditutup oleh Ali bin Abi thalib, kepemimpinan berada di tangan raja. Daulah pertama yang ada saat itu adalah Daulah Umayyah yang puncak kemakmurannya ada di tangan Umar bin Abdul Aziz, cicit dari Umar bin Khaththab. Pada masa ini Umar membuat gebrakan yang besar dalam kepemimpinannya. Institus syura dijunjung tinggi, keadilan tercipta bersamaan dengan kesejahteraan, karena tidak ada seorang pun yang miskin pada saat itu, dan raja tersebut memiliki gaya hidup yang berbeda dengan gaya raja kebanyakan, ia sangat hidup sederhana bersama keluarganya, bahkan satu-satunya kalung yang dimiliki istrinya ia masukkan ke baitul mal. Umar tidak pernah menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan pribadi, bahkan sekedar untuk mengobrol dengan istrinya ia tidak mau memakai lampu penerangan milik Negara.
Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang dipercaya oleh rakyatnya sejak pertama kali ia diangkat menjadi pemimpin, meskipun pada awalnya Umar dijadikan pemimpin melaui proses penetapan. Oleh karena itu, ia merasa tak nyaman dengan kondisi saat itu, dan mengembalikan kepemimpinan tersebut, namun ternyata rakyat tetap memilihnya menjadi pemimpin. Sehingga saat menjadi pemimpin, ia benar-benar menggunakan kepercayaan yang diberikan rakyat untuk memakmurkan rakyat, dan bukan untuk memakmurkan diri sendiri dan keluarga. Amanah dalam kepemimpinan, sehingga masa pemerintahan yang hanya 3 tahun tersebut telah menjadikan kondisi Negara yang stabil, damai, makmur dan sejahtera.
Penutup
Kunci keberhasilan kepemimpinan kedua Umar adalah Al-Qur’an dan hadist. Meski[un kedua Umar adalah sosok pemimpin yang inovatif dan memiliki gebrakan-gebrakan baru dalam kepemimpinan, keduanya selalu berpegang teguh pada syariat, dan tidak pernah mengurangi maupun meniadakan syariat dalam urusan pemerintahan. Menjadi pemimpin adalah amanah dari Allah SWT, oleh karena itu kedua Umar selalu menjaga amanah tersebut dengan berlaku yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin. Mindset keduanya adalah Allah dan bukan urusan dunia semata. Sehingga, ketika kita lihat realita saat ini, di Indonesia terutama, belum pernah ada pemimpin yang memiliki mindset kedua Umar, yang selalu mementingkan rakyatnya. Pemimpin yang ada saat ini tidak lebih dari sekedar politisi yang bersikap manis saat kampanye dan memperkaya diri sendiri ketika terpilih menjadi pemimpin. Pemimpin saat ini tidak pernah berorientasi untuk melayani rakyat, melainkan selalu ingin dilayani rakyat. Terlepas dari semua itu, pemimpin saat ini tidak memiliki keseimbangan antara ukhrawi dan duniawi. Pemimpin kini mengejar kesenangan duniawi semata. Namun, kedua Umar adalah sosok pemimpin ideal, yang memiliki keseimbangan antara dunia dan akherat. Selalu takut pada Allah, sehingga menjalankan hukum-NYA dengan sebaik-baiknya. Kedua Umar adalah teladan yang nyata bagi calon pemimpin-pemimpin muda Muslim untuk melakukan reformasi yang berdasarkan syariat Al-Qur’an dan hadist, serta memperhatikan konsep keseimbangan atau tawadzun.
Sumber Inspirasi:
-          Jalan Cinta Para Pejuang- Ust. Salim A Fillah
-          Inilah Politikku- Muhammad Elvandi
ditulis oleh:
Mifta Damai Riyaningtyas/ Ilmu Administrasi Negara UNY/Fakultas Ilmu Sosial/ 2009

DOA DARI JAUH


Air mata tanpa kusadari jatuh satu per satu. Perlahan membasahi mukena putihku, kemudian mengalir menuju sajadah hijauku. Ya Rabb, kali ini aku tak menangisi  perjalanan hidupku, yang kuanggap berliku. Entah ini bentuk air mata syukur terhadap jalan hidupku ataukah air mata kesedihan akan nasib seseorang di sana yang aku tahu pasti, ia sedang menghadapi cobaan yang teramat berat. Meskipun aku juga tahu, beratnya cobaan itu lantaran Allah begitu sayang padanya.
Terbayang wajahnya dulu yang begitu ceria, selalu tersenyum dan bersemangat, meski begitu banyak keterbatasan yang ada padanya. Tapi justru dari keterbatasan itu, ia bisa menemukan celah-celah yang membawanya pada dimensi kesuksesan. Dulu ia adalah salah satu dari siswa berprestasi di sekolah, selalu menjadi delegasi kebanggaan sekolah. Dikenal dan diakgumi begitu banyak kalangan, bukan hanya dari kalangan siswa junior dan senior, tapi juga dari kalangan guru-guru dan karyawan di sekolah. Nayris tak tampak kekurangannya sebagai manusia biasa. Agamanya, akhlaknya, kecerdasannya, kebijaksanaannya, kedewasaannya, dan segala kebaikan ada pada dirinya. Bahkan aku adalah salah satu pengagumnya, meskipun aku harusnya bisa sombong karena posisiku sebagai sahabat karibnya.
Di satu sisi kini terbayang wajahnya, yang kubayangkan begitu pias, cemas, kurus, dan begitu terlihat layu. Ah...bahkan aku pun tak pernah bertemu dengannya, bagaimana bisa aku membayangkan dia seperti itu? Dan dalam kondisinya seperti itu, di mana aku? Di mana orang yang berani mengaku sebagai sahabatnya itu? Semakin keras tubuhku menggigil, teriringi dengan tangisku yang makin menjadi walau tanpa suara.
Jogja-Solo bukanlah jarak yang jauh, tapi bukan pula jarak yang dapat ditempuh secepat kilat. Kesibukan kuliah lah yang mulanya mengawali misscommunication kami selama ini. Hingga terpikir untuk menghubunginya, meski aku tak yakin ia akan membalas sms ku atau tidak, karena aku tahu ia harus mencukupi kebutuhan hariannya sendiri. Ya, dia sudah tak berayah. Ia hanya memiliki seorang ibu dengan adik laki-lakinya yang juga sekolah di SMA favorit, yang tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sementara ibunya sendiri juga tak mempunyai pekerjaan tetap.
Nekad, kuketik sms berisi salam padanya dan langsung kukirimkan.  Sebenarnya aku tidak berharap balasan sms nya, karena itu aku melanjutkan  mengerjakan tugas paper yang menjadi deadline. Setelah agak penat, aku memutuskan untuk segera tidur saja. Namun tiba-tiba hp ku bergetar, 1 new message received.
Kubuka.
“Waalaikum salam mb, mf br q bls, br pgng hp,aq br aj nyampe kos.”
Kuketik sms balasan.
“Iy,gpp. Br plang kerja po?”
Sms darinya datang lagi.
“Lho kok mb thu? Iy, q br plang krja ni.”
Kurespon.
“Ya iyalah, masa 1orang tmen gak thu aktvitas temennya sndri? Semangat ya!! Aktivis spt km it mmg luar bysa!”
Lalu sms kami mengalir sebagaimana mestinya.
“Ak bkan aktivis kmpus lg kok mb...”
“Lho kok tmben? Jadi dmn skg ladang juangmu?”
 Aku mengira kini dia berbisnis dan meninggalkan aktivitas perpolitikan kampus, karena ia pernah bercerita, dia mengikuti suatu perusahaan bisnis, dan kutahu itu adalah semacam MLM. Sebenarnya aku begitu khawatir tentang aktivitasnya itu, tapi kudengar dia sudah ada di tingkat atas dalam bisnis itu, jadi aku diamkan. Namun jawabannya di luar dugaanku.
“Ladang juangku ada di cobaan yang hendak Allah ingin q mnylesaikannya saat ni...q pgn bgt crta kisahku skg ma mb,tp q blm bs ktmu mb...”
“Cerita aja lah skg. Shbt slu ad kpan pun, ya,,mski ak gak bs ksh solusi, ak bs jd pndgr yg baik, yg mgkin bs meringankan bebanmu krn km bgi dg org lain.”
Agak lama menunggu balasan darinya.
“maaf mb, q br crta. Ud 4 bln ni q g aktif d UKM. Smw brmla saat ak krja sma dg 1org distributor laptop. Q sng bs memasarkn laptop dlm jml yg bnyk. Tp akrny uang pmbli dbwa kbur ma distributor it, n ak msti tnggung jwb, kl tdk, mja hjau yg akn bcra. Smntr q g pny bkti bwt lapor. Jd mpe skg ak krj kras bwt blikinnya.”
Seketika air mata tak dapat dibendung. 4 bulan? Dan baru sekarang aku tahu nasib yang menimpa sahabatku? Aku meny
Lahkan diriku atas ketidaktahuanku tersebut, tapi dia segera membalas lagi.
“Mb, jgn gt. Hrusny q yg mt mf krn br crta. Ak g mau org lain kpkiran. Kluarga jg g q ksih tau, tkut mnmbah beban. Q jg pny tantangan k2 mb, mgkn smster dpan ibu’ ud nyerahin biaya spp ke q..”
“ak g th maw ngmong ap. Bner, g ad yg bs ak perbwt slain doa bwt km. Yg sabar ya, km diuji ALLAH dg cbaan bgtu bert, it krn  Dia jg bgt sayang pdmu. Sbr, prtlngan ALLAH it nyata.”
Mudah sekali aku berbicara, sedang bagaimana mencari solusinya???????
“Iy mb, ak brsykr dg ujian ni, krn tiap ksulitn akn mgjari makna hdup n kdwasaan. Ak ikhlas, wlau nti hrus ad suatu hal yg phit mnyangkt kelangsungan kuliah q,stdknya ak ud prnh mrsakan jd mhsiswa. Ah..akirnya q lega bs crt ma mb,,,”
“Hush,,,jgn ngmong g, jgn pesimis sm hdup. Slu mt tlng pd ALLAH, ak ykin Dia akn mmbri jalanbwt mu. “
“iy mb, km bnr. G ad yg prlu dcemaskn krn smww it blm trjdi. Mlm ni mb, telah mnmbh ktguhan hti q. Mksh shbtku...beban ni tlh brkrang krn q ud crt ma mb..”
Entah..kenapa aku tak bisa berkata-kata lagi setelah itu.
Review percakapan lewat sms kemarin malam itulah penyebab berderainya air mataku dini hari ini. Ketika aku mencoba mengomunikasikannya dengan Sang Penguasa Hati. Mencoba mengungkapkan, meski  Dia jauh lebih tahu. Sungguh aku tak tahu bagaimana cara membantu sahabatku itu, sedang dalam hal finansial aku pun masih bergantung pada orang tuaku, yang aku tahu juga kepayahan dalam mencukupi biaya kuliahku. Dan tak mungkin aku meminta pada mereka. Sedangkan beasiswa? Beasiswa prestasi karena IP ku yang memenuhi persyaratan sebagai kategori mahasiswa berprestasi yang aku ajukan pada pihak universitas 1 bulan yang lalu pun belum ada kabarnya hingga kini. Ya Allah, jika beasiswa itu bisa aku dapatkan mungkin akan bisa membantunya walau sedikit. Ah..tapi aku tak ingin berharap pada sesuatu yang belum pasti. Lalu apa yang bisa aku lakukan Ya Allah? Basah lagi mataku yang sempat mengering beberapa saat.
Doa. Ya, jawabannya adalah doa. Aku tahu seberapa besarnya kekuatan doa, dan itu adalah hal sederhana yang bisa aku lakukan saat ini, selain menulis naskah yang aku juga tak tahu apakah bisa dikomersialkan, karena aku begitu amatir dalam dunia tulis-menulis. Tak apa, itu bukan suatu masalah, setidaknya aku telah berusaha. Dan akhirnya hanya ini yang bisa kulakukan sahabatku, berdoa dari sini agar kau selalu tegar, tawakal, dan kuat dengan ujian Allah ini. Sesungguhnya Ia hanya ingin membuktikan imanmu, dan kau harus tetap di jalan-Nya, memohon hanya pada-Nya, karena pertolongan-Nya amatlah dekat dan nyata. Semangat!!! Kamu bisa melaluinya!!! Dari sini, doa dari jauh terlantun untukmu setiap saat, setiap waktu dari sebuah ketulusan hati yang menyayangimu karena-Nya, sahabatku.....

Surat Buat Bunda


Assalamu alaikum, Bunda...
Semoga nikmat Allah selalu tercurah padamu, karena pada hakikatnya nikmat-Nya tak kan pernah putus pada umat-Nya sebab Dia Maha Kaya, lagi Maha Pemberi.
Bunda, sengaja kutulis surat padamu, sekedar pelepas rindu karena tak bisa menatap wajah lembutmu, tak bisa mencium tangan halusmu, tak bisa mencium keningmu, apalagi merasakan hangat pelukanmu. Sengaja kuungkap perasaanku pada selembar kertas yang kini ada di hadapanku, seolah kini aku sedang bicara denganmu.
Bunda, putramu yang kini timbuh dalam dewasa ini ternyata tak pernah bisa membendung air mata, kala teringat padamu. Bagaimana kabarmu di sana? Apakah baik-baik saja? Tentulah begitu jawabmu ketika nanti aku bertanya. Tapi aku tahu Bunda, relung hatimu sedang tergores resah akan keadaanku di sini, di tempat asing yang tak pernah bisa diduga. Selalu saja engaku bertanya,” Gimana keadaanmu? Sehat kan? Sudah makan? Makan apa? Sudah shalat?” . tentu saja aku menjawab ya, aku sehat, aku sudah makan, dan aku sudah shalat. Walau jauh dari pengawasanmu, tak kan bisa aku menghindar dari pengawasan Rabb ku. Dan selalu engkau berkata,”Kalau uangnya kurang ambil di atm, nanti Bunda transfer. Jangan terlalu ngirit, yang penting sehat. Jangan lupa belajar, jangan lupa mengaji, jangan lupa berdoa.” Tentu saja aku akan menjawab ya, tapi jauh di pusat rasional dan kesadaranku, aku berpikir. Begitu sulitnya kau mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahku, bekerja keras siang malam dan bahkan berhutang. Apa Bunda kira aku tak mengetahui hal itu? Sungguh perih rasanya Bunda, membayangkan pengorbananmu, sementara aku belum bisa berbuat apa pun untuk sekedar menunjukkan baktiku. Tak mampu.
Bunda, sudahlah jangan cemaskan aku. Meski kutahu perasaan keibuanmu yang membuatmu selalu memikirkan aku. Tapi Bunda, yakinlah padaku, aku di sini menuntut ilmu. Menahan getir pahit karena terpisah denganmu dan keluarga untuk sementara waktu. Tapi aku dijaga oleh-Nya, yang tak pernah tidur dan tak pernah lengah. Aku dijaga oleh-Nya Yang Maha Sempurna yang memenuhi kebutuhanku sebelum aku meminta, karena begitu luasnya kasih sayang-Nya. Ini adalah suatu rangkaian proses Bunda, sebelum aku membawa senyuman di bibirmu ketika aku meraih sukses suatu saat nanti.
Bunda, satu hal yang mesti Bunda tahu, bahwa aku begitu mencintai Bunda. Dengan segenap jiwa, aku kan berjuang di sini untuk meraih prestasi demi sebuah kebangaan yang selama ini belum pernah kuwujudkan. Bila kuingat, terlalu banyak kekecewaan yang dulu aku torehkan pada hatimu, setelah memberi harapan padamu. Tapi aku yakin, itu bukan harapan semu, hanya waktu yang belum berpihak pada takdirku. “Jika Dia berkata ya, maka saat itu Dia akan memberi apa yang aku pinta. Jika Dia berkata tunggu, maka Dia akan memberi yang lebih baik, dan jika Dia berkata tidak, maka Dia mengganti yang lebih baik.”
Bunda, meski saat ini dimensi jarak begitu jauh memisahkan, namun kuharap dimensi kejiwaan akan selalu mempertemukan kita, meski hanya dalam doa yang sama-sama kita panjatkan pada-Nya. Ia Maha Mendengar, dan jika berkenan Ia akan mengabulkan. insyaAllah...
Bunda, kututup goresan pena ini dengan salam rindu yang begitu menggebu, dari lubuk jiwa yang begitu dalam akarnya, berharap kita kan segera berjumpa dalam naungan kasih-Nya. Dan kuakhiri dengan sebaris doa, semoga Bunda sehat selalu, bergelimang rizki yang halal dari anugerah-Nya.
Aku mencintaimu, selalu...
Wassalamu alaikum....

Putramu yang berjuang di tanah orang

BALADA SI TUMIS KANGKUNG


“Hai, namaku kangkung...
Aku salah satu sayuran hijau yang paling digemari
Entah, apa karena aku sangat lezat jika sudah dijadikian cah atau tumis
Dimasak menggunakan bumbu-bumbu dapur seperti cabe, bawang putih, bawang merah, garam, dan sedikit penyedap rasa
Bisa juga ditambah sedikit gula, kecap, dan bahkan tomat
Hmmm....nyammi...lezatnya...
Apalagi jika dilengkapi dengan potongan kecil-kecil tempe dan tahu
Wah,,,semakin menggoda selera
Sebenarnya aku tak begitu mengerti apa keistimewaanku
Hingga aku begitu digemari oleh banyak orang...
Padahal, kata orang, jika memakan kangkung bisa menyebabkan  rasa kantuk
Atau karena itulah aku disukai oleh jenis-jenis manusia yang mengalami insomnia?
Padahal, aku hidup di tempat-tempat lembab, berair, dan bahkan kotor
Kadang juga di comberan
Iiiihhh,,,,kenapa manusia tak jijik padaku?
Bahkan sering kali aku begitu jijik terhadap diriku sendiri
Atau karena hargaku yang cukup murah?
Cukup 500-750 rupiah per ikatnya
Lumayanlah....
Ah,,,apa pun itu, yang jelas aku bangga
Di balik jalan hidupku yang begitu berliku karena harus tinggal di parit-parit dekat rumahmu
Ternyata aku masih juga berguna untukmu
Tak sekedar sebagai makanan untuk kelinci
Tapi manusia pun mulai menyenangi...
Inilah kisahku, kisah si tumis kangkung....
Mulanya, seorang manusia mengambilku dari halaman rumahnya, ehm...kali ini bukan dari comberan, tapi dari halaman, ingat dari halaman rumahnya. Kemudian, ia mencuciku dengan air bersih....uuhhh segarnya,,,,,,!!!!! Lalu dia mengikatku dengan tali yang terbuat dari bambu. Dengan teman-temanku yang lain, ia membawa kami pergi dari rumahnya menuju suatu tempay yang begitu ramai. Oh,,,pasar rupanya. Dan ternyata ia adalah seorang penjual sayur.
Kulihat seorang wanita muda menghampiri kedai penjual sayur ini, menyentuhku dan teman-teman lain, berusaha memilih sayuran yang segar.
“Yang ini berapa Bu?” tanyanya halus.
“Kangkung seribu aja...” jawab si pemilik kedai sayur.
“Ah,,,mahal, 500 aja lah...” tawarnya.
“Gak bisa, wah bisa rugi saya mbak, lha wong gak ada labanya kalau 500. Tambahi lah mbak...”
“750 deh bu, gimana? Kalau boleh saya ambil 2...”
“Baiklah...silakan milih,,,,”
Wanita muda itu memilih-milih lagi, dan akulah the choosen vegetable...ya, aku salah satu kangkung yang dipilihnya. Ia memasukkanku, ke dalam keranjang belanjaannya dan membawaku pergi dari  kedai itu setelah mengucapkan terima kasih kepada penjual sayur itu dan tersenyum ramah.
Ketika ia mengeluarkan aku dari keranjang belanjaan, aku sudah berpindah tempat. Ternyata, aku sudah di dapur dalam rumahnya. Ehm,,,dapur yang bagus dan bersih.
“Bunda,,,mau masak apa?” terdengar suara gadis kecil dan langkah kakinya menuju dapur ini.
“Adek,,,Bunda mau masak tumis kangkung...” jawab wanita muda itu. Ooh,,,rupanya ia sudah memiliki anak yang cukup besar di usianya yang cukup muda itu.
“Tumis kangkung? Yaah,,,sayuran donk...adek nggak mau ah...”
“Eh...adek kan belum pernah makan tumis kangkung buatan bunda. Coba, udah makan,,,dijamin ketagihan deh,,,” kata wanita itu.
“Ya, tetap aja judulnya sayuran Bunda,,,adek kan nggak mau makan sayur,,,sayur itu nggak enak. Dulu itu adek makan sayur daun ketela dan daun pepaya, tapi rasanya pahit. Wortel juga gitu, rasanya tawar,,,pokoknya nggak enak...”
“Tapi, sayur itu bergizi, mengandung banyak vitamin yang  dibutuhkan tubuh. Apalagi buat anak yang sedang dalam masa pertumbuhan...tenang deh, di tangan Bunda, sayuran akan terasa lezat....”
“Nggak percaya...”
“Tanya aja Ayah...”
Gadis kecil itu pergi dari dapur, mungkin mencari aayhnya. Sementara wanita muda itu mencuciku lagi hingga bersih,,,memotong daunku dan memisahkannya dari tangkaiku yang terlalu besar, kemudian ia menyiapkan bumbu dapur untuk tumis, juga memotong tempe dan tahu menjadi potongan-potongan kecil. Ia nyalakan kompor, meletakkan wajan berisi minyak di dalamnya, setelah cukup panas, ia masukkan bumbu-bumbu yang sengaja tidak dihaluskan ke dalam wajan, ia tumis sampai bumbu itu harum. Segera setelah itu, aku dimasukkan ke dalam wajan, diaduk-aduk dengan bumbu-bumbu dapur....dan ia memasukkan potongan-potongan tahu dan tempe, mengaduk lagi. Membiarkan kami masak setelah ia menambahkan sedikit air dan kecap. Baunya memang begitu harum...tubuhku sudah menjadi layu, tapi aku mencium bahwa tubuhku menjadi begitu harum.
“Bunda, masak apa?” kali ini bukan suara gadis kecil, tapi suara seorang pria muda berkaca mata tipis.
“Kenapa Yah?” ia malah balik bertanya.
“Ini lho, bau masakannya harum banget, sampai kecium dari ruang tengah...” kata pria itu.
Wanita itu tersenyum manis. “ Lhah,, bohong...”
“MasyaAllah,,,beneran Bunda. Itu tanya aja adek,,,iya kan dek?”
Gadis kecil itu berlari ke ayahnya, dengan sigap sang ayah menangkap putrinya dan menggendongnya, berjalan mendekati masakan.
“Makan yok...ayah jadi laper...” sang ayah memasang muka memelas.
Wanita muda itu tersenyum lagi,”Tunggu sampai agak dingin ya...”
“Kan bisa ditiup-tiup, Bunda...” timpal gadis kecil.
“Eh,,,harus sabar sama makanan, kata Rasul, kita nggak boleh meniup-niup makanan yang panas, ya itu,,,supaya kita jadi sabar,,,” kata wanita itu.
“Betul..betul..betul..” kata pria muda menirukan logat Melayu salah satu tokoh dalam film kartun.
Maka, wanita itu mengambilku dari wajan dan meletakkanku di piring ceper dan membawaku ke meja makan.
Tamat riwayatku, aku segera dimakan mereka.
Tapi tak apalah, memang untuk itu aku ada. Bukankah, sebaik-baiknya umat adalah yang bermanfaat bagi umat lainnya? Yah,,,walaupun aku hanyalah sayuran, kangkung yang dulunya hidup di comberan. Tapi, di tangan manusia, aku jadi lebih bermanfaat. Aku rasa itu lebih baik, daripada aku tidak dimanfaatkan dan dibiarkan mati begitu saja karena kekeringan atau kelebihan air hujan.
“Ayo, adek cobain kangkung buatan Bunda,,,” kata wanita itu halus.
Sang gadis kecil agak enggan, kemudian memalingkan wajahnya kepada sang ayah seakan minta dukungan untuk tidak makan sayuran. Namun ayahnya begitu larut dalam makannya, ia makan begitu lahap,,,terkesan begitu nikmat dan lezat.
“Ayo...” kata Bundanya.
Dengan ragu, ia memasukkan sedikit tumis kangkung ke dalam mulutnya. Ia mengunyah, berhenti sejenak....menunggu.
Bundanya menatapnya cemas, jangan-jangan anaknya akan memuntahkan tumis kangkungnya.
Begitu pula ayahnya, tapi ia tetap dengan khidmat melanjutkan makannya.
Menunggu.
3 detik berlalu.
Si gadis kecil mulai bereaksi, ia tersenyum,,, kemudian mulai makan dengan lahap seperti yang dilakukan ayahnya.
Bundanya bernapas lega dan tersenyum hangat melihat apa yang dilakukan buah hatinya.
Berakhirlah kecemasannya dan berakhir pula kisah ini seiring berakhirnya riwayatku, si tumis kangkung.

Jumat, 10 Agustus 2012

Biarlah,,,
biarlah semua berlalu
seperti waktu
dan kini
hadapi semua
meskipun itu perih...

tak usah kau sesali
dan tak perlu kau tangisi
semua yang kemarin
walau tinggalkan perih


"sebuah lagu penyadaran dari Andra n the backbone"

bahwa lika-liku hidup manusia tak dapat diterka
bahwa tangis dan tawa tak dapat disangka
sesaat ia hadir, sesaat berlalu
biarkan begitu.

satu hal yang pasti. HADAPI!!!
jangan pernah mundur, apalagi sembunyi!
bagaimanapun keadaannya, bagaimanapun situasinya
manis pahit, hitam putih, bahagia atau perih
semuanya adalah sunnatullah, dan efek dari sebuah tindakan yang tentunya harus dipertanggungjawabkan.

kau,
tak pernah sendiri!!!
sekalipun semua orang berlari
meninggalkanmu atau membiarkanmu berjuang sendiri
Dia tidak.
Dia selalu membersamai.
karena kau punya Dia, apalagi yang kau takutkan tuk hadapi dunia ini?

Istiqomah Melankolisnya

Kata Mas Mekel, aku hanya melankolis ketika telah mengalami sesuatu dan kemudian menuliskannya, tidak seperti dirinya yang istiqomah melankolisnya, hehehe....

prok-prok-prok.... menginspirasi mas...

bukan apa-apa, memang label melankolis itu identik dengan kesedihan dan skeptisme. Tapi bagiku lebih dari itu. melankolis itu sangat diperlukan untuk mempengaruhi mood, terutama mood menulis, sekalipun itu hanyalah menulis sbuah status facebook.

melankolis itu adalah bumbu-bumbu yang dibutuhkan oleh seorang novelis untuk mengolah cerita-ceritanya. melankolis itu adalah rambu-rambu untuk membawa pembaca dan memainkan emosinya. Melankolis itu adalah cara untuk membuat sebuah puisi yang sarat makna. melankolis itu.... (interpretasikan sendirilah,,,)

seorang sanguinis, memang selalu ceria, tapi ia tak pernah bisa menjadi sorang melankolis. begitu juga dengan tipe Pleghmatis dan Koleris, karena tiap-tiap karakter memiliki kualifikasi yang berbeda. maka, karakter-karakter itu memang harus diketahui untuk saling memahami, untuk saling melengkapi.

ya... biarlah melankolis hidup dengan kemelankolisannya..... namun, ia juga harus menjalani kehidupan dengan dewasa, bijaksana, dan ceria.
de javu:

tiba-tiba rekam jejak setahun yang lalu
membayang di pelupuk mataku

biar, ia berlalu
terbang bersama angin syahdu
bagi orang lain mungkin ia adalah debu
tapi bagiku
ia akan tetap hidup, bersahaja dalam bahasa kalbu



Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan sebuah moment bersejarah yang akan selamanya terkenang.
beginilah hidup, tiap insan memiliki takdirnya masing-masing, begitu pula setiap insan memiliki ceritanya masing-masing. dan ini ceritaku, tentang OSPEK saat menjadi koordinator acara.

aku tak tahu saat itu aku memang masih harus banyak belajar, sehingga Allah memilihku untuk membelajarkanku. tentang arti kesabaran, tentang arti ketulusan, tentang arti pengorbanan, tentang persahabatan. Pun katanya dengan tawa kala bahagia, dan air mata ketika haru dan berduka. Panitia saat itu, di bawah komando seorang pemimpin yang luar biasa, menjelma menjadi sebuah keluarga, bukan sekedar orang-orang profesional yang saling berhubungan karena formalitas dan struktur belaka. 

Moment-moment yang luar biasa, yang memberikan pelajaran tak ternilai. hanya saja, tak ada jalan yang selalu lurus, tak ada yang selalu mulus. kerikil-kerikil kehidupan yang kecil, namun tajam melukai pun turut menghiasi. Secercah kebanggaan itu bagaikan api semangat di dalam dada, namun terkadang padam ketika terkenang satu dosa sejarah yang sempat merampas senyum orang-orang yang kucinta.

bodoh...
kenapa hal itu harus terjadi?
dan kenapa harus aku yang mengalami?
kenapa tak orang-orang yang memiliki kapasitas yang lebih tinggi, yang mendapatkan ujian yang lebih berat?
kenapa?
sempat bergulir tanya yang selalu menyiksa dada, dan akhirnya pun aku sendiri yang harus menepisnya.

"Tak ada sehelai daun pun yang jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan-Nya"

maka aku yakin, bahwa itu bukanlah suatu kebetulan. skenario mereka bilang. Ya, skenario yang dibuat oleh Sang Pembuat Skenario. entah apa maksud-Nya, logikaku belum sampai menembusnya. tapi aku yakin suatu saat aku akan dapat menghubungkan titik-titik di masa lalu itu kemudian merangkainya menjadi sebuah kenangan yang penuh dengan hikmah.

biarkan, kebanggaan itu terus menyala.
pun dosa sejarah itu, biar generasi kami yang menanggunggnya,
dan aku pastikan dosa sejarah itu tak akan terulang pada generasi selanjutnya.

Jumat, 01 Juni 2012

Mendung di Wajah Langit

mendung menyapa langit
diam-diam, angin berhembus
mendung pun merajuk
bergelayut, bermanja-manja

rembulan separo menampakkan diri
malu-malu,
memilih sembunyi di balik kumpulan mega

dan bintang
tak berpendar layaknya biasa
ke mana kilaunya?

mendung di wajah langit
apalah sebabnya?
karena dalam sejarah
tak ada asap kecuali ada api

mendung di wajah langit,
menyingkirlah!!!
aku ingin melihat birunya di hitam malam
aku ingin melihat senyum malu rembulan bagai anak perawan
aku ingin melihat pendar sang bintang yang setia pada langit kelam

mendung di wajah langit,
menepilah!!!
atau kenapa kau tak berubah saja menjadi bulir-bulir air
gerimis bahkan hujan!!!
biar semua tahu dan paham
biar semua simpati berceceran

tapi, kutahu bukan itu inginmu
mendung di wajah langit
bolehlah engaku singgah
tapi tak boleh engkau tinggal
karena mentari esok hari harus bersinar

Separuh Jalan

Bagiku, kamu adalah separuh jalan yang kulewati tiap kali aku harus bertandang ke kota kita. Kla Project dengan Yogyakarta-nya, rasanya mema...