Kalo maen nya
sama perasaan. Aku seringkali gagal dalam memahami perasaan orang, apalagi yang
melankolis seperti dirimu. Mungkin karena aku orang koleris kuat yang gak peka.
Hehe. Aku Cuma pengen sharing….
Terkadang
kekuatan asumsi dan khayalan mampu mengkerdilkan realita. Jadi dalam beberapa
segmen hidup, kita gagal menganalisis kenyataan hanya karena kekuatan asumsi
yang telah kita bangun sendiri. Dulu saat SMA aku pernah dapat beasiswa bimbel
gratis d primagama 1 semester. Disana ada paket tes potensi akademik lewat
sidik jari. Gratis buatku. Alhamdulillah. Disana tertulis banyak hal tentang
diriku, dan aku mengamininya. Sebagian besar yang tertulis disana memang
seringkali aku alami, mulai dari hal yang positif sampe negative. Tetapi pada
beberapa poin yang negative, aku mencoba untuk sedikit mengabaikannya. Disana
tertulis cirri negatifku ‘memberikan
pendapat atau pandangan yang kurang jelas kepada pihal lain’. Aku berpikir
kalo terlalu sering membaca hasil tes itu kemudian ada sugesti yang kuat di
dalam diriku bahwa aku tidak mampu memberikan penjelasan yang baik kepada orang
lain, aku takut kalo nantinya aku terlalu percaya dengan prediksi itu, aku
mencoba mengambil pikiran lain. Mungkin memang IYA bahwa aku tidak mampu
memberikan penjelasan yang apik kepada orang lain, tapi bukan berarti itu
suratan takdir dari Allah, tapi karena ilmu dan wawasanku yang masih cemen.
Berarti PR ku Cuma menambah ilmu dan wawasan, bukan mempercayai apa yang
tertulis di ‘buku ramalan’ itu. Hehe
Coba kamu memposisikan dirimu sebagai sesuatu
yang sedikit berbeda. Kalo biasanya seorang yang melankolis sempurna itu selalu
membutuhkan waktu yang panjang untuk merencanakan sesuatu secara matang dan
mendetail, sangat sensitif, sangat idealis, ingin mnjadi yang terbaik, mencari
yang terbaik, berusaha mendapatkan yang terbaik, dll. Karena kalo seperti itu
pada akhirnya kamu akan mengharapkan HASIL (masa depan) yang sesuai dengan apa
yang sudah kamu rencanakan secara matang dan mendalam (keinginan). Padahal masa
lalu itu milik semua orang, masa kini adalah murni milik kita masing2,
sedangkan masa depan hanya milik Allah.
Yang IYA tidak mungkin jadi TIDAK,
Yang TIDAK tak pernah akan menjadi IYA,
Karena itu semua kekuasaan Allah, terserah
Allah.
Kasus:
1.
Seorang pemimpin yang berorientasi pada hasil.
Ketika ada kinerja bawahannya yang tidak sesuai dengan rencana yang telah ia
buat diawal, ia akan senantiasa marah-marah. Karena baginya, yang paling
penting adalah hasil, bukan proses.
a.
Jendralà
selamatkan sandera perang Vietnam apapun yang terjadi!
b.
Bawahanà
caranya bagaimana, padahal bla, bla, bla (alasan)…
c.
Jendralà
aku tidak ada urusan dengan itu, yang jelas kamu harus bisa membebaskan mereka!
2.
Seorang ibu kepada anaknya. Bagi seorang ibu, ia
tak pernah sekalipun mendapat kepastian apakah anak yang ia kandung dan
besarkan akan menjadi orang yang baik-baik atau malah menjadi bejat. Tak ada
kepastian sedikitpun. Yang ia miliki hanyalah harapan. Ia tak bisa memetik
hasil, karenanya ia lebih memilih untuk peduli pada proses, karenanya, ibu yang
baik bukanlah ibu yang selalu melindungi anaknya, bukan yang selalu menghibur
anaknya. Ibu yang baik adalah ibu yang tak pernah sedikitpun menghindarkan
anaknya dari kerikil kehidupan. Karena setiap kesalahan yang dilakukan anaknya
merupakan sarana tarbiyah. Ia merupakan proses yang sangat berharga. Dan
sejarah selalu membuktikan bahwa orang yang senantiasa hidup dalam himpitan
yang luar biasa, pada akhirnya akan menjadi tokoh yang fenomenal. Yang manja
justru ditinggalkan sejarah. Hehe
Jika bukan karena harapan, tak seorang ibu
pun mau menyusui anaknya
Jika bukan karena harapan, tak seorang
petani mau menanam padi
Hal yang sama
pun ada pada diri kita. Apakah kita memilih menjadi orang yang mengutamakan
HASIL atau PROSES….???! Orang yang senantiasa mengutamakan hasil akan sering
kecewa, tetapi yang mengutamakan proses akan lebih banyak pemakluman dan tak
mudah kecewa. Bukankah kewenangan kita hanya pada dunia ikhtiar saja…. Urusan
hasil kan hak perogratif Allah. Ya gak mift…. ^_^
Meskipun aku tidak mengenal dirimu dengan
baik, karena kita tidak pernah menjadi mitra sejajar dalam amanah. Tapi Mungkin
ini menjadi agenda yang berat bagi dirimu. Mengingat bahwa dirimu termasuk
orang yang rapih, mampu membuat rencana jangka panjang, lembut, senantiasa
melakukan pengecekan terhadap rencana yang sudah dibuat, tidak suka
berkonfrontasi, lebih memilih menyimpan rasa sakit dalam hati, dll. Ketika apa
yang sudah kamu rencanakan dengan sangat matang itu tidak terlaksana, cobalah
berpikir bahwa mungkin hari ini kamu pantas dianggap gagal, tetapi bukankah
kegagalan dalam membangun relationship hari ini menjadi modal dasar bagimu
untuk menjalin hubungan di masa mendatang, bukankah ini keberhasilan yang lain
^_^
Orang yang putus
sekolah bisa dianggap gagal dalam mendapatkan ilmu, tetapi ia berhasil dalam
mendapatkan uang dari hasil kerjanya.
Orang yang
kuliah berhasil mendapatkan ilmu dan teman, tetapi ia gagal dalam menghasilkan
uang di usia dini.
Bersama
kesulitan terdapat kemudahan….
*lihatlah,
betapa aku tidak piawai dalam memainkan kata-kata. Tidak jelas dalam
menghubungkan kalimat jadi sangat mungkin setelah membaca ini kamu justru jadi
pusing. Hehe. Sejatinya aku tidak punya kompetensi apapun yang pantas untuk menasihati
dirimu. Aku tahu dalam banyak hal kamu jauh lebih ekspert dariku. Jadi tulisan
ini murni hanya sharing aja. Hehe. Keberhasilan aliansi shinobi dalam
mengalahkan Asuma dan membersihkan zetsu putih dari battle-field karena jasa
dari Shikaku. Tipikal yang tenang, lembut, mampu membaca masa depan, perencana
yang ulung, cerdas pastinya*
Aku hanya perlu
menghujamkan keyakinan bahwa orang yang membaca teks ini mampu bertahan lebih
lama dalam konfrontasi ini, tanpa harus menyalahkan jama’ah yang telah menempatkan
dirinya disana. Apalagi menghancurkan gerakan dakwah ini. Aku percaya dia orang
yang kuat dan penuh semangat seperti yang aku kenal 3 tahun lalu.
Semangat
Mift….!!!!